TITISAN

TITISAN
REINKARNASI ARYO #2


__ADS_3

"Setelah saya bacakan surat wasiat dari mendiang pak Aryo tadi, maka dengan ini Bapak Guntur Satriaji telah resmi dan sah menggantikan posisi pak Aryo sebagai Pimpinan PT. Elang TRABAS." Tegas Adrian.


Selesai mengucapkan itu seluruh peserta metting bertepuk tangan dengan raut wajah-wajah suka cita tersenyum lebar menyambut keputusan tersebut. Namun ditengah-tengah raut suka cita itu mereka juga tak bisa menyembunyikan rasa keterkejutannya. Mereka tidak menyangka ternyata pemuda gagah dan tampan yang ada dihadapan mereka saat ini adalah putra tunggal dari Bapak Aryo Satriaji. Dari sorot mata para karyawan dan karyawati nampak berbinar-binar merasa senang dan bersyukur bukan pak Iwan yang menggantikan pak Aryo sambil sekilas melirik kearah pak Iwan yang tersenyum kecut.


Ditengah keriuhan menyambut boss baru mereka, ada satu karyawan yang merasa tidak senang dengan akhir dari keputusan tersebut. Walau dia terlihat ikut bersorak dan ikut bertepuk tangan tetapi nampaknya dia melakukan itu secara terpaksa tidak setulus dan sesenang seperti para karyawan yang lain.


"Sialan, ternyata pak Aryo memiliki putra!" gerutu pak Iwan dalam hati dengan wajah tertunduk muram.


Guntur menangkupkan kedua telapak tangannya di dada sembari sedikit membungkukan badannya bersikap hormat kepada para bawahannya dengan senyum bersahaja penuh wibawa menghiasi bibirnya. Melihat senyuman di wajah tampan Guntur membuat para karyawati-karyawati yang sebagian besar masih gadis dibuat terleleh-leleh hatinya. Bagi karyawati yang statusnya single parent melihat sosok Guntur langsung saja melambungkan imajinasi nakalnya.


"Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh..." Guntur memulai sambutannya sebagai CEO PT. Elang Trabas.


"Walaikum salam warohmatullahi wabarokatuh..." sahut para karyawan serempak dengan antusias, kecuali pak Iwan yang hanya menggerakkan bibirnya tanpa keluar suara menjawab salam itu.


"Yang terhormat, pak Iwan sebagai senior di perusahaan ini, yang terhormat para Direksi serta para karyawan-karyawati dan semua yang mewakili dari rekan-rekan kita yang ada di kantor cabang-cabang. Rekan-rekan semua saya hanya ingin menyampaikan harapan saya yang menggantikan kedudukan papah saya disini, semoga saya dapat meneruskan bahkan bisa lebih dari apa yang sudah papah saya lakukan untuk perusahaan ini dan juga untuk kesejahteraan rekan-rekan karyawan semua yang selama ini papah terapkan. Saya mengetahui banyak informasi mengenai perlakuan papah di perusahaan ini dan juga dari rekanan-rekanan atau partner papah diluar sana, semoga saya bisa menggantikan papah ditengah-tengah rekan-rekan semua," ucap Guntur dengan tulus.


"Amiiin... amiiin..." sahut para karyawan antusias, kecuali pak Iwan yang terus menundukkan kepalanya.


"Kepada para karyawan semuanya terutama pak Iwan dan Mbak Vera, atas nama papah saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya selama ini sudah banyak mendedikasikan tenaga dan pikiran anda kepada perusahaan ini. Dan atas nama papah saya memohon maaf yang sebesar-besarnya apabila papah saya pernah menyakiti atau memperlakukan anda yang menyinggung hati anda. Pertemuan ini sengaja saya fokuskan untuk pengenalan saja dan tidak membahas pekerjaan. Sekalian saya sampaikan juga ini bagian dari pesan wasiat papah dan harus saya jalankan, dalam wasiat itu bahwasannya papah menginginkan digelar meeting besar mencakup semua karyawan PT. ELANG BRANTAS baik yang di cabang-cabang maupun pusat. Insya Allah tempatnya akan digelar di Bali. Semua akomodasi ditanggung..." ucapan Guntur terhenti oleh acungan tangan pak Iwan.


"Interups! Interupsi...!" seru pak Iwan mengangkat tangannya.


Semua mata langsung tertuju memandang kearah pak Iwan dengan tatapan tidak senang, didalam hatinya masing-masing terlintas menduga-duga kalau pak Iwan tidak setuju dan pasti akan menggagalkannya. Wajah-wajah semua karyawan pun dibuat mengerutkan dahinya dalam-dalam menanti-nanti apa yang akan diutarakan pak Iwan dengan harap-harap cemas.


"Begini pak Guntur, apakah kondisi keuangan perusahaan ini mlmencukupi jika diadakan rapat besar di Bali? Bukankah akan menghabiskan anggaran besar?!" kata pak Iwan mengangkat kedua bahunya.


"Terima kasih pak Iwan sudah mengingatkan, mmm... begini, memang betul yang dikatakan pak Iwan kalau rapat besar ini mengeluarkan anggaran dana yang lumayan besar. Sebelumnya ijinkan saya bercerita sedikit, didalam surat wasiat papah, beliau menyampaikan ingin menggelar rapat besar dengan seluruh karyawan PT. ELANG BRANTAS dan papah sudah menyiapkan dana untuk anggaran itu tidak melalui keuangan perusahaan. Beliau sepertinya sudah menabung sengaja untuk dipersiapkan menggelar rapat besar tersebut termasuk untuk karyawan akan diberikan masing-masing uang saku. Jadi, perusahaan tidak akan terpengaruh soal keuangan pak Iwan." ucap Guntur meyakinkan.


"Wow..!!!"


"Asyiiiik...

__ADS_1


"Mantap boss...


Ucap para karyawan saling menimpali membuat suasana ruang meeting mendadak riuh disambut tepuk tangan meriah sekonyong-konyong mencibir aksi yang dilakukan pak Iwan. Sementara pak Iwan hanya diam tertunduk dengan wajah dingin tidak bisa berkata-kata lagi untuk menyanggah.


"Sialan juga mau cari muka malah dipermalukan," ucap pak Iwan dalam hati.


"Demikian yang dapat saya sampaikan, tetap bekerja sesuai TUPOKSI dan tetap semangat!" Seru Guntur mengakhiri sambutannya dengan mengepalkan tangan didepan dada memberikan suport untuk para karyawannya.


"Siaaaappp bosss..." ucap para karyawan serentak.


Kemudian acara pun diakhir dengan menjabat tangan menyalami boss baru mereka satu persatu keluar ruang meeting sembari mengucapkan selamat. Guntur tak henti-hentinya menyunggingkan senyum sahajanya menyambut tangan-tangan mereka yang menurut pandangan para karyawati senyumannya itu merupakan senyuman terindah yang sedap dipandang.


Tentu tidak demikian menurut pandangan pak Iwan, senyuman Guntur itu tak ubahnya seperti senyuman nyinyir mengolok-olok dirinya. Di mata pak Iwan, saat ini Guntur sedang memainkan bersandiwaranya yang seolah-olah sedang memakai topeng Arjuna, padahal hatinya Sangkuni. Begitulah apabila seseorang hatinya dipenuhi dengan ambisi dan keserakahan, apapun kebaikannya tetap buruk dimatanya. Namun memang senyuman yang dilemparkan Guntur sungguh-sungguh senyuman yang tulus dari hatinya, hal itu jelas terpancar dari aura di wajahnya yang mencerminkan kebaikan hatinya.


Sambil melangkah keluar ruang meeting didalam hati para karyawan terucap ungkapan setelah melihat karakter, ucapan, tata krama serta sikap dari Guntur dalam rapat itu, mereka seperti melihat Pak Aryo kembali. Ya, Guntur seperti sebuah reinkarnasi dari pak Aryo.


......................


"Loh, nggak ngajak-aja aku sih Gun?" timpal Kunto mulutnya sibuk mengunyah makanan.


"Seru mah, sepertinya para karyawan respek dengan aku menggantikan posisi papah," jawab Guntur kemudian menyuapkan sendok berisi nasi kedalam mulutnya.


"Kalau aku ngajak kamu Kun, kasian kamunya entar bolos kuliah lagi. Lah iya, kamu bisa sampai rumah juga Kun?" ucap Guntur sedikit menggoda Kunto.


"Lah, emang kenapa?" tanya Kunto tak mengerti.


"Emangnya masih punya uang? Hahahahaha...." kelakar Guntur.


"Husssttt! Guntur nggak boleh begitu sama teman sendiri," sergah mamah Karmila.


"Iya tuh Tan, Guntur suka gitu ngeledek mulu tante..." sungut Kunto.

__ADS_1


"Ya elah, pake ngadu ke mamah lagi. Becanda Kuuun... becanda," ujar Guntur.


"Kun kalau nanti kamu memang butuh uang tinggal ngomong aja sama Guntur, dia kan sekarang sudah jadi boss besar PT. ELANG TRABAS, hikhikhik..." seloroh mamah Karmila mengerlingkan matanya kearah Guntur.


"Enak aja, nggak... nggak, mesti kerja dulu lah," sergah Guntur melotot kearah Kunto.


"Jangan gitu Gun, please... Ya udah jadiin aku sopir pribadimu deh," tawar Kunto memelaskan wajahnya.


"Sudah ada pak Juki," ujar Guntur.


"Jadi sekertaris deh," tawar Kunto lagi sambil menunjukkan muka lebih memelas lagi.


"Sudah ada mbak Vina," sahut Guntur.


"Taaaan, bantuin atuh tante.." rengek Kunto meminta bantuan mamah Karmila.


"Guuun, kamu kok begitu sama Kunto," ucap mamah Karmila serius.


"Hahahahaha.... Becanda mah, buat sahabatku yang baik, jujur dan tidak songong, aku angkat kamu menjadi asisten pribadiku, are you oke?" ucap Guntur dengan logat bule diujung kalimatnya.


"Sure, no what-what..." jawab Kunto.


"Apa artinya tuh Kun?" tanya mamah Karmila mengerutkan keningnya.


"Tentu, tidak apa-apa Tan," jawab Kunto dengan wajah polosnya.


"Hahahahahaha...." semuanya tertawa terbahak-bahak oleh tingkah konyol Kunto.


Suasana makan malam itu terasa meriah penuh keceriaan meski diisi dengan obrolan-obtolan ringan, setidaknya pelan-pelan dapat melupakan kedukaan yang menyelimuti hati Karmila meski pun hanya sekejap.


......................

__ADS_1


__ADS_2