TITISAN

TITISAN
JIWA KUNTO


__ADS_3

Tak mungkin bagi pak Suro untuk mengatakan pada Guntur kalau dirinya akan mendatangi rumah Guntur yang dulu. Sebab pasti Guntur akan langsung tahu maksud dan tujuan pak Suro mendatangi rumah itu, untuk apalagi kalau bukan untuk menemui Karbala.


Jika pak Suro berterus terang pastinya akan menimbulkan prasangka buruk terhadap Karbala. Dan pastinya membuat Guntur mengamuk jika mengetahui kalau sakitnya Kunto akibat ulah Karbala.


Pak Suro sudah memikirkan rencananya saat menemui Karbala. Sebab menurutnya hanya ada dua cara untuk menolong Kunto. Yang pertama melakukan negosiasi secara baik -baik dengan Karbala dan yang kedua...?


Pak Suro menyunggingkan senyum cerdik ketika memikirkan rencana kedua itu. Ia sangat yakin dengan rencana yang kedua itu Karbala pasti akan takluk dan mengembalikan kesadaran Kunto.


“Kapan bapak akan memulainya?” tanya Guntur sekaligus membuyarkan angan pak Suro.


“Nanti sore Gun menjelang magrib,” jawab pak Suro.


Pak Suro kembali memperhatikan wajah Kunto dengan seksama. Sekilas ia melihat kondisi Kunto yang tergolek diatas ranjang putih itu nampak seperti orang yang tengah tertidur lelap.


Namun Pak Suro tahu kalau jiwa Kunto itu kosong, akan tetapi soal berada dimananya ia tidak tahu pasti.


Lantas Pak Suro bergerak menempelkan telapak tangannya pada telapak kaki Kunto. Mula- mula Pak Suro menempelkan tangannya pada kaki kanan Kunto, ia nampak mengerahkan energi spiritualnya dan mencoba merasakan sesuatu.


Setelah beberapa saat pak Suro memindahkan telapak tangannya ke telapak kaki kiri Kunto. Hal yang sama dilakukan pak Suro seperti sedang mendeteksi sesuatu.


"Kejiwaan Kunto terguncang hebat, kenapa dia sampai seperti ini?" batin pak Suro, tanpa sadar menggeleng- gelengkan kepala.


Guntur hanya memperhatikan saja apa yang tengah dilakukan oleh pak Suro, ia tak mengerti sama sekali. Dan setelah pak Suro selesai mendeteksi, Guntur pun langsung bertanya penuh penasaran.


"Bagaimana pak?"


"Dokter Hilman benar Gun, ada sisi mistis yang diderita Kunto. Namun juga berefek pada kejiwaannya," jawab pak Suro.


"Pantas saja pak, saat pengaruh obatnya hilang, Kunto nampak seperti sangat ketakutan. Kedua matanya melotot, seluruh badannya menegang. Kayak melihat sesuatu yang sangat menakutkan," ungkap Guntur.


"Berapa lama pengaruh obat itu Gun?" tanya pak Suro.


"Sekitar tiga jam-an pak. Oh, ini sudah hampir tiga jam pak. Tapi Kunto masih tertidur," ujar Guntur sambil melihat jam dinding.


Tok... Tok... Tok...


Suara ketukan pintu kamar menghentikan pembicaraan Guntur dan pak Suro. Guntur menoleh kearah pintu, seraya berkata; "Masuk..."

__ADS_1


Kreteeeekkk...


"Gimana pak Guntur dengan kondisi mas Kunto? Apakah ada perubahan?" tanya dokter Hilman sambil berjalan kesamping ranjang.


"Tidak ada dok. Ini hampir sudah tiga jam tapi Kunto tidak ada reaksi apa- apa ya dok," ucap Guntur.


"Hmm..." gumam dokter Hilman.


Beberapa saat dokter Hilman mengecek seluruh kondisi Kunto. Ia mencatat grafik layar di secarik kertas yang tertempel pada papan kecil ditangannya.


"Biar kita tunggu tiga puluh menit lagi pak Guntur. Apakah mas Kunto akan kembali bereaksi atau tidak," ucap dokter Hilman.


......................


Didalam sebuah ruangan kecil tanpa penerangan sama sekali sehingga membuat tempat itu gelap gulita, tak ada setitik pun cahaya disana. Di ruangan yang hampa, suasana begitu sepi dan senyap. Dan di sudut ruangan nampak sesosok tubuh meringkuk penuh ketakutan.


Pada kedua pergelangan tangannya terlilit rantai besi, sedangkan kedua kakinya terbelenggu rantai yang tertanam pada dua benda bulat mirip belenggu tahanan.


Tiba- tiba sosok manusia itu tersentak kaget penuh kengerian ketika terdengar suara muncul memecah keheningan ruangan itu. Dia mendongakkan kepalanya, akan tetapi tak dapat melihat apapun di depannya.


Kontan wajahnya semakin dalam ia tenggelamkan diantara kedua lututnya. Seluruh tubuhnya gemetaran merasakan betapa menyeramkannya suara sember dan besar menggema di ruangan itu.


“Kau manusia akan selamanya disini sampai waktu kematianmu datang!” Ucap suara yang sember dan besar menggema di dalam ruangan.


“A, am, ammpuuuunnnn.... ampuuunnn... ampuuuunnn... bebaskan aku, bebaskan akuuu...” pekik sosok manusia itu histeris.


“Kau adalah petaka!”


"Apa salahku...!" pekik sosok manusia dengan suara gemetar.


Namun pertanyaan itu hanya menggema di dalam ruangan tanpa mendapat jawaban. Nampaknha mahluk itu sudah lenyap dan suaranya pun tak lagi terdengar.


“Aaaakkkkhhhh... aaaakkkhhh...” jerit sosok manusia itu kian histeris.


Setiap kali mahluk dengan suara sember dan besar itu muncul, kalimat yang sama selalu teredengar seperti itu.


Dan sosok manusia yang terbelenggu itu akan berteriak- teriak histeris dengan segenap perasaan takut yang mènguasai pikirannya.

__ADS_1


Meski tak dapat melihat wujudnya namun hanya mendengar dari suaranya saja, sosok manusia yang terbelenggu itu sudah dapat membayangkan seperti apa wujud rupanya.


Sepintas sosok manusia itu seperti mengenali suaranya, akan tetapi sekeras apapun dia mengingatnya tetap saja dia tak menemukan siapa mahluk pemilik suara itu.


Di dalam pikirannya dirinya seperti pernah mendengar suara itu namun tak berhasil mengingatnya.


Wajahnya kian dibenamkan dalam- dalam diantara tangan dan kedua lututnya yang menekuk. Seolah- olah dia tak ingin melihat dan mendengar apapun di depannya.


Sosok manusia yang dibelenggu dan terkurung didalam ruangan itu tak lain adalah Kunto. Ia tak henti- hentinya menangis histeris ketika suara sember dan besar itu terdengar di telinganya.


Entah sudah berapa lama dirinya terkurung di tempat itu. Kunto merasa tempatnya saat ini sangat asing dan tidak ada orang lain selain dirinya.


Kunto hanya dapat merasakan waktu yang berjalan sudah sangat lama sekali. Perasaannya sangat tersiksa oleh ketakutan- ketakutan yang terus menerus menghantui pikirannya.


Sesekali Kunto berteriak- teriak histeris saat perasaan takutnya kembali muncul manakala merasakan kehadiran ada sosok mahluk lain didepannya.


Meski tak dapat melihat wujudnya namun hanya mendengar dari suaranya saja, Kunto yang terbelenggu itu sudah dapat membayangkan seperti apa wujud rupanya.


Wajahnya dibenamkan dalam- dalam diantara tangan dan kedua lututnya yang menekuk. Seolah- olah ia tak ingin melihat apapun di depannya. Hanya dengan menangis yang bisa Kunto lakukan.


......................


Di kamar rawat nomor 15,


Guntur dan pak Suro tak berkedip memperhatikan sekujur badan Kunto, sementara dokter Hilman menyibukkan diri dengan kertas dan pulpennya, nampaknya sesang menulis perkembangan kondisi pasien.


Tiba- tiba Guntur menyipitkan kedua matanya, pandangannya di fokuskan lagi pada kedua mata Kunto yang terpejam. Guntur seperti melihat ada pergerakan pada pupil mata Kunto.


Guntur yang lebih tahu kondisi Kunto pada saat- saat Kunto akan terbangun, kian menajamkan pandangannya. Lalu matanya beralih melihat salah satu tangan Kunto yang terkulai di sisi badannya.


"Dok! Dok!" seru Guntur spontan, saat ia melihat jari- jari Kunto bergerak.


Dokter Hilman dan pak Suro kontan terkejut mendengar seruan Guntur yang tiba- tiba. Keduanya menoleh menatap Guntur bersamaan penuh tanda tanya.


Guntur lantas menjulurkan jari telunjuknya menunjuk ke jari- jari Kunto.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2