
"Guuuun..."
"Kuntooo..."
"Ayo makan..."
Mamah Karmila berseru memanggil Guntur dan Kunto sambil menata piring-piring diatas meja makan.
"Iya Tan..."
"Iya Mah..."
Seru Guntur dan Kunto bersahutan, lalu keduanya muncul dari kamarnya masing-masing. Kamar Kunto berada di depan disusul Guntur juga muncul dari kamarnya yang berada disebelahnya. Keduanya masih mengenakan sarung usai menunaikan sholat Magrib lalu sama-sama berjalan menuju ruang makan.
"Gun, kamu lihat nggak waktu di kampus ekspresi David cs ketika kita lewat?" Tanya Kunto begitu beriringan.
"Iya Kun, mereka pada tertunduk hikhik..." jawab Kunto disambut ketawa Kunto.
"Sukurin, hikhik.." timpal Kunto.
"Ada apa sih, pada cekikikan?" Sela mamah Karmila.
"Ya biasa mah Kunto ngelawak mulu," ujar Guntur menutupi topik pembicaraan.
Guntur langsung mengambil tempat dùduk meja makan berseberangan dengan Kunto sedangkan mamah Karmila duduk diujung meja. Mamah Karmila mengambilkan nasi dipiring satu persatu dan memberikannya pada Guntur dan Kunto. Kemudian mengambilkan air minun, namun saat mengambil gelas tiba-tiba gelas itu terlepas dari pegangan dan meluncur menghantam lantai hingga pecah berserakkan.
Praaang...!!!
Suara benturan gelas diatas lantai mengejutkan Guntur dan Kunto. Kontan keduanya menoleh ke posisi mamah Katmila berdiri dengan tertegun.
"Kenapa mah?!" seru Guntur.
"Napa Tan?!" timpal Kunto.
"Nggak apa-apa, nggak apa-apa. Cuma terlepas dari genggaman mamah aja," ujar mamah Karmila mengangkat bahunya.
"Biar Kunto aja Tan yang bersihin pecahan gelasnya. Udah Tante duduk aja dulu di meja makan," sergah Kunto melihat mamah Karmila meraih sapu yang tak jauh dari tempatnya terpaku.
"Tulilit... tulilit... tulilit...!"
Suara dering hape tiba-tiba berbunyi mengagetkan ketiganya. Mamah Karmila bergegas mengambil hapenya yang tergeletak diatas bufet dibalik sekatan tirai ruang makan.
Guntur turut memunguti pecahan gelas yang berserakkan kemana-mana hingga ke kolong meja makan. Kunto menyapu pelan-pelan pecahan beling kecil-kecil dimasukkan kedalam serokan.
"Apa?!"
"Dimana sekarang?!"
"Ya Allah..."
__ADS_1
Guntur dan Kunto terperangah mendengar teriakkan mamah Karmila yang berdiri lunglai dibalik tirai penyekat ruang makan dan ruang tengah. Keduanya langsung berlarian menghampiri mamah Karmila setalah meletakkan sapu dan serok.
"Ada apa mah?!" Tanya Guntur cemas.
"Kenapa Tan?!" Timpal Kunto.
"Papahmu Gun..." ucapan mamah Karmila terputus oleh isakkan tangisnya.
"Papah kenapa mah?!" Tanya Guntur panik.
Tiba-tiba timbul perasaan tidak enak di hati Guntur mengenai Papahnya. Ia memeluk mamah Karmila yang terlihat mulai goyah. Kunto hanya terpaku melihat sahabat dan mamahnya yang sedang dilanda kecemasan itu.
"Mah, ada apa dengan papah mah?!" Guntur mengguncang-guncangkan tubuh mamahnya.
"Papah kecelakaan, sekarang ada di rumah sakit Gun..." ucap mamah Karmilai diantara isak tangisnya.
"Ya Allah.." Gumam Guntur lemas.
"Gun ayo sekarang menyusul ke rumah sakit! Kata Kunto.
Ucapan Kunto seakan menyadarkan Guntur dan mamah Karmila yang terlarut dengan keadaan syoknya.
"Kun pesan taksi online!" seru Guntur berlari ke kamarnya untuk berganti pakaian.
Meskipun Aryo berkali-kali menawarkan untuk membelikan mobil untuk Guntur dan mamah Karmila untuk keperluan keduanya namun selalu saja ditolak. Bahkan Guntur malah memilih meminta dibelikan sepeda motor saja untuk kendaraannya kuliah, itupun diluar perkiraannya karena ia tidak menyangka papahnya membelikanya sepeda motor sport Kawasaki. Padahal ketika itu Guntur membayangkan sepeda motor metik juga lebih dari cukup.
......................
"Permisi, Sus pasien kecelakaan tadi sore dimana?" Tanya Guntur pada petugas lobi.
"Sebentar saya cek dulu ya mas," jawab petugas lobi rumah sakit.
Guntur, mamah Karmila dan Kunto hanya bisa menunggu petugas yang sedang mencari data pasien di komputer itu dengan wajah penuh harap-harap cemas.
"Mmm, pasien kecelakaan tadi sore bernama Aryo Adipati alamat jalan..."
"Iya, itu! Itu Sus. Dirawat dimana Sus?" Sergah mamah Karmila memotong ucapan petugas lobi itu.
"Pasien masih berada di IGD bu, silahkan lewat lorong itu lalu belok kiri," kata petugas lobi.
"Makasih Sus,"
"Makasih Sus,"
Guntur, mamah Karmila dan Kunto bergegas menuju ruang Instalasi Gawat Darurat mengikuti petunjuk seperti yang dikatakan petugas lobi. Langkah ketiganya tergesa-gesa menyalip beberapa orang yang berjalan.
Setelah belok kekiri dihadapan mereka terpampang tulisan pada kaca pintu 'RUANG IGD". Di kursi panjang nampak beberapa orang berpakaian seragam karyawan dan karyawati tengah duduk gelisah.
"Punten mas mas dan mbak mbak sedang nungguin pak Aryo?!" Tanya Guntur menuruti instingnya melihat pakaian para karyawan itu.
__ADS_1
"Iya, betul mas. Mas mas dan ibu siapa ya?" ucap salah satu karyawan.
"Gimana kondisi papah?!" Sergah Guntur tidak menghiraukan pertanyaan karyawan itu.
Para karyawan terperangah mendengar Guntur menyebut Boss mereka dengan papah. Mereka terbengong-bengong menatap Guntur dan mamah Karmila bergantian.
"Ini mamah Karmila istrinya pak Aryo, saya Guntur anaknya pak Aryo dan ini Kunto teman saya." Jawab Guntur mengenalkan dìri melihat keheranan para karyawan itu.
Karyawan-karyawan itu tercengang sambil menatap mamah Karmila dan Guntur. Mereka baru mengetahui kalau boss mereka mempunyai istri yang cantik dan anak yang tampan. Beberapa saat mereka terbengong dengan mulut menganga, yang lelaki terpesona melihat kecantikkan mamah Karmila sedangkan karyawati terpesona dengan ketampanan Guntur.
Selama ini Aryo tidak pernah mengenalkan Karmila dan Guntur kepada orang-orang di kantornya. Apalagi karyawan karyawan yang sedang menunggui di IGD itu tergolong karyawan baru. Hanya karyawan yang sudah lama saja yang mengetahuinya terutama dengan Karmila.
"Ibu Karmila?!" Seru seseorang sedang berjalab mendekat dari lorong sebelah kanan.
"Juki, bapak gimana kondisinya?!" Karmila langsung menyongsong dengan pertanyaan setelah orang itu mendekat.
Juki termasuk karyawan yang sudah lama mendampingi Aryo sebagai supir pribadinya. Maka tak heran saat dirinya mendekat, Karmila langsung menyambutnya dengan pertanyaan. Ketujuh karyawan itu semakin dibuat terperangah karena hanya Juki yang dikenal oleh Karmila.
"Ibu Mila?" Sapa Juki wajahnya menyiratkan keterkejutannya melihat ada istrinya Aryo.
"B... bb.. belum ada kabar dari dokter bu," ucap Juki gugup.
"Punten, ini.... Guntur?" Tanya Juki memandang takjub pada Guntur.
"Muhun pak," sahut Guntur kemudian menyalami Juki.
"Betul Juk, ini Guntur," timpal mamah Karmila.
"Masya Allah... kamu sudah besar, sudah jejaka sekarang, tampan lagi..." ucap Juki memegang kedua pundak Guntur.
Guntur hanya terbengong-bengong, sepertinya orang yang dihadapannya ini sudah mengenalnya sejak kecil. Tapi kok dirinya tidak mengenalnya, begitu pikir Guntur dalam hati.
Bukan hanya Guntur, para karyawan pun dibuat terheran-heran oleh Juki yang nampaknya mengetahui banyak tentang keluarga boss mereka.
"Mari, mari duduk bu Mila, nak Guntur dan..." Kata Juki terhenti melihat Kunto.
"Ini Kunto pak, teman saya..." Sela Guntur.
"Oh, mas Kunto. Silahkan duduk duduk..." lanjut Juki.
Beberapa karyawan yang duduk diujung kursi dekat pintu memindahkan diri dari duduknya mempersilahkan pada mamah Karmila, Guntur dan Kunto untuk duduk.
Tidak berselang lama setelah ketiganya duduk, pintu ruang IGD dibuka dari dari dalam dan muncul seorang dokter dengan Stetoskop yang menggantung dilehernya. Sontak semuanya berdiri dengan jantung terpacu kencang memancarkan kecemasan yang teramat sangat.
"Dok, gimana keadaan Aryo?!" Karmila langsung menyongsong dokter yang baru keluar dari pintu IGD.
"Maaf ibu siapanya pak Aryo?!" Tanya dokter.
"Saya istrinya dok!" sergah Karmila cemas.
__ADS_1
Seketika raut wajah dokter itu berubah yang sulit diartikan maknanya oleh Karmila dan yang lainnya. Entah akan menyampaikan kabar baik atau buruk karena ekspresi dari dokter itu terlihat datar.
......................