TITISAN

TITISAN
KUNTO DITEMUKAN


__ADS_3

Udara malam semakin dingin sampai-sampai pak Suro dan pak Asep terlihat menggigil. Ups❗ entah menggigil karena kedinginan, entah menggigil akibat melihat kejadian barusan atau mungkin juga karena melihat wujud Genderuwo yang terpampang jelas di depan mata mereka.


Setelah Genderuwo itu lenyap meninggalkan hembusan angin, pak Suro dan pak Asep bergegas melangkah menuju Guntur yang sedang berjongkok di samping tubuh mbah Dadan yang telentang mengerang.


Dari arah depan Karmila datang tergopoh-gopoh untuk melihat keadaan mbah Dadan. Wajah-wajah cemas tergurat di wajah mereka.


“Gun, kamu nggak apa-apa?! Gimana dengan Mbah Dadan?!” mamah Karmila datang dengan memberondong pertanyaan.


“Saya nggak apa-apa mah. Pak Suro, pak Asep punten kita gotong mbah Dadan masuk ke dalam rumah saja,” ujar Guntur.


"Kuntonya gimana nak Guntur?!" sergah pak Asep.


Sejenak Guntur terdiam lalu menatap pohon Beringin. Guntur merasa bingung juga, ia baru menyadari bagaimana Genderuwo itu mengembalikkan Kunto. Sebelumnya Genderuwo itu hanya mengatakan "Baik" tanpa di beri tahu dimana Kunto akan di kembalikan.


"Nanti biar saya yang menunggu pak Asep, sekarang kita gotong mbah Dadan dulu masuk ke rumah," ujar Guntur.


Dalam keremangan lampu taman, Guntur, pak Suro dan pak Asep menggotong tubuh tua mbah Dadan yang terus mengerang-ngerang kesakitan memasuki rumah melalui pintu dapur dimana Karmila berdiri melihat kejadian itu sebelumnya.


Dengan tergopoh-gopoh menggotong tubuh mbah Dadan, akhirnya sampai juga di tuang tengah.


“Di baringkan disini aja pak,” ujar Guntur saat hendak melewati ruang tengah.


Tubuh mbah Dadan di baringkan diatas karpet. Tubuhnya nampak kaku, tangannya mendekap erat di dadanya.


“Gun, tolong ambilkan air putih di gelas ya,” ucap pak Suro.


“Biar mamah aja Gun,” sela mamah Karmila.


“Iya mah, saya kembali ke sana dulu ya pak menunggu Kunto,” kata Guntur menoleh pada pak Suro dan pak Asep.


“Iya Gun,” sahut pak Suro.


“Iya nak Guntur,” timpal pak Asep.


Guntur pun bergegas bangkit berdiri lalu melangkah melalui pintu samping lagi, tetapi tiba-tiba ia berhenti.


“Telpon, ya telpon!” Guntur meraba-raba saku celananya.


Namun hape yang di carinya tidak ada di dalam saku celananya, kemudian Guntur pun membalikkan badannya menuju kamar untuk mengambil hapenya.


Tak lama kemudian Guntur sudah kembali dari kamarnya dan berpapasan dengan mamahnya yang keluar dari dapur.


"Kamu mau kemana Gun?" tanya mamah Karmila menyelidik.


Karmila merasa khawatir kalau-kalau Guntur melakukan sesuatu terhadap pohon beringin tersebut.


"Mau ke pohon itu lagi mah," jawab Guntur kemudian melanjutkan langkahnya.


"Mau ngapain?!" sergah mamah Karmia.

__ADS_1


"Nunggu Kunto mah," jawab Guntur sambil berlalu.


Guntur segera keluar menuju pohon beringin di belakang rumah melalui pintu dapur yang mengarah ke samping hapaman. Sementara mamah Karmila meneruskan membawa segelas air putih seperti yang diminta oleh pak Suro.


Tidak terasa jarum pendek jam dinding di ruang tengah sudah menunjukkan mendekati angka 12 malam kurang 10 menitan.


"Ini air minumnya pak," ucap Karmila mengulurkan gelas di tangannya pada pak Suro.


"Hatur nuhun bu Mila," balas pak Suro menerima gelas itu.


Pak Suro duduk di samping tubuh mbah Dadan yang terbaring kaku. Kedua matanya terpejam rapat, kedua tangannya masih mendekap dada, namun dari mulutnya masih terus terdengar suara rintihan kesakitannya.


"Aduuuuuhhhhhh.... hmmmmffhhh...." rintih mbah Dadan.


"Mbah... mbah...." panggil pak Suro pelan sambil menepuk-nepuk punggung tangan mbah Dadan.


"Hmmm..." sahut mbah Dadan dengan gereman pelan.


"Apa yang mbah rasakan?" tanya pak Suro.


"Hmmm...." mbah Dadan menyahut dengan gereman kecil seolah-olah berat untuk berbicara.


"Apa yang mbah rasakan?" pak Suro mengulangi pertanyaannya.


"Ppppa... naaaasss... sse, ssssee... saaakkk..." sahut mbah Dadan dengan suara tertahan.


Pak Suro kemudian memejamkan matanya, mulutnya terlihat komat-kamit membaca sesuatu. Sekitar satu menitan pak Suro membuka matanya dan meniupkan mukutnya ke dalam gelas.


Masih dengan mata terpejam, mbah Dadan pun membuka mulutnya ketika gelas menemprl di bibirnya. Dengan susah payah Mbah Dadan meminum air yang sudah di doakan itu dengan tubuh gemetar hingga beberapa kali airnya tumpah membasahi bajunya.


"Uhukk.. uhukkkh.. uhukkkh..."


Mbah Dadan tersedak hingga terbatuk-batuk. Lalu kembali di baringkan, namun kondisinya tak berubah, tubuhnya masih kaku, matanya masih rapat terpejam dan tangannya memegang dadanya erat-erat seakan-akan kedua tangannya merekat pada dadanya.


Pak Suro menghela nafas sejenak melihat kondisi mbah Dadan yang tidak mengalami perubahan sama sekali. Kemudian air di gelas yang tersisa setengahnya pak Suro raupkan pada wajah mbah Dadan hingga tiga kali sambil berucap, "Suhanallah walhamdulillah wala'ilaha illallah..."


Pada usapan yang ketiga, perlahan-lahan kedua mata mbah Dadan terbuka. Sorot matanya menyiratkan ketakutan dan trauma yang mendalam. Mbah Dadan hanya melirik ke kanan, ke kiri dan ke atas melihat langit-langit ruang tengah.


"Ssss... sssaa... ya... ttititi... dak... bbi bi bisa... bbebe be ber... ge ge gerak...." ucap mbah Dadan lirih.


......................


Sementara itu di halaman belakang rumah, Guntur nampak berdiri mematung menghadap pohon beringin dari tempat mbah Dadan sebelumnya terkapar berjarak 10 langkah dari pohon itu. Udara dingin tengah malam itu tidak di hiraukannya meskipun beberapa kali Guntur menggosok-gosokkan telapak tangannya mengusir hawa dingin.


Setelah menunggu sekitar 10 menitan, upaya Guntur menagih janji Karbala yang akan mengembalikan Kunto pun mulai nampak. Tiba-tiba desiran angin menerpa tubuh Guntur dari arah depan dan seketika Guntur menggigil karena saking dinginnya, hawanya serasa menusuk hingga ke tulang-tulangnya.


Terpaan angin yang mendera tubuh Guntur tidak berlangsung lama hanya selintas lalu saja. Guntur langsung menatap tajam ke arah pohon beringin dan mengedarkan pandangannya dengan seksama ke sekeliling akar-akar besar yang mencuat di bawah pohon itu.


Penuh harap Guntur menanti Genderuwo itu akan muncul bersama Kunto, akan tetapi setelah di tunggu-tunggu nampaknya Guntur tidak melihat adanya tanda-tanda kemunculannya. Wajah Guntur terlihat kesal, ia pikir kalau mahluk Genderuwo itu telah membohonginya.

__ADS_1


"Sialan Genderuwo itu! Apakah saya di bohongi?!" gumam Guntur dengan sorot mata geram menatap pohon beringin itu.


Dalam kegalauannya, tanpa sadar tangannya menyentuh sesuatu benda di saku celana jeansnya. Spontan Guntur meraba-raba saku celananya, "Hape," ucap Guntur.


Ia baru ingat dengan niat sebelumnya hendak mencoba menelpon Kunto kembali, mengingat pada siang harinya saat ia menelponnya, telpon Kunto terdengar aktif dan nyambung tetapi tidak diangkat.


Buru-buru Guntur merogoh saku celananya mengambil hape, lalu dengan jari-jari sedikit gemetar ia menghubungi nomor telpon Kunto. Menunggu beberapa saat lalu terdengar nada dari hape Kunto.


Tuuuuuuuut.... tuuuuuuuu..... tuuuuuuut..... tuuuuuut....


Seketika wajah Guntur nampak sumringah mendengar nada sambung dari hape Kunto karena hape Kunto masih dapat di hubungi dan dalam keadaan aktif pula. Namun sesaat kemudian raut wajah Guntur berubah menjadi harap-harap cemas sambil berucap, "Angkat kritiiiing...! Ayo ngkaaat....!"


Samar-samar telinga sebelah kiri Guntur yang tidak tertutup hape mendengar suara dering telpon. Guntur pun menurunkan hape yang menempel di telinga kanannya, ia memfokuskan pendengarannya terhadap suara dering hape yang terdengar sedikit jauh dari temoatnya berdiri. Untungnya suasananya tengah malam sehingga suara dering hape itu cukup terdengar jelas di keheningan.


Dengan reflek Guntur melangkahkan kakinya menyusuri sumber suara dari dering hape itu. Baru saja tiga langkah, suara dering hape itu tidak terdengar lagi, Guntur pun berhenti. Spontan ia melihat layar hapenya, disitu ada notifikasi "Panggilan Tidak Terjawab".


Guntur pun kembali mengulang menghubungi nomor Kunto, dan.... "Tuuuuuuuuut..... tuuuuuuuut..... tuuuuut..." nada panggilannya kembali tersambung.


Bersamaan itu telinganya kembali mendengar suara dering hape yang semakin jelas. Guntur kemali melangkah dan arahnya menuju pohon beringin itu. Semakin mendekat ke pohon itu semakin besar pula suara dering hape itu.


"Kunto!!!" Guntur terpekik melihat sosok tubuh tergeletak di bawah pohon beringin.


Dua langkah di depannya, sesosok tubuh tergeletak dengan posisi terbaring miring seperti orang tidur. Guntur langsung menghampiri dan memeriksa sosok tubuh yang terbaring itu.


Benar saja, sosok yang terbaring itu adalah Kunto. Guntur langsung menggugahnya dengan mengguncang-guncangkan tubuh Kunto.


"Kun... Kuntooo...! Bangun Kun, bangun!" seru Guntur.


Sesaat kemudian dalam cahaya remang-remang, Kunto terlihat menggeliat lalu pelan-pelan membuka matanya, lalu menengok ke kanan dan ke kiri melihat sekelilingnya dan saat melihat Guntur di hadapannya ia pun terkejut bukan main.


"Astagfirullah!!! Ampuuun.... ampuuun....!" teriak Kunto ketakutan sembari meringkukkan badannya.


Plak! Plak!


Guntur menggeplak pantat Kunto dua kali dengan keras, namun Kunto semakin keras berteriak ketakutan.


"Ampuuun... ampuuun...! Saya janji, saya janji tidak kencing sembarangan, saya janji!" teriak Kunto.


"Hei, hei! Kunto! Hei, hei!" seru Gintur berupaya menyadarkan Kunto.


Sesaat kemudian, perlahan-lahan Kunto menjadi tenang dan membuka kedua tangannya yang menutup mukanya. Samar-samar dalam bayangan pohon beringin, Kunto melihat Guntur berjongkok di samoungnya.


"Guntur?!" pekik Kunto.


"Iya, ngapain sih kamu tidur di sini?! Ayo bangun, bangun!" sungut Guntur.


Kunto kemudian duduk dengan wajah penuh kebingungan. Kepalanya berputar melihat sekelilingnya dengan keheranan.


"Kenapa saya ada disini?!" ucap Kunto.

__ADS_1


......................


__ADS_2