TITISAN

TITISAN
KATA PAK SURO


__ADS_3

Guntur dan Kunto duduk dibelakang meja yang diatasnya terhampar aneka ragam buku-buku bekas. Ada buku-buku pelajaran pendidikan dari mulai Sekolah Dasar, SMP, SMA, buku pengetahuan alam, no vel, majalah dan entah masih banyak lagi. Kios buku loak pak Suro termasuk banyak koleksinya. Sehingga sudah di kenal bagi kalangan Mahasiswa yang sedang mencari referensi untuk bahan skripsi.


Guntur dan Kunto pun turut membantu melayani pengunjung kios pak Suro. Bagi dua pemuda itu mengingatkan keduanya pada beberapa bulan yang lalu saat pak Suro masih berjualan membuka lapak di emperan trotoar. Guntur dan Kunto seringkali membantu melayani pengunjung setiap kali datang ke tempat pak Suro jualan.


"Mas ambilin buku yang itu dong..." ucap suara seorang gadis dari salah satu pengunjung kepada Guntur.


"Yang mana? Ini?" sahut Guntur ramah sambil tersenyum.


"Bukan, sebelahnya... ya ya itu," sergah gadis itu.


Guntur meengambilkan sebuah buku yang terpajang di dinding di belakangnya. Lalu mengulurkannya pada gadis itu sambil tersenyum manis.


"Makasiiiih..." ucap gadis sedikit menggoda.


Guntur hanya tersenyum pada gadis berwajah cantik dengan rambut panjang terurai itu.


"Neng... Neng namanya Hafizah bukan?" tiba-tiba suara Kunto menyela.


"Bukan, mas...aku Sesilia," sergah gadis itu.


Guntur spontan menoleh pada Kunto, dia tahu kalau Kunto mencoba mengingatkan dirinya kalau sudah memiliki Hafizah. Namun caranya sangat extrim, to the point saja membuat Guntur melotot geregetan menatap Kunto. Kunto hanya tertawa-tawa melihat ekspresi Guntur. Ingin rasanya Guntur melempar buku ke arah Kunto namun tidak enak dengan para pengunjung.


"Hahahaha..." suara tawa Kunto sambil sembunyi dibelakang punggung pak Suro.


Setelah beberapa saat lamanya kios pak Suro sesak dengan pengunjung, satu demi satu pengujung sudah mulai berkurang kini hanya tinggal ada seorang pengunjung seumuran dengan Guntur yang masih nampak membaca di sudut depan.


"Udah pak, makan dulu ya laper kan?" ujar Guntur melihat pak Suro merapihkan buku-buku yang acak-acakan.


"Boleh, boleh Gun," sahut pak Suro, kemudian ia membuka laci meja mengambil uang.


"Di, Adi, ini belikan makan dulu," kata pak Suro pada Adi yang berdiri disebelah Guntur.


"Jangan, jangan pak! Simpan saja uangnya, pake uang saya aja," cegah Guntur menahan uluran uang di tangan pak Suro dengan halus.

__ADS_1


"Nggak apa-apa Gun, hari ini laku banyak loh. Ya sekali-kali bapak yang traktir Gun," ucap Pak Suro.


"Nggak usah pak, simpan saja uangnya. Ini Di," Guntur memberikan selembar uang seratusan pada Adi.


"Beli apa nih A? Nasi padang?" tanya Adi.


"Bosen ah, nasi padang mulu. Sekali-sekali ganti yang lain Di, mmm... Ayam geprek deh," kata Guntur.


"Oke A, satu.. dua, tiga, empat. Empat ya A?" tanya Adi lagi.


"Iya Di, eh lima Di. Sama pak Agus," ujar Guntur.


Adi pun langsung pergi meninggalkan kios untuk membeli makanan. Pak Suro hanya geleng-geleng kepala, padahal ia ingin sekali membalas kebaikan Guntur walau hanya sekedar membelikan Guntur makanan. Tapi apa boleh buat, Guntur memang tidak ingin membebani orang dan kebaikannya tidak berubah meski sekarang sudah menjadi sorang bos besar.


"O iya Gun, tumben nih hari Minggu kesini. Apa ada yang bisa bapak bantu?" tanya pak Suro.


"Iya pak, saya meminta pendapat bapak. Saya mau membeli rumah yang di tawarkan teman pak, dia lagi kesusahan dan kebetulan setelah saya lihat rumah yang di jual itu saya tertarik pak," kata Guntur.


"Loh, nanti rumah yang sekarang di tempatinya gimana Gun?" Pak Suro balik tanya.


"Di jual?!" Pak Suro sedikit kaget dengan rencana yang di ungkapkan Guntur.


"Iya pak dan saya sama mamah pindah kesana," ujar Guntur.


Wajah Pak Suro langsung berubah tercengang Guntur mengutarakan akan pindah dan menjual rumah itu. Pikiran pak Suro langsung tertuju pada sosok Karbala, ia merasa sosok penunggu pohon beringin itu akan memberikan reaksi. Namun pak Suro tidak bisa menduga-duga reaksi apa yang bakal dilakukan oleh Karbala. Tetapi yang pasti Karbala tidak akan rela kalau ibu Mila harus meninghalkan rumah itu.


"Kenapa pak?" Tanya Guntur mengagetkan pak Suro yang sedang melamunkan sosok Karbala.


"Eh, nggak, nggak apa-apa. Kapan rencana pindahannya?" tanya pak Suro sedikit gugup.


"Mudah-mudahan dalam seminggu ini pak," ujar Guntur.


"O iya pak, saya melihat ada wanita bergaun merah di rumah itu!" sela Kunto.

__ADS_1


"Iya, gimana tuh pak?!" timpal Kunto.


"Mahluk halus Kun?" pak Suro balik tanya.


"Kayaknya sih, soalnya saat itu Guntur dan temannya nggak melihat wanita itu. Padahal jelas-jelas berdiri," jawab Kunto.


"Kamu bisa melihat mahluk halus Kun?" tanya pak Suro penasaran.


"Nggak tahu juga sih pak, tiba-tiba lihat gitu aja," ujar Kunto.


Kemudian pak Suro memberikan penjelasan mengenai pengalaman yang dialami Kunto. Pak Suro mengatakan, dirinya percaya apabila seseorang dapat melihat penampakkan mahluk halus. Namun dia tidak akan percaya jika ada orang yang mengaku melihat alam gaib. Menurutnya, dimensi alam gaib itu hanya bisa diketahui setelah manusia mati.


Jika manusia yang sudah mati barulah manusia itu memasuki alam gaib, yang disebut dengan alam kubur atau alam barzah, kemudian mereka akan memasuki alam gaib yang disebut alam hisab atau hari kebangkitan di mana manusia dibangkitkan dari kematiannya. Dan yang terakhir adalah alam akhirat alam akhir dari segalanya yaitu surga dan nereka. Inilah yang dinamakan alam keabadian.


Sedangkan yang di lihat Kunto dan peristiwa Kunto pernah dibawa ke alam gaib itu masih berkaitan dengan jin dan alam jin yang disebut dengan alam gain. Sedangkan mahluk jin itu hidup di alam dunia sama dengan manusia. Namun alam Jin disebut dengan alam tak kasat mata, alam itu berada dibalik kehidupan nyata manusia alias berdampingan dengan manusia.


Golongan Jin bukanlah termasuk mahluk gaib, tetapi mereka adalah mahluk kasat mata. Manusia dan Jin itu sama-sama hidup di alam dunia hanya dibedakan dengan Kasat Mata dan Tidak Kasat Mata. Karena Jin diciptakan bukan dari dzat padat seperti manusia melainkan dari unsur api dan wujudnya bersifat gas.


"Karena wujud mereka sangat halus jadi indera kita tidak bisa melacak keberadaannya. Kecuali dengan kepekaan indera tingkat tinggi, yaitu indera keenam, yang sering disebut para spiritual dengan mata batin," ungkap Pak Siro.


"Berarti yang dilihat Kunto itu mahluk Jin pak?" tanya Guntur penasaran.


"Sepertinya begitu Gun," jawab pak Suro.


"Saya nggak mau ada hal-hal begitu di rumah pak. Tapi bisa kan mahluk halus itu dihilangkan dari rumah?" tanya Guntur.


Pak Suro tidak langsung menjawab pasti karena ia teringat dengan sosok Karbala yang nyatanya tidak bisa di suruh pergi. Susahnya lagi, Karbala memiliki kekuatan yang sangat besar sehingga untuk menguairnya haruslah orang yang memiliki ilmu kebatinan yang tidak sembarangan.


"Nanti lah kalau diijinkan, bapak mau lihat-lihat rumah itu Gun," ujar pak Suro.


"Nanti kalau transaksi saya ajak bapak deh," kata Guntur.


Diujung obrolan itu Adi sudah kembali dengan menenteng dua plasik kresek berisi makanan. Setelah Adi memberikan sebungkus makanan kepada pak Agus, mereka pun menikmati makan siang dengan ayam geprek.

__ADS_1


......................


__ADS_2