
Tuliliiitttt... tuliliiiit... tuliliiiittt...
“Haduuuh, ini pasti nanya rumah lagi ini! ampun dah! Nyerah gua mesti menerima telpon terus yang semuanya menanyakan rumah,” sungut Guntur memilih mengabaikan panggilan telponnya dan tetap konsentrasi menatap lalu lintas di depannya.
Entah sudah berapa puluh kali hape Guntur berbunyi hampir di setiap 30 menitnya. Hingga akhirnya membuat Guntur menyerah untuk mengangkatnya. Pasalnya semenjak dari kantor sudah seharian ini sudah banyak yang menelponnya dan semuanya menanyakan soal rumah yang di jual, bahkan hingga perjalanan pulang kantor pun masih juga ada yang menelpon.
Sebelumnya setelah Guntur menerima telpon dua orang pertama yang berminat dan akan melihat-lihat rumah sore dan malam ini, Guntur mengatakan dengan menjawab berterus terang kalau hari ini sudah ada orang yang akan menyurvei. Namun tetap saja para penelpon berikutnya meminta hari berikutnya untuk datang mènyurvei juga. Padahal Guntur juga tidak berani memberikan harapan palsu karena di khawatirkan terjual lebih dulu. Tetapi tetap saja para peminat itu tak patah arang minta jadwal untuk melihat rumah.
Sekitar 30 menitan perjalanan pulang dari kantor yang cukup membuat pusing Guntur oleh bunyi dering panggilan telpon, akhirnya sampai di rumahnya. Guntur melirik jam digital di atas dashboard mobilnya, pukul 16.15 AM. Guntur pun turun dari mobilnya bergegas masuk namun langkahnya terhenti melihat Kunto datang menghampiri.
“Gimana Gun, sudah ada yang menghububgi?” tanya Kunto.
“Nih, Kun,” Ujar Guntur mengulurkan tangannya memberikan hape milikny pada Kunto.
“Buat saya?!” mata Kunto sudah langsung berbinar dengan senyum sumringah.
“Enak aja, jadul-jadul juga masih fungsi!” sungut Guntur.
“Terus, saya hapenya?” Sergah Kunto.
“Lu yang pegang hapenya sebentar, gua mau mandi dulu,” ujara Guntur.
“Tumben-tumbenan pake nitipin hape segala,” sungut Kunto.
“Capek gua ngangkatin telpon mulu nanyain tumah. Sekarang lu aja yang jawab. O iya nanti jam lima ada orang yang mau melihat rumah, sama nanti malam jam tujuh,” ujar Guntur kemudian brlalu dari hadapan Kunto yang masih melongo.
Belum sempat Kunto mau menanyakan lebih jauh bagaimana memberikan jawabannya, Guntur sudah lebih dulu pergi. Bersamaan itu terdengar suara dering hape di tangan Kunto yang dititipin Guntur. Kunto melihat layar hape, tidak ada nama hanya deretan nomor tidak dikenalnya, Kunto pun menerima panggilan itu.
“Hallo, assalamualaikum,” ucap Kunto.
“Wa’alaikum salam, apakah benar ini dengan bapak Guntur yang menjual rumah?” sahut suara perempuan dari seberang telpon.
Kunto nampak ragu-ragu menjawabnya namun teringat dengan pesan Guntur untuk menjawab telpon oeang yang menanyakan soal rumah, lalu menjawab; “Betul bu,?
__ADS_1
“Saya ingin melihat-lihat dulu rumahnya pak,” sahut penelpon.
“Oh, mangga... mangga... kapan bu?”
"Kalau sekarang gimana?" sahut penelpon.
"Kalau sekarang sudah ada dua orang yang mau lihat-lihat juga bu," ucap Kunto.
"Ya nggak apa-apa dong!" sahut penelpon dengan ketus.
"I, iyyyya nggak apa-apa sih tapi kan..." kalimat Kunto terhenti karena suara penelpon menyela dengan keras.
"Sudah pokoknya saya ke alamat rumah itu sekarang!" tukas penelpon lalu di tutup dari sana.
Klik!
Kunto dibuat melongo oleh sikap penelpon yang memaksa banget ingin melihat rumah. Kok ada pembeli model begitu ya, apakah karena kelebihan uang hingga sikapnya seperti raja? “O iya pembeli adalah raja,” batin Kunto, sambil manggut-manggut sendiri. “Tapi raja yang dzolim, hikhikhik... “
Kunto cekikikan sendiri dengan deskripsinya sendiri. Baru saja Kunto memasukkan hape ke saku celananya, tiba-tiba terdengar lagi suara dering hape itu. Kunto melihat ke layar hape, lagi-lagi panggilan dari nomor yang tidak ada namanya, Kunto pun kembali mengangkatnya tetapi tidak langsung mengawalinya berbicara, dia sengaja diam mendengarkan si penelpon berbicara duluan.
“Pak Guntur, dimana ya posisinya? Soalnya saya sudah ada di lampu merah sesuai alamat iklan di koran,” ujar si penelpon.
“Lampu merah mana pak?” jawab Kunto.
“Ini di lampu merah simpang lima Hartoyo, sesuai alamatnya. Tapj di mananga pak?” kata si penelpon.
“Bapak dari arah mana posisinya?” sahut Kunto.
“Dari arah selatan pak,” ujar penelpon.
“Itu udah bener pak, sebelum lampu merah aja sekitar 25 meteran, udah berhenti disitu nanti saya samperin,” kata Kunto.
“Iya ini sudah berhenti sebelum lampu merah. Tapi nggak ada rumah seperti yang di gambar iklan,” sahut penelpon.
__ADS_1
“Masa sih?! Salah posisi paling pak,” ujar Kunto.
“Kalau lihat dari GPS nya sudah samapi tujuan pak, jadi nggak mungkin salah posisi,” sahut penelpon.
“Ya sudah saya keluar nih pak, bapak naik mobil apa?” tanya Kunto.
“Mobil sedan warna merah platnya D1122,” ujar penelpon.
“Oke oke, saya keluar nih pak,” kata Kunto kemudian berjalan keluar pagar rumah.
Kunto berdiri di depan pagar, ia sibuk menolehkan kepalanya kesana kemari, ke kanan dan kekiri, ke depan seberang jalan yang ramai lalu lalang kendaraan yang melintas. Akan tetapi mobil sedan merah yang di sebutkan itu tidak nampak.
“Hallo pak,” ucap Kunto masih terhubung dengan penelpon.
“Ya hallo,” sahut penelpon.
“Ini saya sudah di luar, tapi kok nggak ada mobil yang berhenti di sekitar rumah pak,” kata Kunto.
“Masa sih GPS salah ya pak. Menurut GPS nya sudah sampai tujuan tapi di pinggir posisi mobil saya berhenti tidak ada rumah pak, yang ada hanya pekarangan kosong sama ada bekas reruntuhan bangunan aja nih pak.” Kata si penelpon mulai kesal.
“Masa sih pak, di sekitar sini nggak ada pekarangan kosong pak. Mungkin salah kali pak,” ujar Kunto.
"Ya ampun pak masa saya ngarang sih! Di tempat saya berhenti ini pas di depan pekarangan kosong penuh semak belukar. Hanya ada bangunan yang sudah ambruk!" ujar si penelpon ngotot.
Kunto masih tidak melihat adanya mobil sedan merah berhenti. Di depan rumah dan di kanan kirinya pun tidak ada satu pun kendaraan yang berhenti.
Nampaknya si penelpon sudah mulai kesal, keterangan yang sama berulangkali sudah di jelaskan pada Kunto namun tetap saja keterangan dari Kunto dan si penelpon tidak menemui kecocokkan mengenai lokasinya. Hingga akhiŕnya si penelpon memutuskan sambungan telponnya dan memilih untuk pergi saja membatalkan niatnya melihat rumah.
Kini tinggal Kunto yang kebingungan sendiri setelah si penelpon sempat menyemprotnya dengan umpatan-umpatan yang sedikit kasar. Kunto hanya melongo di tempatnya berdiri masih celingukkan mencari mobil sedan merah.
Ketika Kunto menengok kesebelah kiri arah lampu merah, Kunto melihat sedan merah dengan nomor plat D 1122. Guntur hanya menatapnya kelu tanpa bisa berteriak memanggil. Kunto menggaruk-garuk kepalanya bingung, "berarti mobil itu benar ada disini tapi tadi saya nggak melihatnya dan memang nggak ada mobil yang berhenti." gumamnya.
......................
__ADS_1
🔴BERSAMBUNG...
✅JEMPOLMU SEMANGATKU😘