TITISAN

TITISAN
WAKTU YANG TEPAT


__ADS_3

Guntur yang sudah memiliki rencana didalam pikirannya, menunggu- nunggu adegan selanjutnya sambil terus mengingat adegan demi adegan di dalam mimpinya dengan yang sedang dilihatnya.


Matanya tak berkedip memperhatikan Udin yang terlihat mulai membakar daging berwarna hitam itu. Guntur bersiap melakukan aksi manakala waktunya tepat.


Disamping Guntur, mamah Karmila juga tak berkedip melihat adegan itu, mamah Karmila justru kian tertekan dan merasa bingung memikirkan langkah apa yang akan diperbuatnya mengingat adegan di depan matanya dan menyamakan dengan adegan selanjutnya seperti di dalam mimpinya.


"Apa yang harus ku lakukan kalau Karbala muncul?!" batin mamah Karmila.


Tak henti- hentinya mamah Karmila berpikir keras agar menemukan ide untuk menyelamatkan Karbala agar tidak terpancing dengan panggangan daging gagak itu.


Beberapa saat kemudian Guntur dan mamah Karmila melihat gelagat Udin yang seringkali menoleh kebelakang dengan penuh ketakutan di wajahnya.


Melihat adegan itu Jantung Guntur dan mamah Karmila berdegup kian kencang. Tak ada yang menyadari satu sama lainnya kalau wajah diri mereka mulai menegang, perasaan cemas berkecamuk di hatinya masing- masing.


Spontan di pikiran keduanya mengingat lagi menyamakan seperti di dalam mimpinya. Adagan itu tak akan lama lagi Karbala akan muncul untuk menghampiri panggangan daging gagak.


DIkejauhan gelagat pria berusia 35 tahunan itu nampak panik ketakutan setelah menoleh kebelakang yang kesekian kalinya. Wajahnya pucat pasi dengan mulut ternganga lebar, kedua matanya melotot terbelalak menatap tajam kearah belakangnya.


Sesaat kemudian pria yang tak lain Udin itu buru- buru meletakkan panggangan tusuk kayu daging hitam diatas api lilin merah diantara kayu penyangganya. Lalu Udin pun langsung meloncat dan berlari kearah mobil Guntur yang terparkir di halaman depan.


Deg!


Jantung Guntur dan mamah Karmila serasa berhenti berdetak. Tak lama setelah Udin berlari melewati mobilnya, muncul sosok Mahluk yang dipenuhi bulu- bulu hitam lebat di sekujur tubuhnya.


Sepasang mata mahluk itu menyorot merah tajam tak berkedip menatap panggangan daging hitam. Mulutnya menganga lebar memperlihatkan dua taring putih di kedua sudut bibirnya sambil menjulur- julurkan lidah yang meneteskan air liur yang jatuh diatas dadanya. Terlihat sangat menjijikkan sekali!


Melihat Karbala muncul, seketika Guntur membuka pintu mobilnya dan turun dari dalam mobilnya. Disaat bersamaan pula mamah Karmila reflek membuka pintu mobil disisi kiri.


Guntur berdiri disamping sisi kanan mobil dan mamah Karmila berdiri di samping kiri mobil. Keduanya sama- sama terpaku menatap Karbala dengan wajah tegang.


“Karbala....!!!”


“Karbala...!!!”


Tanpa di komando Guntur dan mamah Karmila spontan berteriak memanggil Karbala bersamaan.


Karbala yang sedang melangkah mendekati tempat panggangan daging gagak itu seketika berhenti, dia menoleh kearah Guntur dan Mamah Karmila.

__ADS_1


Karbala terhenti tiga langkah sebelum sampai di tempat panggangan daging gagak. Dia menoleh dengan beringas kearah suara yang memanggilnya.


Rambut di kepalanya yang gimbal menutupi sebagian wajahnya tersibak saat menolehkan wajahnya, kian menambah keseraman sosok Genderuwo itu.


Guntur terkesiap melihat wajah Karbala yang sebegitu menakutkannya. Batu kali ini ia melihat dengan jelas sejelas- jelasnya wajah Karbala yang seutuhnya disiang hari bolong.


Meski pun pernah berhadapan ketemu langsung, namun tidak seterang dan sejelas dihadapannya saat ini. Sebelum- sebelumnya Guntur hanya melihat sosok Karbala dalam samar ditengah suasana temaramnya malam.


Karbala masih diam ditempatnya, hanya kepalanya yang bergerak meliuk- liuk menatap memperhatikan kearah Guntur dan Karmila secara bergantian.


Guntur dan mamah Karmila yang melihat Karbala menatap kearahnya spontan sama- sama melambaikan tangan memanggilnya setelah tersadar dari kengerian yang melingkupi perasaan keduanya.


Guntur sama sekali tak menyadari apa yang dilakukan mamahnya sama persis dengan dirinya karena pikirannya hanya tertuju pada penyelamatan Karbala.


Lain halnya dengan mamah Karmila, dirinya justru masih diliputi tanda tanya besar soal tindakkan Guntur yang seakan- akan mengetahui keinginannya yang juga bertekad menyelamatkan Karbala.


Namun perasaan itu ia singkirkan sejenak, pikirannya fokus untuk mencegah Karbala memakan umpan panggangan daging Gagak yang sengaja diberikan oleh Ki Wayan untuk mengelabuinya.


......................


Wajah Ki Wayan yang semula girang menyunggingkan senyum kemenangan, langsung bersiap- siap menyalakan mesin gergajinya.


Namun beberapa kali mesin gergaji itu tak kunjung hidup. Dahi Ki Wayan mengerut keheranan, sebab biasanya mesin gergaji itu tokcer langsung menyala dalam satu tarikan starternya.


Akan tetapi kali ini mesin gergajinya itu seperti mogok tak mau menyala padahal selama ini mesin gergajinya itu tak pernah mengalami kendala apapun.


Ki Wayan menoleh kembali melihat kearah posisi mahluk Genderowo yang sedang menuju tempat Udin memanggang dahing gagak. Seketika Ki Wayan mendadak diam membeku sambil mengerutkan keningnya dalam- dalam.


Ki Wayan melihat Karbala yang dilihat terakhir kali sedang melangkah mendekati umpan panggangan daging gagak yang di bakar oleh Udin itu nampak menghentikan langkahnya.


Karbala terlihat menolehkan kepalanya ke sisi kiri sambil menggerak- gerakkan kepalanya meliuk- liuk seperti sedang memperhatikan sesuatu.


Hati Ki Wayan mulai dirundung cemas sekaligus keheranan yang teramat sangat melihat gelagat Genderuwo yang sepertinya tidak lagi tertarik dengan panggangan daging gagak itu.


Sesaat kemudian Genderuwo itu terlihat mulai mengalihkan langkahnya tidak lagi menuju panggangan daging gagak.


Ki Wayan berdiri membatu memegang gergaji mesinnya melihat Genderuwo itu melangkah kearah sebelah kiri menuju halam depan.

__ADS_1


Raut wajah Ki Wayan nampak kian kebingungan dan mulai putus asa mendapati gelagat yang tidak sesuai dengan rancananya.


“Kenapa genderuwo itu melangkah ke halaman depan?!” Batin Ki Wayan tak habis pikir.


Kejadian tersebut sangat diluar perkiraannya sebelumnya membuat Ki Wayan terpaku ditempatnya. Raut wajahnya mengerut dalam- dalam penuh kebingungan, ia merasa tak memiliki siasat lainnya.


“Kalau saya paksakan menebang pohon ini, Genderuwo itu pasti akan langsung menyerang!” pikir Ki Wayan ragu- ragu.


“Tapi tidak ada jalan lain, satu- satunya jalan melalui pertarungan menaklukkannya lebih dahulu...” batin Ki Wayan terus- menerus berkecamuk.


Ki Wayan sudah memutuskan untuk langsung menebang pohon beringin di hadapannya. Ia terus saja mencoba menghidupkan mesin gergajinya, namun mesin itu tak juga mau hidup.


Ki Wayan mulai terlihat kesal karena mesin gergajinya tak kunjung hidup. Lalu ia melempakannya begitu saja keatas akar- akqr besar yang bertonjolan dibawah pohon beringin.


Ia bergegas mepangkah berniat hendak menyusul Genderuwo yang sudah tidak tampak lagi untuk menantangnya.


Sementara itu di tempat haji Abas dan yang lainnya, melihat Ki Wayan melemparkan mesin gergaji dan pergi dari bawah pohon beringin itu nampak keheranan.


Mereka hanya memperhatikan Ki Wayan yang berjalan tergesa- gesa menuju halaman depan.


“Pak Haji, kenapa dengan Ki Wayan?! Kelihatannya dia sangat kesal sekali!” Ujar pak RT Parno.


Haji Abas tak menanggapi pertanyaan pak RT Parno, ia justru menoleh kearah Udin seraya bertanya; “Mang Udin, apa mang Udin sudah melakukan yang diperintahkan Ki Wayan?”


“Sudah pak haji, makanya saya langsung lari kesini karena saya melihat mahluk Genderuwo itu sudah muncul dan mendatangi tempat saya!” ujar Udin.


“Tapi kenapa Ki Wayan berjalan kesana ya,” ujar haji Abas sembari garuk- garuk kepalanya yang tidak gatal.


“Apa sebaiknya kita ikuti Ki Wayan pak haji?!” celetuk pak RT Parno.


“Iya pak haji ayo kita lihat Ki Wayan,” timpal Udin.


Haji Abas tampak ragu- ragu, ia masih berpikir membatu berdiri mempertimbangkan usulan tersebut.


......................


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2