TITISAN

TITISAN
TUNTUTAN


__ADS_3

Di Alam Gaib,


Kamar itu berguncang keras lalu tiba-tiba muncul pusaran angin berputar- putar di hadapan Zahra yang terduduk di bawah daun pintu dengan wajah panik dan ketakutan. Kini putaran pusaran anginnya kian membesar hingga memporak porandakan benda- benda seisi kamar.


"ZAHRA.... ZAHRA.... ZAHRA... ZAHRA...."


Samar- samar terdengar suara memanggil nama anak perempuan berusia 10 tahunan itu menggema seantero kamar.


Zahra kian tersudut ketakutan, matanya membelalak lalu menyembunyikan wajahnya diantara kedua kakinya yang menekuk. Anak kecil itu meringkuk dengan merapatkan kedua lututnya di perut sedang tangannya mendekap erat kedua kakinya. Air matanya terus mengalir deras membasahi kedua pipinya.


Zahra belum tersadar juga sampai- sampai tidak mengenali suara yang memanggil namanya itu. Justru ia meminta tolong memanggil- manggil Putri.


“Toloooong....! Putriiiii....! Putriiii... ! Putriiii....!”


Zahra berteriak histeris memanggil- manggil Putri. Namun teman yang baru dikenalnya itu tak juga kunjung muncul.


......................


Di rumah Karmila,


Karmila yang terbaring di dalam kamar nampak sedang kesakitan memegangi kepalanya di atas kasur sendirian. Kunto masih belum pulang, sementara Guntur di perkirakan baru tiba di rumah sekitar pukul 6 sore-an.


“Aaaahhhkkk...”


Karmila mengerang menahan pening di kepalanya yang terasa berputar- putar. Dia memegangi kepalanya dengan tangan kanan, sedangkan tangan kirinya memegangi dadanya yang terasa panas dan sesak. Wajah cantiknya yang putih terlihat kemerahan, tubuhnya gelisah bergerak kesamping dan ke kanan menahan kesakitan yang mendera di sekujur tubuhnya.


"Guntuuuuurrrr...! Guntuuuur....!"


Karmila terus berteriak- teriak memnggil putra semata wayangnya berharap segera muncul. Sementara kain sprey nampak sudah kusut tak rapih lagi karena gerakkan liar Karmila menahan sakitnya.


......................


Di Rumah Tahfiz,


Bulir- bulir keringat nampak keluar membasahi di seluruh wajah dan baju koko Haji Abas yang tengah duduk bersila menghadap pohon beringin. Mukutnya tak henti- hentinya mengucapkan zikir beriring dengan jari- jari kanannya meniti tasbih.


Tubuh Haji Abas bergetar hebat, ia merasakan sebuah dorongan kuat dari arah pohon Beringin disertai hawa panas menerpa tubuhnya.


Sementara ustad Amir tubuhnya sudah bergeser mundur oleh terpaan hawa tak kasat mata itu. Wajahnya yang memucat bersimbah keringat yang bercucuran membasahi sekujur tubuhnya. Pakaian koko nya pun sudah basah kuyup oleh keringat.

__ADS_1


Di tempat itu hanya berdua saja, haji Abas dan ustad Amir. Sedangkan ustad dan ustadzah serta anak- anak santri sudah diinstruksikan untuk masuk ke dalam asramanya.


DI hadapan haji Abas dan ustad Amir, perlahan- lahan muncul sosok bayangan yang membias berdiri tepat di dalam batang dan rerimbunan pohon beringin. Sekilas sosok itu timbul tenggelam terlihat antara batang pohon beringin dan wujud berbulu hitam lebat yang memancarkan sinar merah di kedua matanya.


“Kembalikan anak itu!” teriak haji Abas ditengah- tengah deru terpaan hawa panas dari sosok berbulu hitam itu.


“HAHAHAHAHAHA.... HAHAHAHAHA....


DENGAN SATU SYARAT!”


Suara besar dan sember yang menggidikkan itu sangat terdengar jelas di telinga haji Abas dan ustad Amir. Keduanya terkesiap kaget mendapat jawaban dari sosok yang muncul samar- samar di batang pohon beringin.


Ustad Amir langsung tergeletak tak sadarkan diri setelah sekian lama terus bertahan dari kekuatan hawa panas yang menerpanya. Sementara haji Abas masih tetap bertahan meskipun kondisi tubuhnya sudah basah kuyup oleh keringat hingga tercetak jelas pada pakaiannya.


“Apa syaratnya?!” tanya haji Abas tanpa berpikir jernih.


“HAHAHAHAHA... TINGGALKAN TEMPAT INI...!!!”


“HAHAHAHA.... HAHAHAHA.... HAHAHAHA...”


Haji Abas terdiam beberapa saat, ia berusaha berpikir matang- matang sebelum menjawab. Lalu dengan sedikit senyuman tersungging, ia menjawab; “Baiklah! Kembalikan anak itu!”


Suara tawa mahluk penunggu pohon beringin itu perlahan- lahan mengecil seperti menjauh lalu lenyap. Bersamaan dengan lenyapnya sosok bayangan hitam berbulu lebat itu, terpaan deru hawa panas pun lenyap seketika.


“Putriiiii.... Putriiii.... Putri....!”


Haji Abah terperangah tiba- tiba terdengar suara anak kecil dari arah pohon beringin. Haji Abas membuka matanya, mencari- cari sumber suara yang memanggil- manggil nama Putri.


Sepasang mata haji Abas terbelalak, saat pandangannya membentur sosok tubuh anak kecil tengah meringkuk dengan kaki menekuk rapat dan menyembunyikan wajahnya diantara kedua kakinya.


“Astagfirullah! Zahra!” teriak haji Abas.


Haji Abas segera berdiri beranjak melangkah ke tempat Zahra terduduk menyandar pada akar pohon beringin yang besar.


“Zahra! Alhamdulillah!” pekik haji Abas sambil menepuk pundak anak perempuan itu.


Akan tetapi Zahra terlihat ketakutan, tangisnya pun kian membuncah. Zahra semakin mengeratkan kedua tangannya dan kian dalam menyembunyikan wajahnya diantara kedua kakinya.


“Zahra... Nak... Ini Abah nak... Zahra...” ucap haji Abas penuh kasih sayang sembari mengelus kepalanya.

__ADS_1


Namun Zahra semakin histeris menangis sejadi- jadinya. Kemudian sejenak Haji Abas membacakan doa lalu di tiupkannya pada kepala Zahra yang tertunduk dalam- dalam. Beberapa saat kemudian tangisan Zahra berhenti, perlahan- lahan ia mendongakkan kepalanya melihat sekeliling. Zahra celingukkan sesaat lalu pandangannya berhenti pada haji Abas.


“Abah... Kenapa Zahra ada disini...” ucap Zahra polos.


Haji Abas tersenyum melihat tingkah Zahra yang baru tersadar sepenuhnya. Lantas bermaksud mengajak Zahra ke asrama bergabung dengan teman- temannya, tetapi terhenti oleh pertanyaan Zahra.


“Abah, Putri mana...?” tanya Zahra.


“Putri...?!” haji Abas balik tanya keheranan.


“Iya, putri Abah. Dia teman Zahra,”


Tak lama kemudian datang ustad Jalal, ustad Sofyan, ustad Fajri dan beberapa ustad lainnya. Mereka semua tercengang melihat ustad Amir tergeletak diatas rumput, lalu melihat ketempat haji Abas yang sedang berjongkok menghadap Zahra di bawah pohon beringin.


“Zahra?!” pekik mereka berbarengan.


“Alhamdulillaaaaahhhh...” sambung mereka.


"Ustad tolong bantu ustad Amir, dan bawa Zahra kembali ke asramanya." kata haji Abas.


Para ustad itupun segera berbagi tugas lima orang menggotong ustad Amir dan seorang ustad membimbing Zahra menuju asrama.


Haji Abas masih terpaku berdiri di bawah pohon beringin sambil menatap ustad- ustad itu membawa pergi ustad Amir dan Zahra dari tempat itu. Tak lama kemudian ia pun beranjak dari bawah pohon beringin sambil memikirkan persyaratan yang diminta mahluk penunggu pohon beringin itu yang tak lain adalah Karbala.


......................


Di Rumah Karmila,


Karmila merasa keheranan, ia langsung duduk dari posisi berbaringnya. Sebelumnya kepala dan dadanya terasa begitu menyiksanya, kini seketika menghilang. Karmila tak lagi merasakan pening dan berat di kepalanya serta rasa panas di dadanya.


Karmila segera turun dari atas kasur beranjak menuju kaca violet yang berada 3 langkah disebelah temoat tidurnya. Ia meraba- raba wajahnya, kepalanya serta dadanya sambil melihat kearah cermin.


“Tidak ada apa- apa, aneh!” Gumamnya.


Karmila pun segera membenahi sprey kasurnya yang kusut berantakan. Setelah selesai merapihkannya, ia pun melangkah keluar kamar sambil melihat jam dinding di tembok kamarnya.


“Jam enam kurang,” gumamnya.


Bersamaan Karmila membuka pintu kamar, terdengar suara klakson mobil dari luar. Ia pun bergegas keluar untuk memastikan kalau itu Guntur.

__ADS_1


__ADS_2