
Setelah memindahkan tubuh Kunto dari mobil Guntur keatas blangkar, dua orang petugas rumah sakit segera mendorong blangkar itu menuju ruang Instalasi Gawat Darurat.
Mamah Karmila ikut turun mengekor dibelakangnya, sementara Guntur langsung melajukan mobilnya menuju ke tempat parkir.
Tubuh Kunto yang di tutupi selimut khas rumah sakit nampak masih menggigil- gigil dan kaku, begitu pula dengan posisi tangannya masih mengepal kuat- kuat sambil terus mengerang.
Beberapa pasang mata memandangi Kunto yang terbaring diatas blangkar dengan tatapan heran seribu tanda tanya.
Wajah orang- orang itu rata- rata mengerutkan kening setiap kali blangkar yang membawa Kunto melintas didepan orang- orang yang sedang duduk ataupun orang yang berpapasan.
Sementara itu di tempat parkiran, Guntur segera mematikan mesin mobilnya beregas turun sambil menyambar hapenya yang diletakan di kabin tengah mobil.
“Halo assalamualaikum neng, mm... neng saya mungkin agak siangan ke kantornya atau mungkin juga nggak ke kantor. Soalnya lagi ada di rumah sakit. O iya cancel pertemuan dengan pak Yosef ya,” kata Guntur melalui telpon selulernya.
“Wa alaikum salam, oh, siapa yang sakit mas?! Tante?!” sahut Hafizah diseberang telpon bernada khawatir.
“Bukan, Kunto yang sakit, ok neng makasih ya,” Guntur menutup telponnya, lalu melanjutkan langkahnya keluar dari parkiran.
Guntur bergegas berjalan memasuki rumah sakit dan langsung menuju ruang Instalasi Gawat Darurat.
Saat Guntur hendak berbelok menuju ruang Instalasi Gawat Darurat, ia nyaris bertabrakkan dengan seorang dokter yang tiba- tiba muncul dari pintu ruang rawat.
__ADS_1
“Aduh!” Pekik Guntur dan dokter bersamaan.
“Maaf, maaf dok,” ucap Guntur segera membantu mengambil kertas- kertas yang berjatuhan diatas lantai.
“Iya, nggak apa- apa pak. Loh pak Guntur?! Kesini lagi, ibumu sakit lagi?” Tanya dokter terkejut.
“Eh, dokter Hilman. Bukan dok, tapi temen saya,” jawab Guntur mengulurkan kertas- kertas yang dipungutnya.
“Di rawat dimana temannya pak?” tanya dokter Hilman.
“Baru saja masuk ke IGD dok,” jawab Guntur.
“Kalau begitu ayo kesana dok,” ujar Guntur.
"Mati, mari pak..."
Guntur dan dokter Hilman cepat- cepat berjalan beriringan menuju ke ruangan IGD.
Mamah Karmila terlihat duduk gelisah di kursi tunggu di depan ruangan yang di pintunya tertera tulisan ‘IGD.”
Raut wajahnya menyiratkan bermacam- macam yang sedang dipikirkannya. Sesekali mamah Karmila menghempaskan nafasnya kuat- kuat untuk mengusir rasa kekhawatiran di hatinya.
__ADS_1
“Semoga Kunto tidak kenapa- kenapa...” batin mamah Karmila.
Sesaat kemudian ekspresi wajahnya berubah, keningnya berkerut dalam- dalam. Ia mendadak merasa khawatir memgingat kejadian semalam.
“Bagaimana kalau Kunto menceritakannya pada Guntur?!” mamah Karmila menutup wajah dengan kedua telapak tangannya rapat- rapat.
Tergurat rasa kengerian di dalam pikirannya membayangkan setelah Kunto menceritakan menceritakan kejadian itu semua kepada Guntur.
Mamah Karmila membayangkan bagaimana pasti Guntur akan sangat murka dan mungkin akan sangat membenci dirinya. Atau mungkin yang lebih tragis lagi putra semata wayangnya bisa jadi akan pergi meninggalkannya.
“Ohhhh... ya Tuhan....” mamah Karmila melenguh penuh rasa bersalah.
Sesaat kemudian kedua telapak tangan yang menutupi wajahnya perlahan- lahan ia buka. Sorot kedua mata mamah Karmila nampak dingin menatap kosong kedepan.
"Tidak! Guntur tidak boleh sampai tau!" tekad mamah Karmila dalam hati.
Kedua tangannya mengepal erat- erat diatas pangkuannya. Terdengar ia menghirup udara dalam -dalam lalu dihempaskannya kuat- kuat.
BERSAMBUNG....
......................
__ADS_1