
Jantung Guntur dan mamah Karmila berdegup kian kencang manakala melihat Karbala mulai bergerak menuju kearah mereka berdua.
Sosok Karbala nampak jelas terlihat sedikit lebih tinggi dan besar dari Guntur itu berjalan perlahan. Sekujur tubuhnya dipenuhi bulu- bulu hitam lebat disekujur tubuh dan hanya memakai seikat kain yang sudah kusam membaluti pada bagian vitalnya.
Anak bulu- bulu halusnya nampak bergoyang- goyang ditiup semilir angin di pagi hari yang beranjak siang dengan cuaca yang sudah mulai redup tertutup mendung tebal.
Kedua pasang matanya yang kecil tak selaras dengan wujudnya yang tinggi besar namun memancarkan kilatan warna merah menyala itu menatap tajam kearah Guntur dan mamah Karmila yang bediri tegak membatu di sisi kanan kiri pintu mobil.
Perlahan- lahan Karbala melangkah diatas rerumputan halaman depan. Karbala mengurungkan hasratnya untuk menyantap panggangan daging gagak yang diumpankan Ki Wayan, seleranya hilang seketika saat melihat kehadiran Guntur dan mamah Karmila.
Selangkah demi selangkah, akhirnya jarak antara Karbala dengan Guntur dan mamah Karmila tinggal 5 meteran lagi...
"Karbala lihat di..."
Belum sempat Guntur memberikan peringatan pada Karbala tentang situasinya yabg sedang terancam, tiba- tiba Karbala memalingkan wajah seramnya. Sehingga tak melihat dan mendengar ucapan dan kode yang diberikan Guntur.
Seketika kepala Karbala menoleh kebelakangnya seolah- olah ada sesuatu yang mengganggunya. Guntur dan mamah Karmila terperanjat kaget melihat reaksi Karbala yang nampak marah dan menoleh kebelakang yang secara tiba- tiba.
Lalu Karbala menghentakkan kakinya, dalam sekejapan mata tubuhnya melayang diatas rumput halaman setitinggi 2 meteran bergerak kembali kearah tempat pemanggangan daging Gagak tempa dia berdiri sebelumnya.
Melihat itu raut wajah Guntur dan mamah Karmila seketika terperangah. Seketika rasa cemas dan putus asa langsung menghinggapi perasaannya. Mereka berdua berpikir kalau Karbala tak menghiraukan panggilannya dan lebih tertarik dengan makanan yang paling disukainya itu.
Setelah Karbala menjejakkan kakinya ditempat semula, Guntur dan mamah Karmila dibuatnya terheran- heran. Pasalnya, kini posisi Karbala berdiri membelakangi panggangan daging burung gagak itu.
Gestur tubuhnya terlihat bergerak- gerak liar seperti sedang marah besar. Mulutnya yang semula menganga sedikit dan mengeluarkan air liurnya karena melihat makanan favoritnya, kini berganti menyeringai lebar.
Guntur dan mamah Karmila yang masih belum memgetahui situasi yang sebenarnya, kian bingung mengerutkan dahinya dalam- dalam.
Tak lama kemudian Guntur dan mamah Karmila melihat dengan jelas tiba- tiba Karbala mengibaskan tangan kanannya ke samping.
Guntur dan mamah Karmila merasakan ada hempasan angin yang tiba- tiba menerpa tubuh mereka berdua setelah Karbala menggerakkan tangannya. Dan seketika mereka berdua merasakan tubuhnya seperti terhentak sehingga secara reflek mata Guntur dan mamah Karmila berketip karena kaget.
Dan saat kembali membuka matanya Guntur dan mamah Karmila keterkejutan mereka berdua semakin menjadi- jadi Guntur dan mamah Karmila sama- sama mengucek- ngucek matanya sesaat kemudian saling berpandangan dengan wajah sangat kebingungan dan keheranan.
Sesaat kemudian kepala mereka berputar kesana kemari saling celingukkan melihat sekelilingnya. Kini Guntur dan mamah Karmila berada didalam jok mobil di posisinya masing dalam hitungan seketipan mata.
Guntur terduduk dibalik belakang kemudinya dan mamah Karmila duduk kebingungan di kursi samping kiri didalam mobil mereka.
Belum juga terjawab keheranan melihat Karbala marah menatap lurus di halaman samping itu, tiba- tiba Karbala menghentakkan kembali kakinya.
__ADS_1
Seketika tubuh Karbala melayang dan melesat kearah pohon beringin lalu hilang dibalik sudut rumah. Guntur dan mamah Karmila hanya terbengong- bengong keheranan.
“Kenapa dengan Karbala?! Sepertinya dia menyongsong sesuatu. Jangan- jangan....” Batin Guntur menduga.
Guntur bergegas membuka pintu mobilnya berniat ingin melihat apa yang sedang dihadapi Karbala, ia sangat penasaran dengan Karbala yang terlihat murka.
Uhhggg...! Ehhhggg..!
Jegreg...! Jegreg...!
Guntur berusaha membuka pintu mobil akan tetapi pintu itu tak bisa dibukanya. Guntur terlihat sangat kesal bercampur keheranan pintu mobilnya tak bisa di buka sama sekali.
Pintu mobilnya seperti terkunci dari luar, namun Guntur dibuat kian heran, sebab kalau pun pintu mobilnya di kunci dari luar mestinya dirinya masih bisa membukanya dari dalam. Tetapi yang terjadi pintu mobil itu tidak bisa dibukanya
Selain itu kunci mobilnya pun berada di tangannya. Logikanya mendominasi pikiran Guntur sehingga semakin membuatnya merasa kesal tak terkira.
Braaak...!
“Sialan...!” umpat Guntur kesal sambil memukul pintu mobil.
Mamah Karmila kontan kaget setengah mati, akibat tindakkan Guntur. Jantungnya berdegup bertambah kencang setelah sebelumnya sudah sangat tegang melihat Karbala dan peristiwa aneh yang baru saja dialaminya.
“Ada apa Gun?! Kenapa?!” berondong mamah Karmila bertanya.
“I, ini mah pintunya nggak bisa dibuka!” jawab Guntur kaget dan Seketika ia tersadar dengan tindakkannya yang sempat lepas kontrol.
“Masa sih?!” sergah mamah Karmila tak percaya.
“Serius mah! Beneran nggak bisa dibuka!” ujar Guntur dengan suara sedikit meninggi karena masih terbawa kesal.
Jegreg...! Jegreg...! Jegreg...!
“Iya!” seru mamah Karmila spontan sambil menarik- narik tuas pintu mobil berulang kali.
“Aneh, kok bisa?! Kuncinya Gun?!” tanya mamah Karmila heran.
“Nih..!” jawab Guntur kemudian menunjukkan kunci mobil.
......................
__ADS_1
Sementara itu di tempat haji Abas beserta pak RT Parno, udin dan ketiga orang ustad pembimbing rumah tahfiz perlahan- lahan melangkah takut- takut untuk melihat Ki Wayan yang mendadak berjalan kearah halaman depan.
Dari pojok tembok rumah itu satu persatu haji Abas dan yang lainnya perlahan- lahan menongolkan kepalanya saling berdesakkan untuk dapat melihat Ki Wayan.
“Astagfirullah!” Teriak haji Abas.
“Astagfirullah!” timpal pak RT Parno dan Udin.
“Masya Allah!” susul 3 orang ustad serempak.
Raut wajah mereka mendadak terlihat ngeri setelah melihat dengan apa yang ada di halaman samping itu.
Mereka melihat Ki Wayan berdiri terpaku menghadap sosok mahluk dengan penampilan yang sangat mengerikan.
“Genderuwo!” pekik Udin tanpa sadar.
“Sssstttt...!” sergah haji Abas menempelkan jari telunjuk di mulutnya.
Mahluk menyeramkan yang mereka lihat itu tak lain adalah Karbala. Wajahnya nampak jelas terlihat sedang menyeringai penuh kemarahan.
Sepasang matanya berkilat- kilat menyala merah menatap lekat- lekat kearah Ki Wayan. Karbala sedang melangkah merangsak menyongsong Ki Wayan.
Ki Wayan mengepalkan kedua tangannya kuat- kuat di samping dan tubuhnya sedikit bergetar menatap Karbala.
Ia tersurut mundur satu langkah lalu buru- buru membuat posisi kuda- kuda. Nampaknya Ki Wayan mempersiapkan diri menghadapi serangan Karbala yang merangsak maju.
“Haaaaahhhhgggggkkkkk....!!!” teriak Karbala.
Suaranya yang sember dan besar begitu jelas terdengar oleh haji Abas dan yang lainnya, membuat mereka semua menutup kedua telinga sambil memejamkan matanya rapat- rapat.
Haji Abas dan lainnya bergidik ngeri, bulu kuduk mereka semua kontan meremang melihat kengerian di depan matanya.
Beberepa detik kemudian saat haji Abas dan lainnya kembali membuka matanya, mereka melihat Ki Wayan menyelipkan tangan kanannya di punggung dibalik bajunya.
Sesaat kemudian di tangan Ki Wayan sudah tergenggam sebatang Keris dengan werangkanya berwarna hitam kecoklatan.
Ki Wayan langsung mencabut keris itu dari werangkanya lalu diacungkan tinggi- tinggi tegak keatas.
......................
__ADS_1
BERSAMBUNG...