TITISAN

TITISAN
KONDISI KUNTO


__ADS_3

"Mah gimana keadaan Kunto?!" tanya Guntur yang tiba- tiba.


Mamah Karmila tersentak dari lamunannya, ia buru- buru tersenyum melihat kedatangan Guntur bersama dokter Hilman, meskipun senyumnya tampak kaku dan canggung.


“Mm, belum ada kabar dari dalam Gun... Siang dok,” jawab mamah Karmila sekaligus menyapa dokter Hilman.


“Siang bu Mila, ya sudah saya tinggal dulu ya pak Guntur, bu Mila.” Sahut dokter Hilman.


“Silahkan dok, tolong teman saya ya dok,” jawab Guntur mengharap.


“Pasti, pasti saya bantu semampu saya pak Guntur,” ujar dokter Hilman kemudian berlalu dari hadapan Guntur dan mamah Karmila.


Sepeninggal dokter Hilman, Guntur duduk di sebelah mamah Karmila, sambil berkata; “Kunto sakit apa ya mah, sampe kejang- kejang dan kaku gitu?”


“Mamah juga nggak tau Gun, kita tunggu saja setelah dokter Hilman memeriksanya,” sahut mamah Karmila.


Setelah percakapan singkat itu tak Guntur dan mamah Karmila saling terdiam, hanyut kedalam pikirannya masing- masing.


Guntur sendiri terhanyut memikirkan keadaan Kunto dan mencari- cari perkiraan sakit yang di derita Kunto. Namun semua dugaannya buntu hanya menimbulkan banyak tanda tanya saja di kepalanya.


Selama ini yang ia tahu Kunto tidak pernah mengalami hal seperti itu, bahkan ia tidak pernah mendengar kabar kalau Kunto memiliki riwayat penyakit apapun.


“Mah, apa saya telpon keluarganya aja ya mah?!” tanya Guntur memecah keheningan.


Mamah Karmila tak langsung merespon, ia nampak berpikir sejenak. Di wajahnya ada kebimbangan dan kekhawatiran yang berusaha ia tekan kuat- kuat, kemudian menjawab.


“Mm... ja, jangan dulu menurut mamah sih. Kita lihat dulu kabar dari dokter Gun, mamah khawatir keluarganya akan panik dan cemas,” ucap mamah Karmila berusaha mencegah inisiatif Guntur.


“Oke deh,” timpal Guntur,


Guntur merasa jawaban mamahnya memang cukup rasional. Dan Guntur masih belum menyadari kejanggalan ekspresi dari mamahnya. Pikirannya masih fokus memikirkan keadaan Kunto.


Sementara mamah Karmila nampak tenang, ia berusaha sebisanya menjaga sikapnya agar tak menimbulkan kecurigaan dimata Guntur.


Jika saja Guntur memperhatikan gelagat mamah Karmila dengan seksama, ia pasti akan dapat menyimpulkan kalau mamahnya sebetulnya mengetahui penyebab dibalik kondisi Kunto.


Kreteeekkk..

__ADS_1


Suara pintu ruang Instalasi Gawat Darurat terbuka, Guntur dan mamah Karmila langsung berdiri bersiap menanyakan kondisi Kunto.


Dokter Hilman keluar dari ruang I G D dengan raut tak seperti biasanya, selalu tenang dan kalem. Tetapi kali ini raut wajahnya nampak tegang sekaligus bingung begitu keluar ruangan itu.


“Dok gimana kondisi teman saya dok?” Guntur buru- buru bertanya dengan nada khawatir.


“Iya gimana keadaannya dok?” Timpal mamah Karmila.


“Mm, apakah sebelumnya pak Guntur dan bu Mila melihat saudara Kunto ini melakukan sesuatu?” dokter Hilman balik bertanya.


Mamah Karmila seketika terkesiap mendengar pertanyaan dokter Hilman. Seketika jantungnya berdegib kencang, dadanya berdebar- debar dengan keras, namun mamah Karmila berupaya menekan semua gejolak perasaannya kuat- kuat.


Lain halnya dengan ekspresi Guntur yang langsung mengerutkan dahinya, ia tampak bingung dengan pertanyaan dokter Hilman.


“Maksud dokter?!” buru- buru Guntur bertanya.


“Mmh, sse, sseebelumnya saya lihat Kunto baik- baik saja dok,” sergah mamah Karmila.


“Iya, saya mendapati sesuatu yang janggal pada sakitnya. Saya dan tim medis tidak menemukan suatu penyakit apapun pada tubuh saudara Kunto,” ungkap dokter Hilman.


“Kalau dilihat dari ekpresi di wajahnya disertai kejang- kejang itu merupakan bentuk sebuah reaksi dari rasa ketakutan yang teramat sangat. Sehingga menyebabkan tubuhnya mengalami kontraksi yang begitu dahsyat. Saudara Kunto cenderung histeris yang berada di puncaknya,” terang dokter Hilman.


“Histeris?! Ketakutan?!” Guntur mengulangi dua kata yang paling dipertanyakan di kepalanya.


“Jadi gimana dokter? Apakah Kunto bisa disembuhkan?!” tanya mamah Karmila buru- buru.


“Sekarang kondisinya kontraksi dan kejang- kejangnya sudah hilang setelah di suntik obat. Ya kita lihat saja perkembangannya nanti,” jawab dokter Hilman.


Usai dokter Hilman berucap, pintu ruang I G D kembali terbuka, tapi kali ini muncul seorang petugas yang mendorong ranjang blangkar.


Di atas blangkar itu terlihat tubuh Kunto terkulai lemah dengan selang infus menancap di lengan tangannya dan juga selang oksigen di hidungnya.


“Silahkan ikut ke ruang rawat pak Guntur, bu Mila. Saya permisi dulu,” ucap dokter Hilman.


“Baik, dok terima kasih sebelumnya,” balas Guntur menangkupkan telapak tangannya diikuti mamah Karmila.


......................

__ADS_1


Di dalam kamar rawat no 15, Kunto terbaring lemas diatas ranjang. Tidak seperti sebelum dibawa ke rumah sakit, kedua matanya terbelalak tak pernah menutup atau berkedip. Namun kini kedua matanya tertutup rapat layaknya sedang tertidur pulas.


Selang oksigen dan infus menempel di tubuhnya, juga kabel- kabel detektor menempel di dadanya. Diatas tempat tidur, layar deteksi jantung nampak menunjukkan gerak grafik teratur namun dalam garis yang lemah, masih dibawah garis normal.


Sementara itu Guntur dan mamah Karmila duduk di kursi yang ada di sisi kanan ranjang memandangi Kunto yang terbaring. Meski sama -sama memandang kearah Kunto, namun di dalam pikiran mereka masing- masing jelas terlihat berbeda melihat dari gestur tubuh keduanya.


Di wajah mamah Karmila masih mengguratkan kecemasan yang teramat sangat. Sorot matanya pun tersirat ada was- was yang berusaha disembunyikannya.


Berbeda dengan Guntur, ia masih memikirkan keterangan dari dokter Hilman. Dua kata yang terus terngiang- ngiang sangat mengusik pikirannya, yakni Histeris dan Ketakutan!


Histeris, Guntur menduga- duga kenapa Kunto bisa sampai histeris. Apakah ada sesuatu yang dilihatnya yang membuatnya histeris berat.


Dan ketakutan, otaknya terus mencerna menduga- duga apa yang sudah dilihat oleh Kunto sehingga dia sebegitu ketakutannya.


“Apakah di rumah itu ada mahluk tak kasat mata yang di jumpai Kunto?!” batin Guntur.


Guntur mulai memikirkan cara untuk mencari tahu sesuatu yang dilihat Kunto itu. Otaknya terus berputar bagaimana untuk bisa mengungkapnya, dan di dalam pikriannya terlintas salah satu nama, yaitu ‘Pak Suro’.


......................


Di kantor,


Setelah Hafizah mengabarkan pada karyawan dan karyawati soal Guntur yang absen masuk kantor karena sedang berada di rumah sakit, kontan mendapat reaksi simpatik dari para karyawan.


Mereka spontan merencanakan untuk mengunjungi rumah sakit. Ada sekitar 7 orang, terdiri dari 4 wanita dan 3 laki- laki yang bisa ikut berangkat ke rumah sakit, sedangkan selebihnya tidak bisa karena ada tugas yang harus dikerjakannya.


“Pada mau kemana?” Tegur satpam Agus di pos jaga sebelum membuka pintu gerbang kantor PT. Elang Trabas.


Satpam Agus mendekat ke sisi jendela sopir. Joko yang berada di belakang setir pun langsung menjawab; “Mau ke rumah sakit dulu jenguk pak bos, pak Agus.”


“Pak Bos sakit apa?!” satpam Agus terkejut.


“Bukan pak bosnya yang sakit tapi mas Kunto pak,” terang Joko.


“Ohw,” satpam Agus nampak terlihat lega, kemudian segera mendorong pintu pagar besi.


......................

__ADS_1


__ADS_2