
Wajah cantik Karmila nampak masih diselimuti kedukaan yang sangat mendalam. Kedua matanya sembab karena tak henti-hentinya menangisi kepergian Aryo. Kepergian suaminya itu membuatnya merasa menanggung beban dosa yang begitu berat.
Setelah satu persatu tamu-tamu berpamitan pulang usai menggelar tahlilan yang dihadiri kerabat, karyawan-karyawan serta relasi almarhm Aryo, Kunto dibantu Bi Sum yang biasa mengerjakan pekerjaan di rumah Aryo itu langsung beres-beres. Kunto menggulung karpet dan kanbal setelah bi Sum membawa piring-piring bekas jamuan ke dapur.
Mamah Karmila dan Guntur masih berdiri di teras rumah usai menghantarkan tamu relasi-relasi almarhum Aryo yang terakhir. Keduanya memandang mengiringi berlalunya tamu-tamu itu hingga tak nampak lagi menghilang dibalik pagar rumah. Guntur pun beranjak melangkah untuk menutup pintu gerbang dengan diiringi tatapan nanar mamah Karmila.
Keheningan suasana rumah begitu terasa setelah semua tamu-tamu yang menghadiri tahlilan pulang. Meskipun hari-hari biasabya suasana rumah memang selalu sepi tetapi kesepian kali ini terasa sangat berbeda.
"Maafkan aku mas..." gumam Karmila.
Batinnya tak henti-hentinya menangisi peristiwa terkutuk yang tidak pernah ia sadari sebelumnya walaupun sejujurnya secara batiniyah dirinya sangat menikmatinya. Bukan karena peristiwa terkutuk pertama yang membuat Karmila menanggung beban dosa, mungkin peristiwa itu bisa menjadi pemakluman sebeb dirinya benar-benar tidak menyadari jika yang menggaulinya itu suaminya. Akan tetapi yang menjadi beban berat yang membelenggu batinnya adalah rentetan peristiwa-peristiwa terkutuk berikutnya yang benar-benar disadarinya.
Tok...
Tok...
Tok...
"Milaaa..."
Karmila yang sedang tidur langsung terjaga karena mendengar ada suara yang memanggil-manggil namanya dari luar pintu kamar. Kemudian Karmila segera bangkit dan melangkahkan kakinya untuk membuka pintu.
Kreteeeekkkk...
Seiring deritan suara pintu dibuka, wajah Karmila sangat terkejut bukan main melihat seseorang berdiri didepan pintu sedang menatapnya lekat-lekat.
"Mas, kok pulang lagi?" Tanya Karmila dengan wajah mengernyit dalam-dalam.
"Kenapa? Apa lounching kantor di Balinya batal?" Karmila memberondong pertanyaan-pertanyaan penuh dengan keheranan yang menurutnya sangat ganjil.
Aryo satu jam lalu sudah pamitan akan pergi ke Bali meresmikan kantor cabang perusahaan barunya dan akan berada disana satu Mingguan karena untuk memberikan pendidikan dan pelatihan kepada karyawan-karyawan di kantor cabang barunya itu. Didalam hati Karmila sangat tidak memungkinkan jika tiba-tiba suaminya membatalkan agenda yang sudah tertata itu.
__ADS_1
Pertanyaan-pertanyaan Karmila tidak satu pun ada yang dijawab Aryo. Aryo tetap diam membisu dengan sorot mata yang ****** menatap Karmila yang berwajah cantik dan seksi dengan baju lingerie sehingga menambah dengusan nafanya memburu.
Aryo yang bersikap aneh langsung mendorong Karmila untuk kembali masuk kamar. Saat keduanya sudah berada didalam selangkang dari pintu kamar, Aryo mengibaskan telapak tangannya dibelakang punggung tanpa diketahui oleh Karmila. Pintu kamar langsung menutup dengan sendirinya dan kunci itu bergerak sendiri memutar kekanan membuat pintu itu terkunci.
Karmila terperangah kaget dengan sikap suaminya yang tidak biasanya. Aryo yang biasanya lembut penuh kemesraan kini tak ubahnya seperti robot yang kaku dan kasar nampak menakutkan bagi Karmila. Aryo lantas menarik lengan Karmila keatas kasur tetapi Karmila berontak berusaha melepaskan cengkraman tangan Aryo.
Aryo pun terkesiap mendapatkan pembrobtakkan dari Karmila. Dia membalikkan badannya dan menghadap Karmila yang berdiri dengan wajah berkerut keheranan bercampur takut. Perasaan takutnya mulai timbul manakala Karmila menatap mata Aryo, mata itu terlihat menatapnya tajam dan dingin namun menyiratkan hasrat yang menggebu ditambah dengan dengus nafasnya yang sa.ter terdengar.
Karmila langsung tersurut melangkah mundur hingga memepet ke pintu kamar dengan tetap memperhatikan sosok Aryo dihadapannya yang berjarak empat langkah dari tempatnya tersudut di balik pintu. Lalu Aryo perlahan melangkah mendekat kearah Karmila dengan dengusan nafas memburu.
Tubuh Karmila yang menghadap Aryo dengan tatapan penuh tanda tanya besar tangannya meraba-raba handel pintu dari balik punggungnya. Karmila berusaha menggerakkan handel pintu untuk membukanya. Berulang kali handel pintu ditekan-tekan kebawah akan tetapi pintu kamarnya tidak bisa dibuka.
"Terkunci?!"
Karmila mulai panik diliputi keheranan yang teramat sangat, kapan Aryo mengunci pintunya? Sejauh ini tatapannya tak pernah lepas dari gerak gerik Aryo tetapi dirinya tidak melihat Aryo melakukan gerakkan menguncinya.
Kini Aryo berada sangat dekat dengan tubuh Karmila. Deru nafasnya semakin jelas terdengar ditelinga Karmila membuat Karmila mulai ketakutan beringsut makin memepet di pintu karena ia yakin sosok dihadapannya bukanlah suaminya. Aryo terus merangsak mencoba merengkuh tubuh Karmila yang tersudut. Karmila menepis tangan kanan Aryo yang hendak memegang wajahnya dengan jarak hanya 30 cm. Wajah Aryo menunjukkan tak senang keinginannya itu mendapat penolakkan dari Karmila, sorot matanya kian tajam diiringi hembusan nafas menggebu yang menerpa wajah Karmila.
Karmila langsung berkelit memalingkan wajah sambil menepus tangan Aryo lalu bergerak menyelinap dibawah uluran tangan Aryo dan menjauh berlari ke sudut meja rias. Aryo mendengus kesal mrmalingkan wajahnya matanya memburu Karmila yang tetlihat ketakutan.
Dalam situasi genting dan kepanikan yang memuncak, dari bibir tipis Karmila terdengar suaranya membaca surat-surat Al quran yang dia hafal dengan gemetaran.
"Bissmillahitohmanirohiim Qulhuallahu ahad Allahu somad lamyalid walam yuulad walam yakullahu kuffuan ahad..."
Tubuh Karmila gemetar terpojok dimeja riasnya sambil mulutnya terus mengulang-ulang bacaan Al quran surat Al Ikhlas itu. Kedua tangannya menutup wajahnya yang mulai memucat saking takutnya.
"Aaaarrrrggggghhh...!"
Karmila tersentak kaget tiba-tiba lengkingan suara besar dan sember terdengar menggema memenuhi ruang kamarnya. Ia pun langsung menurunkan tangannya yang menutupi wajahnya. Wajah Karmila bertambah pucat dan bergemataran melihat sosok Aryo yang berubah menyeramkan.
Wajah tampan Aryo kini tidak lagi nampak, yang ada hanyalah wajah hitam dipenuhi dengan bulu-bulu halus berwarna kelabu. Pakaian t shirt dan celana jeans yang semula dikenakan Aryo pun sudah tak lagi melekat ditubuhnya, yang ada hanyalah bulu-bulu kelabu memenuhi sekujur tubuh Aryo.
__ADS_1
"Aaaaaaaaakkkkkhhh...!!!" Teriak Karmila sebelum dirinya menggelosoh tidak sadarkan diri.
......................
Perlahan-lahan kesadaran Karmila muncul namun belum sepenuhnya tersadar karena tubuhnya merasakan sesuatu yang begitu nikmat menjalar disekujur tubuhnya. Matanya masih terpejam sepertinya ia menikmati rasa itu dan sama sekali tidak berusaha menolaknya, justru dirinya sangat menikmatinya. Entah sudah berapa lama rasa itu menjamah tubuhnya karena sebelumnya dirinya pingsan.
"Grrrrrrhhhhhhhkkkkk..."
Suara sember dan besar itu seperti terhenyak lalu perlahan-lahan hanya terdengar deru nafasnya saja. Karmila terlonjak kaget mendengar seruan lenguhan yang begitu dekat ditelinganya. Kesadarannya kini benar-benar pulih setelah sebelumnya dirinya dibuat terlena melayang-layang dalam kenikmatan batinnya yang belum pernah ia rasakan sama sekali selama pernikahannya.
Saat membuka matanya, Karmila terbelalak dengan mulut ternganga lebar. Tangannya mencengkeram sepray kasur kuat-kuat. Diatas wajahnya matanya melihat dengan sangat jelas sosok hitam berbulu kelabu tengah mendengus memejamkan mata.
Penuh rasa jijik Karmila langsung mendorong kuat-kuat tubuh berbulu kelabu itu hingga terhempas kesampingnya. Karmila bergegas melompat turun dari atas kasur akan tetapi saat itu dirinya baru tersadar kalau pakaian lingerie yang sebelumnya ia pakai sudah robek-robek nyaris tidak lagi menutupi tubuhnya. Segera ia meraih bantal untuk menutupi tubuhnya sambil duduk meringkuk disudut kamar.
Air matanya berderai, Karmila menangis terseguk-seguk setelah menyadari sepenuhnya telah terjadi peristiwa terkutuk yang tidak ia sadari sebelumnya. Hatinya serasa hancur, dirinya merasa kotor telah ternoda oleh mahluk yang sangat menyeramkan. Tubub Karmila terguncung-guncang bersamaan dengan tangisannya yang semakin keras.
"Kamu adalah milikku!"
Suara besar dan sember itu membuat Karmila tersentak bukan kepalang. Wajahnya spontan mendongak keatas kasur, sorot matanya penuh dengan amarah yang meledak-ledak menatap mahluk berbulu kelabu yang berdiri bertolak pinggang menatapnya.
"Tidaaaaaakkkk!!! Pergiiiiii!!!" Teriak Karmila sangat histeris dan merasa jijik melihatnya.
Tok....!
Tok....!
Tok....!
"Maaaah... Mamaaaaah...!!!"
Suara cemas terdengar memanggil manggil dari balik pintu kamar. Seiring dengan itu mahluk berbulu kelabu itu tiba-tiba lenyap menghilang dari kamar Karmila. Karmila tersadar secepatnya mengusap air matanya lalu bergegas membuka lemari pakaian untuk mengganti lingerie nya yang robek-robek dan mengambil baju sekenanya lalu segera dipakainya. Sejenak Karmila berkaca mengusap-usap wajahnya untuk menghilangkan jejak kalau dirinya habis mengais karena baru saja mengalami peristiwa terkutuk.
__ADS_1
......................