
Tak terasa bangunan masjid rumah Tahfiz di halaman belakang rumah utama sudah tampak berdiri dengan kubah diatasnya yang berukuran sedang. Meski masih berupa dinding dan tembok batu bata, namun secara keseluruhan bangunan masjid itu sudah layak untuk di gunakan beribadah.
Empat orang pekerja bangunan terlihat sibuk terfokus sedang memgerjakan membuat menara setinggi 10 meter dengan diameter 2 meter berbentuk persegi empat. Posisinya persis di sebelah pohon beringin dan menara tersebut nantinya sebagai tèmpat pengeras suara toa. Sebagian pekerja lainnya ada yang sedang mengerjakan finishing memoles tembok bagian luar dan sebagian pekerja lagi mengerjakan bagian interior masjid.
Sementara bangunan- bangunan yang di jadikan asrama para santri sudah selesai dan siap ditempati. Haji Abas telah memutuskan kalau hari ini santriwan- santriwati akan dipindahkan menempati rumah Tahfiz yang baru itu.
Pagi itu sekitar pukul 8.10 wib, cuaca cukup cerah menaungi kota Bandung. Suara bising mesin kendaraan berbaur dengan suara-suara klakson sepeda motor dan mobil yang sesekali menyalak tiba-tiba, sayup-sayup terdengar dari balik pagar rumah.
Haji Abas terlihat berdiri di teras depan rumah utama sedang menanti kedatangan para santri yang sedang dalam perjalanan pindah dari rumah Tahfiz yang lama.
Tak berapa lama kemudian terlihat dua unit mini bus berwarna biru memasuki halaman rumah Tahfiz. Samar- samar terdengar suara riuh dari dalam mini bus. Terlihat semua anak-anak berdiri tak sabar melihat tempat baru mereka sambil celingukkan kesana kemari melihat sekitarnya.
“Assalamualaikum.....”
“Pak haji! Pak haji!”
“Assalamualaikum...”
“Pak haji! Pak haji!”
Haji Abas melambaikan tangan membalas sahutan anak- anak asuhnya yang memanggil-manggil dari dalam mini bus sekaligus menyambut kedatangan dua mini bus yang memasuki halaman yang lumayan luas dengan senyum lebar berseri-seri.
Setelah mini bus yang mengangkut para santri itu berhenti dan pintu mini bus di buka para anak- anak penghafal Al Quran itu langsung berhamburan berebut lari keluar menyongsong ke tempat Haji Abas berdiri untuk berebut bersalaman.
“Tenang... tenang... jangan berebut... ayo tertib, tertib...” seru ustad Jalal memperingatkan anak- anak santri.
Tampak sekali antusiasnya anak-anak santri Tahfiz itu bersalaman dengan Haji Abas meski berdesak-desakan berebut uluran tangan Haji Abas. Anak-anak nampak sangat bahagia melihat situasi dan kondisi rumah barunya dengan wajah-wajah sumringah yang tak henti-hentinya merekahkan senyumnya.
“Ambil barang masing- masing lalu silahkan memasuki asrama kalian,” seru ustad Jalal lagi melalui megapon pada anak-anak yang sudah bersalaman dengan Haji Abas.
__ADS_1
Suasana rumah yang dulu di tinggali Guntur, mamah Karmila dan Kunto biasanya siang malam selalu sepi, kini berubah menjadi ramai setelah beralih fungsi menjadi rumah Tahfiz.
Di hari pertama rumah Tahfiz resmi ditempati disambut gembira oleh para santriwan dan santriwati yang dihuni oleh anak-anak berusia 10 hingga 15 tahun yang di khususkan untuk anak-anak yatim, piatu, yatim- piatu maupun anak-anak terlantar. Jumlahnya ada sekitar 50 anak-anak.
Haji Abas sebagai ketua Yayasan Tahfiz dengan di bantu 5 orang ustad mengarahkan anak-anak menunjukkan tempat-tempat atau ruangan-ruangan menurut fungsinya.
Seharian itu secara gotong royong para santri berbenah mulai dari asrama tempat mereka tinggali. Kemudian bersih- bersih halaman, potong rumput dan merapuhkan tanaman- tanaman dengan penuh suka cita.
Seluruh anak-anak nampak riang gembira bersih-bersih sambil bermain di halaman samping kiri yang dibuat taman kecil. Mereka terlihat sangat menyukai tempat barunya, wajah-wajah sukaria dari anak-anak tergambar jelas dari ekspresi wajah mereka.
Diantara hilir lalu lalang anak- anak yang sedang asyik membersihkan rumput halaman sambil bermain, tiba- tiba salah seorang anak perempuan beranjak berdiri tegak menghadap pohon beringin. Matanya memandang pohon beringin dengan tatapan kososng, lalu perlahan- lahan kakinya beranjak melangkah ke arah pohon tersebut.
Dalam penglihatannya, anak perempuan itu melihat ada seorang anak perempuan lain yang sebaya dengannya berdiri di bawah pohon beringin melambai- lambaikan tangan. Santri perempuan seperti kerbau yang telah di cucuk hidungnya, menuruti lambaian anak perempuan yang tidak di kenalnya.
Tidak ada seorang teman pun yang menyadari kepergiannya dari tempat mereka berkumpul sebelumnya. Anak itu terus melangkah lurus sambil menatap anak perempuan di pohon beringin tak berkedip, seolah- olah tidak mènghiraukan lingkungan sekitarnya.
Kini jarak kedua anak perempuan itu tinggal dua langkah lagi, 3 langkah... 2 langkah... 1 langkah! Anak perempuan di bawah pohon beringin itu langsung menggapai lengan tangan anak perempuan santri, kemudian menatiknya dengan sedikit hentakkan.
Bersamaan dengan itu hembusan angin tiba-tiba membentuk pusaran kecil muncul lalu menyelubungi kedua anak perempuan itu dan dalam sekejapan mata keduanya hilang seiring pusaran angin bergerak keatas dan lenyap seketika.
Tak seorang pun yang melihat adanya peristiwa yang terjadi di bawah pohon beringin itu. Beberapa kuli bangunan yang sedang membuat menara di samping pohon beringin juga nampaknya tidak melihatnya. Begitu juga dengan anak- anak santri lainnya tidak menyadari kalau salah satu dari temannya telah raib.
......................
Tok... tok... tok...
“Masuk...” sahut Guntur.
“Permisi..,” seorang karyawati masuk ke ruangan Guntur sambil membawa map transparan.
__ADS_1
“Eh, Neng. Silahkan duduk, duduk...” ucap Guntur saat melihat Hafizah memasukj ruangannya.
“Gimana, gimana katanya ada problem pada proyek yang di Jepara?” Tanya Guntur lebih lanjut setelah Hafizah duduk.
“Iya mas, dari laporan orang kita yang di sana katanya meminta Mas kesana,” jawab Hafizah.
Kemudian Hafizah melaporkan seperti yang dikeluhkan pimpinan proyek kalau di salah satu area tidak bisa di eksekusi. Bukan karena tanah tersebut tidak mau di lepas oleh penduduk melainkan karena ada sesuatu yang di luar jangkauan akal sehat. Berbagai upaya sudah di lakukan para pekerja namun hasilnya tidak sesuai yang di harapkan. Bahkan justru alat beratnya sampai mengalami kerusakan.
Sudah tiga kali alat berat yang di terjunkan namun hasilnya tetap sama. Hingga akhirnya pimpinan proyek menyerah karena menyadari kalau area itu terdapat hal yang ganjil dan sulit di ukur dengan logika manusia.
Guntur termangu di tempat duduknya dengqn dahi mengerut dalam-dalam. Pikirannya melayang menerka-nerka problem seberat apa yang di hadapi pada proyeknya. Kemudian setelah beberapa saat termengu penuh dengan rasa penasaran, Guntur pun memutuskan untuk berangkat ke Jepara.
“Baiklah kalau begitu, saya akan kesana. Neng ikut ya?” kata Guntur setelah Hafizah selesai melaporkan.
“Nggak apa-apa neng ikut mas?” tanya Hafizah sedikit ragu.
“Ya nggak apa- apa Neng,” jawab Guntur tersenyum.
"Kapan berangkatnya?" tanya Hafizah lagi.
"Habis duhur ini neng. Sekarang kita pulang dulu buat packing-packing, sekalian saja ikut mobil saya ya," ujar Guntur.
......................
Sesuai dengan rencana setelah Duhur sekitar jam 13.11 wib, Guntur menjemput Hafizah di kediamannya di daerah Pasir Kaliki. Hafizah tinggal di daerah itu bersama dengan Bude nya selama magang di perusahaan milik Guntur.
Sebelum meninggalkan rumah Guntur sudah pamitan pada mamah Karmila dan juga Kunto kalau dirinya dan Hafizah hendak pergi ke Jepara untuk beberapa hari. Itu pun tergantung selesainya masalah yang ada di sana.
......................
__ADS_1