
“Ini sudah bagus, detak jantung udah normal, tensi juga udah normal,” gumam dokter.
“Pak Guntur, ibumu sudah bisa pulang hari ini,” kata dokter selesai memeriksa mamah Karmila.
“Baik, terima kasih dok,” sahut Guntur.
Guntur kemudian mengiringi dokter keluar kamar rawat hingga ke depan pintu kamar. Kemudian ia balik lagi menemui mamah Karmila.
“Mamah udah segar kan? Udah nggak pusing- pusing lagi?” Tanya Guntur.
“Iya Gun, udah enakan sekarang.” Sahut mamah Karmila.
Sebenarnya Guntur masih penasaran ingin bertanya lebih jauh mengenai penyebab mamahnya pinsan, tetapi ia menahannya di hati karena tak mau membuat mamahnya banyak berpikir. Apalagi kondisinya baru stabil lagi.
“Ya udah, aku beresin administrasinya dulu ya mah,” ucap Guntur.
“Iya Gun...” sahut mamah Karmila tersenyum manis.
Kondisi mamah Karmila terlihat sudah kembali bugar. Wajah cantiknya yang kuning langsat sudah kembali muncul semu- semu merah di kedua pipinya.
__ADS_1
“Mamah beres- beres dulu dan ganti baju,” ucap mamah Karmila.
Senyum manisnya sudah kembali tersungging menghiasi bibirnya yang tipis. Mamah Karmila menyibakkan selimutnya lalu turun dari ranjang rawat.
Sebenarnya istirahat di rumah juga tidak apa- apa karena Karmila cuma mengalami hilang kesadaran dan sedikit shok, hanya saja pada saat itu Guntur panik dan sangat khawatir melihat kondisi mamah Karmila sudah tergeletak diatas lantai tak sadarkan diri.
......................
Di rumah Tahfiz,
Suasana pagi hari berjalan seperti biasa, para santri mengikuti kegiatan belajar mulai pukul 7. 00 wib di ruang kelas.
Dan pagi ini ia sudah duduk di kursi tamu bersama Udin, Ki Wayan serta ustad Sofyan untuk menunggu haji Abas datang. Kondisi Ustad Jalal tampaknya sudah normal kembali seperti sedia kala.
Kebetulan Ustad Sofyan sendiri tidak ada jadwal mengajar pagi ini sehingga dapat turut berkumpul di ruang tamu. Rencananya ustad Jalal akan menyampaikan pesan yang di katakan mahluk Genderuwo itu sekaligus mendiakusikannya dengan haji Abas.
Di meja tamu tersaji minuman hangat, kopi dan teh serta beberapa kue kering. Mereka ngobrol sambil menunggu kedatangan haji Abas.
"Ki Wayan, mang udin jadi rencana mau pulang sekarang?" tanya ustad Sofyan.
__ADS_1
"Iya ustad, begitu pak haji datang saya langsung pamitan," jawab Udin yang di iyakan Ki Wayan dengan anggukan kepala.
"Sebentar lagi kayaknha pak haji juga datang mang Udin, soalnya biasanya jam segini udah sampe sini," ujat istad Sofyan.
Lalu Ustad Sofyan melirik kearah ustad Jalal, hendak bertanya namun urung karena ustad Jalal buru- buru memberikan kode untuk tidak melanjutkan ucapannya.
Insting Ustad Jalal tahu kalau istad Sofyan hendak menanyakan kejadian semalam. Ia hanya ingin menceritakannya pada pak haji Abas saja soalnya menyangkut pesan.
Ustad Sofyan memahami kode yang diberikan ustad Jalal, ia pun mengurungkannya sambil mengerutkan kening.
Udin dan Ki Wayan tidak mengetahui kongkalikong antara ustad Sofyan dan ustad Jalal.
Untungnya situasi yang kaku dan canggung itu tidak berlangsunh lama dan terabaikan saat terdengar suara klakson mobil dua kali dari luar gerbang.
"Nah, itu pak haji datang!" seru ustad Sofyan kemudian bergegas keluar untuk membukakan pintu gerbang.
Tak lama kemudian suara deritan pintu gerbang terdengar, disusul suara mobil masuk lalu berhenti di depan rumah.
......................
__ADS_1
BERSAMBUNG....