TITISAN

TITISAN
STORY USTAD SOFYAN


__ADS_3

“Dari hasil pemeriksaan pada tubuh serta organ dalam korban, sebelum korban tenggelam ia mengalami kontraksi akibat penyakit epilepsinya kumat. Saya menemukan fakta dari ciri- ciri korban mengidap epilepsi, tidak ada tanda- tanda tindak kekerasan di tubuhnya,” terang dokter.


“Masya allah, iya saya baru ingat,” gumam haji Abas memegang keningnya.


“Kalau begitu saya permisi...” ucap dokter kemudian pergi meninggalkan haji Abas serta 3 orang ustad.


Haji Abas nampaknya membenarkan keterangan dokter kalau ustad Sofyan memang menderita epilepsi. Hal itu sudah ia ketahui semenjak ustad Sofyan dalam asuhannya.


Ingatannya melayang mengingat kembali saat- saat pertama kali bertemu dengan Ustad Sofyan.


Dulu, ustad Sofyan merupakan salah satu remaja gelandangan. Saat itu ustad Sofyan masih berusia sekitar 15- 16 tahunan, dia hidup di jalanan berkelompok bersama beberapa teman seusianya.


Hampir setiap hari selalu dijumpai di lampu merah yang sama tatkala haji Abas melewati jalan itu tiap kali berangkat menuju tempat perusahaannya.


Bersama dua teman seusianya yang satu memainkan gitar usang dan satu temannya lagi memainkan kecrikkan yang terbuat dari tutup botol. Aedangkan ustad Sofyan mendendangkan lagu dengan suaranya yang lumayan merdu.


Setiap kali haji Abas berhenti di lampu merah itu, sebuah suara khas mendayu- dayu melantunkan lagu yang sama. Ia tidak tahu sama sekali dengan lagu yang selalu dinyanyikan ustad Sofyan.


Yang haji Abas rasakan kalau lagu yang dinyanyikan ustad Sofyan itu liriknya begitu menyentuh menggambarkan kedukaan dengan kondisi perasaanya.


“Aku adalah insan yang tak punya


Cuma rasa cinta membara..


Lalu tercipta rinduku padanya


Kerana cinta bahagia..


Pujangga mengatakan


Oh, cinta berharga


Dari emas dan permata..


Lalu kubawa cinta


Di persada jiwa


Sinar menyuluh gelita...


Saking seringnya mendengarkan para pengamen dengan lagu yang sama dan di tempat yang sama pula, lama- lama haji Abas menyukai lagu itu dan menikmatinya.


"Hatur nuhun pak..." ucap ustad Sofyan dengan sumringah bercampur kaget ketika haji Abas mengulurkan selembar uang 100 ribuan.


Tatapan mata ustad Sofyan seolah tak percaya ada orang yang memberinya uang 100 ribu rupiah. Sampai- sampai dia mengatakan; "punten pak uang kecil saja, abdi teu aya kembalian'na."

__ADS_1


"Semuanya buat ujang dan teman -temannya yah," ujar haji Abas kala pertama kali memberikan uang pada pengamen itu.


Haji Abas dapat melihat ekspresi pada wajah ustad Sofyan. Kedua matanya nampak berkaca- kaca setelah haji Abas mengatakan itu. Tangannya seketika gemetar memegang uang 100 ribuan.


"Subhanallah... anak ini begitu jujurnya..." gumam haji Abas dalam hati memandangi ustad Sofyan.


Haji Abas terkagum- kagum melihat ustad Sofyan yang tampak sangat bersyukur setelah mendapat uang itu. Walau pun penampilannya lusuh dan sedikit kumal, namun ternyata remaja itu masih memiliki sisi kejujuran.


Awal kedekekatannya haji Abas dangan ustad Sofyan itu secara kebetulan dan tidak disengaja setelah melalui insiden kecil di lampu merah.


Saat itu seperti biasa sekitar pukul 7.30 wib, haji Abas berhenti di garis zebra crosa lampu merah. Tetapi kali ini, haji Abas sedikit keheranan. Ia tak melihat ustad Sofyan dan 2 temannya yang menghampiri kaca mobilnya.


Dengan sedikit kecewa Haji Abas mengalihkan pandangannya melihat menitan yang terpampang diatas trafic light di depannya.


Pada layar pewaktu itu tertampang menunjukkan angka 3 menit 49 detik...


“Kemana anak itu?” Guman haji Abas, kembali menoleh kesamping kanannya berharap para remaja pengamen itu muncul.


Tiba- tiba, muncul dua pemuda menutupi pandangan haji Abas membuatnya tersentak kaget.


“Astagfirullah!” Pekiknya.


Belum hilang dari keterkejutannya, dua pemuda itu lantas menempelkan keningnya pada jendela mobil memeriksa didalam mobil.


Dug! Dug! Dug!


“Uang! Uang! Cepat berikan uang!” teriak salah satu pemuda mengacungkan kapak merah.


Karena tak mau urusannya makin rumit, haji Abas segera merogoh dompetnya hendak memberikan uang selembar 100 ribu.


Saat ketika hendak menurunkan kaca mobilnya hendak memberikan uanh itu tiba- tiba sebuah suara keras mengagetkannya.


“Hoi! Ngapain lu!” teriak suara yang terdengar tak sendiri.


Dua pemuda yang menteng kapak merah seketika berbalik badan melihat arah sumber suara yang menegurnya.


Kapak merah diangkatnya tinggi- tinggi mengancam orang- orang yang menegurnya.


Haji Abas melihat ada 3 orang remaja datang sambil menenteng balok kayu di tangan masing- masing.


Haji Abas mengenali 3 remaja yang datang itu yang tak lain adalah pengamen yang biasa ia lihat.


Dua pemuda berkapak merah maju merangsak menyongsong datangnya ustad Sofyan bersama dua temannya.


Salah satu pemuda mengayunkan kapak merahnya kearah tubuh ustad Sofyan yang posisinya paling depan.

__ADS_1


Ustad Sofyan dengan gerakkan reflek menyabetkan balik kayu sepanjang 1 meteran untuk menghalau ayunan kapak merah.


PLetak!!!


Suara beradunya kapak merah dan balok kayu terdengar keras. Kapak merah terpental dari genggaman pemuda itu, tubuhnya terhuyung- huyung kedepan.


Ustad Sofyan langsung mengayunkan kaki kanannya menendang perut pemuda itu.


Melihat temannya jatuh tersungkur dan terkapar diatas trotoar, dia pun merangsak maju memburu ustad Sofyan. Akan tetapi satu sabetan kayu tiba- tiba menghajar kepalanya.


Sabetan dari salah satu teman ustad Sofyan membuat pemuda itu terhuyung- huyung mundur kebelakang. Kapaknya terpental entah kemana.


“Pergi nggak lu!” teriak ustad Sofyan sambil menodongkan kayu balok ke wajah pemuda terakhir.


Kejadian selama 3 menitan itu cukup membuat haji Abas tegang sekaligus terkesan dengan keberanian ustad Sofyan dan rekan- rekannya.


Tak lama setelah itu lampu hijau menyala, haji Abas pun terpaksa harus menjalankan mobilnya.


Namun sekitar 50 meter setelah menyeberangi perempatan lampu merah itu haji Abas meminggirkan mobilnya.


Ia berjalan menuju tempat kejadian perkelahian di lampu merah sebelumnya.


“Assalamualaikum...” ucap haji Abas.


“Wa alaikim salam,” sahut ustad Sofyan dan 2 temannya serempak.


“Kalian tidak apa- apa?!” Tanya haji Abas sambil melihat sekelilingnya.


“Kami nggak apa- apa pak. Apakah bapak juga nggak apa- apa?” Ustad Sofyan balik tanya mengkhawatirkannya.


“Alhamdulillah, nggak apa- apa. Mana dua pemuda yang membawa kapak merah tadi?” Tanya haji Abas mengerutkan dahinya.


“Mereka sudah kabur pak,” jawab salah satu teman ustad Sofyan yang menenteng gitar usang.


“Mereka itu anak- anak geng pak, mereka seringkali berbuat onar memalak para pengendara,” timpal ustad Sofyan.


“Apa kalian tidak takut nanti mereka balas dendam loh,” ucap haji Sofyan.


“Ya ngeri juga sih pak, tapi apa boleh buat. Mungkin untuk beberapa hari kedepan kita akan pindah dulu pak di lampu merah lain,” ujar ustad Sofyan.


Hati haji Abas merasa terenyuh dengan nasib 3 remaja pengamen itu. Mereka suka rela mempertaruhkan keselamatannya hanya untuk membela orang yang tidak dikenal, hingga tidak memikirkan nasib hidup mereka sendiri kedepannya.


Haji Abas pun lantas mengajak ketiga remaja itu untuk bekerja di perusahaan garmennya. Dan mereka pun dengan suka cita mau menerima ajakan haji Abas.


Akhirnya dua remaja bekerja di garmen, sedangkan untuk ustad Sofyan diminta haji Abas untuk membantunya mengurus rumah tahfiz yang berisikan anak- anak jalanan dan anak yatim piatu.

__ADS_1


......................


__ADS_2