TITISAN

TITISAN
KEJADIAN di RS 2


__ADS_3

“Cepet banget Gun, katanya mau buang air kecil,” ujar Kunto menoleh ke sisi kanannya.


Guntur tergesa- gesa berjalan mensejajari langkah Kunto disebelah kanannya. Guntur hanya diam saja tak menjawab, ia terus saja melangkah mengikuti perawat di depannya yang mendorong belangkar mamah Karmila tak menghiraukan pertanyaan Kunto.


Kunto pun tak terlalu diambil hati pertanyaannya tak di gubris Guntur. Ia memakluminya karena mungkin kondisi pikiran Guntur sedang kacau.


Tak lama kemudian perawat itu berhenti di depan pintu kamar no 25 A, Perawat itu kemudian membuka pintu dan mendorong belangkar memasuki kamar.


“Gun, aku nunggu disini aja ya, nggak enakan. Biar lu aja yang bantuin suster pindahin tante ke tempat tidur,” ujar Kunto.


Guntur hanya menoleh kearah Kunto sebentar tapi tak menjawab sepatah kata pun. Lalu pandangannya kembali menatap kedepan mengikuti perawat itu masuk ke kamar rawat.


Dua kali ucapannya tak di gubris Guntur, Kunto pun merasa kesal juga. Beragam dugaan buruk pun bermain- main didalam pikirannya.


"Apa dia masih marah ya?" batin Kunto.


Kunto lalu duduk menunggu di kursi depan ruang rawat, ia merasa enggan ikut masuk ke dalam ruang rawat inap dan memilih di luar.


Sesaat setelah duduk, Kunto kembali memikirkan sikap Guntur yang tak biasa. Kini Kunto baru menyadari kalau sikap Guntur memang ada yang aneh.


“Kayak ada yang aneh dengan Guntur. Pertama katanya mau ke toilet tapi kok sebentar banget padahal toiletnya kan sedikit jauh ada di ujung sana,” gumam Kunto sambil menekuk jarinya menghitung.


“Dan yang kedua, sekembalinya dari toilet tadi Guntur diam saja, tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Jangan- jangan dia kesambet suster bisu kali ya,” pikir Kunto sambil nyengir kuda.


Tulilit... tulilit... tuliliiit...


Suara dering hape di saku Kunto nyaring terdengar membuyarkan lamunannya memikirkan tingkah Guntur. Kunto segera merogoh saku celananya mengambil hape.


Sebelum menerima panggilan telpon, Kunto melihat layar hape sejenak melihat nama orang yang menelponnya.


“Guntur???” gumam Kunto heran.


Tapi pikiran positifnya mendominasi pikirannya, mungkin Guntur malas untuk keluar kamar menemuinya.


“Ah, Paling juga suruh aku masuk,” Kunto mengira- ngira dalam hati, kemudian mengangkat telponnya.


“Hallo ya Gun...” jawab Kunto.


“Kun, dimana kamarnya?” suara Guntur dari hape Kunto.


“Hah???!” terdengar suara Kunto kaget bercampur bingung.


Beberapa detik Kunto terbengog- bengong penuh kebingungan. Kok nanya kamar sih, pikir Kunto.


“Cepetan! Dimana kamarnya?! Malah hah hoh hah hoh!” sungut Guntur di telinga Kunto.


“I, iyy, iyya...” sahut Kunto kian bingung.

__ADS_1


Kunto celingukkan lalu berdiri hendak melihat ke dalam kamar rawat tetapi langkahnya terhenti mendengar suara Guntur lagi.


“Lagi ngapain sih?! Buruan aku ada di persimpangan koridor nih!” bentak Guntur dari seberang telpon.


“Lu, lluu lurus aja, aku di depan kamar nomor 25,” ujar Kunto.


Kunto semakin bingung, “bukankah Guntur tadi masuk bersama perawat. Tapi kok...” batin Kunto.


......................


Guntur langsung menutup telponnya tanpa basa basi lagi setelah mendapat keterangan dari Kunto. Lalu buru- buru berjalan melangkah lurus sesuai petunjuk Kunto tadi.


Sepanjang langkah menuju kamar rawat, pikiran Guntur pun kembali diingatkan pada bayangan percakapannya dengan seorang pria di toilet.


Guntur sangat mengingat kalimat- kalimat yang diucapkan oleh pria misterius itu.


“Aku telah menggagalkannya melakukan bunuh diri,”


“Aku telah menggagalkannya melakukan bunuh diri,”


“Aku telah menggagalkannya melakukan bunuh diri,”


Sambil berjalan Guntur menekan- nekan bagian pelipisnya seakan- akan merasa sakit memikirkan kejadian pertemuannya dengan pria misterius itu. Banyak hal yang membuatnya bingung setengah mati.


Bukan saja soal ucapan pria itu, namun juga tentang siapa sosok pria itu yang terus menerus memenuhi ruang pikirannya yang tidak ia kenal sama sekali.


“Lalu kenapa mamah mau bunuh diri? Apakah mamah sedang punya masalah? Tapi masalah apa? Selama ini mamah kelihatan baik- baik saja.” Batin Guntur sambil berjalan menekuri lantai.


"Huuuhhhh..." Guntur menghempaskan nafasnya kuat- kuat hingga membuat orang yang berjalan berpapasan dengannya menoleh.


Guntur tak memperdulikan sekitarnya, ia terus saja melangkahkan kakinya berjalan sambil menunduk dengan tangan memegangi ujung pelipisnya. Hingga ada suara yang sangat mengagetkannya menyadarkan lamunannya.


“Hei, hei! Heloooo! Kelewaaaat booossss...!”


Guntur tersentak kaget tiba- tiba ada suara yang memanggilnya dari arah samping. Awalnya Guntur ragu untuk berhenti, namun ia merasa sepertinya suara itu sangat dikenalnya.


Beberapa langkah Guntur telah melewati didepan Kunto yang sedang duduk menunggunya.


Kunto membelalakan matanya lebar- lebar penuh keheranan, ia memperhatikan sosok Guntur lekat- lekat berjarak tiga langkah dihadapannya.


Buru- buru Kunto langsung menarik tangan Guntur duduk di kursi. Wajahnya benar- benar dipenuhi kebingungan luar biasa.


“Lu bener Guntur?!” tanya Kunto.


Guntur ternganga mendapat pertanyaan yang menurutnya sangat aneh dan ganjil. Sampai- sampai Guntur melihat dirinya sendiri dari mulai ujung kaki, terus naik hingga melihat dadanya kanan kiri bergantian.


Seketika Guntur menggerakkan tangan menempelkan punggung telapak tangannya di kening Kunto, seperti layaknya dokter memeriksa pasien.

__ADS_1


“Kenapa sih Gun?!” sergah Kunto merasa risih diperlakukan begitu.


“Lah, ada juga elu yang kenapa. Ngapain lu nanya- nanya begitu, emang ada Guntur lain lagi?!” seloroh Guntur sedikit kesal.


Kunto malah terbengong- bengong sendiri saat Guntur mengatakan itu, "tadi lu masuk kedalam kamar ini sama perawat!"


Namun ucapannya itu hanya tertahan didalam hatinya. Kunto kembali memperhatikan Guntur dengan seksama dari ujung kaki hingga wajah.


Tetapi hatinya tetap saja merasa masih belum yakin sepenuhnya kalau Guntur yang ada di sampingnya itu adalah Guntur sungguhan.


Kalau dihadapannya ini benar Guntur yang sesungguhnya, lalu yang tadi masuk ke kamar rawat siapa? pikir Kunto mulai sadar dengan keganjilan tersebut.


“Kka, ka, kal, kalau lu Guntur, lalu siapa yang ada di dalam?” ucap Kunto tergagap.


“Jangan ngaco ah, lu ngigau ya?” sergah Guntur.


“I, iyya beneran Gun, lu tadi masuk bersama perawat untuk membantu mindahin tante ke tempat tidur,” ucap Kunto meyakinkan Guntur.


“A, apppa?!” seru Guntur terkejut bukan main.


Kini Guntur baru benar- benar mengerti dengan pertanyaan dan sikap bingung Kunto terhadapnya. Instingnya merasakan ada hal yang aneh terjadi.


Bergegas Guntur bangkit dari kursi dan melangkah kedepan pintu kamar rawat inap. Lalu segera membuka pintu kamar tempat mamah Karmila di rawat.


Jekraaakkkk! Suara pintu dibuka keras dari luar.


“Astagfirullah!” Pekik suara Perawat terkejut.


Seketika Gadis Perawat itu menoleh kesal melihat siapa orang yang membuka pintu dengan kasar.


Tetapi mendadak wajah perawat itu tercengang


saat menatap lekat- lekat sesorang yang telah berdiri di tengah pintu. Wajahnya perawat itu terbengong- bengong sama halnya dengan Kunto saat melihat Guntur tadi.


Gadis perawat itu memperhatikan Guntur dari ujung kaki hingga ujung rambut dengan mulut ternganga.


Beberapa saat tersadar dengan keadaannya, gadis perawat lalu cepat- cepat pandangannya dialihkan tertuju ke kamar toilet yang ada di sudut kamar sebelah kirinya.


Melihat gelagat perawat yang kebingungan itu Guntur pun reflek mengikuti arah pandangan mata Perawat ke kama toilet.


“Bu, bu, bukankah mas tadi ke kamar kecil?” ucap Perawat itu tergagap.


Guntur tercengang mendengar pertanyaan perawat itu. Dirinya memang pergi ke toilet tetapi bukan toilet di dalam kamar rawat, melainkan pergi ke toilet di ujung jalan itu.


Tetapi perawat itu bilang dirinya pergi ke toilet yang ada di dalam kamar rawat itu. Guntur pun cepat- cepat bergegas melangkah masuk dan menuju toilet di dalam kamar itu.


Dengan penuh penasaran, Guntur membuka pintu toilet. Dan....

__ADS_1


......................


BERSAMBUNG....


__ADS_2