
Hari ini cuaca siang kota Bandung sangat cerah. Panas sengatan matahari berpadu dengan udara dingin menjadi irama penyeimbang orang-orang yang bekerja di luar ruangan. Di dalam kios, pak Suro beraktifitas seperti biasa sejak pagi sudah membuka lapak buku-buku loaknya, semntara Adi belum pulang masih berada di sekolah. Ya, kehidupan pak Suro dan Adi berubah total semenjak Guntur mengajaknya pindah dari mulai tempat jualan buku loaknya yang semula di emperan trotoar sampai dengan pindah rumah tak lagi mengontrak. Guntur menyediakkan kios dan juga mess di lingkungan gedung kantornya untuk pak Suro sedangkan Adi kembali ke bangku sekolah di biayai oleh Guntur sepenuhnya.
Di usia senjanya pak Suro tidak menyangka hidupnya yang sebatang kara tiba-tiba berubah setelah puluhan tahun hidup dengan mengontrak dan sehari-harinha mencari nafkah berjualan buku loak di emperan yang terkadang harus libur menjajakan dagangannya karena hujan. Adi, bocah berusia 12 tahunan yang sebelumnya juga hidup sebatang kara yang di temukannya dalam keadaan sakit di emperan Mall sudah menemaninya selama 5 tahunanan setelah pak Suro mengangkatnya sebagai anak.
"Assalamualaikum..." tiba-tiba sebuah suara mengejutkan Pak Suro yang sedang mengingat-ingat tentang kebaikan Guntur.
"Wa, wa'alaikum salam, eh Guntur sudah sehat?! sahut pak Suro sumringah.
"Alhamdulillah sudah sehat pak. Melamun aja apa ada masalah pak?" tanya Guntur kemudian masuk kios dan duduk bersebelahan dengan pak Suro di belakang meja besar dagangannya.
"Ah, nggak cuma sedikit mengingat-ingat masa lalu aja Gun. Bapak ini orang yang beruntung banget bisa kenal kamu Gun, kamu orang yang sangat baik. Makanya ketika dua hari nggak melihat kamu dan nggak ada kabar dari kamu tuh Gun, bapak sangat khawatir banget," ujar pak Suro.
"Iya pak saya juga minta maaf sebelumnya nggak bilang kalau saya pergi keluar kota. O iya pak, sekalian mau tanya, waktu pak Suro di rumah sakit pulang lewat mana kok tiba-tiba sudah nggak ada. Saya cari-cari di tolilet di parkiran juga nggak ketemu. Bapak pulang naik apa malam itu?" Tanya Guntut dengan wajah serius.
Wajah Pak Suro mendadak terlihat seperti kaget mendapat pertanyaan itu. Ia nampak kebingungan harus mengatakan apa tentang malam kepulangannya dari rumah sakit itu. Apakah mengatakan yang sebenarnya ataukah berbohong dan menyembunyikan peran sosok Genderuwo yang telah membantunya? pikir pak Siro.
"Kenapa pak?" Guntur heran melihat perubahan ekspresi pak Suro yang kebingungan.
"A, a, anu, gi, gini Gun... Aduh gimana menjelaskannya ya," lenguh pak Suro kebingungan.
Setelah beberapa saat Pak Suro terdiam akhirnya dirinya memutuskan untuk mengatakan yang sebenarnya. Pertimbangannya kalau dirinya mengatakan naik bus, pasti akan menimbulkan banyak pertanyaan lagi dan ia pasti akan lebih banyak lagi berbobong mengarang cerita. Daripada ribet sendiri mendingan jujur, begitu pikir pak Suro.
Guntur memperhatikan raut pak Suro yang nampaknya sedang berpikir keras. Dia pun tak mau memaksanya, Guntur membiarkannya dan menunggu pak Suro mengatakannya.
"Kenapa pak Suro sulit mengatakannya? Semakin aneh saja, atau jangan-jangan memang ada sesuatu yang aneh membuat pak Suro sulit mengatakannya." batin Guntur.
__ADS_1
"Jadi gini Gun, sebenarnya ini tak masuk akal tapi benar-benar nyata bapak alami. Waktu itu bapak ke rumahmu sore menjelang magrib dan rumahmu sepi. Tapi bapak heran juga gerbang pagarnya kok nggak di kunci jadi bapak masuk. Bapak ketuk-ketuk pintu tapi nggak ada yang menyabut, hingga magrib tiba dan bapak melaksakan sholat magrib dibteras depan. Selama bapak sholat itu di dalam rumah terdengar seperti ada barang-barang berjatuhan dan juga tereengar benda-benda pecah," ungkap pak Suro, menoleh melihat reaksi Guntur.
Guntur tertegun mendengar cerita pak Suro, ingatannya langsung tertuju pada barang-barang yang pecah berserakkan di ruang tamu yang di kira rumahnya telah di masuki pencuri. Kemudian kembali fokus mendengar cerita pak Suro.
"Setelah bapak selesai sholat itu tiba-tiba muncul soaok Genderuwo dari balik jendela samping pintu Gun. Genderuwo itu mengatakan kalau kamu sedang di rawat di rumah sakit di Jawa Tengah. Bapak shock sangat khawatir dengan kondisimu, bapak juga ingin sekali langsung menyusulmu ke rumah sakit tapi Genderuwo itu tidak menyebutkan rumah sakit mana," pak Suro kembali menoleh pada Guntur.
"Di rumah saya ada Genderuwo pak Suro?!" Tanya Guntur meyakinkan dirinya.
Ingatan Guntur kembali melambung mengingatkan dengan apa yang pernah ia lihat di kamarnya dan juga dengan mimpi-mimpinya. "Apakah Genderuwo yang sama?!" batin Guntur.
"Iya Gun, mahluk itu jelas banget golongan Genderuwo. Bapak tau mahluk itu yang mendiami pohon beringin di belakang rumah," ujar pak Suro.
"Pohon beringin di belakang rumah?!" Guntur kembali menegaskan kemudian raut wajahnya langsung muram seketika bersamaan teringat dengan kejadian yang menimpa penebang pohon.
"Nah, saat bapak bimbang dan bingung ingin sekali ke rumah sakit, tiba-tiba Genderuwo itu menawarkan diri untuk mengantarkan bapak ke menjengukmu Gun," ucap Pak Suro.
"Lantas?!" tanya Guntur penuh penasaran.
"Bapak di suruh memejamkan mata entah berapa lama pas Genderuwo itu suruh membuka mata tiba-tiba bapak sudah berada di depan rumah sakit. Bapak benar-benar kebingungan, ba..." kalimat pak Suro terhenti, Guntur tiba-tiba menyela.
"Ooooo, ya ya ya pantes aja saya lihat waktu itu pak Suro sedang celingkukkan bingung banget. Saya juga heran tiba-tiba pak Suro sudah ada di depan pintu," sela Guntur.
"Tapi untungnya kamu sedang ada di depan, coba kalau kamu lagi di kamar. Bapak nggak tau harus nanya kemana, bapak nggak ngerti Gun," ucap Pak Suro.
"Ya ya ya..." Guntur manggut-manggut mencoba mencerna kejadian demi kejadian dengan kenyataan yang dia temui di rumah sakit.
__ADS_1
"Lalu pulangnya juga seperti itu pak? Di antarkan mahluk itu lagi?" Tanya Guntur menerka-nerka.
"Iya Gun. Waktu itu kan pak Asrul pamit dan kita keluar dari kamar rawat, nah ada suara yang manggil bapak dan ternyata genderuwo itu. Dia mengatakan, waktunya pulang karena Adi sedang mencari-cari bapak. Bapak langsung menyusul ke parkiran dan berniat pamitan tapi nggak boleh sama ibu Mila dan kamu Gun. Bapak sempat bingung, disisi lain sudah ditunggu genderuwo di toilet, ya terpaksa bapak berbohong pura-pura menemui Kunto," ungkap pak Suro.
"Ooooo..." Guntur di buat melongo dengan cerita dari pak Suro yang kesemuanya memang sesuai dengan kenyataan sama seperti yang Guntur lihat di rumah sakit.
......................
"Mah, ingatkan dengan lenyapnya pak Suro di rumah sakit?" kata Guntur di tengah-tengah makan malam.
"Iya, kenapa?" mamah Karmila seperti enggan mendengar kelanjutan ceritanya.
"Pak Suro itu datang dan pulang di bantu oleh genderuwo penunggu pohon beringin di belakang rumah itu," ungkap Guntur.
"Uhuk! uhuk!"
Kunto tiba-tiba tersedak mendengar penuturan Guntur. Kunto merasa itu sangat mustahil dan tidak mungkin terjadi di jaman semodern ini.
"Masa sih?!" sergah Kunto setelah meneguk minumnya.
"Dan barang-barang yang berserakkan itu juga akibat ulah genderuwo, termasuk jatuhnyanya penebang pohon itu mah," ungkap Guntur antusias.
"Hah?!" Mamah Karmila pura-pura terkejut.
Guntur tidak tahu kalau semua cerita itu sudah lebih dulu diketahui mamahnya dari pengakuan genderuwo yang tak lain adalah Karbala langsung. Makanya mamah Karmila sedikit enggan mendengarnya kembali. Di dalam hati mamah Karmila sendiri sedang bergejolak entah benci atau entah senang dengan Karbala.
__ADS_1
......................