TITISAN

TITISAN
SISI LAIN


__ADS_3

Disudut belakang rumah Guntur yang temaram, sepasang mata merah memperhatikan gerak-gerik pak Suro yang sedang berwudlu di kran air yang berada samping rumah.


“Sepertinya memang Guntur dan ibunya tidak ada di rumah, lampu-lampunya nggak ada yang nyalain,” gumam pak Suro melihat sekelilingnya.


“Seperti ada yang sedang memperhatikan,” batin pak Suro.


Pak Suro mengedarkan pandangannya menyapu semua halaman yang terhampar rumput hijau disekelilingnya yang terlihat samar-samar dalam cahaya langit dan bias cahaya lampu dari jalan raya.


“Hmm, mahluk gaib... apakah Genderuwo itu?” batin pak Suro merasakan bulu kuduknya meremang.


Pak Suro masih berdiri mengedarkan pandangannya. Lalu pandangannya dialihkan ke halaman belakang rumah. Tatapannya terfokus pada pohon beringin disudut halaman belakang. Agak lama pak Suro terpaku melihat pohon rindang yang hanya terlihat seperti sebuah bayangan raksasa karena gelap. Namun tidak melihat apapun disana, kemudian pak Suro bergegas meninggalkan tempat kembali menuju teras depan untuk melaksanakan sholat magrib.


Tidak ada alas apapun yang dapat dijadikan sajadah, pak Suro melaksakan sholatnya diatas lantai keramik. Tanpa pak Suro sadari, dari dalam kaca jendela sepasang mata menyala merah kembali memperhatikannya. Pak Suro pun memulai sholatnya dengan kusyuk tanpa menghiraukan sekelilingnya.


“Allaaaahu Akbar,” ucap pak Suro mengangkat kedua tangannya memulai sholat.


Braaaak!!!


Suara benda pecah usai pak Suro mengucapkan takbir pada rokaat pertama. Namun tidak membuat pak Suro mengurangkan sholatnya, ia terus melanjutkan meski pun terkejut dan jantung berdegup kencang mendengar suara tersebut.


Braaakkk!!!


Gubraakkk!!!


Praaank..!!!


Suara-suara benda berjatuhan terdengar dari dalam rumah mengiringi selama pak Suro sholat. Perasaan pak Suro makin menegang dalam sholatnya namun dirinya yakin selama menjalankan sholat itu tidak akan ada yang berani menyentuhnya walau pun suara-suara itu menandakan bentuk dari ekspresi ketidak sukaan mahluk gaib terhadap apa yang sedang dikerjakannya saat ini.


“Assalamualaikum warohmatulloh...” Assalamualikum warohmatullah...”


Pak Suro mengucap dua salam mengakhiri sholatnya bersamaan dengan gerakan menengok ke kanan dan kiri. Suara-suara dari dalam langsung berhenti bersamaan pak Suro selesai mengerjakan sholat magribnya. Kemudian pak Suro merubah duduknya dengan bersila, ia memejamkan matanya sembari mulutnya komat-kamit membaca sesuatu.


Mata batin pak Suro mulai menerawang melihat keadaan sekelilingnya. Penglihatan batinnya langsung tertuju kedalam rumah.


Deg!


Seketika dada pak Suro berdebar-debar keras. Pandangan batinnya melihat dengan jelas, sosok besar setinggi 2 meteran. Sekujur tubuh mahluk itu dipenuhi bulu-bulu tebal berwarna hitam pekat.


“Genderuwo!” batin pak Suro.


Sosok itu yang tak lain adalah Karbala sedang berdiri tegak dari balik jendela dengan sepasang mata menyala merah sedang menatap pak Suro dengan tajam.


“Saya kesini bukan bermaksud berbuat jahat. Saya berniat menengok Guntur karena sudah dua hari dia tidak terlihat di kantornya,” ucap pak Suro pelan.


“Guntur tidak ada disini... Dia sedang di rawat...” suara Karbala terdengar nyata di telinga pak Suro.


“Rumah sakit?!” Pak Suro terkejut bukan main.


“Guntur kenapa? Dia sakit apa?!” tanya pak Suro.

__ADS_1


Beberapa saat suasana hening, Karbala tidak langsung membalas pertanyaan pak Suro. Hal itu membuat hati pak Suro kian penasaran.


“Guntur sakit apa?!” tanya pak Suro mengulangi.


“Dia hampir mati...” sahut Karbala.


Pak Suro bertambah kaget. Wajahnya terkesiap cemas dan panik, lalu bertanya lagi penuh dengan penasaran.


“Kenapa dengan Guntur? Apa yang terjadi dengannya?!”


“Seseorang menginginkan dia mati...” ucap Karbala.


“Seseorang?! Siapa?!” tanya pak Suro geram.


“Nanti juga kamu tahu...” kata Karbala.


“Sekarang Guntur di rawat di rumah sakit mana?” tanya pak Suro.


“Dia ada di rumah sakit di Jawa Tengah,” ucap Karbala.


Pak Suro terdiam, dirinya sangat ingin kesana secepatnya akan tetapi tidak mungkin malam ini juga berangkat karena Adi pasti mencari-carinya.


“Apakah kamu ingin menengoknya?” tanya Karbala.


“I, iya. Ta, tapi...” Pak Suro tidak melanjutkan kalimatnya karena bingung bagaimana harus menjelaskannya.


“Saya akan antar...” ucap Karbala tiba-tiba.


“Kamu tidak usah bingung. Anakmu biar aku yang urus,” ucap Karbala.


Pak Suro kembali dibuat tertegun. Memang tidak ada yang tidak mungkin bagi mahluk gaib yang memiliki kekuatan kesaktian seperti mahluk gaib yang sedang berkomunikasi dengan dirinya, begitu pikir pak Suro.


“Ya, saya ingin sekali kesana karena saya sangat mengkhawatirkan Guntur.” Ucap pak Suro mantap.


“Baik. Sekarang tetap pejamkan matamu dan sudahi tutup mata batinmu!” kata Karbala.


......................


Guntur mengantar kepulangan karyawan-karyawatinya hingga menaiki mobil di parkiran rumah sakit. Awalnya para karyawan menolak ketika Guntur hendak mengantarnya namun Guntur tetap memaksanya untuk mengantar. Ini pula yang membuat para karyawan terkagum-kagum dengan sikap Guntur sebagai pimpinan mereka. Guntur begitu care dengan semua bawahannya meskipun saat ini kondisinya sedang dalam perawatan.


“Hati-hati di jalan ya, Jok. Awas jangan ngebut! Jangan ngantuk!” ucap Guntur mengingatkan para bawahannya.


Beberapa saat kemudian mobil rombongan karyawan itu meninggalkan halaman parkir rumah sakit. Ketika Guntur balik badan hendak kembali masuk, ia tertegun ditempatnya samar-samar dirinya melihat seseorang pria paruh baya sedang berdiri kebingungan di teras samping sebelah pintu utama rumah sakit yang sepi.


“Kayak kenal...” ucap Guntur kemudian bergegas menuju pria paruh baya itu.


Pria paruh baya itu berdiri celingukan melihat sekelilingnya penuh kebingungan.


“Subhanallah! Di rumah sakit inikah Guntur di rawat?” gumam pria paruh baya itu memandang kedalam rumah sakit.

__ADS_1


“Pak Suro?!” ucap Guntur menepuk bahu pria paruh baya itu.


“Astagfirullah!” pekik pak Suro berjingkat terkaget-kaget menoleh ke belakang.


“Guntur...?!” seru pak Suro gembira bukan main melihat pemuda dihadapannya, kemudian menjabat tangannya.


“Pak Suro kok tiba-tiba disini?kesini naik apa?” Guntur langsung memberondong pertanyaan saking herannya.


Pak Suro bengong, wajahnya sangat bingung untuk menjawab semua pertanyaan itu, dia tidak tahu hatus mengatakan apa karena jawabannya hanya satu, KARBALA.


“A, anu. Itu naik bus,” jawab pak Suro tergagap dan menjawab sekenanya.


“Tapi kapan lewatnya ya, dari tadi saya di parakiran depan situ tuh tapi saya kok nggak liat pak Suro lewat ya,” ucap Guntur mengerutkan dahinya.


Pak Suro semakin kebingungan harus menjawab apa, dia terbengong lama tanpa berkata-kata. Menuritnya, sangat sulit untuk di ceritakan bagaimana dirinya tiba-tiba sampai di rumah sakit dari tempat di luar provinsi dan dalam sekian detik sudah berada di tempatnya saat ini, karena semua prosesnya sangat diluar nalar. Di jaman android seperti ini mana mungkin peristiwa perjalanan gaibnya akan diterima oleh Guntur, begitu pikir pak Suro.


"Sudah, sudah ayo masuk pak. Di dalam ada mamah dan sekalian saya kenalin dengan teman papah dan anaknya," ujar Guntur memecah kebuntuan pak Suro.


Hati pak Suro menjadi lega seketika karena Guntur tidak berlarut-larut mempersoalkan kejanggalannya. Kemudian Guntur dan pak Suro pun melangkah masuk menuju kamar rawatnya.


"Adinya kok gak ikut pak?" tanya Guntur sambil melangkah.


"Iya Gun, katanya kalau berangkat semua siapa yang jaga kantor," jawab pak Suro berbohong.


......................


BANDUNG,


Udara malam terasa dingin menyelimuti kota Bandung. Di pos Satpam seorang anak berusia belasan tahun duduk gelisah, sesekali berdiri memperhatikan jalan raya yang ramai didepannya.


"Bapak kemana ya, kok nggak pulang-pulang," gumam anak itu sambil memperhatikan lalu lalang kendaraan di jalan raya.


Setiap kali mendengar suara mobil angkot berhenti, anak itu langsung berdiri melihatnya berharap orang yang ditunggu-tunggunya turun dari angkot. Akan tetapi wajahnya langsung kecewa karena yang turun bukan orang yang dinantinya. Lalu ia pun kembali terduduk lesu.


"Assalamualaikum..." ucap seseorang dari luar pagar kantor.


"Wa'alaikum salam, bapak..." sahut anak itu gembira kemudian membuka pintu pagar.


"Bapak darimana saja sih pak, Adi tunggu-tungguin dari tadi," ucap anak itu yang tak lain Adi anak angkatnya pak Suro.


"Bapak ada keperluan sebentar Di," jawab pria paruh baya yang tak lain adalah pak Suro.


"Ini bapak bawain makanan, Adi belum makan kan?" ucap pak Suro.


"Ya belum, nunggu-nunggu bapak..." ujar Adi.


"Ya sudah, nih bawa masuk makanannya. Nanti kamu langsung tidur aja biar bapak yang jaga ya," ucap pak Suro.


"Iya pak..." sahut Adi kemudian berlalu menuju mess yang berada dibelakang kantor.

__ADS_1


......................


__ADS_2