
Ditengah-tengah menikmati makanan Empal Gentong khas Cirebon, tiba-tiba terucap celetikkan Guntur; "Kun kita lewat jalur pantura aja ya."
"Kenapa boss? Lama, belum lagi banyak hambatan tersendat disana sini," ujar Kunto.
"Jenuh Kun lewat jalan tol nggak ada pemandangannya," jawab Guntur.
"Lempeeeeng aja kayak lagi ngantri nunggu mati," sambung Guntur.
"Astagfirullah! boss Jomblo kalau ngomong hati-hati, ihk!" Sungut Kunto mengurungkan suapannya.
"Iya ih, pak jangan gitu dong..." timpal Vina terkejut.
"Ups, sorry... sorry becanda, hehehe..." ujar Guntur kemudian menyelesaikan suapan terakhirnya dan meneguk teh hangat hingga tandas.
"Iya bener juga sih pak, saya setuju dengan ide pak Guntur," timpal Vina.
"Ya kalau neng Vina yang bilang sih, aku juga setuju deh," sela Kunto mesem.
"Waduh, waduh... Rayuanmu kelas kacang," timpal Guntur.
"Ssssttt, sekali-kali dukung gitu bosssss..." sungut Kunto memajukan bibirnya ke muka Guntur.
Guntur langsung melempar tisu ke mulut Kunto dan sialnya tisu itu tepat nempel di lidah Kunto.
"Hoekkk!" Kunto seketika kelekekan sambil melepeh-lepehin tisu di lidahnya.
"Hahahahaha... Hahahahaha..." Guntur dan Vina spontan tergelak melihat reaksi Kunto.
Beberapa saat kemudian Vina pun memyelesaikan makannya lalu disusul Kunto yang terakhir menghabiskan makannya. Tak berlama-lama lagi mereka bertiga pun beranjak dari rumah makan tersebut setelah Guntur membayarkan semuanya.
"Serius nih boss lewat pantura?" Tanya Kunto mèyakinkan ketika sudah berada didalam mobil
"Ya serius lah keritiiing..." sahut Guntur cuek.
"Neng Vina, serius juga?" goda Kunto sambil menstarter mobil.
Vina nggak menjawabnya tapi dia langsung melihat kaca spion tengah dan sesuai perkiraannya Kunto sedang melihatnya lalu Vina mengedipkan matanya sebagai jawabanya.
"Yesss... yessss... yessss...!" teriak Kunto.
Guntur sampai terlonjak kaget oleh teriakkan Kunto, "Napa sih lu?!" sungut Guntur.
"Hehehehehe.... ada dweh," ujar Kunto.
Baru saja mobilnya melaju sedikit, tiba-tiba muncul secara ajaib pemuda memakai rompi oren beridiri di depan mobil membuat Kunto reflek menginjak rem.
"Aduh, nih orang bener-bener jailani..." sungut Kunto.
__ADS_1
"Jaelangkuuung!" sergah Guntur dan Vina bersamaan.
"Hahahahaha..."
"Hahahahaha..."
"Hahahahaha..."
Ketiganya tergelak sambil melihat tukang parkir yang membunyikan peluitnya tak beraturan, prat prit prat prit tapi matanya terus memperhatikan Kunto.
"Keriting, kasih itu tukang parkir!" seru Guntur disela-sela ketawa.
"Biar aku kerjain dulu lah, suruh lari-lari sedikit. Enak aja nggak kerja langsung dikasih," ujar Kunto.
Kunto sengaja memelankan mobilnya melaju hingga 5 meteran baru membuka kaca jendelanya dan mengulurkan uang 5 ribuan.
......................
"Boss, kira-kira kemana lagi mereka?" Tanya Kancil yang duduk bersama Cungkring di jok belakang.
"Ngak tau, tapi ikuti aja deh," jawab si Boss.
"Mungkin mereka akan masuk tol lagi melalui pintu tol Kanci," celetuk lelaki yang pegang setir yang dipanggil Gombloh.
Hari sudah menunjukkan pukul 11.07 wib, suasana panas terlihat dari teriknya matahari diluar mobil. Namun bagi masyarakat Cirebon panas seperti itu biasa saja, tapi berbeda dengan Guntur, Kunto dan Vina mereka langsung merasakan gerahnya. Sampai-sampai Kunto membesarkan ac mobil ke nomor 5. Arus jalanan kota Cirebon terlihat lumayan ramai di padat oleh angkot, becak dan juga oleh banyak kendaraan pribadi yang berlalu-lalang.
“Bos, bos... mereka nggak masuk tol,” ucap Gombloh.
Si boss yang duduk didepan sebelah Gombloh nampak sedang terkantuk-kantuk langsung melek.
“Mana? Mana?” Si boss memperhatikan mobil-mobil didepannya.
“Tuh didepan dua mobil Avanza dan truk,” ujar Gombloh.
“Lu jangan terlalu jauh jaraknya bloh!” Sungut si boss.
“Siap boss!” Sergah Gombloh cepat kemudian menyalip mobil Avanza silver didepannya.
“Kita pakai rencana kedua!” ucap si boss dengan wajah membesi.
“Ok boss!” sahut Gombloh, Kancil dan Cungkring bersamaan.
Hiruk pikuk jalanan jalur pantura menyuguhkan pemandangan khas tersendiri bagi pengendara yang tidak memakai jalan tol. Terkadang para pengemudi harus waspada dan serin-sering bersabar mendapati angkot yang tiba-tiba saja memberi lampu sen kiri lalu berhenti mendadak. Kesabaran lainnya yang tak kalah pentingnya harus mengekor dibelakang truk besar, bus, tronton ataupun mobil kontainer yang berjalan lambat ketika hendak menyalip.
Belum lagi lalu lalang mobil pribadi, sepeda motor, orang meneyeberang dan pejalan kaki berbaur menghiasi jalan antar provinsi tersebut. Belum lagi kadang dibuat kesal oleh mobil besar yang menyerobot masuk dijalur berlawanan untuk menyalip. Setidaknya seperti itulah perasaan Kunto harus menuruti keinginan Guntur menggunakan jalur pantura alias pantai utara. Dan yabg terasa bagi pengemudinya adalah mereka tidak leluasa menginjak pedal gas lama-lama karena mereka lebih sering menginjak pedal rem.
Namun tidak dengan Guntur, ia sangat menikmati keruwetan yang ada disepanjang jalur pantura yang dilaluinya yang menyuguhkan pemandangan yang berbeda-beda. Dan tidak megetahui keluhan Kunto yang kecapekan memainkan pedal gas dan rem di kakinya.
__ADS_1
Tidak ada perasaan janggal sama sekali yang dirasakan Guntur, Kunto maupun Vina selama perjalanan. Hingga mereka sudah melewati Cirebon, Brebes, tegal, Pemalang dan kini sedang melaju memasuki wilayah Pekalongan sudah masuk wilayah Jawa Tengah.
Matahari sudah lengser dari titik kulminasinya dan menunjukkan pukul 13.50 wib. Kunto melirik Guntur disebelahnya, nampak Guntur terlelap, kepalanya tersangga oleh bantal leher. Kunto melirik Vina dari kaca tengah, Vina pun sama matanya terpejam. Kunto hanya melenguh menarik nafas dalam-dalam, sekarang suasana dalam mobil menjadi hening. Alunan musik yang terdengar pelan menjadi teman perjalanan satu-satunya. Ia menghibur diri sambil bersenandung mengikuti vokal lagu dari band favoritnya, Bon Jovie.
Sekarang mobil sedang melaju di daerah Batang dan segera memasuki wilayah Alas Roban. Kunto memperhatikan situasi disisi kanan dan kirinya yang banyak ditumbuhi pohon-pohon jati yang besar-besar berjajar. Kendaraan-kendaraan lain pun sudah tidak sepadat sebelum memasuki kawasan Alas Roban.
Pada satu titik jalan yang membelah hutan Alas Roban muncul dari belakang datang mobil sedan hitam melaju dari samping kanan mobil Kunto. Sedan hitam itu tiba-tiba memepet mobil Kunto. Kunto terkejut bukan main, dia reflek banting setir ke kiri menghindari gesekkan body lalu menyetabilkan kembali lajunya. Kunto dapat menguasai mobilnya kembali tetapi itu hanya sesaat. Kaca mobil sedan sebelah kiri tiba-tiba terlihat turun dengan cepat hingga terbuka memperlihatkan seorang lelaki berkaca mata hitam memegang senjata api dan langsung mengarahkan bidikannya ke Kunto.
Dorrr!
Dorrr!
Dorrr!
Letusan senjata api terdengar tiga kali dan menghancurkan kaca jendela disamping Kunto membuat Mobil Pajero Sport putih yang dikemudikannya itu langsung oleng.
“Aaaakkh!” Kunto terpekik panik bukan main.
Kunto merasakan panas pada lengan kanan dan punggungnya. Dengan reflek Kunto meraba lengannya yang terasa panas dan sangat sakit. Telapak tangannya merasakan ada cairan yang mengucur deras lalu diangkatnya telapak tangannya dan dilihatnya basah oleh lumuran darah.
"Ahhgg..!" pekik Kunto menahan sakitnya.
Guntur dan Vina tersentak dari tidurnya. Sesaat celingukkan namun belum sempat mengetahui apa yang sedang terjadi. Keduanya seketika langsung panik merasakan tiba-tiba mobil melaju kencang berjalan zig zag lalu menabrak besi pelindung dipinggir jalan. Tapi tidak mampu menahan laju mobil yang dikemudikan Kunto, mobil pun langsung melayang terjun kedalam jurang diiringi suara decitan ban.
Ciiiiiiitttt...!
Ciiiiiiitttt...!
Braaaakkkkk..!
"Aaaaaakkkh...!" Teriak Guntur dan Vina bersamaan.
Sementara itu mobil sedan yang memelankan lajunya, didalam mobil itu empat orang memperhatikan dengan senyum seringaian kejam, mereka melihat dengan jelas bagaimana mobil Pajero Sport putih itu melaju dalam kecepatan tinggi tak terkendali lalu terlihat oleng dan zig zag kekanan dan kekiri setelah ditembak.
Mobil itu terlihat sudah lepas kendali. Lalu sedetik berikutnya terlihat mobil itu nyelenong kesisi kiri dan terjun bebas kedalam jurang sedalam 10 meteran diakhiri dengan keluar asap hitam yang membumbung keatas. Mobil sedan hitam itu berhenti sesaat, seorang yang membawa senjata api keluar dan memperhatikan mobil yang ditumpangi Guntur dan teman-temannya sejenak lalu segera kembali masuk kedalam mobil dan tancap gas berlalu meninggalkan tempat kejadian.
“Hahahahaha....”
“Hahahahaha....”
“Hahahahaha....”
“Hahahahaha....”
Gelak tawa puas memenuhi seisi mobil sedan yang terus melaju kencang keluar dari jalur Alas Roban.
......................
__ADS_1