
Mobil sedan hitam meluncur dengan kecepatan tinggi di jalan tol Cipali menuju kearah Jawa Tengah. Dari Bamdung komplotan pembunuh bayaran pimpinan Carok langsung berangkat begitu mendapat komplain dari pak Iwan yang memberinya order. Komplotan yang terdiri dari Gombloh, Kancil, Cungkring dan Carok sebagai pimpinannya sangat penasaran dengan komplain tersebut yang mengatakan kalau target dalam keadaan sehat wal afiat tidak terluka satu goresan pun bahkan katanya korban terlihat biasa saja seperti tidak terjadi apa-apa.
“Aneh, masa iya target baik-baik saja. Kalian kan lihat sendiri bagaimana mobil itu menabrak besi pembatas lalu terjun masuk jurang,” sungut Carok yang duduk disebelah Gombloh.
“Saya nggak percaya itu boss!” celetuk Cungkring dari jok belakang.
“Salah lihat kali tuh,” timpal Kancil disebelah Cungkring.
“Iya tuh boss!” sahut Gombloh yang pegang kemudi.
“Tapi pak boss benar-benar marah di telpon itu. Dia bilang baru saja disuruh menghadap target kita dan pak boss itu jelas-jelas menemui orang yang menjadi target di ruangannya dan dia melihatnya baik-baik saja,” ungkap Carok.
“Masa iya bisa begitu. Secara akal saja nggak mungkin kalau kondisinya sehat-sehat saja lagi pula mobilnya kan masuk jurang, bagaimana dia bisa cepat sampai ke Bandung dan dalam kondisi baik-baik saja,” ujar Kancil.
“Ya itu dia, gua juga heran tapi pak boss benar-benar marah besar. Dia benar-benar melihat target yang sudah kita eksekusi masuk kantor pagi tadi.” Sungut Carok.
"Harusnya kita tidak usah kesana lagi boss, saya yakin target kita sudah mampus!" sela Cungkring terkekeh.
"Gue juga tadinya berfikir begitu, ngapain kita harus ngecek lagi. Tapi pak Boss minta bukti kepastian kalau misi kita berhasil, kalau tidak uang 200 jutanya diminta lagi." ujar Carok.
"Hah?! Diminta lagi?!" seru Gombloh, Kancil dan Cungkring serempak.
"Anjrit! kalau diminta lagi mampus aku!" sergah Kancil.
"Iya lah, mending kabur darpada harus mengembalikan uang itu. Aku sudah habis setengahnya!" timpal Cungkring.
__ADS_1
"Nah cocok tuh, daripada dikembalikan mending ngilang dah," Gombloh menimpali.
"Sudah, sudah kalian tenang saja. Kita hanya butuh bukti saja kalau misi sudah selesai," kata Carok menengah-nengahi.
Matahari sudah condong bergeser ke barat, Mobil sedan hitam itu melaju dengan kecepatan tinggi sudah keluar melewati wilayah cirebon. Saat masuk wilayah Pekalongan mobil sedang keluar dari tol dan melaju di jalur pantura menuju Alas Roban. Jarak dari pintu keluar tol tidak terlalu jauh sekitar 30 menitan untuk sampai ke lokasi ketika mereka mengeksekusi targetnya.
Suasana sudah mulai gelap meski masih pukul 5 sore, karena cahaya senja terhalang oleh rapatnya rerimbunan hutan jati Alas Roban ketika mobil komplotan Carok tiba dilokasi. Mobil sedan hitam itu menepi sebelum garis polisi yang melingkari bekas besi penghalang ditabrak mobil Gintur. Nampak serpihan-serpihan body mobil dan pecahan kaca berserakkan dipinggir jalan, sepertinya serpihan-serpihan yang berceceran ditengah jalan baru saja dibersihkan ke tepi jalan.
Keempat orang didalam mobil saling celingukkan kesamping dan kebelakang melihat situasi sekitarnya dari dalam mobil. Suasan jalanan nampak lenggang, jarang-jarang ada kendaraan yang melintas.
"Kalian diam didalam mobil saja, saya yang turun untuk melihat mobil korban," perintah Carok.
Lelaki berbadan tegap itu kemudian membuka pintu mobil dan turun. Dia melangkah tergesa-gesa mendekati garis polisi sambil menenteng handpond. Carok menyibak garis polisi dan berdiri tepat pada besi pengaman yang nampak bengkok dan bolong bekas ditabrak mobil korbannya. Dia melongokkan kepalanya melihat kebawah jurang.
Deg!
"Hmmm, sepertinya mobil itu baru saja diderek," gumam Carok kemudian bergegas kembali ke mobil.
"Gimana boss beres? Dapat fotonya?" Tanya Gombloh.
"Sial, sepertinya mobilnya baru saja di derek tadi siang!" Sungut Carok.
"Waduh! Mampus dah!" umpat Cungkring.
"Gimana ini bos?! Dengan apa kita kasih buktinya?" tanya Kancil.
__ADS_1
"Kita cari informasi ke warga sekitar, pasti ada yang tau korbannya dibawa kemana. Pokoknya kita harus memastikan apakah korbannya selamat atau tidak. Kita harus dapat bukti gambarnya." ujar Carok.
"Tapi bagaimana seandainya target kita masih hidup boss?" Tanya Kancil.
Carok langsung diam dengan wajah membesi. Hal ini yang tidak pernah ia duga-duga sama sekali olehnya. Dirinya tidak memiliki rencana apapun untuk mengantisipasi situasi seperti itu sekarang karena ia menganggapnya misi berhasil dan korban sudah dilenyapkan.
"Ya sudah kita cari warung di dekat sini dulu, kita gali informasi dari warga sekitar sini, ayo Bloh jalan!" kata Carok.
Gombloh, Kancil dan Cungkring terdiam tak tak harus berkata apa. Ketiganya hanya mengangguk mengikut saja apa yang akan dilakukan bos mereka. Kemudian Gombloh menjalankan mobilnya untuk mencari warung-warung yang tak jauh dari lokasi eksekusi.
......................
Rumah Sakit,
Kondisi Guntur yang tidak terlalu parah hanya bisa menatap iba sahabatnya yang tertidur setelah sebelumnya sempat siuman dari pengaruh obat bius bekas operasi. Guntur menyesal menyertakan Kunto untuk ikut bersamanya untuk meninjau proyek di Semarang. Ia berpikir, mungkin sasaran penembakkan itu sebenarnya adalah dirinya. Sedetik kemudian raut wajah Guntur terlihat geram, jika memang dirinya yang menjadi sasaran pembunuhan itu kenapa Kunto dan Vina juga turut menjadi korban?! Sungguh biadab sekali!
Tok... tok.. tok...
"Permisi pak Guntur, saya mohon ijin sebentar ke toilet." kata seorang petugas polisi.
"Oh, silahkan, silahkan pak," jawab Guntur.
Semenjak pertama kali Guntur, Kunto dan Vina masuk rumah sakit, petugas kepolisian setempat menjaga ketat kamar mereka. Hasil identifikasi olah Tempat Kejadian Perkara, polisi menemukan beberapa kejanggalan penyebab kecelakaan tunggal tersebut. Kecurigaan polisi langsung mengarah pada dugaan percobaan pembunuhan setelah menemukan 3 selongsong peluru dan diperkuat 2 proyektil yang bersarang di tubuh Kunto. Selain itu polisi juga mendapati tiga lubang bekas tembakkan pada pintu mobil depan yang diduga dilakukan dengan jarak dekat.
Sementara itu di koridor Rumah Sakit, diantara lalu lalang orang-orang yang berjalan dilorong rumah sakit, tiga pasang kaki melangkah tergesa-gesa. Sorot cahaya dari lampu-lampu neon yang sudah dinyalakan seiring hari sudah mulai memasuki pergantian malam, wajah-wajah cemas dan panik tergambar jelas pada seorang lelaki setengah baya dan dua wanita cantik, yang satu masih gadis memakai hikab terlihat cantik dan wanita satunya berusia 35 tahunan yang terlihat masih muda dan cantik. Ketiga orang tersebut berhenti pada kamar perawatan nomor 7 VIP, sejenak mereka ragu-ragu memasukinya karena nama yang tertera pada daun pintu bukan tertulis "GUNTUR" melainkan "SALMAN".
__ADS_1
......................