TITISAN

TITISAN
HARTA BERTUAN


__ADS_3

Hari ke-8 kematian Aryo, pagi hari sekitar pukul 8.25 wib Karmila sudah kembali sibuk menyirami tanaman-tanaman herbalnya atau lebih tepatnya Karmila menyibukkan diri karena berasa jenuh sudah satu mingguan tidak melakukan aktifitas rutinnya itu. Tubuhnya yang sintal hanya berbalutkan dress tengtop berwarna merah sebatas lutut begitu terlihat kontras hingga menonjolkan kulit putih khas orang Sundanya yang siapapun yang memandangnya pasti akan betah. Karmila berdiri dihamparan rumput jepang sembari memegang selang ditangannya fokus mengarahkan semprotan air ke tanaman.


Karmila terlihat sangat menikmati aktifitas yang berasa lama ditinggalkannya itu sambil bersenandung kecil. Terdengar samar nada-nada nyanyian merdu keluar dari bibirnya mengiringi air yang disemprotkannya dari selang yang diarahkan ke tanaman-tanaman herbal didepannya, entah lagu apa yang sedang dinyanyikannya. Sesekali air yang disemprotkannya dari selang itu memantulkan percikan hingga membasahi dressnya yang seditik tipis.


Setelah tujuh hari meninggalnya Aryo, suasana hati Karmila nampak sudah lebih tegar dapat menerima kenyataan pahit. Sekarang tidak lagi menangis setiap kali bangun tidur tidak seperti hari-hari selama tujuh hari sebelumnya, dirinya merasa seolah-olah akan menjalani hidup seorang diri dengan menanggung beban rasa bersalahnya pada mendiang suaminya. Bagaimana pun dirinya tidak boleh terus menerus berlarut-larut dalam duka nestapa, masih ada perjalanan hidupnya yang masih panjang jika menurut usianya yang saat ini menginjak 37 tahun.


Tiiin...


Tiin...


Suara klakson mobil yang terdengar dari depan gerbang rumah sedikit mengejutkan Karmila. Spontan ia menoleh menajamkan pandangannya menelisik sebuah mobil hitam yang berhenti menghadap rumah dibalik gerbang. Karmila segera meletakkan selang air lalu berlari kecil ketempat kran untuk mematikannya kemudian melangkah ke pintu gerbang untuk membukakannya. Setelah pintu gerbang dibuka lebar, sesosok kepala melongok dari jendela mobil sebelah kanan.


"Aduh maaf, punten bu Mila. Sampai bu Mila sendiri yang membukanya," ucap seorang pria lalu kembali duduk dibalik belakang kemudi.


Tak lama kemudian mobil Toyota Rush warna hitam itu bergerak masuk ke halaman rumah Karmila lalu berhenti dan mematikan mesin mobil. Nampak keluar seorang pria berusia 50-an tahun dengan pakaian perlente lengkap dengan dasi abu-abu bersepatu hitam mengkilap sambil menenteng tas kulit di tangannya. Lelaki itu berjalan menyongsong Karmila yang masih berdiri ďidekat gerbang.


"Selamat pagi bu Mila," sapa pria itu melirik sebentar lalu menundukkan kepalanya.


"Ya pagi, maaf bapak siapa ya? Apakah rekan suami saya?" Tanya Karmila yang tidak mengenali pria itu.


"Oh maaf kita sebelumnya belum pernah bertemu, kenalkan bu nama saya Adrian. Saya pengacaranya bapak Aryo bu," ucap pria bernama Adrian mengulurkan tangannya bersalaman.


"Saya Karmila, pak..." balas Karmila menerima uluran jabat tangan Adrian.


Adrian terlihat canggung menatap Karmila berlama-lama lalu kembali menundukkan kepalanya. Setiap kali menatapnya setiap kali itu pula jakunnya naik turun menelan ludah hingga ia berusaha mengalihkan pandangannya kearah lain.


"O ya, mari mari masuk pak Adrian..." ucap Karmila memecah kecangguangan suasana.


Karmila melangkah didepan mendahului Ardian menuju kedalam rumah. Adrian berkali-kali menelan air liurnya melihat dari belakang langkah gemulai Karmila namun sesekali ia berusaha mengalihkan pandangannya kesamping kanan melihat aneka ragam tanaman yang tadi sedang di siram Karmila. Adrian berusaha sekuat tenaga bersikap profesional menekan perasaan sebagai lelaki normal melihat pemandangan indah didepan matanya yang begitu dekat. Apalagi mengingat status janda yang kini disandang Karmila, otaknya bertambah tergelitik nakal.


"Silahkan duduk dulu pak, saya... O ya mau minum apa pak, kopi, susu, teh...?" tawar Karmila.


"Kopi aja bu," jawab Adrian kemudian duduk di kursi panjang.


Sebetulnya didalam hatinya ingin menjawab susu hanya saja tidak enak mengatakannya dengan pertimbangan melihat pakaian Karmila yang sedikit terbuka takutnya dia tersinggung atau mungkin bisa jadi marah.


"Saya tinggal dulu sebentar ambil minum ya pak.." ucap Karmila kemudian berlalu dari ruang tamu.


Lagi-lagi mata Pengacara itu reflek menoleh kearah Karmila bersamaan ia membalikkan badanya berjalan lalu hilang dibalik dinding sekat ruang tengah. Adrian hanya bisa menarik nafas panjang yang sedari tadi ditahannya.


Karmila tidak langsung menuju ke dapur melainkan ia masuk ke kamarnya terlebih dahulu untuk berganti pakaian. Ternyata ia mengetahui kalau tamunya itu seringkali curi-curi pandang melirik melihat dirinya.

__ADS_1


"Matanya jelalatan juga tuh orang, dasar lelaki!" Sungut Karmila sembari memakai daster panjang semata kaki dipadukan dengan atasan memakai switer, kemudian melangkah ke dapur membuat minuman.


Beberapa saat kemudian Karmila sudah kembali ke ruang tamu membawa secangkir kopi. Adrian yang nampak sedang sibuk melingkap-lingkap berkas yang sedikit tebal diatas meja tamu langsung menghentikannya lalu tersenyum melihat kemunculan Karmila.


"Silahkan diminum pak," ucap Karmila kemudian mengambil posisi duduk berseberangan dengan Adrian.


"Muhun, terima kasih bu..." ucap Adrian langsung mengambil cangkir kopi lalu menyeruputnya sebentar kemudian diletakkan kembali ketempat semula.


Karmila memperhatikan beberapa bendel berkas-berkas yang terhampar diatas meja. Ia masih belum mengetahui apa tujuan Pengacara itu datang menemuinya pagi-pagi.


"Begini bu, maaf sebelumnya dimana putra ibu yang bernama Guntur?" tanya Pengacara Adrian mengalihkan pandangannya ke ruang tengah.


"Guntur kebetulan sudah berangkat kuliah pak, ada apa ya?" ucap Karmila penuh tanda tanya.


"Jam berapa pulangnya? Soalnya harus ada putra ibu sebelum saya menjelaskannya," ucap Ardian.


"Sebentar saya telpon Guntur dulu ya pak," ucap Karmila.


"Muhun, mangga.." sahut Adrian.


Karmila kemudian beranjak meninggalkan Adrian untuk mengambil hapenya yang tergeletak diatas bufet ruang tengah. Karmila langsung mencari nomor kontak Guntur didalam hapenya dan sesaat kemudian terdengar nada sambung dari hape Karmila.


"Halo Gun, kamu masih di kampus?" tanya Karmila pada Guntur setelah sambungan telponnya diangkat dari seberang.


"Sebentar lagi pak lagi dijalan katanya," ucap Karmila sambil duduk ditempatnya semula.


"Oke, sambil menunggu Guntur saya sedikit jelaskan maksud dan tujuan saya datang kesini ya bu. Saya sebagai pengacaranya pak Aryo menyampaikan wasiat dari almarhum bapak Aryo yang sudah diamanatkan jauh jauh hari sebelumnya. Amanat ini Almarhum pak Aryo ini berkaitan dengan semua aset-aset perusahaan dan harta kekyaan beliau," terang Adrian.


Karmila nampak tertegun, selama ini dirinya sama sekali tidak terpikirkan akan aset-aset kekayaan suaminya. Pikirannya larut dipenuhi dengan pertanyaan-pertanyaan yang mengira-ngira tentang apa saja aset yang ditinggalkan Aryo.


"Assalamualaikum..." ucap seseorang dipintu.


"Waalaikumsalam, ah itu Gunturnya pak," sahut Karmila.


Guntur pun masuk bersama Kunto dan langsung mengenalkan diri pada Adrian sambil menyalaminya kemudian duduk disamping mamahnya. Sedangkan Kunto bergegas meninggalkan ruang tamu karena menurut fellingnya itu adalah urusan keluarga Guntur.


"Ada apa ya pak?" tanya Guntur, kemudian membuka jaketnya.


"Begin mas Guntur, bu Mila. Saya kenalkan diri lagi karena mas Guntur belum tau ya, sekali lagi saya Pengacaranya almarhum bapak Aryo. Saya datang kesini untuk menyampaikan amanat dari pak Aryo, beliau menitipkan wasiat jauh jauh hari sebelum beliau meninggal terkait aset-aset kekayaan milik pak Aryo," papar Adrian, kemudian menggeser bendel-bendel berkas yang menumpuk diatas mesja.


Wajah Guntur nampak tercengang, dirinya sama sekali tidak menduga bahkan tidak terlintas sedikit pun dipikirannya memikirkan mengenai harta kekayaan peninggalan papahnya. Sebab selama ini papah dan mamahnya tidak pernah menceritakan pekerjaan papahnya, yang dia tau papahnya memiliki perusahaan kontraktor bahkan belum sekalipun dirinya menginjakkan kakinya di kantor papahnya.

__ADS_1


"Ini berkas surat-surat penting meliputi akte-akte perusahaan, bangunan, tanah. Tapi sebelum saya menyerahkan semua ini, saya akan membacakan surat wasiat dari almarhum pak Aryo ya," ucap Adrian.


Guntur dan mamahnya tak bisa menutupi keterkejutannya mendengar harta peninggalan Aryo yang begitu banyak. Keduanya saling berpandangan penuh takjub dan tidak menyangkal kalau perasaannya berbunga-bunga.


"Baik mas Guntur dan bu Mila saya bacakan surat wasiat dari bapak Aryo ya," ucap Adrian.


Saya yang bertanda tangan di bawah ini :


Nama : Aryo Satriaji


Tempat, tanggal lahir : Jakarta, 24 Juli 1980


NIK : 12345678910


Pekerjaan : Pengusaha


Alamat : Jalan Hartoyo - Bandung


Dengan surat ini saya menyatakan bahwa saya memberikan seluruh harta saya kepada ahli waris yang akan ditunjuk sebagai ahli waris resmi. Surat ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab Notaris sampai saya sudah tidak ada lagi.


Ketika masa itu datang, surat ini akan bersifat sah dan berlaku untuk ahli waris yang saya tunjuk. Surat ini tidak dapat diganggu gugat dan dapat digunakan sebagai pertanggung jawaban di masa mendatang.


Saya akan mewariskan seluruh harta saya kepada anak semata wayang saya:


Nama: ****G******UNTUR SATRIAJI**


Tempat, tanggal lahir : Jakarta, 26 Agustus 2000


Alamat : Jalan Hartoyo - Bandung


Surat ini dibuat dengan disaksikan oleh pihak-pihak terkait dan saya percayai. Sehingga akan ada penjaminan di masa mendatang untuk keabsahan harta serta surat wasiat ini dapat dipertanggungjawabkan.


Yang Berwasiat,


Tanda Tangan


( ARYO SATRIAJI)


Seketika mulut Guntur ternganga lebar, matanya berkaca-kaca serasa tidak percaya dengan apa yang barusan dibacakan oleh Adrian pengacara papahnya itu. Sementara Karmila pun tak dapat membendung air matanya, ia menangis memeluk Guntur. Tangisan Karmila bukan karena namanya tidak disebutkan didalam surat wasiat sebagai pewarisnya, akan tetapi dirinya salah menilai karena ternyata Aryo tidak seperti yang disangkanya selama ini. Karmila mengira kalau Aryo sangat membenci kelahiran Guntur, sebab semenjak Guntur lahir Aryo mulai tidak kerasan tinggal serumah dan sikapnya seolah tidak peduli dengan Guntur yang merasa kalau Guntur bukan darah dagingnya. Hal itu pula yang membuat batin Karmila menanggung beban salah pada Aryo yang dipendamnya hingga kini.


Namun, batinnya seperti terobati manakala surat wasiat dari Aryo yang memberikan seluruh harta kekayaannya diberikan kepada Guntur. Baginya hal itu lebih dari cukup menandakan kalau Guntur diakui Aryo sebagai anaknya. Karmila merasa seperti sebuah penebusan dosa untuk peristiwa terkutuk di masa silam.

__ADS_1


......................



__ADS_2