TITISAN

TITISAN
GEGER GUNTUR


__ADS_3

“Pak Guntur..! Tolong saya pak..! Pak Guntur... pak Guntuuur...!”


Pak Iwan terus menerus meronta dalam cekalan kedua petugas berpakaian preman. Suara teriakkannya yang keras dari lantai dua hingga terdengar ke lantai satu mengejutkan para karyawan.


“Hentikan teriakkan anda!” Hardik salah satu petugas berpakaian preman sambil menarik pak Iwan menuruni tangga.


Pak Iwan masih saja meronta-ronta minta dilepaskan sambil menoleh kearah ruangan Guntur. Suara-suara teriakkan pak Iwan dilantai dua sampai terdengar hingga di lantai satu. Puluhan karyawan spontan berkumpul diujung bawah tangga melihat apa yang terjadi dengan pak Iwan. Agus, salah seorang Satpam datang setelah mendapat laporan salah satu karyawan karena ada keributan didalam kantor. Satpam Agus mencoba menghentikan para petugas yang meringkus pak Iwan ketika sampai di lantai satu dan menanyakan masalah penangkapan pak Iwan.


“Maaf pak, ada apa dengan pak Iwan?” tanya Satpam Agus.


Empat petugas berpakaian preman menghentikan langkahnya dan menatap kerumunan para karyawan diujung tangga sejenak, lalu menyampaikan alasan penangkapan terhadap pak Iwan.


“Maaf semuanya, perlu bapak-bapak dan ibu ketahui bahwa saudara Iwan Sutejo ini menjadi penyebab Guntur dan dua temannya kecelakaan, mobilnya masuk jurang...” ungkap seorang petugas tapi langsung dipotong oleh suara Satpam Agus dan beberapa karyawan.


“Mobil Pak Guntur masuk jurang?!” sergah mereka serempak.


“Betul, TKP-nya berada di wilayah Alas Roban. Saat ini pak Guntur dan dua temannya masih dalam perawatan di rumah sakit disana. Sudah kami permisi, tolong kasih jalan!” jelas pimpinan Unit Reskrim.


“Pak Guntur di rumah sakit?!” tanya mereka serempak bernada heran.


“Betul, pak Iwan ini merupakan pelaku utama otak percobaan pembunuhan terhadap pak Guntur Satriaji. Dia menyuruh komplotan pembunuh bayaran.” Terang seorang petugas yang menjadi pimpinan Unit Reskrim.


Wajah Satpam Agus beserta para karyawan dan karyawati sontak terperangah mendengar penjelasan petugas. Namun di wajah-wajah mereka tergurat kebingungan hingga saling berpandangan satu sama lain.


“Tapi pak, bukankah pak Guntur...”


“Sudah, sudah mohon beri jalan. Silahkan datang ke kantor Polda jika ingin mendapatkan keterangan lebih lengkapnya.” Tegas pimpinan Unit Reskrim.


Satpam Agus langsung membantu petugas memberikan jalan ditengah-tengah kerumunan karyawan. Teriakkan-teriakkan cemo’ohan langsung terlontar kepada pak Iwan yang menundukkan kepala saat menyeruak ditengah kerumunan itu.


“Huuuuh!!!”


“Dasar tak tau diri!”


“Syukurin!”


“Hukum mati saja pak!”


“Ternyata hati anda busuk!”


“Tega-teganya mau membunuh pak Guntur!”


“Itulah akibatnya jahat kepada orang sebaik pak Guntur, rasain lo!”


Pak Iwan terus-menerus tertunduk dengan tangan di borgol dibelakang punggung dibawa petugas-petugas berpakaian preman. Semua mata memandang penuh geram mengiringi pak Iwan keluar kantor dibawah cekalan para petugas.


Setelah pak Iwan dan empat petugas keluar kantor dan tak terlihat lagi, satpam Agus dan para karyawan seperti baru ingat tentang keberadaan pak Guntur yang sempat mereka lihat pagi tadi masuk kantor. Pergolakkan batin didalam hati para karyawan dipenuh tanda tanya sekaligus keheranan teringat dengan keterangan petugas yang mengatakan kalau Guntur saat ini berada di rumah sakit.


Mereka pun serentak menaiki tangga menuju ke lantai dua untuk menemui Guntur yang jelas-jelas sempat mereka lihat tadi pagi. Tak berapa lama para karyawan dan karyawati sampai didepan pintu ruangan Guntur. Satpam Agus yang berdiri paling depan langsung mengetuk pintu ruangan Guntur.

__ADS_1


Tok... tok... tok...


Suasana hening seketika menanti suara sahutan dari dalam ruangan, namun tidak ada sahutan. Satpam Agus kembali mengetuknya.


Tok... tok... tok...


Wajah-wajah penuh harap-harap cemas menunggu suara Guntur menyahut dari dalam. Setelah ditunggu beberapa saat tak ada sahutan dari dalam, Satpam Agus menoleh pada karyawan yang berdiri dibelakangnya seolah meminta tanggapan mereka.


“Buka aja pak Agus!” seru salah seorang karyawan.


Pak Agus pun memberanikan diri mendorong pintu ruangan Guntur tersebut dengan perasaan tak menentu.


Krettteeeekkk...


Setelah pintu dibuka lebar-lebar, kontan semua pasang mata berusaha ingin melihat kedalam ruangan Guntur sehingga terjadi dorong-mendorong ditengah pintu.


“Pak Guntur nggak ada!” seru Satpam Agus.


“Hahh?!” pekik mereka serempak kemudian saling pandang satu sama lain dengan mulut ternganga.


“Masa sih pak?!” seru Renata kemudian berusaha menerobos masuk menyelip diantara karyawan yang berjubel di pintu.


“Nggak ada!” seru yang lainnya.


Renata berhasil menerobos masuk. Matanya kontan membelalak lebar sambil menutup mulutnya yang ternganga.


......................


Rumah Sakit,


“Pah, tante, saya ijin keluar nyari makanan dulu ya,” ucap Hafizah.


“Biar saya temeni neng,” sergah Guntur.


Mamah Karmila dan Pak Asrul saling pandang lalu tersenyum melihat tingkah konyol Guntur.


“Loh, kamu kan lagi di rawat Gun...” ucap mamah Karmila tersenyum sedikit menggoda.


“Iya, masa pasien jalan-jalan keluar dari rumah sakit...” timpal pak Asrul.


“Hehehehe... saya sudah sehat kok mah. Sudah nggak sakit lagi, sembuh!” Sergah Guntur sambil garuk-garuk kepala belakangnya.


Hafizah tersenyum malu-malu melihat kekonyolan Guntur dengan kedua pipi merona merah.


“Biar aja tante, pah... Ada Suster Hafizah yang bertanggung jawab, hehehe...” seloroh Hafizah.


“Hahahahaha...”


Mamah Karmila dan pak Asrul tertawa mendengar selorohan Hafizah. Suara tawa kedua keluarga itu memenuhi ruangan kamar perawatan nomor 7. Ditengah-tengah suasana kebahagiaan itu samar-samar suara lirih memanggil nama Guntur.

__ADS_1


“Guuun..”


Kontan saja derai tawa mamah Karmila dan Pak Asrul terhenti. Kepala mereka langsung menoleh pada sosok Kunto yang terbaring disebelah mereka berdiri.


“Kunto!” seru Guntur kegirangan kemudian menghampiri sisi ranjang Kunto.


Kunto perlahan-lahan menggerakkan kepalanya kesamping melihat orang-orang yang ada disekitarnya.


“Tante... Om... Fizah...” sapa Kunto lirih.


Mamah Karmila, pak Asrul, Hafizah dan Guntur mendekat disamping ranjang Kunto.


“Gun, kamu nggak apa-apa?” tanya Kunto pelan.


“Saya nggak apa-apa Kun, kamu gimana keadaanmu? Sudah lebih baikkan?” Guntur balik tanya.


“Gun, saya minta maaf menyebabkan kecelakaan mobil masuk jurang. Sebelumnya saya mendengar suara tembakkan tiga kali, Gun...” ucap Kunto lirih.


“Sudah, sudah Kun. Kamu nggak perlu minta maaf gitu, ini semua bukan salahmu Kun. Para pelakunya juga sudah ditangkap,” sergah Guntur sambil menyentuh lengan yang diperban.


“Aduh!” pekik Kunto.


“Oh, maaf... maaf Kun, nggak sengaja, hehehehe...” ucap Guntur menarik tangannya cepat-cepat.


“Hahahahaha....”


“Hahahahaha....”


“Hahahahaha....”


Suara derai tawa kembali memenuhi ruang perawatan itu, “Vina gimana Gun? Apa dia selamat?” tanya Kunto setelah suara tawa mereda.


“Ciyee, ciyee... Cinta memang mengalahkan rasa sakit luka di kulit,” timpal Guntur.


Suara tawa kembali menggema di ruangan itu membuat Kunto terpaksa ikut tertawa malu-malu.


“Tenang aja Kun, Vina nggak apa-apa hanya luka benturan saja. Sekarang sudah baikkan kok,” ungkap Guntur ditengah-tengah derai tawa.


“Tadi saya denger kamu mau beli makanan, titip pizza ya hehehehe...” seloroh Kunto.


“Hahahahaha...”


Suara tawa kembali membuncah mendengar permintaan Kunto yang masih dibalut perban dan terbaring diatas ranjang.


“Siap sodara angkatku, berapa kotak yang kamu pesan?” timpal Guntur.


Lagi-lagi suara tawa menghiasi ruang perawatan kamar nomor 7 tersebut.


......................

__ADS_1


__ADS_2