TITISAN

TITISAN
DILUAR NALAR


__ADS_3

Beberapa saat setelah kang Nawawi membaca- baca amalannya, tiba- tiba di dalam penglihatan kang Nawawi pohon beringin yang rindang itu berubah.


Bukan lagi gelapnya rerimbunan daun pohon beringin yang berada di depannya, mèlainkan berdiri megah sebuah bangunan rumah berbentuk kastil tua.


Kang Nawawi berdiri tertegun di hamparan ilalang liar di halaman depan sebuah bangunan tua. Ia menatap lekat- lekat dan memperhatikan dengan seksama bangunan itu.


“Kastil kuno...” gumam kang Nawawi menatap rumah berbentuk kastil kuno di hadapannya itu.


Ia memperhatikan sekelilingnya, sepi tak ada seorang pun disana. Sementara ia melihat cuaca di langit sedikit terang seperti senja yang akan berganti ke malam malam hari.


Selain suasananya begitu sunyi dan senyap, terasa lembab tak ada hembusan angin sedikitpun.


“Sepi sekali... hanya ada kastil kuno...” ucap kang Nawawi dalam hati.


Kang Nawawi sadar betul kalau dirinya sudah memasuki alam gaib. Dan dia sangat yakin kalau Putri berada di dalam kastil kuno itu. Ia pun perlahan bergerak melangkah hendak memasuki kastil itu.


Baru saja kang Nawawi menggerakkan kakinya dua langkah, tiba- tiba kang Nawawi merasakan hembusan angin dari arah depan.


Bersamaan dengan itu sektika nampak di hadapannya puluhan mahluk berpakaian perang lengkap berdiri tegak. Di tangan kanan mahluk itu menggenggam pedang yang terhunus dan bersikap siaga.


Kang Nawawi terkesiap kaget bukan main, hingga tersurut mundur kembali ke posisi semula.


“Prajurit?!” pekik kang Nawawi dalam hati.


Deretan mahluk itu wajahnya tak begitu jelas terlihat, semuanya tertutup oleh kain pelindung kepala berwarna hitam. Kang Nawawi masih sibuk menduga- duga kalau sepasukan di hadapannya itu adalah prajurit, yang artinya ia memastikan kalau pemimpinnya merupakan sosok yang sangat kuat.


Seketika di dalam hati kang Nawawi sempat merasakan kecut juga membayangkan sosok yang menjadi pemimpin atau rajanya. Apalagi saat ini ia hanya seorang diri yang jika terjadi pertarungan akan menghadapi puluhan prajurit serta rajanya.


Namun kang Nawawi tak surut mundur, ia tetap menjalankan renacana semula yaitu bernegosiasi meminta mengembalikan putri secara baik- baik.


Jikapun pada akhirnya terjadi perselisihan dan genderuwo itu menolak hingga bahkan terpaksa harus bertarung, hal itu menjadi urusan nanti. Sekarang kang Nawawi menanti kedatangan sang pemimpinnya sebab ia yakin raja genderuwo itu pastilah akan muncul di hadapannya.


Belum selesai menebak- nebak tentang situasinya, tiba- tiba datang hembusan angin lebih besar dari saat kemunculan sepasukan prajurit tadi. Hembusan anginnya menyurutkan badan kang Nawawi berdiri di tempatnya hingga beberapa langkah ke belakang sambil melindungi matanya dengan lengan tangan.


“Sangat besar sekali!” pekik kang Nawawi dalam hati.


Baru saja kang Nawawi menggeser lengan tangan yang menutupi matanya dan melihat di hadapannya, ia terkejut luar biasa. Di hadapannya telah berdiri sesosok mahluk tinggi besar, seluruh tubuhnya diselimuti oleh bulu- bulu hitam lebat.

__ADS_1


Dua kilatan merah memancar kontras diantara gelapnya tubuh bagian atas seolah- olah menatap kang Nawawi dengan tajam. Begitu pula pada kedua sudut bibirnya nampak dua kilatan cahaya putih yang meruncing kebawah.


“Assalamualaikum!” kata kang Nawawi sedikit bergetar.


Genderuwo yang bernama Karbala itu hanya menggerak- gerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri sambil menyeringai mendengar ucapan salam kang Nawawi. Jantung Kang Nawawi berdegup kencang melihat gelagat yang tidak baik melihat respon Karbala.


Diam- diam kang nawawi membaca amalan kebatinannya untuk berjaga- jaga dari kemungkinan terburuk apabila Karbala menyerangnya tiba- tiba.


Karbala masih diam di tempatnya berdiri di depan sepasukannya, namun pancaran kilatan cahaya merah dari kedua matanya kian tajam menatap kang Nawawi. Kang Nawawi bergidik seketika melihat perubahan ekspresi dari wajah Karbala yang hitam pekat tertutup oleh bulu- bulu lebat.


“Hai manusia! berani sekali kau memasuki wilayahku!” sentak Karbala.


Suaranya yang besar dan sember sontak membuat kang Nawawi terkejut luar biasa. Debaran di dadanya makin kencang, nyalinya pun dibuat kian ciut. Kang Nawawi merasakan betul getaran hebat dari suara tersebut menyentuh jantungnya.


Sementara itu situasi di luar alam gaib, raut wajah ustad Syukur seketika menegang dan cemas melihat tubuh kang Nawawi tiba- tiba bergetar hebat.


Udara malam yang dingin tak membuat keringat di dahi kang Nawawi tidak keluar. Dari dahinya mulai keluar bulir- bulir keringat, kelopak matanya yang menutup rapat tampak bergerak- gerak.


Sementara Jin An dan Parno yang tak mengedipkan mata sedari tadi memperhatikan kang Nawawi dan ustad Syukur hanya menanti apa yang terjadi dengan harap- harap cemas.


Jin An dan Parno samar- samar melihat kang Nawawi dan ustad Syukur dari jarak pandang 10 meteran dari tempatnya duduk mereka yang diterangi oleh lampu taman.


Tak lama kemudian Jin An dan Parno mengalihkan pandangannya pada pohon beringin. Keduanya terkesiap dengan mulut ternganga dengan wajah cemas manakala pohon beringin itu perlahan- lahan bergerak ke depan dan ke belakang.


Mula- mula pelan, namun lama kelamaan gerakan dari dedaunan pohon beringin yang rindang itu bergerak kian kencang. Bersamaan dengan itu terasa tiupan angin yang sangat kencang menggoyahkan sekelilingnya.


Saking kencangnya tiupan angin membuat batang pohon palm yang berdiri sejajar lurus dengan posisi duduk Jin An dan Parno pun turut bergoyang.


Sementara ustaf Syukur langsung terbelalak lebar- lebar setelah tubuhnya terdorong kebelakang 1 meter oleh hempasan angin yang berasal dari pohon beringin tersebut.


“Astagfirullah!” pekik ustad Syukur sambil menggerakkan tangan kanannya menahan tubuhnya agar tidak terjengkang.


Pandangannya langsung memperhatikan tubuh kang Nawawi yang masih bersila tek bergeser sedikit pun.


Ustad Syukur langsung menyimpulkan bahwa dorongan angin itu bukanlah angin biasa yang tercipta dari alam, melainkan mengandung kekuatan gaib.


Dia buru- buru mengatur duduknya, segera memosisikan duduknya dengan bersila. Setelah mengambil nafas dalam- dalam, kemudian terdengar suara ustad Syukur menyuarakan Azan dengam suara bergetar.

__ADS_1


“Allaahu Akbar, Allaahu Akbar... Allaahu Akbar, Allaahu Akbar


Asyhadu allaa illaaha illallaah.... Asyhadu allaa illaaha illallaah....


Asyhadu anna Muhammadar rasuulullah... Asyhadu anna Muhammadar rasuulullah...


Hayya 'alashshalaah... Hayya 'alashshalaah...


Hayya 'alalfalaah.... Hayya 'alalfalaah....


Allaahu Akbar, Allaahu Akbar... Laa ilaaha illallaah... "


Selama ustad Syukur melantunkan suara Azan itu, dedaunan pohon beringin bergerak- gerak kesana kemari dengan liarnya. Hingga hembusan anginnya pun menimbulkan bunyi suitan.


Sekonyong- konyong sedang terjadi saling hantam oleh kekuatan tak kasat mata. Tubuh ustad Syukur bergetar hebat selama ia melantunkan Azan.


Kejadian itu berlangsung 5 menitan dan baru terhenti saat ustad Syukur telah selesai melantunkan azan. Angin pun perlahan- lahan melemah dan tiupannya pun mulai mereda.


Ustad Syukur segera kembali berseru dengan melantunkan Iqomah;


"Allaahu Akbar, Allaahu Akbar... Allaahu Akbar, Allaahu Akbar...


Asyhadu allaa illaaha illallaa...Asyhadu allaa illaaha illallaah...


Asyhadu anna Muhammadar rasuulullah...Asyhadu anna Muhammadar rasuulullah...


Hayya 'alashshalaah.. ..Hayya 'alashshalaah....


Hayya 'alalfalaah... Hayya 'alalfalaah...


Qad qaamatish-shalaah... Qad qaamatish-shalaah...


Allaahu Akbar, Allaahu Akbar,


Laa ilaaha illallaah..."


......................

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2