
Di rumah sakit,
Guntur mènghempaskan punggungnya pada sandaran kursi di depan ruangan setelah mengantarkan mamahnya masuk ruang IGD.
Raut wajah tampannya nampak muram, dibenaknya berkecamuk beragam tanda tanya penyebab mamahnya pinsan. Dan yang membuatnya heran lagi, terdengar suara ribut- ribut di dalam kamar mamahnya sebelum akhirnya ia mendobrak pintu kamar dan mendapati mamah Karmila sudah tergeletak diatas lantai.
Kunto yang duduk disebelah Guntur sesekali melirik sahabatnya itu dengan segan. Padahal ingin sekali bertanya pada Guntur apa yang terjadi dengan mamah Karmila, namun enggan terlontar.
Setelah beberapa saat lamanya suasana hening diantara Guntur dan Kunto, sementara rasa penasaran ďi hati Kunto terus menerus mendesaknya, akhirnya Kunto memberanikan diri untuk bertanya.
“Gun, maaf nih sebelumnya. Sebenarnya tante kenapa pinsan begitu?” tanya Kunto sedikit segan takut Guntur masih marah akibat keisengannya yang mengagetkannya sebelumnya.
“Hmmm...” Guntur menghela nafasnya.
Guntur hanya menghela nafas, Kunto memperhatikan wajah Guntur yang murung menunggu jawabannya. Namun Guntur tak kunjung menjawab membuat Kunto makin serba salah.
Kunto terdiam tak mau lagi mengusik Guntur, yang mungkin suasana hatinya sedang tidak mau diganggu.
“Nggak tau Kun, saat aku masuk kamarnya mamah sudah pinsan,” ucap Guntur.
Wajah Kunto langsung sumringah karena Guntur akhirnya buka suara. Saat Kunto hendak mengatakan sesuatu, tiba- tiba tereengar suara pintu ruangan IGD dibuka dari dalam.
Guntur dan Kunto langsung berdiri memperhatikan siapapun yang keluar dari dalam ruang IGD hendak menanyakan kabar mamah Karmila.
Setelah pintu terbuka munculah seorang pria setengah baya berjas putih dengan stetoskop melingkar dilehernya.
“Dok, dok, permisi gimana kondisi mamahku dok?!” sergah Guntur menghalangi langkah dokter.
“Maaf anda siapa ya?” dokter balik tanya.
“Aku Guntur putranya dok,” jawab Guntur.
“Oh, mamahmu nggak apa- apa. Hanya saja beliau butuh istirahat total, mamahmu mengalami depresi ringan,” terang dokter kemudian bergegas pamit meninggalkan Guntur dan Kunto.
Tak lama setelah itu pintu ruang IGD kembali terbuka. Seorang perawat muncul seraya bertanya pada Guntur dan Kunto yang masih berdiri didepan pintu ruangan itu.
“Keluarganya ibu Karmila Satriaji...?”
“Saya Sus,” sahut Guntur menunjuk dadanya sendiri.
“Ibu harus di rawat beberapa hari sampai kondisi psikologinya pulih,” terang perawat.
__ADS_1
“Baik Sus,” balas Guntur.
“Mari ikuti kami ke kamar rawat inap.” Ucap perawat kemudian langsung balik badan masuk kembali.
Tak lama kemudian pintu kembali terbuka, kali ini muncul belangkar yang didorong oleh perawat tadi.
Diatas belangkar mamah Karmila tergolek lemah dengan mata terpejam. Kantung impus tergantung disisi kepalanya dengan selang yang terpasang di hidungnya.
“Mari pak...” ajak Perawat pada Guntur untuk mengikutinya.
Guntur dan Kunto pun mengekor dibelakang perawat yang mendorong belangkar mamah Karmila.
Sepanjang lorong rumah sakit yang dilalui banyak orang- orang hilir mudik dengan berbagai keperluannya masing- masing. Kalau diperhatikan lalu lalang orang- orang itu rata- rata semuanya berjalan tergesa- gesa, tak ada yang berjalan santai.
Raut wajah mereka yang berpapasan pun menyiratkan wajah tegang dan cemas, nyaris tak menemui orang yang berjalan santai apalagi sambil bercanda ria.
Sesudah melewati persimpangan lorong rumah sakit berbelok kearah kiri, Guntur tiba- tiba mencolek Kunto dan berbisik pada Kunto.
“Kun aku ke toilet dulu ya, lu temenin mamah dulu.” Ujar Guntur kemudian berjalan kearah yang berlawanan.
“Oke Gun,” balas Kunto melanjutkan langkahnya mengikuti perawat.
Guntur melangkah mengikuti petunjuk dari tulisan ‘TOILET’ dengan tanda panah kearah kanan.
Selama Guntur melangkah menuju toilet beberapa orang nampak keluar masuk dari toilet, baik dari pintu pria maupun wanita.
Satu, dua wanita muda yang keluar dari toilet saat berpapasan dengan Guntur, melirik genit. Namun Guntur tak memperhatikannya lebih jauh, ia terus saja melangkah.
Tak lama kemudian Guntur masuk ke pintu yang bergambar dan bertuliskan pria.
Setelah selesai buang air kecil, Guntur mencuci mukanya di wetafel. Guntur menadahkan tangannya menampung air yang keluar dari kran.
Ia mengusap- usap mukanya perlahan sambil merasakan segarnya air yang membasuh mukanya yang tampan. Beberapa kali Guntur menyiramkan air di mukanya lalu menyapu air di wajahnya dengan tisu sambil melihat kearah cermin di depannya.
Deg!
Tiba- tiba jantung Guntur serasa berhenti berdetak ketika matanya melihat bayangan wajah seseorang di belakangnya didalam cermin itu.
Wajah seorang pria seusia ayahnya itu terlihat melalui cermin sedang menatapnya lekat- lekat.
Guntur terpana sejenak dan menghentikan usapan tisu di wajahnya. Ia memperhatikan dengan seksama bayangan wajah yang berada di belakangnya.
__ADS_1
Perlahan- lahan Guntur hendak membalikkan badannya penuh penasaran. Tetapi baru saja setengahnya ia balik badan, tiba- tiba sebuah tepukkan di bahunya menghentikan gerakan balik badannya.
“Bagaimana kabar mamahmu?” suara datar terdengar jelas dari pria di belakangnya.
Guntur menatap lekat- lekat wajah pria yang bertanya itu. Ia berusaha mengingat- ingat apakah dirinya mengenalnya?
Namun beberapa saat berpikir, nyatanya Guntur tak kunjung merasa mengenal orang itu.
“Ah, mungkin kenalan papah atau mamah,” batin Guntur, buru- buru ia pun menjawabnya.
“Mamah sudah lebih baik,” jawab Guntur.
Didalam nalarnya, Guntur ingin sekali membalikkan badannya agar lebih etis berbicara saling berhadapan. Akan tetapi Guntur merasa tidak bisa menggerakkan badannya sama sekali, seberapa pun ia memaksanya sekuat tenaga.
“Maaf, aku telah membuat mamahmu pinsan,” ucap pria misterius itu.
Guntur terkesiap mendengar ucapan pria dibelakangnya, lalu berkata; “Apa yang sudab anda lakukan dengan mamah?!” tanyanya dengan nada marah.
“Aku telah menggagalkannya melakukan bunuh diri,” jawab pria misterius.
“Mamah mau bunuh diri?!” Guntur kian dibuat bingung sekaligus heran.
“Kenapa mamah mau bunuh diri?!” tanya Guntur gamang.
Guntur menatap lekat- lekat wajah Pria misterius dibelakangnya menanti jawaban. Ia melihat sorot mata pria itu nampak datar dan wajahnga nampak tanpa ekspresi sama sekali.
Namun beberapa saat lamanya pria misterius itu tak kunjung menjawab pertanyaan Guntur.
Tanpa di sadari, lama- lama menatap pria misterius melalui cermin itu membuat bulu kuduk Guntur meremang.
“Kamu bisa lihat buktinya sendiri yang menacap dibalik pintu kamar. Jaga dia, jangan membuat mamahmu cemas!” ucap pria misterius.
Guntur menundukkan wajahnya sejenak sambil menghela nafas. Lalu kembali menatap pria di dalam cermin hendak berkata lagi.
Guntur terskesiap, wajah pria didalam cermin itu sudah tak ada lagi. Reflek Guntur membalikkan badannya begitu saja.
Dan ia melihat dibelakangnya benar- benar tidak ada seorang pun. Tetapi Guntur semakin keheranan, kini dirinya bisa membalikkan badan!
Guntur tersurut mundur hingga pinggangnya membentur bibir wetafel. Buru- buru ia menyelesaikan membersihkan sisa air di wajahnya dengan tisu lalu bergegas keluar dari toilet.
"Siapa pria itu?!"
__ADS_1
Pertanyaan itu terus terngiang- ngiang didalam pikiran Guntur di sepanjang melangkah kembali ke kamar inap mamahnya.
......................