
“Tidak! Aku tidak pernah melihat itu!” teriak Kunto histeris.
“Keparat! Gggrrrekkkkhhhhh....”
Kunto kian gemetar mendengar suara sember dan besar yang dipenuhi amarah itu menggelegar memenuhi ruangan.
Ia tersudut, tubuhnya beringsut semakin meringkuk rapat- rapat pada sudut ruangan.
“Lihat ini!” bentak suara sember dan besar.
Tiba- tiba muncul cahaya putih dihadapan Kunto. Dengan reflek Kunto mengangkat punggung tangannya untuk menutup matanya karena silau.
Saat itu juga Kunto merasakan tubuhnya seperti terseret dan melayang kearah cahaya itu. Pandangannya kembali gelap dan ia memejamkan matanya rapat- rapat dan hanya merasakan tubuhnya seperti berputar- putar dalam kèhampaan.
Kejadian yang dirasakan Kunto itu hanya berlangsung beberapa detik, lalu Kunto tersadar. Kunto masih memejamkan matanya, namun ia dapat merasakan hawa yang berbeda di sekitarnya.
Perlahan- lahan dan dengan perasaan ragu- ragu untuk membuka matanya karena didalam pikirannya, dirinya tidak dapat melihat apapun. Pastilah hanya ada hitam pekat seperti biasanya.
Saat dalam kebimbangan itu samar- samar telinganya mendengar suara mengerang- ngerang. Dan suara itu seperti tidak asing ditelinganya.
“Heeeuugggkkk.. aaahhhh... “
Kunto masih belum membuka matanya, ia masih memfokuskan pada suara itu dengan mempertajam pendengarannya.
Kunto merasa kalau suara- suara erangan dan lenguhan yang didengarnya itu seperti pernah di dengarnya.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian memori di otak Kunto memunculkan ingatan tèntang sesuatu yang pernah dilihatnya.
“Tante Karmila....” gumam Kunto.
Segera Kunto pun membuka matanya karena sangat yakin suara erangan adalah suara tante Karmila.
Kedua mata Kunto pun melotot terbelalak lebar. Dengan reflek Kunto celingukkan melihat sekelilingnya.
Dengan penuh keheranan, Kunto melihat ke samping kanannya. Tampak tembok samping rumah dan di bawahnya hamparan rumput hijau yang diterangi oleh bias lampu taman.
Ia pun mengalihkan pandangannya menoleh ke sisi kirinya, ia melihat halaman denpan rumah dan pagar rumah.
Lalu pandangannya kembali diarahkan ke depan. Samar- samar Kunto melihat di depannya itu ada dua sosok tubuh yang saling menindih.
Dua sosok itu nampak sekali terlihat kontras di sinari oleh cahaya lampu temaram. Sosok yang berada di bawah nampak tubuhnya kuning langsat, sedangkan sosok tubuh yang menindihnya terlihat hitam.
“Saya seperti pernah melakukan ini...” gumam Kunto.
Pikirannya masih mengingat betul kejadian yang dilakukannya itu dan spontan di dalam hatinya ia menerka- nerka apa yang selanjutnya terjadi.
“Tante Karmila pasti akan menoleh kearahku. Lalu sosok yang diatas tante Karmila pun turut melihatku dengan mata menyorot merah. Satu... dua... tiga....” gumam Kunto lagi menerka kejadian selanjutnya.
Benar saja! Apa yang Kunto terka sesuai dengan yang sudah pernah dialaminya. Sosok tubuh hitam yang menindih tubuh tante Karmila itu seketika menole kearah dirinya penuh dengan kemarahan.
Tiba- tiba keluar selarik cahaya yang bersinar merah berasal dari sorot mata sosok hitam diatas tubuh tante Karmila itu meluncur cepat tepat menghujam kedua mata Kunto.
__ADS_1
Kunto tersentak kaget bukan kepalang, spontan dirinya menggerakkan kepalanya kebelakang denga keras berupaya menghindari sinar merah yang hujamnya.
"Aduh!!!" pekik Kunto.
Tapi Kunto lupa kalau dirinya sedang berdiri dibalik daun jendela sehingga kepalanya membentur dengan keras daun jendela yang ada di belakang kepalanya.
Braaakkkk!
Terdengar suara benturan keras kepala Kunto menabrak daun jendela yang terbuat dari kayu jati. Kunto pun terjatuh dibawah jendela samping kamar tante Karmila.
Sesaat kemudian pandangan mata Kunto berkunang- kunang lalu ia merasakan pandangannya gelap. Kunto mengucek- ngucek matanya beberapa kali lalu mencoba melihat kedepan lagi.
Namun Kunto tetap saja Kunto tak dapat melihat apapun, yang ia hanya lihat hanyalah kegelapan yang hitam pekat. Tak ada sinaran cahaya sedikit pun.
Beberapa detik berikutnya, Kunto kembali dibuat tersentak kaget oleh munculnya suara sember dan besar yang menggema.
“Masih mau mengingkari kesalahanmu, hah?!” Bentak suara sember dan besar yang tak lain adalah Karbala.
Kunto baru tersadar, kalau peristiwa yang baru saja di dilihat dan dirasakannya itu sengaja di tunjukkan kembali oleh Karbala untuk memperlihatkan kesalahannya.
“A, am, amm, ammpuuun...! Ampuuun... saya tidak bermaksud mencampuri, aku tidak sengaja!” ucap Kunto gemetar.
Kunto sangat ketakutan sekali, ia beringsut kebelakang sampai punggungnya menyentuh dinding batu.
"Tidak ada ampun! Jiwamu akan berada disini selamanya tapi tubuhmu akan tetap hidup tanpa jiwa, HAHAHAHA... HAHAHAHA..."
__ADS_1
BERSAMBUNG...