
Didalam rumah kontrakkan yang kecil dan sederhana, pak Suro, Adi dan Guntur duduk berhadapan di kursi tamu yang nampak sudah usang. Diatas meja tergeletak nasi bungkus dihadapannya masing-masing yang siap disantap bersama-sama. Sebelum sampai dirumah kontrakkan pak Suro, Guntur sengaja mampir di rumah makan Padang dipinggir jalan untuk membeli makanan karena ia tahu Pak Suro dan Adi pasti belum makan.
"Mari dimakan pak, Di..." ucap Guntur kemudian meraih bungkusan nasi dihadapannya.
"Ayo, ayo..." ujar pak Suro.
Pak Suro dan Adi pun langsung membuka bungkusan nasi itu dengan antusias karena sudah menahan lapar sejak sore.
"Waaah, daging pak..." Seru Adi kegirangan.
"Hussst! Alhamdulillah gitu Di, jangan waaaah..." tegur pak Suro sembari mengusap-usap kepala Adi.
Guntur hanya tersenyum melihat keduanya yang nampak senang dengan makanan yang dibelikannya. Pak Suro dan Adi langsung menyantap nasi padang itu dengan lahapnya, terlihat sekali keduanya sangat lapar ditambah lagi dengan makanannya yang sangat istimewa dimata kedua bapak dan anak itu. Nasi Padang dengan lauk daging cincang hampir tidak pernah bisa dinikamti keduanya dalam sebulan, dua bulan atau mungkin juga setengah tahun. Sehari-hari biasanya sepulang berjualan lebih sering hanya membeli makanan nasi Kucing, paketan nasi yang didalamnya berisi oreg, soun dan beberapa helai irisan telor dadar yang harga perbungkusnya Rp 2000 atau terkadang kalau jualannya lagi sepi hanya makan dengan merebus mie instan saja yang penting perut terisi. Pak Suro benar-benar dituntut harus bisa menyisihkan uang setiap harinya agar bisa membayar kontrakkan rumah setiap tahun. Dapat dibilang dia bekerja sekedar untuk bertahan hidup agar tidak tidur di emper pertokoan.
Sesekali Guntur melirik kearah pak Suro dan Adi dengan perasaan terenyuh. Sangat kontras sekali membandingkan dengan keadaan dirinya yang tidak pernah memikirkan "bagaimana nanti", tidak seperti pak Suro yang harus memikirkan "nanti bagaimana" padahal hanya urusan makan. Makanan apapun bisa dibeli dengan mudah karena segala kebutuhan hidupnya sangat tercukupi.
Setelah beberapa saat lamanya makan bersama pun selsai. Adi langsung memunguti piring-piring yang diatasnya terdapat bekas bungkusan nasi padang yang sudah diremas membentuk bola lalu membawanya ke belakang.
"Ada hal penting apa Gun, bapak jadi dek-dekan nih dari tadi, hehehehe..." ucap pak Suro mengawali pembicaraan.
"Mmm, begini pak, saya mohon maaf sebelumnya bapak jangan tersinggung ya pak," ucap Guntur menghela nafas sejenak.
Pak Suro hanya mengangguk-angguk dengan dada berdebar-debar. Didalam hatinya masih memendam pertanyaan sejak Guntur mengatakan ingin menyampaikan hal penting ketika masih berada di lapak jualannya.
"Saya ingin mèngajak bapak bekerja di perusahaan saya pak," ucap Guntur melanjutkan.
Pak Suro nampak sangat terkejut dengan ajakkan Guntur, wajahnya sumringah namun sedetik berikutnya berubah muram banyak hal yang dipikirkannya.
"Tapi saya tidak punya ijazah Gun, bapak nggak bisa kerja di kantoran begitu." sela pak Suro menundukkan wajahnya.
__ADS_1
"Nggak perlu pakai ijazah segala pak, kalau bapak tidak keberatan saya ingin bapak menjadi Sekuriti di kantor saya pak. Kerjanya hanya jaga malam saja, pak Suro dan Adi bisa menempati rumah mess yang sudah disediakan di belakang kantor, agar bapak tidak usah lagi mengontrak rumah. Untuk Adi saya berencana memasukkan ke sekolah untuk melanjutkan sekolahnya sampai kuliah nanti," terang Guntur menatap penuh harap pada pak Suro.
Pak Suro terkesima penuh haru dengan penjelasan yang diungkapkan Guntur. Mulutnya ternganga tanpa sadar serasa tak percaya dengan barusan yang dikatakan Guntur. Disaat itu Adi kembali muncul di ruang tamu lalu duduk ditempatnya semula disamping Pak Suro dan tidak tahu topik yang sedang dibicarakan hingga membuat pak Suro masih terlihat diam terkesima.
"Bagaimana pak? Mau ya pak?" ucap Guntur lagi melihat pak Suro masih terdiam, lalu menoleh ke Adi.
"Di, Adi maukan sekolah lagi?" tanya Guntur pada Adi.
"Tapi A, bapak ti..." jawaban Adi langsung dipotong Guntur.
"A Guntur yang akan menanggung semua biayanya dan kebutuhan Adi," sela Guntur.
"Bener A?!" seru Adi bersemangat, kemudian menoleh pada pak Suro seperti meminta persetujuannya.
"Iya Di," jawab Guntur sembari menganggukkan kepala.
"Kalau kamu sudah berniat seperti itu bapak bersedia Gun," ucap pak Suro dengan suara tertahan karena terharu.
"O iya pak, bapak juga masih bisa tetap juali buku-buku bekas siangnya. Nanti saya buatkan kios untuk jualan bapak disebelah kantor kebetulan masih ada lahan," ucap Guntur meyakinkan.
"Alhamdulillah...." Pak Suro dan Adi langsung berpelukkan dengan mata berkaca-kaca.
"Makasih ya Gun, kamu begitu baik pada bapak..." ucapnya lirih sambil memeluk Adi.
"Bapak sudah saya anggap sebagai bapak sendiri pak, begitupun dengan Adi. Saya anggap adik saya sendiri pak," ucap Guntur haru matanya berkaca-kaca.
"Subhanallah, Alhamdulillah ya Allah.... engaku kirimkan orang baik kepada hamba," ucap Pak Suro lirih kemudian bangkit memeluk Guntur.
Ketiganta saling berpelukkan penuh haru, pak Suro tak bisa lagi membendung tangis harunya. Air matanya tumpah membasahi bahu Guntur. Pak Suro merasa ini semua merupakan jawaban atas doa-doa yang ia panjatkan pada setiap sholat malamnya. Ternyata Allah Subhanahu Wata'ala memiliki caranya sendiri untuk mengangkat derajat maupun merubah kehidupan hambanya bahkan terkadang tidak seperti dengan apa yang sudah direncakan oleh akal pikiran dan tidak pernah terlintas dalam perkiraan sebelumnya.
__ADS_1
......................
"Gun, kamu tidak makan?" tanya mamah Karmila heran melihat Guntur tidak ikut mengambil nasi.
"Tadi udah makan mah sama pak Suro dan Adi di rumahnya," jawab Guntur.
"Saya berniat mengajak pak Suro bekerja sebagai penjaga malam di kantor mah dan saya juga akan menyekolahkan anaknya yang terpaksa berhenti karena biaya," terang Guntur menatap mamah Karmila meminta pendapatnya.
"Wah, bagus sekali itu Gun. Mamah setuju banget, dia mau?" tanya mamah Karmila.
"Alhamdulilah, mereka mau mah," ucap Guntur.
"Kamu dari rumah pak Suro Gun, nggak ngajak-ngajak sih," sela Kunto sambil mengambil sepotong ikan goreng.
"Sepulang kantor langsung ke lapak pak Adi Kun, lagian katanya kamj mau balik ke rumah dulu, saya kira kamu sudah berngkat ke Sumedang," ujar Guntur.
"Kamu mau pulang Kun?" tanya mamah Karmila menatap Kunto sejenak kemudian menyuapkan makanan ke mulutnya.
"Iya tan, tadinya sih cuma di kampus masih ada kegiatan besoknya. Jadi kemungkinan lusa saya pulangnya Tan, Gun..." terang Kunto sambil mengunyah makanan dimulutnya.
"Ada kegiatan atau nggak punya ongkos Kun, hikhikhik?" seloroh Guntur menahan tawanya.
"Guntuuur..." sungut mamah Karmila menoleh kearah Kunto khawatir tersinggung.
"Tenang maaah, Kunto nggak bakalan tersinggung," ujar Guntur memahami kekhawatiran mamahnya.
"Iya Tan, emang begitu Guntur mah suka bener kalau ngomong," celetuk Kuno langsung disambut gelak tawa Mamah Karmila dan Kunto.
Ruang makan malam itu menjadi ramai seakan-akan sedikit terlupakan kedukaan yang sempat mendera mereka. Dan melupakan sosok mahluk hitam berbulu lebat yang saat ini sedang menatap memperhatikan kedalam ruang makan dari luar jendela samping dengan sorot mata merahnya.
__ADS_1
......................