TITISAN

TITISAN
PERINGATAN


__ADS_3

Guntur dan Kunto segera membersihkan pecahan-pecahan kaca jendela yang berserakkan dimana-mana bahkan hingga serpihannya masuk kedalam rumah. Keduanya berbagi tugas, Kunto bertugas membersihkan beling di luar sedangkan Guntur yag di bagian dalam. Guntur berpikir rasional saja mungkin karena jendela itu sudah lapuk karena rumah tua. Saat Guntur masih memunguti beling-beling itu Aji pun berpamitan.


"Ya sudah saya pamit dulu ya Mil, gampang lain waktu saya mampir lagi. Bolehkan Mil?" ucap Aji.


"Tentu boleh dong Ji, Guuuun... Om Aji pamitan nih," seru mamah Karmila pada Guntur.


Guntur pun berdiri dari jongkoknya sedang memunguti pecahan kaca, "Kok buru-buru Om?" ucap Guntur basa-basa basi padahal didalam hatinya berucap syukur.


"Masih ada acara pagi ini mas, setengah jam lagi." ujar Aji kemudian melangkah keluar diantar Karmila hingga kedepan.


Guntur berprasangka buruk kalau kedatangan Aji menemui mamahnya itu memiliki maksud untuk mendekati mamahnya yang berstatus janda. Padahal Aji sendiri hanya sekedar mampir dan tidak mengetahui sama sekali kalau suaminya Karmila sudah meninggal.


"Hati-hati mah banyak buaya darat, hikhikhik..." ucap Guntur ketika mamah Karmila sudah kembali masuk rumah.


"Hussttt, Guntuuurrr!" sungut mamah Karmila melotot.


Untuk saat ini Guntur merasa belum rela jika mamahnya membuka hati untuk pria lain namun entah untuk kedepannya. Guntur mungkin akan bisa menerima dan akan memahami kondisi mamahnya menjalani hidupnya seiring perjalanan waktu karena melihat usianya yang masih 37 tahunan.


"Ingat loh mah masih masa iddah, hehehe..." ujar Guntur menggoda.


"Hadeuh nih anak kudu di gaplok! dari tadi godain mulu," sungut mamah Karmila kemudian cepat-cepat meraih sapu yang tergeletak berdiri ditembok yang baru dipakai Guntur.


"Iya, iya mah, ampun ampuuun, hikhikhik..." seru Guntur segera berlari menghindar.


Masa iddah yang dibilang Guntur kepada mamahnya itu memang bukan hanya sekedar candaan tetapi Guntur benar-benar menyqmpaikannya untuk mengingatkan mamahnya agar tidak membuka hati lebih dahulu apalagi memikirkan untuk menikah kembali.

__ADS_1


Kata IDDAH sendiri berasal dari bahasa Arab yang artinya menunggu. Jadi masa iddah itu dimana jangka waktu seseorang perempuan yang telah diceraikan oleh suaminya entah karena suaminya meninggal ataupun cerai hidup agar tidak cepat-cepat menikah lagi sebelum masa iddah itu berakhir. Masa menunggu ini tidak memperbolehkan perempuan untuk menikah kembali setelah berpisah secara hukum ataupun agama dari suaminya, baik cerai hidup ataupun cerai ditinggal mati. Waktu masa iddah wanita yang itu selama empat bulan sepuluh hari. Ketentuannya sudah tersurat didalam Al Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 234.


"Kuuun, lanjutin yaaa...!" seru Guntur sambil berlari masuk kamarnya.


Sementara itu mamah Karmila kembali melanjutkan menyelesaikan memasaknya di dapur. Ucapan Guntur yang mengingatkan untuk tidak menjalin hubungan dengan lelaki dulu masih terngiang-ngiang didalam kepalanya. Akan tetapi didalam hati Karmila sudah berjanji untuk menutup hati tidak akan ada lagi lelaki lain selain Aryo di hatinya meskipun dari usia dan penampilannya masih sangat menarik dan tak kalah dengan gadis-gadis berusia 25 tahunan. Karmila memang gemar menjaga kondisi tubuhnya, selain rajin minum jamu jawa ramuan leluhurnya yang dianjurkan oleh ibunya, dia juga rutin nge-gym disalah satu ruangan khusus olah raga dengan peralatan yang komplit.


Tulilit... tulilit... tulilit....


Tulilit... tulilit... tulilit....


Suara dering hape dari atas bufet ruang tengah membuat lamunan Karmila buyar, ia cepat-cepat langsung beranjak dari dapur untuk mengangkat telponnya. Sejenak ia bimbang apakah menerima panggilan itu atau tidak membiarkannya saja tidak menjawab karena panggilan itu nomornya tidak dikenal. Akan tetapi ia khawatir kalau panggilan itu sesuatu yang penting berkaitan dengan almarhum suaminya. Akhirnya ia pun mengangkat telponnya.


"Hallo, assalamualaikum..." ucap Karmila mengangkat telponnya.


"Punten, ini dari siapa ya?" tanya Karmila dengan dahi berkerut.


"Saya Aji Mil, tadi kan saya minta nomor telpon dan akan saya hubungi," ucap suara seberang telpon.


"Oh, ya ya Ji, sory ya... abisnya kamu nggak ngasih nomor sih makanya tadi saya ragu untuk ngangkat telpon," ujar Karmila dengan senyumannya mengembang.


"Mil, kamu masih cantik aja sih tambah cantik dan seksi malah, hehehe..." ucap Aji mengeluarkan gombalannya dari seberang telpon.


"Ah, kamu Ji... dari dulu juga saya mah memang cantik. Kenapa kamu nyesel ya dulu selingkuhin saya, hahahaha..." ujar Karmila tertawa, memorinya spontqn kembali muncul di kepalanya tentang masa-masa sekolah dulu.


"Sumpah saya nggak selingkuh Mil, kamu aja yang cemburuan. Padahal saat itu saya cuma ngobrol aja sama Niken membahas acara Pensi, ehhh kamunya langsung aja marah-marah dan nggak mau lagi ketemu," kata Aji.

__ADS_1


"Masa?" timpal Karmila, wajahnya bersemu merah ada gurat pengakuan mencerminkan perasaannya mengingat cinta monyetnya dahulu.


"Yeee, beneran. Eh, Mil maaf ya sebelumnya, sekarang status kamu kan sendiri, saya juga demikian Mil," ucapan Aji terhenti karena Karmila menyela.


"Sendiri? Istrimu?" sela Karmila mengerutkan keningnya.


"Istriku ketahuan selingkuh Mil, ya terpaksa saya ceraikan..." ujar Aji terdengar jelas lenguhan nafasnya di telinga Karmila.


"Mau nggak kita sambung lagi kaya waktu sekolah Mil, kali ini langsung nenikah..." ucap Aji dengan nada penuh harap.


Deg! Jantung Karmila langsung berdegub kencang, seketika ia menjadi salah tingkah sendiri, Karmila terdiam tanpa bisa berkata apa-apa. Tanpa ia sadari tangannya sudah menggenggam sebatang lilin yang ada diatas bufet dan meremas-remasnya hingga hancur.


"Hallo, hallo... hallo...!" seru Karmila seolah-olah tidak mendengar karena gangguan sinyal kemudian langsung menutup telponnya.


Baru saja dirinya tadi sedang memikirkan masa iddah dan sudah menorehkan janji didalam hatinya untuk tidak membuka hatinya untuk lelaki lain, tiba-tiba datang tawaran menikah. Namanya memang sama Satriaji hanya tidak pakai Aryo depannya tetapi itu hanyalah masa lalu dan hanyalah cinta monyet. Meskipun kala itu Aji sempat membuat hatinya berbunga-bunga merasakan sebuah cinta dan kasih sayang namun itu dahulu dan tidak bisa diulang kembali untuk masa sekarang.


......................


Didalam kamarnya, Guntur kembali meneruskan membaca artikel tentang Supranatural yang sempat terputus. Kali ini pikirannya langsung teringat peristiwa kaca jendela yang tiba-tiba pecah yang menurut mamahnya tidak ada benda apapun yang menghantam maupun tidak ada angin besar yang menerpanya.


"Jangan, jangan itu perbuatan mahluk gaib penghuni pohon dibelakang rumah itu. Andai iya benar itu dilakukan oleh mahluk itu tapi kenapa? Disiang hari pula." ucap Guntur dalam hati.


Kemudian Guntur mengetik kalimat pada pencarian di Google, "MAHLUK PENGHUNI POHON RINDANG". Tak menunggu lama di layar monitor komputer langsung deretan artikel-artikel dengan aneka ragam head line-nya. Guntur meng-klik artikel diurutan paling atas, lalu terhampar isi artikel yang menyebutkan bermacam-macam jenis mahluk halus yang menyebutkan sebagai penghuni pohon-pohon besar. Pada urutan nomor satu dihuni oleh Kuntilanak, nomor dua Sundel bolong, ketiga Wewe Gombel dan keempat Genderuwo. Dengan seksama Guntur membaca penjelasannya tentang masing-masing mahluk halus penghuni pohon tersebut. Dari keempat jenis mahluk halus itu hanya ada satu yang dirasa sesuai seperti apa yang diceritakan pak Suro, yaitu Genderuwo!


......................

__ADS_1


__ADS_2