TITISAN

TITISAN
KOK BISA BEGITU


__ADS_3

Dua calon pembeli rumah Guntur telah gagal dengan beragam alasan yang berbeda membuat mereka mengurungkan niatnya. Namun Guntur belum juga menyadari kalau calon-calon pembelinya itu tak jadi membeli karena melihat keanehan-keanehan saat menyurvey rumahnya. Guntur hanya beranggapan simpel dan realistis saja, mungkin belum rejekinya.


Hari ini tinggal pak Haji Rojak yang sudah membuat janji selepas waktu isya yang hendak melihat-lihat rumahnya. Guntur, mamah Karmila dan Kunto duduk di ruang tamu sedang menunggu tamu yang akan melihat rumah hingga menunda waktu makan malamnya.


"Jam berapa kesininya Gun?" tanya mamah Karmila.


"Tadi siang sih bilangnya jam tujuh-an mah. Mmm, saya heran deh mah pak Hermawan tadi langsung lari kaya ketakutan melihat saya, kenapa ya mah?" ucap Guntur.


"Iya mamah juga heran, tiba-tiba dia lari kayak lihat hantu gitu," ujar mamah Karmila.


"Yang lebih aneh lagi tadi sore sebelum bos gendut itu tan. Katanya sudah nyampe di alamat sesuai yang di iklan menggunakan Google maps, tapi katanya nggak ada rumah, hanya ada pekarangan penuh semak belukar dan reruntuhan bangunan," sela Kunto.


"Masa Kun?!" timpal mamah Karmila menoleh pada Kunto.


"Sumpah tan, saya sampai keluar pagar rumah buat ngelihat mobil dengan ciri sedan merah lengkap nyebutin nomor D 11 22 yang disebutkan si penelpon tapi di luar nggak ada satu pun ada mobil berhenti. Nah, setelah penelpon itu marah-marah lalu katanya permisi pergi, saat itulah saya melihat mobil dengan ciri-ciri itu sudah lewat tan," ungkap Kunto.


"Extrim banget yang ini Kun, ah tante nggak percaya! Ngarang kamu," sungut mamah Karmila.


"Sumpeh beneran tan!" sergah Kunto.


Mamah Karmila juga belum menyadari keanehan yang menyebabkan orang itu lari tunggang langgang. Namun sempat terbersit di kepalanya itu semua akibat kegenitan orang itu terhadapnya sehingga membuat Karbala marah. Akan tetapi pikiran itu hanya selintasan saja tanpa meyakini sepenuhnya sebab mamah Karmila lebih mengingat ucapan dari Karbala yang lebih mengarah pada ancaman atau sebuah janji untuk menggagalkan rumah ini agar tidak terjual.


Tiiin... tiiin...


Suara klakson mobil terdengar dari depan rumah sedikit mengejutkan Guntur, mamah Karmila dan Kunto.


"Kun itu pak Haji Rojak kayaknya, tolong bukain ya..." ucap Guntur.


"Siap boss!" sahut Kunto kemudian beranjak meninggalkan ruang tamu.


Tak berapa lama kemudian Kunto muncul di ruang tamu bersama dengan seorang pria berusia 50 tahunan. Tubuhnya tinggi besar, di lihat dari wajahnya sepertinya Haji Rojak masih ada keturunan darah Arab.

__ADS_1


"Assalamualaikum..." ucap Haji Rojak.


"Wa'alaikum salam," sahut Guntur dan mamah Karmila serempak sambil berdiri menyambut kedatangan Haji Rojak.


"Pak Haji Rojak ya?" lanjut Guntur mengulurkan tangannya.


"Betul, sma pak Guntur?" balas Haji Rojak balik tanya kemudian menyalami Guntur dan mamahnya.


Berbeda sekali dengan calon pembeli rumah sebelumnya yang sikapnya begitu genit saat melihat kecantikan Karmila, namun Haji Rojak lebih berkharisma dan penuh wibawa menjaga sikapnya dengan santun.


"Muhun, saya Guntur dan ini mamah saya pak haji. Silahkan duduk, duduk...," jawab Guntur mempersilahkan Haji Rojak duduk.


"Ternyata pak Guntur masih muda seumuran anak saya pak, hehehehe..." ucap Haji Rojak.


"Mau minum apa pak Haji?" sela mamah Karmila.


"Nggak usah repot-repot bu, air putih saja," ujar Haji Rojak.


"Luas keseluruhannya 150 meter persegi dan rumahnya type 54 pak haji," jelas Guntur.


"Ya, ya saya tertarik sekali pak Guntur. Bangunan rumah ini juga kelihatannya masih kokoh dan saya suka dengan arsitekturnya," ungkap Haji Rojak.


"Sebentar saya ambilkan surat-suratnya ya pak," ucap Guntur kemudian beranjak meninggalkan Haji Rojak sendirian.


Haji Rojak kembali mengedarkan pandangannya mengamati ornamen-ornamen di sekitaran ruangan tamu yang nampak luas dan tertata rapih. Desiran udara malam terasa dingin berhembus dari jendela ruang tamu yang terbuka sedikit membuat Haji Rojak merasa semakin nyaman berlama-lama duduk di ruang tamu.


Pandangan mata Haji Rojak tertuju pada kusen-kusen jendela yang menarik perhatiannya. Kayu jendela itu menurutnya sangat unik dan dia paham betul kalau kayunya itu terbuat dari kayu Jati. Haji Rojak semakin kepincut ingin segera memiliki rumah ini.


Sedang asyik-asyiknya mengamati jendela, tiba-tiba Haji Rojak terlonjak tersentak kaget luar biasa. Di luar jendela mendadak muncul sosok hitam berbulu lebat, matanya menyorot merah menatap tajam kearah Haji Rojak. Wajahnya kian menyeramkan dengan mencuat dua taring besar di kedua sudut mulut berwarna putih yang berkilat tertimpa cahaya lampu.


"Astagfirullahal'azim!" pekik Haji Rojak.

__ADS_1


"Genderuwo!" pekiknya dalam hati.


Haji Rojak celingukkan mencari Guntur penuh ketakutan tetapi Guntur tidak kunjung muncul di ruang tamu. Tubuhnya gemetar menahan rasa takut yang teramat sangat, matanya seolah-olah tidak bisa berpaling dari sosok Genderuwo di jendela itu. Haji Rojak hanya bisa menganga dengan mata yabg terus melotot dipaksa melihat wujud seram Genderuwo itu.


"Ehem! Kenapa pak Haji?!" Guntur muncul di ruang tamu dibuat heran dengan wajah Haji Rojak yang menegang dengan mata melotot.


"Itttt, i, iiiiiitu...!" seru Haji Rojak tergagap sambil menunjuj-nunjuk kearah jendela.


Guntur terheran-heran melihat Haji Rojak begitu sangat ketakutan. Ia pun melihat kearah jendela yang ditunjuk Haji Rojak namun jendela itu terlihat biasa-biasa saja tidak ada yang aneh.


"Ma, mmmmaaa, ma'affff nggak jadi! Assalamualaikum!" teriak Haji Rojak kemudian berlari keluar rumah meninggalkan Guntur yang masih berdiri termangu.


"Aneh! Kok pada nggak jadi sih!" ucap Guntur.


......................


Seminggu telah berlalu, pagi ini Guntur sedang duduk termenung di ruang kantornya. Dia memikirkan kejanggalan dan keanehan pada orang-orang yang hendak membeli rumahnya. Hampir setiap hari beberapa orang calon pembeli yang datang dan melihat rumahnya selalu berakhir lepas tangan alias gagal membeli rumahnya padahal sudah jelas-jelas awalnya mereka sangat tertarik.


"Aku harus minta pendapat pak Suro, mungkin ia bisa mengetahui penyebabnya," batin Guntur, kemudian beranjak melangkah keluar dari ruangannya menuju kios pak Suro.


Saat Guntur keluar dari pintu ruangannya, Renata datang untuk memberikan laporan berkas sekaligus meminta tanda tangannya.


"Maaf pak, saya mau ngasih laporan sekalian tanda tangan pak," ucap Renata.


"Taruh aja di meja dulu Ren, saya keluar dulu sebentar, yah." jawab Guntur.


"Baik pak," sahut Renata keheranan melihat Guntur seperti sedang kebingungan.


Guntur pun melanjutkan langkahnya menuju kios pak Suro meninggalkan Renata yang sedang kebingungan melihat sikap Guntur yang tidak biasanya. Ya, Guntur tidak biasa menunda-nunda jika sudah menyangkut pekerjaan kantor.


......................

__ADS_1


__ADS_2