TITISAN

TITISAN
DEPRESI


__ADS_3

Di dalam kamar, mamah Karmila langsung melemparkan tubuhnya tengkurep diatas kasur. Pikirannya melayang- layang cemas tidak menentu.


Banyak prasangka- prasangka buruk menghantui pikirannya. Pikiran itu timbul seperti terus membayangi dirinya setelah kejadian di rumah tahfiz itu.


“Kenapa Karbala tiba- tiba memindahkan aku dan Guntur masuk kedalam mobil? Sungguh aneh!” Batin Karmila.


“Niatku ke rumah itu hanya untuk mencegah agar tidak menebang pohon beringin itu tapi aku tak kuasa untuk menyampaikannya, khawatir menimbulkan kecurigaan Guntur,” pikir Karmila.


Karmila yang gelisah kemudian membalikkan tubuhnya telentang menatap langit- langit kamar. Pikirannya terus mengingat saat-saat berada di rumah itu.


“Mencermati gerak- gerik Guntur saat di rumah itu, sungguh aneh. Dia seperti sudah tahu dengan yang akan menimpa Karbala,” batin Karmila.


Semakin mengingat kejadian itu, pikiran Karmila kian risau. Di dalam pikirannya bermunculan dugaan- dugaan tentang segala kemungkinan- kemungkinan hal buruk yang akan dihadapi jika suatu saat nanti Guntur menanyakan tentang Karbala.


Weeesssshhh...


Tiba- tiba Karmila tersentak dari lamunannya. Ia langsung bangkit duduk diatas kasur saat merasakan ada hembusan angin dingin menerpa wajahnya.


Karmila menolehkan kepalanya kesana kemari mencari sumber datangnya angin. Pandangannya menyapu ke setiap sudut kamar, namun tak menemukan apa- apa.


Saat hendak beranjak turun dari atas kasur, pandangannya reflek menoleh ke sudut kamar. Ia merasakan ada seseorang hadir dibelakangnya.


Seketika Karmila langsung menoleh ke sudut kamar itu. Benar saja, ia melihat ada sesosok bayangan hitam berdiri di sudut kamarnya. Mula- mula sosok bayangan itu terlihat samar- samar, namun beberapa saat kemudian bayangan hitam itu membentuk jelas sesosok orang yang sangat dikenalnya.


“Mas Aryo...???” gumam Karmila.


Kedua mata indahnya membelalak lebar menatap lekat- lekat sosok suaminya itu. Seolah tak percaya dengan yang dilihatnya, Karmila mengucek- ngucek kedua matanya lalu kembali menatap sosok Aryo yang berdiri di sudut kamar.


"Benar mas Aryo???" pekik Karmila.


Wajahnya seketika sumringah, rona- rona kerinduan terpancar disorot matanya. Rasa rindu yang tak terbendung didadanya menggerakkan semangatnya, Karmila bergegas meloncat turun dari kasur untuk menyongsong suaminya itu.


Dengan setengah berlari Karmila mengulurkan kedua tangannya ingin memeluk Aryo. Saat jaraknya tinggal 3 langkah lagi, mendadak Karmila menghentikan langkahnya. Seketika Karmila tersurut mundur.


Wajah cantiknya yang semula berseri- seri, kontan berubah pucat pasi. Karmila terkejut bukan main. Wajahnya memucat, kedua matanya kian membelalak lebar- lebar melihat sosok yang hendak dipeluknya tiba- tiba berubah wujud.


“Karbala!” pekik Karmila seketika tersurut mundur.


Sosok wujud manusia di hadapannya telah berubah bukan wujud menyerupai Aryo. Mahluk itu menjadi mahluk yang sangat menyeramkan. Berbulu hitam lebat, mata menyorot merah serta bertaring.

__ADS_1


Sosok manusia yang semula berwujud Aryo itu menatap dingin kearah Karmila. Namun didalam sorot mata itu tersirat kemuraman.


Sosok manusia yang sudah berubah wujud aslinya yang tak lain adalah Karbala itu melenguh gundah.


“Permaisuriku...” suara berat dan sember terdengar seperti diucapkan dari jauh itu memanggil Karmila.


“Pergi... pergi...! Aku bukan permaisurimu!” pekik Karmila mulai panik lalu menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


“Apakah kamu dan putraku tidak apa- apq?” tanya Karbala tidak menghiraukan penolakan Karmila.


“I,iiiy, iya aku dan Guntur baik- baik saja. Kamu cepat pergi!” seru Karmila mengibas- ngibaskan tangannya.


“Terima kasih telah datang menyelamatkanku,” ucap Karbala datar.


Kemudian wujud Karbala perlahan- lahan memudar, lalu lenyap dari pandangan Karmila.


Karmila sangat shok menyaksikan itu, ia menggelosoh terduduk lemas dibalik pintu kamar. Ia menangis histeris sambil menyembunyikan wajahnya dikedua kakinya yang ditekuk rapat- rapat di depan dadanya.


Perasaan Karmila kini benar- benar sangat membenci Karbala. Ingin rasanya dirinya pergi jauh agar Karbala tak lagi dapat menemuinya.


Ditengah keputus asaannya itu tiba- tiba terlintas dipikiran Karmil untuk mengakhiri hidupnya. Mungkin dengan dirinya mati, ia tak akan lagi bertemu dengan Karbala. Dan juga tidak akan lagi terbebani merasa menanggung rahasia terkutuk sepanjang hidupnya.


“Dosaku sudah terlalu besar. Hingga Aryo meninggal pun dia tidak mengetahui perbuatan bejatku... Aku sungguh istri yang laknat, istri yang durhaka! Uhuk... uhukk.. uhuk...” ucap Karmila lirih.


Tiba- tiba Karmila mendongakkan kepalanya diatas kedua lututnya. Kedua matanya nyalang menoleh liar keatas meja riasnya.


Seperti mendapat sebuah kekuatan, Karmila langsung bangkit dàri duduknya. Ia berjalan pelan- pelan menuju meja rias.


Matanya menatap tajam setiap benda yang ada diatas meja itu. Kemudian matanya tertuju pada sebuah gelas hiasan dari keramik. Buru- buru tangannya meraih gelas hiasan tempat menaruh pensil rias dll itu lalu mencari- cari sesuatu.


Sepertinya benda yang dicarinya tidak ada, lalu pandangan Karmila beralih ke laci meja. Tangannya segera menarik laci tersebut.


Karmila tertegun sejenak, tubuhnya bergetar hebat saat melihat benda yang dicarinya ada di dalam laci itu. Lalu dengan tangan gemetar Karmila meraih benda dari dalam laci itu dan digenggamnya erat- erat.


Benda berupa gunting di genggaman tangan Karmila itu turut bergetar. Nafas Karmila memburu terdengar kasar sambil mengangkat Gunting dari dalam laci rias.


Karmila menengadahkan wajahnya keatas menatap langit- langit kamar. Tatapannya kosong menerawang jauh, hanya ada bayangan wajah putranya dipikirannya.


“Guntur... maafkan mamah... mamah sangat menyayangimu...” ucap Karmila lirih.

__ADS_1


Kemudian Karmila mengangkat tinggi- tinggi gunting yang ada di genggamannya. Ujung gunting besi yang tajam diarahkan ke bawah menyasar perutnya.


Kedua mata Karmila perlahan- lahan dipejamkan hingga membuncahkan air matanya yang sedari tadi menggenang di kedua matanya.


Air matanya luruh jatuh di kedua pipinya. Sedetik kemudian Karmila menggenggam erat- erat gunting itu dengan kedua tangannya hingga Gunting besi itu nampak bergetar- getar.


“Guntur Satriaji!”


Bersamaan dengan teriakkannya memanggil nama putranya, sambil menutup matanya, Karmila mengayunkan gunting besi digenggaman kedua tangannya dengan sekuat tenaga.


Mata Gunting yang runcing itu sektika menghujam deras mengarah ke perutnya.


Brrrakkkkk!


Disaat mata gunting yang tajam itu akan mengenai perut Karmila, tiba- tiba sekelebatan cahaya memukul tepat tangan yang genggaman gunting itu.


Kilatan cahaya itu menghantam kedua tangan Karmila hingga gunting besi digenggamannya terpental dan melesat menancap di pintu kamar.


Tubuh Karmila pun ikut terdorong hingga ia terjerembab jatuh diatas lantai. Bersamaan dengan itu teredengar suara pintu kamar dibuka secara paksa dari luar.


Braaakkkk!


Guntur muncul ditengah- tengah pintu yang didobraknya dengan wajah cemas dan panik.


“Mamah! Kenapa mah?!” teriak Guntur saat matanya melihat mamah Karmila tergeletak diatas lantai.


"Kuntooooo...! Kuntooooo....! teriak Guntur histeris meminta memanggil bantuan.


Guntur langsung meraih kepala mamah Karmila yang tergeletak pinsan lalu disandarkan pada pangkuannya.


Guntur mengedarkan pandangannya memperhatikan seisi kamar mamahnya, namun tak menemui apapun.


"Astagfirullahal azim!" pekik Kunto muncul dipintu.


"Siapin mobil, Kun ke rumah sakit!" seru Guntur.


Kunto yang hendak bertanya, mengurungkan niatnya dan langsung balik badan keluar lagi.


......................

__ADS_1


__ADS_2