
Tatapan para ustad dan ustazah seakan- akan meminta pendapat haji Abas. Merasa diitatap begitu Haji Abas hanya menghela nafas panjang kemudian berkata; “Karena itulah saya mengumpulkan ustad dan ustazah disini.”
“Jadi gimana menurut ustad dan ustazah?” Lanjut haji Abas.
Para ustad dan ustazah kembali saling pandang satu sama lain. Kemudian salah seorang ustad menyampaikan pendapatnya.
“Pak haji, masa kita sebagai manusia mahluk ciptaan Allah paling mulia kalah sama mahluk halus begitu,” kata ustad Gopar.
Pendapat ustad Gopar seperti pemantik yang menguatkan hati haji Abas. Sebelumnya haji Abas pun memiliki pemikiran yang sama dengan pendapat tersebut.
“Tapi ustad dikhawatirkan akan ada kejadian- kejadian yang mengganggu kita disini yang dilakukan oleh mahluk halus itu,” timpal ustazah Amini.
“Iya pak haji, apakah nantinya para santri kita nggak kenapa- napa?” sela ustazah lainnya.
Haji Abas diam sesaat, hatinya mulai gamang. Disatu sisi pendapat ustad Gopar memang benar, akan tetapi disatu sisi lain dirinya pun harus memikirkan resiko yang mungkin akan terjadi di lingkungan rumah tahfiznya.
Dan haji Abas juga membenarkan pendapat dari para ustazah yang menurutnya memang harus dipikirkan matang- matang.
“Pak haji, bagaimana kalau kita abaikan saja ancaman itu. Kita lihat dulu apa yang bisa dilakukan mahluk gaib itu,” ucap ustad Bunawi memecah keheningan.
__ADS_1
Kening haji Abas mengerut seketika, otaknya langsung mencerna pendapat ustad Bunawi.
“Benar juga...” batin haji Abas menerima pendapat ustad Bunawi didalam pikirannya.
Haji Abas mendongakkan wajahnya menatap ustad dan ustazah hendak berkata, akan tetapi tiba- tiba ustad Ikbal datang tergopoh- gopoh memasuki ruang tamu.
“Assalamualaikum, hhha... hhha... hha...” ucap ustad Ikbal terengah- engah.
“Wa’ alaikum salam,” jawab haji Abas serta para ustad dan ustazah bersamaan.
“Ada apa ustad!” sergah haji Abas dengan wajah terheran- heran.
“Astagfirullahal azim!” sahut haji Abas serta para ustad dan ustazah.
“Ayo cepat lihat!” Seru haji Abas lalu bergegas bangkit dari duduknya diikuti para ustad dan ustazah.
Mereka semua berjalan setengah berlari mengikuti ustad Ikbal yang berjalan satu langkah di depannya.
“Dimana ustad?!” Tanya haji Abas tak menghentikan langkahnya.
__ADS_1
“Diruang belajar pak haji,” balas ustad Ikbal sambil menoleh kebelakang.
......................
Didalam ruang belajar yang tanpa meja dan kursi, mereka belajar sambil duduk lesehan diatas karpet berwarna hijau.
Para anak- anak santri rumah tahfiz saling berpegangan erat- erat satu sama lain. Mereka bergerombol jadi satu di sudut ruangan bersama seorang ustad. Wajah- wajah mereka nampak terlihat sangat panik dan ketakutan berlindung dibelakang punggung ustad.
Sebagian besar anak- anak menutupi wajahnya tak mau melihat dua temannya yang terlihat sedang mengamuk di tengah- tengah ruangan. Sebagian lagi ada yang penasaran ingin melihat dua temannya yang tiba- tiba tingkahnya berubah aneh dan liar.
Dua anak yang kesurupan tersebut dwngan veringas menghambur- hamburkan buku- buku dan alat tulis yang ada diatas karpet. Kedua anak itu menendang- nendang benda apa saja yang ada diaekitar mereka.
Ekspresi wajah sari kedua anak santri putra itu terlihat marah. Sepasang mata kedua anak itu melotot memandang liar disekelilingnya sambil tangannya terbuka lebar seperti ingin mencakar- cakar. Sementara mulutnya mengeluarkan erangan dan racauan tak begitu jelas.
Jegrekkk!
Suaran pintu ruangan tiba- tiba terbuka, sontak semua santri rumah tahfiz putra dan putri serta seorang ustad langsung menoleh kearah pintu.
......................
__ADS_1
BERSAMBUNG...