
Cuaca malam daerah Dago Atas terasa dingin menusuk sampe tulang sum sum.
Kunto terbangun dari tidurnya karena dorongan buang air kecil. Dengan wajah sedikit kesal bercampur malas, ia menyibakkan selimut yang menutupi tubuhnya lalu bangkit dari atas kasur.
“Jam berapa ini?” Batin Kunto.
Kunto menoleh ke jam weker diatas meja belajar, tetapi tak begitu jelas terlihat karena lampu kamar gelap hanya ada sedikit cahaya yang membias dari lampu taman di luar jendela.
Kunto melangkah gontai dengan memicingkan mata menuju pintu kamar, lalu keluar dari kamarnya menuju toilet.
Saat melintas di ruang tengah, Kunto berhenti untuk melihat jam dinding yang nempel diatas dinding. Jarum jam menunjukkan pukul 12 lewat 10 menit.
“Hoaaaammmmhh...”
Kunto menguap akibat rasa kantuknya yang berat sembari mengusek- ngusek rambut keritingnya. Ia pun melanjutkan langkahnya menuju toilet
Baru saja kakinya bergerak satu langkah, telinganya menangkap suara yang janggal. Kunto berhenti terdiam di tempat memastikan arah suara yang sayup- sayup didengarnya.
“Aaaaahhhh...”
“Grrrrrrrkkkhhh...”
“Aaaaahhhh...”
“Grrrrrrrkkkhhh...”
Kunto menolehkah wajahnya memastikan samar- samar suara aneh itu berasal dari kamar mamah Karmila yang tak jauh dari tempatnya berdiri.
Kunto perlahan- lahan dan hati- hati mendekati kamar yang berada di sisi kanannya itu.
“Benar suara itu dari dalam kamar tante,” batin Kunto keheranan sekaligus penasaran.
Semakin ia mendekat, suara yang lebih mirip erangan dan geraman itu semakin jelas terdengar.
Kunto menempelkan telinganya pada daun pintu kamar mamah Karmila. Jantungnya berdegub kian kencang manakala telinganya dengan jelas mendengar suara itu berasal dari dalam mamah Karmila.
“Suara erangan itu pasti suara tante, tapi suara geraman...?” Batin Kunto.
Kunto dibuat kian penasaran, ia perlahan- lahan sekali melangkah mundur menjauhi pintu tanpa menimbulkan suara.
Setelah 3 langkah mundur, Kunto segera balik badan kemudian melangkah berjinjit agar tak menimbulkan suara langkah kaki menuju pintu depan.
Begitu sampai di pintu, dengan sedikit gemetar tangannya meraih kunci yang menempel di lobang kunci. Lalu dengan hati- hati dan pelan- pelan sekali ia memutar kunci untuk membukanya.
Keningnya berkerut dalam- dalam mengikuti gerakkan tangannya memutar kunci sembari menggertakkan giginya seolah- olah untuk meredam suara yang ditimbulkan dari kunci yang terbuka.
Klak!
Kreteeeekkk..
Kunto berjinjit melangkah keluar rumah. Sejenak ia memutar pandangannya melihat sekelilingnya.
__ADS_1
Suasana diluar begitu senyap, bahkan tak terdengar ada suara kendaraan satu pun yang melintas di jalan raya.
Tepat di depannya ada mobilnya Guntur, lalu dialihkan pandangannya ke halaman samping. Nampak hamparan rumput jepang dengan warna hijaunya yang kontras tertimpa cahaya lampu taman yang kemerahan.
Perlahan- lahan Guntur melangkahkan kaki menuju halaman samping rumah. Debaran di dadanya semakin kencang seiring dia melangkah.
Saat sampai di sudut rumah, Kunto berhenti sejenak. Ia kembali memperhatikan situasi dan kondisi di halaman samping.
Suasananya lebih senyap dan sunyi dibandingkan dengan suasana depan rumah. Kemudian Kunto meneruskan langkahnya dengan penuh hati- hati agar tidak menimbulkan suara sesikit pun.
Satu langkah...
Dua langkah...
Tiga langkah....
Empat langkah...
Lima langkah....
Enam langkah...
Tujuh langkah!
Kunto berhenti tepat disamping sebuah jendela kamar yang berukuran besar. Ia memperhatikan jendela dengan seksama.
Dari kaca jendela yang tertutup tirai putih ampak ada sedikit cahaya temaran terlihat di dalam kamar itu.
Kunto segera menempelkan telinganya pada daun jendela dengan perasaan takut- takut bercampur penasaran.
“Aaaaaahhhh...”
“Grrrrrrkkkkkhhh...”
“Aaaaaahhhh...”
“Grrrrrrkkkkkhhh...”
Samar- samar suara erangan dan geraman masih terdengar dari dalam kamar. Kunto celingukkan mencari celah pada jendela untuk dapat melihat kedalam kamar.
Karena tak menemukan adanya celah atau lubang sedikit pun pada jendela itu, dengan reflek Kumto mencoba mencongkel daun jendela dengan jarinya.
Ia berupaya menarik- narik pojok daun jendela yang sedikit nongol. Namun nampaknya jendela itu bernar- benar terkunci tidak bergerak sama sekali.
Kunto tak patah arang, ia kemudian beralih pada daun jendela berikutnya. Dengan melakukan tidakkan yang sama, yaitu berupaya mencongkel- congkel ujung jendela berharap ada jendela yang tak terkunci.
Deg!
Jantung Kunto serasa berhenti berdetak, namun debaran di dadanya kian kencang manakal jarinya yang mencongkel- congkel jendela merasakan daun jendela itu bergeser.
Pengharapan Kunto tepat, salah satu daun pintu ada yang tidak terkunci, mungkin lupa mamah Karmila menguncinya atau memang sengaja tidak menguncinya.
__ADS_1
“Jangan- jangan ada orang masuk kedalam kamar. Dan... dan suara erangan itu, jangan- jangan tante sedang diperkosa!”
Seketika terlintas dipikirannya kalau tante sedang dalam bahaya. Jiwa super hero sebagai lelaki sekaligus orang yang selama ini sudah ditolongnya, Kunto pun segera hendak menarik paksa jendela itu.
Kretttt....
Kunto mengurungkan niatnya membuka jendela secara kasar. Tiba- tiba saja ia ingin melihatnya dulu untuk memastikan dugaannya sebelum bertindak lebih jauh.
“Aaaaaahhhh...”
“Grrrrrrkkkkkhhh...”
“Aaaaaahhhh...”
“Grrrrrrkkkkkhhh...”
Suara dari dalam kamar itu masih terdengar bahkan kini semakin santer terdengar di telinganya melalui jendela yang sudah sedikit terbuka.
Pelan -pelan sekali dan sangat berhati- hati, Kunto mulai mengangkat daun pintu itu keatas. Ia membukanya selebar cukup untuk kepalanya masuk.
Pandangannya langsung terhalang oleh tirai putih didalam kamar. Pelan- pelan Kunto menyibak tirai itu.
Deg!
Begitu kedua mata Kunto dapat melihat kedalam kamar, seketika ia tersentak kaget bukan kepalang.
Samar- samat dalam keremangan cahaya lampu kamar, terlihat siluet hitam diatas kasur. Dua sosok bayangan hitam itu terlihat jelas oleh Kunto sedang melakukan hubungan intim.
Salah satu sosok yang berada di atas nampak jelas terlihat rambut- rambut disekujur tubuhnya dalam keremangan cahaya itu.
Sosok yang berada diatas nampak menggebu- gebu bergerak naik turun dengan kasarnya diatas sosok tubuh kuning langsat.
Suara dengusan dan erangan kedua sosok itu saling bersahutan tanpa menyadari ada yang mengintainya.
Lama -kelamaan menyaksikan pemandangan panas sekaligus mengerikan itu, seketika Kunto reflek kepalanya bergerak kebelakang, akibatnya kepalanya terbentur kaca jendela dengan keras.
Derrrrr..!
Suara benturan kepala dengan jendela itu menimbulkan suara keras. Ditambah dengan pekikan mengaduh dari mulut Kunto, membuat dua sosok didalam kamar seketika menoleh kearah Kunto.
Kunto mengernyitkan matanya sambil mengusap- usap kepalanya yang sakit. Dan saat itulah ia melihat kedua sosok didalam kamar itu menoleh kearahnya. Sehingga wajah kedua sosok itu dapat terlihat jelas oleh Kunto.
Kunto kian terkesiap melihat dua sosok yang menoleh kearahnya itu yang sangat ia kenali.
“Karbala! Tante!” Pekik Kunto.
Tubuhnya seketika menggelosoh kebawah dengan perasaan takut menghinggapi perasaanya. Kesadarannya perlahan- lahan mulai hilang.
"Ttto, tolll, tolo..." Kunto berusaha berteriak, akan tetapi suara teriakkannya nyaris tak terdengar bahkan terputus.
Tubuh Kunto tergeletak diatas rumput dibawah jendela kamar mamah Karmila.
__ADS_1
......................