
Parno berdiri terpaku 3 langkah menghadap pohon beringin. Tiba- tiba tubuh Parno seketika menggigil gemetaran! Sepasang matanya membelalak lebar dengan mulut menganga kelu melihat sosok tersamar dengan batang pohon Beringin itu.
Sosok mahluk dipenuhi bulu- bulu lebat berwarna hitam pekat di seluruh tubuhnya menatap tajam kearah Parno. Sepasang matanya berkilat memancarkan sinar merah darah menyala.
Tampang Parno yang garang langsung pucat, lampu senter di genggan tangan kirinya terlepas. Begitu pula dengan sebatang pentungan di tangan kanannya juga terlepas karena rasa takut yang menyergapnya.
“Ha, hhhan, hantuuu...!” teriak Parno histeris.
Parno cepat- cepat memutar badan bermaksud ambil langkah seribu, tetapi gerakan kakinya hanya berlari di tempat tanpa dia sadari. Parno merasa sudah berlari sangat kencang sekencang- kencangnya dengan sepenuh tenaga.
Dalam perasaan berlarinya, reflek Parno menoleh ke belakang untuk melihat sosok mahluk itu, namun sepertinya mahluk itu masih tetap dalam jarak pandang yang sama dengan sebelumnya. Parno kian histeris, ia merasa berteriak- teriak dengan kencang sambil mempercepat larinya.
“Hhhhantuuuu.....!!!”
Anehnya tidak ada seorang anggota keluarga di rumah tersebut yang mendengar teriakkannya. Karena memang tidak terdengar adanya jeritan maupun teriakkan sama- sekali.
Setelah beberapa lamanya Parno merasa tenaganya sudah terkuras habis akibat berlari mengerahkan tenaga sepenuhnya. Ketika Parno merasa sangat lelah merasa sudah berlari jauh meninggalkan tempat itu, ia pun menolehkan kepalanya lagi kebelakang untuk melihat sosok mahluk menyeramkan itu.
Deg!
Jantungnya merasa benar- benar copot, nyawanya seakan- akan lepas dari raganya manakala matanya melihat pemandangan yang sama, sosok menyeramkan itu masih berdiri menatap lekat- lekat wajah Parno dengan sorot mata merahnya.
Tubuh Parno seketika lemas menggelosoh melumpruk diatas rumut halaman. Wajahnya pucat pasi, bibirnya bergetar seperti mengucapkan sesuatu namun tak keluar sepatah kata pun dari mulutnya. Dan sedetik berikutnya Parno merasakan pandangannya gelap, tubuhnya limbung lalu tak ingat apa- apa lagi.
......................
“Genderuwo!?” Ucap Haji Abas memotong cerita Pak RT.
“Entahlah, saya tidak tahu mahluk apa itu,” ujar Parno.
“Lalu gimana setelah itu?” Tanya haji Abas penasaran.
“Saya di bangunkan pak Jin An pada pagi harinya sekitar pukul 7," jawab Pak RT yang bernama Parno itu.
"Apa karena itu pemilik rumah ini memytuskan di jual?" tanya haji Abas.
"Sebenarnya bukan itu yang menyebabkan pak Jin An meninggalkan rumah barunya....” kata pak Parno kemudian kembali melanjutkan cerita lamanya.
......................
Hari kedua keluarga Jin An menempati rumah baru itu,
Di sore hari di halaman rumah yang luas yang dibuat semi taman dengan bertaburan berbagai macam tanaman- tanaman bunga yang sedang bermekaran, Jin An dan putrinya yang bernama Putri Vanesha yang berusia 10 tahunan sedang duduk- duduk santai di bangku taman.
__ADS_1
“Papih, tadi malam putri mimpi yang sangaaaaaaaat... indah,” ucap Putri.
“Oh ya?!” Sahut Papih Jin An.
“Iya Pih, Putri diajak ke sebuah rumah sama orang yang baik banget. Rumahnya besar dan di dalamnya itu perabotan- perabotannya semuanya berwarna kuning bercahaya,” ucap Putri bercerita.
Jin An mengernyitkan keningnya, ia memperhatikan wajah putrinya yang putih dan cantik itu penuh keheranan. Putrinya bercerita seolah- olah mimpinya itu sebuah realita, terjadi di dalam kehidupan nyata bukan dalam mimpi. Namun Jin An tetap mendengarkannya tanpa menyangkalnya.
“Tapi Pih, rumah itu sangat sepi sekali. Wajah orang itu seperti sedang marah, wajahnya nampak murung. Tapi juga orang itu baik pada Putri, dia menawari putri tinggal di rumahnya,” ucap Putri polos.
Kali ini wajah Jin An terhenyak mendengar cerita mimpi putrinya. Wajah Jin An seketika menjadi khawatir, kali ini ia menanggapinya dengan serius. Jin An percaya dan yakin mimpi yang di ceritakan putrinya itu bukan mimpi biasa, bisa jadi itu seperti sebuah peringatan akan adanya suatu kejadian.
“Terus, terus... jawaban putri gimana? Putrinya mau?!” tanya Jin An sedikit menyelidik.
“Ya nggak lah Pih, kasihan Papih sama mamihnya dong,” sahut Putri dengan lugunya.
“Lalu apa kat...” kalimat Jin An terhenti seketika karena tiba- tiba terdengar teriqkkan keras dari dalam rumah.
“Toloooooong.....! Toloooooong....!”
Jin An dan Putri spontan terdiam, keduanya saling memandang sejenak sama- sama memastikan telinga mereka mendengar teriakkan itu.
“Mamih...!” pekik keduanya bersamaan setelah mendengar teriakkan yang ketiga kalinya.
“Mamiiiih...! Mih...! Mamiiih..” teriak Jin An memanggil- manggil.
Jin An membuka pintu kamarnya celingukkan kesana kemari mencari- cari Mamih tetapi tak ia temukan. Kemudian Jin An keluar kamar lagi, kali ini menuju kamar putri.
“Mamiiih..! Mamiiih...!” teriakan suara Putri mengiri langkah papihnya.
Jegreg!
Daun pintu kamar putri pun dibukanya, tetapi kamar itu kosong tak ada siapa pun di dalamnya. Jin An mulai panik kebingungan seiring tak lagi terdengar teriakan istrinya.
Jin An lantas setengah berlari menuju kamar mandi yang bersebelahan dengan ruang dapur di sisi kiri. Ia meraih handel pintu untuk membukanya, namun pintu itu tertahan sepertinya terkunci.
“Mamiiih...!”
Dog... dog.. dog..!
“Mamiiih...!”
Jin An menggedor- gedor pintu kamar mandi sembari berteriak memanggil- manggil istrinya. Namun tidak juga ada sahutan dari dalam kamar mandi tersebut.
__ADS_1
Tanpa pikir panjang lagi, Jin An mengambil jarak dua langkah mundur dari pintu bersiap untuk mendobrak membukanya dengan paksa. Di saat bersamaan putri muncul, lalu berteriak; “Jangan pih!”
Jin An kontan menghentikan niatnya mendobrak pintu kamar mandi, ia menoleh pada putri, “Kenapa Put?!” tanyanya heran.
“Biar putri saja yang buka pintunya,” kata Putri dengan lugu kemudian melangkah mendekat ke depan pintu.
Jekrek! Kreteeekkk...
Jin An terperangah, matanya melotot tak percaya. Padahal dia barusan mencoba membuka pintu itu seperti terkunci, tetapi Putrinya begitu mudahnya pintu itu dibukanya.
"Mamihhhh...!" teriak Putri
Jin An tersadar dari terbengongnya setelah Putri berteriak, ia buru- buru masuk kamar mengikuti Putri.
"Mamihhh..!" pekikJin An.
Istrinya tergeletak begitu saja diatas lantai bak mandi. Kedua matanya terpejam rapat, namun di wajahnya nampak jelas terlihat guratan ekspresi sisa- sisa kepanikan.
Jin An segera merengkuh tubuh istrinya dan membopongnya keluar dari kamar mandi. Ia membawa istrinya ke kamar dan di baringkannya diatas kasur.
Putri muncul membawakan segelas air putih lalu diberikannya pada Papihnya; “Pih, diminumkan ke Mamih!” Kata Putri.
Kondisi Mamih yang sedang tak sadarkan diri membuat Jin An kesusahan meminumkan airnya karena mulutnya tertutup rapat. Putri naik keatas kasur lalu duduk di sebelah Mamihnya, ia menepuk- nepuk pipi Mamihnya.
"Mih... Mamihhh... bangun Miiihhh..." ucap Putri lirih.
Sesaat kemudian terlihat pupil kedua mata Mamihnya begerak- gerak. Putri kegirangan melihat Mamihnya mulai bergerak- gerak.
“Mamihhh...” seru Putri masih menepuk- nepuk pipi mamihnya.
Perlahan- lahan kedua mata Mamih bergerak dan membuka matanya. Saat matanya sudah terbuka, Mamih langsung terlonjok duduk. Ia celingukkan melihat sekelilingnya seperti mencari- cari sesuatu dengan wajah panik.
“Mih, mamih tenang... tenang ya... ada apa? Mamih kenapa?” Ucap Jin An berusaha menenangkan istrinya.
“Mahluk itu pih, dimana mahluk itu!” pekik Mamih cemas.
“Mahluk apa?!” sergah Jin An bingung.
Mamih menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. Ia menggeleng- gelengkan kepalanya, lalu terdengar isak tangisnya.
Sesaat kemudian Mamih mendongakkan kepalanya, tatapannya nanar dan sembab oleh air mata yang berlinangan. Sementara Jin An dan Putri membiarkan Mamih menenangkan pikirannya, meski hatinya dipenuhi rasa bingung dan tanda tanya.
Mamih menoleh kearah Jin An, tatapannya sendu nampak dari sorot matanya ada rasa beban bersalah yang teramat besar. Namun ia tak kuasa untuk menceritakannya, otaknya langsung berpikir untuk tidak menceritakannya. Ia memutuskan untuk menyimpannya rapat- rapat peristiwa yang baru saja dialaminya.
__ADS_1
......................