
Minggu pagi pukul 8.00 wib, halaman rumah pak Asrul yang luas mulai dipenuhi mobil-mobil mewah terparkir disisi kanan hingga ke halaman belakang. Mereka adalah tamu-tamu undangan yàng sebagian besar relasi-relasi bisnis pak Asrul dan sebagian lagi teman-teman dekat Hafizah. Undangan yang disebar terbatas hanya 100 undangan saja.
Melihat pakaian-pakaian orang-orang yang datang sudah dapat ditela'ah oleh mata telanjang kalau mereka adalah orang-orang dari kalangan atas. Jas-jas mewah dengan dasi yang harganya dapat buat makan 2 minggu bahkan mungkin sebulan kalangan bawah menggantung menghiasi pakaian mereka. Para kaum istri yang seringkali menyebut diri mereka sebagai Ibu-ibu sosialita nampak berdiri bergerombol saling menonjolkan perhiasan maupun tas-tas tangan brandid berharga ratusan juta asyik ngobrol sesekali diiringi derai tawa menghiasi meteka.
Hafizah berdiri ditengah diapit papah dan mamahnya terlihat sangat cantik. Meski berpakaian sederhana dan simpel hanya memakai kebaya dengan dominasi warna gold dipadu padankan dengan warna hijabnya tetapi tetap saja terlihat berkelas. Ketiganya berdiri didepan area tempat acara syukuran digelar yang dibuat seperti gapura dari aneka ragam bunga membentuk pintu masuk untuk menyambut para tamu undangan. Senyum ketiganya terus mengembang tak pernah hilang menghiasi wajah menyambut dan mrnyalami tamu-tamunya penuh dengan kebahagiaan.
Pak Asrul sesekali celingukan melihat tamu-tamu yang berdatangan, ia seperti sedang mencari tamu yang sangat dinantinya. Meski tangannya menjabat tangan tamunya sambil terus tersenyum namun matanya selalu melirik kearah datangnya para tamu. Akan tetapi tiba-tiba wajah sumringah pak Asrul mendadak lenyap seketika berganti dengan wajah dingin dan tatapan penuh kebencian.
Dia meluhat diantara tamu-tamu undangan yang sedang berjalan menuju kearahnya, nampak seorang pria gemuk dengan perut buncit berjalan beriringan dengan seorang perempuan dengan memakai perhiasan yang sangat mencolok dan ditengahnya berjalan seorang pemuda kurus berambut gondrong.
"Asruuul, apa kabar?" Tanya pria gemuk itu yang tak lain adalah boss Anggoro beserta putra dan istrinya.
Boss Anggoro lalu menatap Hafizah dengan melebarkan senyumannya, seraya berkata; "Wow, calon menantuku benar-benar sangat cantik..." Boss Anggoro bermaksud menyalami Hafizah namun Hafizah hanya membalasnya dengan menangkupkan tangan didepan dadanya.
Boss Anggoro merasa kaget, raut wajahnya berubah karena ajakan bersalamannya dibalas dengan tangkupan tanga, namun pria gemuk dan buncit itu cepat-cepat menguasai keadaan kembali kemudian menoleh kearah putranya.
"Doni, lihat cantik bukan?" ucap boss Anggoro menyeringai pada putranya.
Hafizah mendadak bergidik muak saat pria gemuk dan buncit itu mengatakan calon menantunya. Sama halnya dengan papahnya, pak Asrul juga sangat muak melihat tingkah Boss Anggoro dan anaknya, segera ia membuang pandangannya jauh-jauh. Namun saat bersamaan pandangannya melihat rombongan kecil terlihat dikejauhan, dua orang pemuda dan seorang wanita. Wajah pak Asrul pun langsung terlihat sumringah.
"Silahkan, silahan boss Anggoro..." ucap pak Asrul malas mempersilahkan untuk cepat-cepat masuk.
Kemudian disusul tamu-tamu lainnya yang terus berdatangan. Tak berapa lama kemudian tamu yang dinantikan pak Asrul muncul.
"Neng, ini tamu specialnya..." bisik pak Asrul pada Hafizah dengan senyum sumringah sambil menunjuk seorang pemuda bersama seorang perempuan cantik dan sorang pemuda berambut kriting.
Hafizah tertegun melihat pemuda yang ditunjuk papahnya. Instingnya mengatakan pasti bukan pemuda yang berambut ketiting. Sebab secara pesona pemuda yang berambut keriting jelas kalah dua level dengan seorang pemuda satunya meski sama-sama memakai blazer. Tanpa disadari ada desir-desir halus menguasai tubuhnya saat menatap pemuda yang dimaksud papahnya itu, dadanya seketika berdebar-debar.
Pemuda beserta wanita cantik dan seorang pemuda keriting itu mulai berjalan mendekat dan debaran dada Hafizah kian santer dirasakannya. Sialnya saat Hafizah menatap matanya, tanpa diduga-duga secara bersamaan pemuda itu juga menatapnya, mata keduanya beradu pandang tak disengaja. Lalu sedetik berikutnya keduanya menjadi salah tingkah sendiri sambil mengalihkan pandangannya dengan senyum tersirat di bibir Hafizah dan pemuda itu.
"Assalamualaikum, Om, tante..." ucap pemuda itu mewakili rombongan kecilnya kemudian menyalami pak Asrul.
__ADS_1
"Wa'alaikum salam, Guntuuur... Terima kasih sudah mau datang jauh-jauh dari Bandung," balas pak Asrul setelah membalas ularan jabat tangan kemudian ia memeluknya erat.
"Guntur? Namanya gagah seperti orangnya, hihihi.." gumam Hafizah dalam hati.
Saat dipeluk pak Asrul wajah Guntur yang menghadap belakang otomatis melihat Hafizah dengan jarak yang sangat dekat. Pandangan mata Hafizah dan Guntur kembali bentrok, sontak jantung Guntur berdetak kencang, rasa gugup langsung menguasai tubuhnya. Begitu pula dengan Hafizah, pipinya langsung bersrmu merah.
"Loh, kok jantung kamu tiba-tiba berdebar Gun?" ucap pak Asrul melepaskan pelukkannya kemudian menelisik wajah Guntur penuh kecemasan.
Pak Asrul lalu menoleh ke wajah Hafizah, ternyata putrinya itu sedang tersipu-sipu dengan kedua pipi bersemu merah. Pak Asrul memahami kenapa Guntur terlihat gugup, ia pun segera mencairkan suasana yang menegang dan kaku itu.
"Nah, ini yang Om ceritakan itu. Ini putri Om, namanya Hafizah, cantikkan?" ucap Pak Asrul memecah kekakuan suasana.
"Ih, papah..." sela Hafizah mencubit lengan papanya manja.
"Neng, ini Guntur putra temannya papah yang kemarin papah ceritain itu ayo bersalaman..." ucap pak Asrul kemudian merangkul pundak Guntur dan pundak Hafizah.
"Guntur..." ucap Guntur mengulurkan tangannya sambil tersenyum manis.
Pandangan Guntur dan Hafizah kembali beradu, namun kali ini dengan senyuman yang sama-sama manis dimata kedua muda-mudi itu. Desiran-desiran kebahagiaan merayapi hati keduanya sambil terus saling balas melempar senyum.
"Om, kayaknya tangan Guntur ada lemnya tuh," celetuk Kunto yang terasa lama menunggu giliran bersalaman karena Guntur belum juga beranjak.
"Hahahahaha..."
"Hahahahaha..."
"Hahahahaha..."
Pak Asrul, istrinya dan mamah Karmila langsung tertawa terbahak-bahak mendengar celetukkan Kunto. Guntur dan Hafizah terkesiap kaget mendengar celetukan disertai derai tawa itu buru-buru melepaskan jabatan tangannya dengan wajah tersipu-sipu. Kemudian Guntur menggeser posisinya berdiri disamping Hafizah. Sepasang mata Guntur langsung melotot kearah Kunto gemas menyiratkan penuh dendam. "Awas lu!" seru Guntur dalam hati.
"Ini teman saya Om, namanya Kunto. Dia produk langka terlahir memang sudah keriting," sela Gintur ditengah-tengah derai tawa membuat semuanya kembali tergelak.
__ADS_1
"Mah, Neng, ini ibu Mila istri almarhum pak Aryo. Bu Mila ini istri saya dan ini putri saya," ucap Pak Asrul memperkenalkan diri diujung ketawanya.
"Apa kabar Jeng?" ucap mamahnya Hafizah kemudian cipika cipiki.
"Alhamdulillah, baik Jeng..." balas mamah Karmila.
"Turut berduka cita ya Jeng," sambung mamah Hafizah.
"Terima kasih Jeng," balas mamah Karmila kemudian berganti menyalami pak Asrul.
Setelah menyalami pak Asrul, mamah Karmila tertegun sejenak dihadapan Hafizah sambil menatap wajahnya dengan senyum mengembang.
"Neng geulis pisan, cantik sekali..." ucap mamah Karmila mengulurkan tangannya.
"Ah tante... bisa aja," balas Hafizah terispu-sipu menyambut uluran salam mamah Karmila kemudian mencium tangannya.
Mamah Karmila tersenyum lalu memeluk Hafizah sambil berbisik, "Jadilah menantu ibu Neng."
Tanpa disadari Hafizah langsung menyahut ucapan Mamah Karmila, "Insya Allah Tante.."
"Loh kok, manggilnya tante..." sergah papah Hafizah yang memdengar bisikan mamah Karmila.
"Iya Mah," secara reflek Hafizah langsung mengulangnya.
"Naaah, begitu dong, hahahaha..." ucap papah Hafizah diiringi derai tawa semuanya.
"Ayo, ayo semuanya mari duduk di depan. Kita segera mulai saja acaranya." ajak pak Asrul kemudian melangkah menuju panggung acara.
Tanpa disadari oleh pak Asrul, empat pasang mata penuh kegeraman sedari tadi sudah mengawasinya dari tempat duduk kursi tamu undangan. Saat dua keluarga itu berjalan diatas karpet merah yang terhampar membelah kursi duduk tamu menuju kedepan, sepasang mata menatap tajam penuh geram kearah pak Asrul dan sepasang mata lagi menatap tajam kearah Guntur menyiratkan amarah yang meledak-ledak.
......................
__ADS_1