TITISAN

TITISAN
OTAK PEMBUNUHAN


__ADS_3

"Pah, papah...! Mamaah...!" teriak Hafizah terdengar panik.


"Neng nggak boleh teriak-teriak gitu...!" sahut papahnya dari ruang tamu.


"Ada apa sih neeeng...!" susul sahut mamahnya kemudian ikut bergegas dibelakang pak Asrul.


Tak lama kemudian papah dan mamahnya muncul diruang tengah dimana Hafizah terlihat sedang memelototi televisi dengan mata terbelalak. Wajahnya menunjukkan kecemasan yang teramat sangat.


"Ada apa sih neng..." ucap papah Hafizah kemudian mengikuti pandangan mata putrinya kearah televisi.


"Lihat pah, itu kan mobil mas Guntur!" Seru Hafizah sambil menunjuk layar televisi.


"Pemirsa, terjadi percobaan pembunuhan di jalan tol menuju Bandung. Seorang pengusaha muda Guntur Satriaji menjadi korban percobaan pembunuhan olrh orang tak dikenal pada hari Senin, 10 Januari pukul 8.45 waktu indonesia barat. Korban menuturkan, saat itu dirinya beserta ibunya dan seorang temannya sedang dalam perjalanan pulang menuju Bandung usai menghadiri undangan rekan bisnisnya di Jakarta. Mobil korban tiba-tiba dihentkan oleh mobil pelaku yang semuanya berjumlah empat orang. Tiga pelaku masing-masing membawa senjata, dua orang membawa senjata tajam jenis celurit dan samurai sedangkan satu orang pelaku membawa senpi." Suara pembaca berita di televisi.


Di layar televisi menampilkan gambar petugas polisi sedang mengamankan para pelaku yang sudah tidak berdaya dengan tangan diborgol lalu dimasukkan kedalam mobil polisi. Sedetik berikutnya gambar di televisi berganti manampilkan seorang pemuda yang sedang memberikan keterangan kepada para wartawan .


"Paah, benar itu, itu mas Guntur!" seru Hafizah sambil menunjuk-nunjuk ke layar televisi.


Seketika Pak Asrul terperangah keningnya mengerut dalam-dalam, "Astagfitullah, benar neng itu Guntur..." kata pak Asrul kemudian kembali fokus melihat ke layar kaca dan mendengarkan narasi berita.


Beruntung korban berhasil selamat berkat aksi heroik dari korban yang mrlakukan perlawanan sehingga para pelaku berhasil dilumpuhkan dan diringkus. Polisi kini sedang mengusut kasusnya yang terindikasi ada pelaku utama sebagai dalang dari otak percobaan pembunuhan tersebut. Para pelaku merupakan pembunuh bayaran mengaku atas suruhan seorang pengusaha besar di Jakarta.


Wajah pak Asrul membesi, pikirannya langsung mengarah pada nama salah seorang pengusaha seperti yang disebutkan dalam berita tersebut sebagai pelaku yang menyuruhnya.


"Pasti ulah Anggoro sialan itu! Saya harus memberikan informasi pada polisi agar segera diringkus." teriaknya dalam hati, kemudian merogoh hape didalam saku kemejanya dan menelpon.


"Hallo Han, ke rumah sekarang, segera ya!" Tegas pak Asrul langsung menutup telponnya kemudian bergegas pergi dari ruang tengah.


"Papah mau kemana?" Tanya Hafizah heran melihat papahnya pergi terburu-buru.


"Mau ke tempat kejadian neng, lokasinya tidak jauh masih di Jakarta." ucap pak Asrul melanjutkan langkahnya.


"Neng ikuuut...!" sergah Hafizah bangkit dari duduknya.


"Jangan, Hafizah di rumah aja papah mau memastikan keadaan Guntur dan yang lainnya." cegah pak Asrul.


Hafizah pun cemberut kembali lagi duduk ditempatnya semula dan kembalj melihat layar televisi. Namun Breaking News yang memberitakan kejadian di jalan tol itu sudah berganti dengan tayangan lain. Kemudian Hafizah meraih remot televisi dan mengganti chanel stasiun televisi lain mencari berita yang sama.


Di teras depan rumah, pak Asrul berdiri gelisah, matanya melihat kearah pintu gerbang. Pak Asrul tak sabar menunggu Handoko yang sebelumnya diminta datang ke rumah melalui telpon. Tak lama kemudian Handoko muncul menaiki sepeda motor sport berhenti sebentar di pos jaga pintu gerbang lalu kembali melajukan sepeda motornya menuju depan pak Asrul.


Seorang pria muda betusia 30 tahunan tubuhnya kekar dan tinggi besar turun dari sepeda motor sportnya. Nampak otot-otot bisep serta otot dadanya jelas menonjol dibalik kaos ketatnya.


"Han, antar saya ke jalan tol ada kejadian disana menimpa teman saya." kata pak Asrul begitu Handoko turun dari motornya.

__ADS_1


"Siap! Pakai mobil apa boss?" tanya Handoko.


"Itu aja yang sudah didepan." sahut pak Asrul.


Handoko pun segera beranjak setengah berlari menuju mobil Terrios putih yang terparkir didepan diikuti pak Asrul. Tak berselang lama kemudian mobil itu keluar dari gerbang dan melaju di jalan raya dengan cepat.


"Dimana lokasinya boss?" Tanya Handoko ditengah perjalanan.


"Langsung masuk tol Han, sekitar lima belas menitan TKP nya." Jawab pak Asrul.


......................


Di Tempat Kejadian Perkara,


Garis polisi melingkari bekas kejadian percobaan pembunuhan. Guntur terlihat sedang di wawancarai oleh para wartawan dari berbagai stasiun televisi, surat kabar dan media online. Hal itu terlihat dari atribut di seragam mereka. Sementara beberapa petugas kepolisian sedang melakukan Olah TKP setelah sebelumnya sudah memintai keterangan dari Guntur. Begitupun dengan Mamah Karmila dan Kunto juga sama dikerubuti para pencari berita.


Beberapa lama kemudian sebuah mobil Terrios putih berhenti dibelakang mobil Guntur. Terlihat pak Asrul turun bergegas melangkah kedepan mobil Guntur sesaat berdiri tengok sana sini melihat sekelilingnya.


"Maaf, maaf sudah cukup dulu ya temen-temen wartawan semua, lebih lanjutnya silahkan bertanya kepada pihak kepolisian. Saya kira sudah semuanya saya ceritakan." sergah Guntur setelah melihat kedatangan seorang pria paruh baya.


"Om... Om Asrul!" seru Guntur ditengah kerumunan wartawan, kemudian beranjak menuju pak Asrul.


"Gun, kamu nggak apa-apa? Mamah kamu dan Kunto gimana? Siapa pelakunya?" Pak Asrul langsung memberondong pertanyaan dengan cemas.


"Syukurlah, ayo Gun ikut saya melihat pelakunya." Kata pak Asrul dengan wajah geram.


Tanpa menunggu jawaban Guntur, Pak Asrul segera melangkah menuju mobil polisi diikuti Guntur. Seorang petugas polisi sepertinya pimpinan unit yang melihat Guntur datang bersama seseorang langsung menyambutnya.


"Pak Guntur nanti memberikan laporannya di kantor, ya." ucap Komandan Unit.


"Baik pak," jawab Guntur.


"Pak boleh saya lihat pelakunya barangkali saya mengenalnya," sela pak Asrul.


"Maaf, bapak siapanya pak Guntur?" Tanya polisi.


"Saya kerabatnya pak dan pak Guntur ini habis menghadiri undangan acara di rumah saya pak," jawab pak Asrul.


"Oh, silahkan, silahkan pak." ujar petugas kemudian petugas itu membuka pintu mobilnya.


Didalam mobil tiga orang pria bertubuh kekar dan berwajah sangar tertunduk ketakutan. Pak Asrul langsung menatap tajam satu persatu wajah para pelaku tersebut dengan wajah geram.


"Kalian pasti anak buah Anggoro, iya kan?!" Sentak pak Asrul.

__ADS_1


Mendengar pertanyaan itu wajah ketiga pelaku tersentak kaget penuh ketakutan namun tidak ada satupun yang menjawab.


"Jawab!!!" Bentak Pak Asrul.


Ketiga pelaku menekukkan wajahnya dalam-dalam namun tetap bungkam. Kemudian pak Asrul membalikkan badannya mencari-cari Handoko diantara kerumunan para wartawan yang mengitari Karmila dan Kunto.


"Han...! Handoko..!" teriak pak Asrul.


Handoko yang sedang berdiri didepan mobil Guntur sambil memperhatikan keadaan didepannya langsung berlari setelah melihat pak Asrul memanggilnya.


"Siap boss!" ucap Handoko setelah sampai dihadapan pak Asrul.


"Coba kamu perhatikan wajah-wajah mereka, kamu mengenalnya kagak." perintah pak Asrul menunjuk para pelaku didalam mobil polisi.


Handoko lantas melongok kedalam mobil untuk melihat para pelaku. Handoko langsung terkejut setelah melihatnya, sebab salah satu pelaku yang duduk ujung kiri itu sangat dikenalnya. Kemudian ia menarik kerah jaket jeansnya yang kumal.


"Oh, elu Jon! Siapa bos lu?!" bentak Handoko geram.


Pelaku bernama Joni itu kian ketakutan. Tubuhya gemetaran begitu melihat Handoko, tetapi Joni tetap bungkam. Handoko melepaskan cengkeraman di kerah Jono, lalu kembali menghadap pak Asrul dan berbisik-bisik. Setelah selesai Handoko berbisik, kemudian pak Asrul berbicara pada petugas Komandan Unit.


"Begini pak, anak buah saya mengenal salah satu pelakunya. ijinkan anak buah saya mengorek keterangan dengan caranya," ucap pak Asrul berbicara pelan secara empat mata, kemudian menyelipkan amplop coklat kebalik tangan petugas itu.


Petugas itu memahami apa yang dimaksud oleh pak Asrul. Bukan mendadak memahami karena disodori amplop coklat akan tetapi sisi lain memang pihak kepolisian juga membutuhkan informasi terkait pelaku lain yang menjadi dalang dibalik dari percobaan pembunuhan terhadap Guntur tersebut. Kemudian pak Asrul langsung menganggukkan kepalanya pada Handoko. Dan Handoko kembali berdiri menghadap para pelaku yang ada di jok tengah mobil polisi itu.


"Sekali lagi gue tanya, siapa yang suruh elu Jon?!" Hardik Handoko.


Tetapi Joni bergeming mengunci mulutnya rapat-rapat. Begitupun dengan dua pelaku lainnya yang terus menunduk tak berani melihat Handoko.


Bukkkk...!


"Akkhhh..." pekik Joni langsung memegangi pipinya.


"Siapa boss lu?!" Sentak Handoko semakin geram.


Buuuggghhh..!


"Aaakkkhhh..." Joni kembali memekik kali ini memegangi perutnya.


Handoko bersiap-siap menghantamnya lagi namun Joni buru-buru mengangkat tangannya, lalu berkata; "Ok, ok Han... Ampun Han, kita-kita.. disuruh... boss... bos.. bbboss.. Anggoro." ucapnya terbata-bata.


Pak Asrul, petugas polisi dan Guntur yang melihat aksi itu dibelakang Handoko tercengang manakala pelaku itu menyebutkan sebuah nama yang menyuruhnya melakukan pembunuhan terhadap Guntur.


......................

__ADS_1


__ADS_2