
Setelah selesai menggunakan mata batinnya, Ustad Mustakim meraupkan kedua telapak tangan ke wajahnya sambil berucap, “alhamdulillah...”
Selesai berucap, dedaunan pohon beringin tiba-tiba bergerak-gerak kencang kesana kemari seperti tertiup angin ****** beliung. Ustad Mustakim terperangah, dia tersurut mundur tiga langkah menjauh dari pohon Beringin itu. Kemudian Ustad Mustakim segera merangkapkan tangan didepan dadanya, dia kembali menggunakan mata batinnya untuk melihat sisi alam gaib sekaigus berniat melakukan komunikasi dengan mahluk gaib penunggunya.
Dibalik rerimbunan pohon Beringin dialam tak kasat mata, ustad Mustakim melihat dengan jelas sesosok mahluk Genderuwo terlihat sedang melakukan gerakkan aneh. Genderuwo itu memutar-mutarkan tangannya diatas kepala. Wajahnya terlihat tidak senang melihat ustad Mustakim.
“Saya minta maaf jika saya sudah mengganggu,” ucap ustad Mustakim melalui batinnya.
Usai berucap itu, perlahan-lahan Genderuwo itu menghentikkan gerakannya lalu menatap ustad Mustakim dengan sorot mata memancar merah pekat. Ustad Mustakim bergetar melihatnya, dadanya berdegup kencang merasakan aura kuat yang dipancarkan oleh Genderuwo.
“Jangan usik aku!” suara sember dan besar terdengar jelas ditelinga ustad Mustakim.
Sementara Guntur, mamah Karmila, Kunto dan pak Suro sempat terkesiap melihat dedaunan pohon beringin itu bergerak-gerak seperti tertiup angin besar. Mereka pun masih melihat ustad Mustakim berdiri setelah terdurut mundur dan mereka terus memperhatikannya hingga beberapa saat kemudian dedaunan pohon beringin itu tak lagi bergerak-gerak liar.
Ustad Mustakim menyudahi komunikasinya namun tidak langsung balik badan untuk menemui Guntur dan keluarganya. Dia tertunduk sejenak dibawah pohon Beringin itu. Tampaknya ustad Mustakim masih memikirkan langkah selanjutnya. Dia mempertimbangkan dengan mengingat pengalaman pertamanya yang baru saja dialaminya berada di dimensi lain yang memperlihatkan kehidupan di masa lampau dan juga pesan mahluk gaib penunggu pohon itu.
“Ini bukan soal kekuatan siapa yang kuat dan siapa yang lemah, bukan pula soal menang dan kalah tetapi ini soal tata krama,” gumamnya dalam hati.
Ustad Mustakim sudah memutuskan untuk menyampaikannya kepada Guntur dan keluarganya tentang apa yang dilihat dari hasil interaksinya. Lantas ia beranjak pergi menuju tempat Guntur dan yang lainnya melihat.
“Gimana ustad?” Tanya Guntur begitu ustad Mustakim datang mendekat.
__ADS_1
Ustad Mustakim sedikit ragu untuk memulainya, dia sedikit bingung arus dari mana menjelaskannya. Sebab tidak mungkin dia menceritakan penglihatannya saat memasuki dimensi lain yang menjelaskan asal muasal mahluk gaib yang menghuni pohon Beringin tersebut.
“Saya rasa sangat sulit Mas Guntur. Mahluk gaib penghuni pohon itu sejenis Genderuwo dan saya sudah coba berkomunikasi tapi sepertinya mahluk itu mengklaim bahwa dirinya sudah lama dan sudah lebih dulu menempati disini jauh sebelum ada pemukiman. Genderuwo ini usianya sudah ratusan tahun,” ungkap ustad Mustakim apa adanya.
Guntur tertegun mendengar penjelasan ustad Mustakim lalu dia menoleh pada mamahnya seolah-olah minta pendapatnya. Wajah mamah Karmila sedikit berbinar namun dia berusaha menyembunyikannya dengan berpura-pura terperangah. Didalam hatinya merasa bersyukur meskipun disisi lain terkadang dirinya dibuat ngeri dan ketakutan oleh ulah Genderuwo tersebut namun sebetulnya tujuannya hanya satu yaitu “MELINDUNGI GUNTUR.”
“Terus terang saya pribadi tidak berani mas Guntur. Tapi kalau misalkan mas Guntur penasaran coba cari orang lain saja,” ucap ustad Mustakim berkata jujur.
Ustad Mustakim mengerti betul tidak semua mahluk halus dapat dikalahkan oleh manusia termasuk dirinya sendiri. Meskipun sudah berpengalaman puluhan kali menangani gangguan-gangguan mahluk halus akan tetapi baru kali ini dia diperlihatkan secara jelas asal usul mahluk halus tersebut. Artinya secara tidak langsung mahluk halus tersebut memberitahunya untuk bersikap menghargai keberadaannya yang sudah ada sejak lama.
Selain itu jika pun memaksakan diri mengusirnya sudah dipastikan bakal terjadi pertempuran. Sedangkan mengukur tingkat kekuatan dan ilmunya ustad Mustakim menyadari betul dirinya tak akan sanggup mengalahkannya. Dirinya tidak berlaku sombong atau egois bahwasannya manusia tidak akan kalah oleh golongan jin atau mahlus halus lainnya karena manusia kodratnya lebih mulia. Akan tetapi mahluk gaib pun memiliki tingkatan keilmuan, ada yang ilmunya rendah, ada yang sedang bahkan ada pula mahluk halus yang memiliki ilmu kesaktian yang sangat tinggi. Dan ustad Mustakim sangat menyadari itu semua.
“O ya sudah kalau begitu ustad, kita ngobor-ngobrol lagi didalam. Banyak hal yang ingin saya tanyakan juga,” ucap Guntur, kemudian mengajak semuanya untuk kembali ke ruang tamu.
“Silahkan di makan kuenya ustad, pak Suro,” ucap mamah Karmila begitu semuanya sudah duduk di tempatnya semula.
Saat ini Guntur, mamah Karmila, pak Suro dan ustad Mustakim sudah duduk kembali di kursi ruang tamu. Sementara Kunto tidak turut masuk, dia langsung keluar rumah untuk membeli nasi goreng setelah Guntur menyuruhnya.
“Muhun, muhun...” ucap pak Suro dan ustad Mustakim bersamaan kemudian mengambil kue kering diatas meja.
“Sebentar lagi beli nasi goreng ustad, pak Suro kita makan dulu ya,” ucap Guntur.
__ADS_1
“Nggak usah repot-repot mas Guntur, saya jadi nggak enak, Saya belum kerja kok,” ujar ustad Mustakim.
“Iya nih, kamu mah baik pisan Gun, hehehe...” timpal pak Suro.
“Ya bagaimana pun juga inginnya saya bisa membuat sèmua orang apalagi tamu tidak merasa kecewa pak Suro, bukan begitu ustad? Hehehehe...” ucap Guntur dengan rendah hati.
“Subhanallah, mulia sekali mas Guntur ini. Teruslah bersikap seperti itu mas Guntur, insya Allah, Allah pun akan selalu memberikan balasan yang berlipat dan itu benar sesuai dengan Firman-NYA dalam al quran,” ucap ustad Mustaqim.
“Amiiin....” sahut Guntur, mamah Karmila dan pak Suro.
“Wah, Guntur mah memang baik banget ustad. Saya beruntung sekali Guntur mau mengenal saya dan anak saya ustad. Saya aj...” ucapan pak Suro terhenti karena Guntur mencegahnya.
“Ssstttt... pak Suro nggak baik ngomongin orang, gibah loh, ya ustad, hehehehe...” sergah Guntur.
Guntur tahu arah ucapan pak Suro yang hendak menceritakan dirinya telah memberikan tempat tinggal dan tempat usaha kepada pak Suro. Dan menurutnya hal itu tidak perlu dibeberkan kepada orang-orang.
“Oh iya ustad puntèn pisan. Sekalian minta tolong gimana agar si Genderuwo itu nggak menganggu mamah. Soalnya pernah mamah sampai ketakutan didatangi Genderuwo didqlam kamarnya,” ucap Guntur.
Mamah Karmila sedikit kaget dengan ucapan Guntur. Dirinya merasa khawatir kalau ustad Mustakim akan mengetahui tentang dirinya dan Karbala. Hatinya kian berdebar-debar manakala ustad Mustakim menatapnya sekilas saat Guntur menceritakan itu.
“Ya nanti saya pagari atau lebih bagusnya saya akan berkomunikasi dengan mahluk itu untuk tidak mengganggu seisi rumah.” Ucap ustad Mustakim.
__ADS_1
Perasaan mamah Karmila serasa plong sebab ustad Mustakim tidak menanyakannya lebih lanjut yang berkaitan dengan Karbala. Tak lama kemudian Kunto pun datang dengan menenteng keresek plastik berisi nasi goreng.
......................