TITISAN

TITISAN
UPAYA PARANORMAL


__ADS_3

Belum lama pak Suro dan Guntur duduk di kursi ruang tamu, mamah Karmila muncul dari dalam dengan senyum khasnya yang manis. Kalau saja usia pak Suro masih 40 tahunan mungkin senyuman Karmila akan selalu di ingat-ingatnya terutama menjelang tidur, hehehe..


Tapi berhubung pak Suro sudah berusia mendekati 60 tahun, sepertinya pak Suro tidak lagi memiliki hasrat untuk hal-hal yang menyangkut asmara. Rasa itu sudah di kuburnya dalam-dalam semenjak istri tercintanya meninggal 15 tahun yang silam, akibat sakit paru-paru yang tidak tidak pernah di bawanya ke rumah sakit.


Penyesalan memang selalu hadir di belakang peristiwa, tetapi apa mau dikata semua itu karena keadaan ekonominya yang tak mampu untuk membawanya berobat ke rumah sakit. Hanya obat-obat dari warung yang mampu di belinya manakala istrinya merasakan sesak nafas.


Dan itu merupakan penyesalan seumur hidupnya. Namun pak Suro tetap tegar dan menerima keadaan itu dan menganggapnya sebagai takdir Tuhan yang harus di jalani. Hingga kesabaran dan keikhlasannya dalam menjalani hidup mendapat hadiah istimewa di sisa-sisa hidupnya yang kian menua. Yang pertama Pak Suro mendapatkan Adi sebagai anak angkatnya, dan yang kedua di berikan tempat tinggal serta kios tanpa harus membayar sewa yang diberikan oleh Guntur.


“Eh, sudah ada pak Suro, sudah lama?” ucap mamah Karmila kemudian menyalami pak Suro.


“Muhun bu Mila, baru sampai,” balas pak Suro.


Mamah Karmila kemudian duduk bersebelahan dengan Guntur, “Iya pak Suro, aduh gimana ya dengan Kunto?” ujar mamah Karmila.


“Iya bu, saya juga turut prihatin setelah mendengar cerita dari Guntur,” ujar pak Suro.


“Kemana ya kira-kira pak?” tanya mamah Karmila.


“Saya juga belum tau bu, tapi nanti nunggu bapaknya Kunto katanya bawa orang pintar kesini,” ujar pak Suro.


“Bener Gun?” mamah Karmila menoleh pada Guntur.


“Iya mah, tadi siang pak Asep telpon katanya mau ke sini sama... sama... aduh siapa namanya ya si orang pintar itu. Mbah... mbah..” Guntur menggaruk-garuk keningnya yang tidak gatal.


“Oh, mbah Dadang, eh Dadan, ya mbah Dadan! Kata mbah Dadan, Kunto hilang di bawa mahluk gaib mah,” ungkap Guntur.


Deg! Jantung mamah Karmila seketika bedegup kencang. Raut wajahnya berubah menjadi sedikit menegang tanpa di ketahui oleh Guntur dan pak Suro.


“Masa sih, di jaman internet masih ada yang begitu-begituan pak Suro,” ujar Guntur melanjutkan.


“Ya masih ada Gun, memangnya kalau jaman internet mahluk halusnya hilang gitu? Ya nggak toh. Hanya saja mungkin keadaannya tidak lagi sewingit jaman dulu,” terang pak Suro.


“Wingit apaan pak Suro, hehehehe...?” sela Guntur smengerutkan keningnya sambil mesem-mesem.

__ADS_1


“Wingit itu ya bisa dikatakan tempat atau lingkungan yang masih belum banyak di jamah manusia. Atau lebih mudahnya, jaman dulu itu dimana-mana masih angker gitu loh,” ujar pak Suro.


Tok... tok... tok...


“Assalamualaikum...”


“Waalaikum salam,” sahut Guntur, mamah Karmila dan pak Suro bersamaan.


“Itu kayaknya pak Asep datang,” ujar Guntur kemudian beranjak dari kursi untuk membuka pintu.


Obrolan pun terhenti namun debaran di dada Karmila semakin kencang bersamaan suara ketukan pintu dan ucapan salam itu. Di dalam hati Karmila ada perasaan cemas, seperti ada sesuatu yang di khawatirkannya.


Benar saja, Guntur kembali ke ruang tamu bersama pak Asep dan mbah Dadan. Keduanya kemudian menyalami pak Suro dan mamah Karmila sebelum duduk.


“Sebentar saya ambilkan minum dulu ya,” ujar mamah Karmila lalu beranjak dari kursinya.


“Muhun, muhun...” sahut pak Suro, pak Asep dan mbah Dadan.


“Naik apa pak Asep?” tanya Guntur begitu pak Asep dan Mbah Dadan sudah duduk.


“O iya, ini mbah Dadan yang saya ceritakan itu,” sambung pak Asep mengenalkan orang yang bersamanya.


“Oh, yayaya... Mbah beginilah keadaan rumahnya,” ucap Guntur.


“Muhun...” balas mbah Dadan singkat sedikit tersenyum.


“Bagaimana mbah? Sekarang aja atau...” kalimat pak Asep terhenti oleh sergahan Guntur.


“Nanti minum dulu pak Asep, kan baru datang...” sergah Guntur.


“Sebaiknya langsung aja nak Guntur, soalnya khawatir kalau Kunto kelamaan disana,” timpal mbah Dadan.


Pak Suro terkesiap, berarti perkiraannya itu benar kalau Kunto dibawa ke alam lain.

__ADS_1


Guntur menoleh pada pak Suro meminta pendapatnya, “Gimana pak, sekarang aja nggak apa-apa?”


“Ya lebih cepat lebih baik Gun. Hayulah...” ujar pak Suro.


“Sebentar, sebentar! Saya mendeteksi sewaktu terakhir kali Kunto belum hilang, saya melihat dia sedang berdiri dibawah pohon rindang di rumah ini,” ujar mbah Dadan.


“Apakah benar ada pohon rindang di sekitar rumah ini nak Guntur?” sela pak Asep.


“Ada, ada pak. Pohon beringin di pojok belakang rumah,” jawab Guntur dengan wajah agak terkejut.


Begitu pun dengan raut wajah pak Suro, di dalam hatinya semakin yakin kalau Kunto di bawa oleh genderuwo itu.


“Bisa antarkan saya kesana nak?” ujar mbah Dadan dengan sorot mata tajam.


“Mangga, mangga... lewat depan saja pak biar enak,” ucap Guntur.


Semuanya berdiri dari kursi tamu lalu mereka keluar menuju belakang rumah.


Udara dingin kota Bandung langsung meresap kedalam badan mereka ketika berjalan ke belakang rumah. Guntur berjalan di depan sebagai penunjuk tempat, lalu disusul pak Asep dan mbah Dadan dan berjalan paling belakang pak Suro.


Sementara itu sepeninggal mereka keluar dari ruang tamu, Karmila muncul dengan membawa minuman diatas nampan. Wajahnya sontak kebingungan karena orang-orang di ruangan tamu sudah tidak ada.


“Mungkin mereka ke belakang,” gumam Karmila.


Entah kenapa dadanya kian berdebar-debar, tiba-tiba muncul perasaan mengkhawatirkan Karbala. Lantas Karmila bergegas pergi menyusulnya ke belakang rumah melalui pintu dapur.


Beberapa saat kemudian setelah keluar dari pintu dapur yang langsung mengarah samping rumah, Karmila melihat tamu-tamunya itu sedang berdiri menghadap pohon. Mendadak perasaan berdebarnya kian santer, ia sangat mecemaskan Karbala.


Mbah Dadan kemudian duduk bersila berjarak dua langkah dari batang pohon beringin. Sementara Guntur, pak Suro dan pak Asep menepi di bawah kanopi belakang rumah dan melihat apa yang di lakukan oleh mbah Dadan.


Mbah Dadan diam tertunduk sambil memejamkan matanya. Ia sedang berupaya membuka komunikasi dengan mahluk gaib penghuni pohon Beringin yang tak lain adalah Karbala.


Berselang 10 menit, secara mendadak terdengar suara bersuitan dari tiupan angin deras berputar-putar disekitar pohon beringin itu. Sontak seketika tubuh Mbah Dadan bergetar keras, ia terus bertahan sekuat tenaga agar tidak goyah dan terjengkang oleh hempasan angin yang semakin kencang. Angin itu bergulung-gulung membentuk spiral layaknya angin tornado.

__ADS_1


......................


__ADS_2