
Tok... Tok... Tok...
Terdengar suara ketukan pintu di kamar no 15 membangunkan Guntur yang sedang tidur di kursi. Tak lama kemudian pintu pun dibuka dari luar, Guntur mengerjap- ngerjapkan matanya yang masih mengantuk samar- samar melihat Mamahnya muncul dari balik pintu dengan senyum sumringah namun wajahnya terlihat kuyu.
Karmila tampak begitu cantik mempesona, penampilannya dengan pakaian casual terlihat lebih muda dari usianya. Kulit putihnya sangat kontras dengan t-shirt warna hitam dan celana blue jeans kekinian yang ada robek- robek sedikit di bagian pahanya. Mungkin saja jika disejajarkan dengan anak- anak kuliahan ya, 11-12 lah, tak akan ada
yang menyangka kalau usianya sudah kepala 4.
"Mamah..." sambut Guntur dengan suara masih nampak ngantuk.
"Gun kamu pulang saja lanjutin istirahat di rumah, biar mamah yang gantiin jagain Kunto," ucap Mamah
Karmila tersenyum hangat lalu mengelus- elus rambut Guntur dengan penuh kasih sayang.
“iya mah,” sahut Guntur singkat lalu bangkit dari kursi.
Setelah mencium pipi mamahnya, Guntur meraih jaket yang terlampir di sandaran kursi lalu melangkah keluar
ruang rawat. Karmila memandangi punggung Guntur hingga hilang dibalik pintu. Kini pandangan Karmila beralih memperhatikan Kunto yang terbaring masih tertidur, raut wajah Kunto nampak kuyu dan pucat. Selang infus dan kabel- kabel pendeteksi jantung tampak menempel di pergelangan tangan dan di dada Kunto.
“Apa sebaiknya saya bunuh saja?’ ucap Karmila dalam hati sambil terus memperhatikan wajah Kunto.
“Tapi Guntur pasti akan curiga, tapi bagaimana kalau saya tinggal saja pergi ke mall kalau ada apa- apa dengan Kunto kan tidak ada yang ngasih tau perawat atau dokternya. Mmm, kalau pun dia mati alibi saya sedang keluar, ya ya ya okelah…” lanjutnya dalam hati bibirnya tersenyum jahat.
Karmila pun buru- buru bangkit dari duduknya, ia merapihkan penampilannya sebentar kemudian melangkah pergi
meninggalkan Kunto sendirian di ruangan. Suasana ruangan pun seketika hening hanya ada suara dari elektrokardiograf alat deteksi jantung yang terdengar.
Tuts pada elektrokardiograf menggoreskan grafik detak jantung Kunto seirama dengan bunyi yang kelur dari alat tersebut. Grafiknya tampak stabil meskipun masih dibawah standar detak jantung normalnya. Bebrapa saat
kemudian tiba- tiba suara dari elektrokardiograf terdengar meninggi bersamaan dengan tuts di layar menunjukkan grafik detak jantung Kunto meninggi diatas batas normal.
Bersamaan dengan itu tubuh Kunto seketika terhentak, tubuhnya menghentak keatas hingga dua kali kemudian kembali terdiam. Begitu pula dengan suara dari alat elektrokardiograf yang kembali terdengar stabil, namun
__ADS_1
grafiknya telah berubah naik di garis normal.
Kedua mata Kunto perlahan- lahan terbuka. Beberapa detik Kunto hanya memandang langit- langit kamar seperti sedang mengingat- ingat dan mencari tahu keberadaan dirinya. Kunto melirik ke kanan, ia melihat ada meja
diatantara dua kursi dan diatas meja ada parcel buah- buahan yang masih terbungkus plastik.
“Rumah sakit…?” gumam Kunto lalu melirik ke sebelah kiri, ia melihat ada infus dan selang yang tersambung mengarah ke dirinya.
Pelan- pelan Kunto mengangkat tangan kirinya untuk memastikan selang infus itu benar menempel di tangannya. Sedikit- demi sedikit kesadaran Kunto mulai pulih, namun dirinya tidak ingat sama sekali kenapa terbaring di
rumah sakit. Sakit? Kunto mencoba merasakan disekujur tubuhnya bagian mana yang sakit, akan tetapi ia merasa tidak ada anggota tubuhnya yang sakit.
Kunto semakin heran, bergegas Kunto bangkit dari posisi tidurnya lalu duduk dengan kedua kaki masih selonjor lurus. Ia merasa dirinya tidak sakit sama sekali tapi berada di ruang rawat rumah sakit. Kunto semakin
keheranan dengan kondisi dirinya sendiri.
“Apa Guntur sedang ngerjai saya ya?” tiba- tiba terlintas dipikiran Kunto kalau Guntur sedang menjahilinya.
Ketika pikirannya teringat dengan Guntur dan merasakan kondisinya baik- baik saja dan sehat wal afiat sedangkan saat ini mendapati dirinya selayaknya orang yang sedang sakit parah yang dirawat di rumah sakit, seketika dalam hatinya mengutuk Guntur. Kunto mengira Guntur sedang bercanda mengerjai dirinya.
Tiba- tiba terdengar suara dari alat deteksi jantung saat Kunto mencabuti kabel- kabel yang menempel di dadanya. Suaranya bukan lagi berirama detikan tetapi bunyi suaranya flat dan panjang terdengar cukup keras.
Tuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuttttt……
Buru- buru Kunto menaikkan tubuhnya bertopang dengan kedua lutut meraih salah satu tombol elektrokardiograf untuk mematikan suaranya. Mudah bagi Kunto mematikan suara dari alat tersebut karena sudah menegnalinya di salah satu mata kuliahnya. Setelah selesai mematikan suara tersebut Kunto pun segera mencabut infus di tangannya.
“Aduh!” pekik Kunto kesakitan saat mencabut jarum infus di pergelangan tangannya.
Darah pun langsung keluar dari bekas jarum yang menancap di tangannya, cepat- cepat Kunto mengambil kapas yang melekat terbawa pada jarum lalu menempelkannya menutup darah yang keluar.
Saat Kunto menyingkap kain selimut yang menyelimuti kakinya hendak turun dari ranjang, ia pun sedikit kaget mendapati bagian bawahnya hanya mengenakan celana kolor. Kunto kembali mengutuk Guntur dalam hatinya.
“Wah bener- bener nih anak! Bercandanya tidak recehan lagi tapi sudah tingkat sultan, pake rumah sakit segala!” gerutu Kunto, lalu beranjak turun dari ranjang.
__ADS_1
Tidak ada rasa sakit apapun pun yang di rasakan Kunto, bahkan kalau pun benar dirinya memang sakit paling tidak tubuhnya akan terasa lemas. Tidak seperti saat ini ia merasa benar- benar sehat dan normal, kondisinya tidak ada yang berubah sama sekali. Pantas saja Kunto sangat mengutuk keras Guntur, ia menduga dikiranya Guntur telah
mengerjainya.
“Pasti si jomblo abadi menaruh pakaian saya disini, sialan bener tuh anak. Awas saja, pasti saya balas!” gerutu Kunto kemudian Kunto langsung melangkah menuju lemari yang ada di sebelah kiri ranjang untuk mencari pakaiannya.
“Nah! Bener kan?! Pakaiannya ada di sini,” gerutu Kunto tak henti- henti, lalu segera Kunto memakai t-shirt dan jelana jeansnya.
Segera Kunto melangkah ke kamar kecil untuk mencuci muka lalu merapihkan rambutnya di cermin yang ada di dalam kamar kecil tersebut. Tak lama kemudian Kunto keluar dari kamar kecil dan bergegas keluar meninggalkan kamar rawat.
......................
Ruma Guntur,
Guntur baru saja selesai memakai kaos serta celana kolor sehabis mandi dan berniat untuk melanjutkan tidurnya, tiba- tiba terdengar suara dering telpon yang tergeletak di meja. Ia mengira telpon dari sekertaris kantornya, buru- buru diangkatnya tidak melihat lagi panggilan dari siapa di layar hapenya..
“Hallo, dengan pak Guntur?” terdengar suara seorang wanita dari telpon. Guntur langsung mengerutkan keningnya heran.
“Iya, benar. Ini dari siapa ya?” sahut Guntur.
“Maaf pak, saya suster jaga rumah sakit mau memberitahukan bahwa pasien di kamar nomor lima belas tidak ada di tempatnya,” kata perempuan seberang telpon.
“Tidak ada?! Kunto tidak ada di kamarnya Sus?!” tanya Guntur sangat terkejut.
“Iya pak, aApakah pak Guntur membawanya keluar?” tanya perawat.
“Tidak Sus, tadi pagi ada mamah saya yang menggantikan menjaga Kunto,” sahut Kunto heran sekaligus bertanya- tanya.
“Waduh, jadi pasiannya kemana ya pak?!” tanya Suster terdengar kebingungan.
“Ya sudah sekarang saya segera kesana, terima kasih pemberitahuannya Sus,” sahut Guntur lalu menutup telponnya.
Buru- buru Guntur memakai celana jeansnya merangkap celana kolor yang lebih dulu sudah dipakainya, kemudian keluar rumah menuju rumah sakit lagi dan tak jadi meneruskan tidurnya.
__ADS_1
“Kemana si kriting ini? Kok bisa dia keluar kamar, padahal kondisinya boro- boro bisa untuk berjalan untuk berbicara normal saja dia tidak bisa, aneh!” gumam Kunto disepanjang jalan menuju rumah sakit. * BERSAMBUNG