TITISAN

TITISAN
ANCAMAN


__ADS_3

Beberapa menit pak Suro berada di alam bawah sadarnya menyaksikan rangkaian kejadian didalam kamar Karmila. Kerutan di wajahnya kian dalam, seperti sedang menyaksikan satu peristiwa.


Seketika itu kedua mata Guntur menyipit memperhatikan perubahan ekspresi di raut wajah pak Suro. Pak Suro terlihat seperti sedang menahan sebuah kengerian.


Hingga beberapa saat kemudian getaran di kepala pak Suro perlahan- lahan mereda lalu menghilang. Kondisi Pak Suro pun kembali tenang seperti semula.


Wajah pak Suro nampak memucat, ia membuka matanya perlahan dan tak henti- hentinya mengucap istigfar dalam gumamannya.


Guntur sangat penasaran melihat pak Suro tak henti- hentinya mengucap istigfar. Ia menduga- duga pak Suro seperti mengetahui sesuatu. Jantung Guntur mulai berdegub kencang.


“Ada apa pak Suro?!” buru- buru Guntur melontarkan pertanyaan.


“Mmm... benar Gun, mamahmu hendak melakukan bunuh diri tetapi untungnya ada sekelabatan cahaya merah yang tiba- tiba muncul menyambar gunting itu tepat ketika ujung gunting itu akan menghujam perutnya,” ungkap pak Suro dengan hati- hati.


Pak Suro benar- benar menyembunyikan kemunculan sosok Karbala di dalam kamar ini. Dan ia sengaja tidak memberitahukan kepada Guntur untuk menjaga perasaannya agar tidak menimbulkan prasangka buruk terhadap Karmila hingga membuat situasinya semakin keruh.


Jika saja Guntur mengetahui kejadian yang dilihatnya, tidak menutup kemungkinan Guntur akan sangat terpukul dan bisa jadi akan sangat membenci mamahnya.


Hal itulah yang tidak diinginkan pak Suro, sebab ia tak ingin melihat keluarga yang baik serta orang- orang baik di matanya itu akan menjadi berantakan.


“Tapi kenapa mamah nekad melakukan itu ya pak?!” tanya Guntur kian penasaran.


Pak Suro diam sejenak dalam kebimbangannya. Didalam hatinya berpikir, dirinya tidak mungkin mengungkapkan dugaannya tentang hubungan terlarang antara Karmila dan mahluk Genderuwo itu.


Sebab bukan saja hanya akan menimbulkan fitnah, namun juga bisa berakibat salqh satunya akan menimbulkan kekacauan di keluarga Guntur.


"Bapak nggak tahu Gun," hanya itu jawaban pak Suro yang dirasa paling aman.


"Ya sudah pak, besok tolong bantu membetulkan pintu yang rusak ini ya pak. Saya mau mandi dulu nanti balik ke rumah sakit lagi," ucap Guntur.


......................


Di rumah Tahfiz di malam yang sama,


Acara kegiatan belajar mengajar akhirnya usai tepat pada pukul 21.00 wib. Semua anak- anak santi putra dan putri berhamburan keluar dari dalam masjid menuju ke dalam asramanya masing- masing.

__ADS_1


Suasana yang semula ramai oleh sayup- sayup suara ngaji para santri dari dalam masjid dan seruan- seruan candaan saat bergerombol menuju ke asrama, perlahan- lahan mulai senyap.


Sementara itu didalam masjid beberapa ustad dan ustazah juga bersiap- siap melangkah keluar setelah merapihkan tepat yang dijadikan belajar sebelumnya.


Satu persatu 3 orang ustad dan 3 orang ustazah keluar dari dalam masjid, sedangkan Ustad Jalal keluar paling belakang karena menutup jendela- jendela dan pintu.


Pada saat menutup pintu disisi kiri, ustad Jalal terkesiap kaget melihat samar- samar ada seorang santri putri yang masih duduk di sisi serambi sebelah kiri masjid bersandar pada tembok.


Di jarak sekitar 5 meteran, Ustaf Jalal masih tak begitu jelas siapa santri putri itu. Sejenak ia memperhatikan Santri putri yang mengenakan kerudung merah itu sedang duduk terpekur menundukkan kepalanya.


Setelah diperhatikan lebih seksama, Ustad Jalal memang tidak mengenalnya, “Apakah ada santri baru?” gumamnya.


Tak terlintas hal ganjil sedikit pun di pikiran Ustad Jalal, ia hanya berpikir kalau santri putri itu merupakan anak baru dan ia belum diberitahunya karena sama sekali tidak pernah melihat sebelumnya.


Ustad Jalal pun dibuat penasaran sekaligus mengajaknya untuk masuk ke asrama untuk beristirahat tanpa ada perasaan janggal dihatinya.


Ia hanya ingin mengajaknya untuk balkk ke asrama sekaligus juga ingin tahu kenapa anak itu masih berada di masjid sedangkan teman santri- santri yang lainnya sudah pada masuk ke asrama.


“Adeeek.. kenapa masih disini?” Tanya ustad Jalan sambil melangkah.


“Deeek... adek kenapa?” Tanya ustad Jalal dengan lembut.


Setelah ditunggu tidak kunjung ada jawaban juga, ustad Jalal pun melangkahkan kakinya mendekati gadis kecil itu.


Selangkah...


Dua langkah...


Tiga lang....


Seketika langkah kaki ustad terhenti diudara saat melihat perubahan pada gadis itu. Kaki kanannya yang belum menapak di lantai masjid nampak gemetar lembut.


Ustad Jalan terkesiap dan tertegun dengan tubuh gemetar hingga kakinya ditarik kembali mengurungkan langkah ketiganya. Ia tersurut mundur bebrapa langkah menjauh dari gadis itu.


DIhadapannya, tepat saat ustad Jalal mengangkat kakinya di langkah ketiga, tubuh gadis kecil berkerudung merah itu tiba- tiba berubah membesar secara perlahan- lahan.

__ADS_1


Mulut ustad Jalal seketika ternganga didalam pikirannya ingin berteriak sekeras- kerasnya minta tolong, akan tetapi tak ada suara yang keluar dari mulutnya.


Matanya membelalak lebar mengisyaratkan ketakutan yang luar biasa. Seolah- olah pandangannya tak bisa dialihkan, ustad Jalal seperti dipaksa untuk melihat sosok gadis kecil yang perlahan- lahan wujudnya berubah kian membesar.


“Ttto, to, toloooong...! Toloooong....!” pekik ustad Jalal, namun tidak ada suara yang terlontar dari mulutnya.


Kedua kaki Ustad Jalal gemetar keras hingga membuatnya menggelosoh lemas diatas lantai masjid tak mampu lagi menahan tubuhnya.


Rasa takut yang teramat sangat menjalar merasuki perasaannya, ia berusaha mengalihkan pandangannya dengan menunduk. Akan tetapi tidak bisa dilakukannya, karena lehernya serasa kaku.


Ia mencoba menengok ke arah lain agar tak memandangi perubahan sosok mahluk di depannya, namun sama saja kepalanya tak bisa digerakkan. Bahkan untuk menutup matanya pun tidak bisa.


Mau tidak mau ustad Jalal terpaksa menyaksikan proses perubahan wujud dari seorang gadis kecil hingga berubah menjadi mahluk tinggi besar dipenuhi bulu- bulu hitam lebat disekujur tubuhnya.


Pandangan matanya sangat sulit untuk tidak melihat sosok mahluk didepannya. Ketakutannya yang sudah berada pada puncaknya membuat ustad Jalal hanya bisa pasrah.


Ia semakin terduduk lemas menggelosoh bersandarkan tiang masjid manakala mahluk berwujud genderuwo itu mulai menoleh ke arahnya.


Kedua mata ustad Jalal kian terbelalak lebar, pandangannya yang sedikit kabur menangkap jelas sosok Genderuwo di hadapannya mulai melangkah kearahnya.


Semua bacacaan doa- doa yanh dia hafal seakan- akan hilang begitu saja dari ingatannya.


Ustad yang masih muda itu hanya pasrah menatap sosok Genderuwo berjalan mendekatinya. Mulutnya bergetar karena gemetar hingga menimbulkan suara gemerutuk giginya.


Kini pandangan mata ustad muda itu hanya melihat dua buah batang berbulu hitam lebat di depan matanya. Setelah diperhatikan dengan seksama ternyata dua buah batang itu merupakan dua batang kaki.


Spontan ustad Jalal mendongakkan kepalanya keatas untuk melihat bagian wajah sosok mahluk dihadapannya.


Tanpa disadari oleh ustad Jalal, jarak antara sosok Genderuwo dengan dirinya kini hanya satu langkah dihadapannya.


Ustad Jalal hendak beringsut mundur, akan tetapi tak bisa karena punggungnya sudah mepet di tiang masjud. Dalam ketakutan yang sudah diambang batasnya, ustad Jalal mendengar suara sember dan besar.


“Pergi dari sini! Tinggalkan tempat ini! Jangan tempati ini lagi ! Jika tidak, rasakan akibatnya!


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2