TITISAN

TITISAN
REAKSI KUNTO


__ADS_3

Firasat Guntur merasakan bakal ada sesuatu yang akan terjadi pada Kunto. Namun tak ada yang dilakukannya, matanya tak berkedip terus saja memperhatikan wajah Kunto yang perlahan mengalami perubahan.


Kedua mata Kunto terlihat bergetar- getar dan kini mata Kunto nampak sedikit terbuka lebih lebar dari yang tadi.


Dada Guntur kian berdebar- debar menyaksikan perubahan pada reaksi pada tubuh Kunto. Akan tetapi ia masih tetap diam hanya memperhatikan sekujur tubuh Kunto bergantian.


Yang menjadi fokus perhatian Guntur pada wajah dan kepalan tangan Kunto. Sebab hanya wajah dan tangan saja yang nampaknya ada pergerakkan.


Sesaat kemudian tiba- tiba Guntur terkesiap melihat perubahan pada wajah Kunto. Kulit wajah Kunto yang semula sempat memucat, perlahan- lahan mulai merona merah, namun rona merah di wajah Kunto disertai dengan garis -garis urat warna hijau.


“Panggil dokter! Cepat panggil dokter!” seru Guntur tiba- tiba, membuat mamah Karmila dan ketujuh karyawannya tesentak kaget bukan kepalang.


Ketujuh karyawannya saling tatap, seakan- akan mereka saling bertanya satu sama lain. Teriakkan Guntur ditujukan untuk siapa?! Begitu batin mereka.


“Cepat panggil dokter!” pekik Guntur dengan suara bergetar tanpa mengalihkan pandangannya pada wajah Kunto.

__ADS_1


Mamah Karmila dan ketujuh karyawan itu bergidik takut. Mereka semua merasa ngeri mendengar nada suara Guntur yang keras. Mereka merasa baru kali ini melihat dan mendengar nada suara Guntur yang penuh amarah.


Salah satu karyawannya bergegas meninggalkan kamar rawat itu dengan setengah berlari diiringi tatapan dari semua rekan- rekannya.


Mamah Karmila sontak jantungnya berdegub kencang melihat sikap Kunto yang sangat emosional. Hatinya menjadi tidak tenang dan mendadak timbul rasa takut yang menyelimuti pikirannya.


Ekspresi wajahnya mengguratkan penyesalan sekaligus kekhawatiran yang teramat sangat. Namun tidak ada seorang pun yang memperhatikan kegelisahan sikap mamah Karmila.


Guntur tak berkedip terus memperhatikan sekujur tubuh Kunto dari kaki, tangan hingga wajah secara intens. Kepalanya nampak naik turun menatap Kunto.


“Karbala... apa yang kamu perbuat sama Kunto?!” batin mamah Karmila.


Bibir bawahnya yang tipis berwarna merah cherry itu digigitnya. Bibirnya bergetar menahan gejolak yang terjadi didalam hatinya.


Tanpa sadar tangan mamah Karmilah meremas ujung bajunya kuat- kuat karena ingatannya dipaksa kembali melayang pada kejadian tengah malam itu. Dimana saat Karbala mendengus kesal melihat Kunto sedang mengintipnya di jendela.

__ADS_1


Mamah Karmila melihat dengan jelas bagaimana Karbala begitu marah ketika keasyikannya terganggu oleh suara berisik dari arah jendela.


Saat itu mamah Karmila yang lebih dulu mendengar suara berisik dari jendela, seketika menoleh dan tersentak kaget melihat siapa orang yang sedang melihat pergumulannya.


“Aaakhhw!!!” pekik mamah Karmila sambil menutup wajahnya.


Merasa terganggu oleh pekikan Karmila, Karbala yang berada diatas tubuh kuning langsat Karmila, sontak turut menoleh mengikuti pandangan mata Karmila.


Menyadari ada yang melihat perbuatannya, wajah Karbala seketika berubah sangat marah. Kedua matanya menyala merah dengan seringai yang mengerikan menatap Kunto yang menatapnya.


Saat itu wajah Kunto tengah terkaget- kaget karena aksinya telah diketahui. Kunto seketika berupaya kabur dari jendela hingga kepalanya membentur daun jendela dengan keras.


Setelah itu Karmila tak melihat Kunto lagi di jendela. Karmila hanya memperhatikan saja saat ketika Karbala melesat melayang kearah dimana Kunto terjatuh di bawah kendela.


BERSAMBUNG.....

__ADS_1


__ADS_2