TITISAN

TITISAN
TAMPARAN KERAS


__ADS_3

Dengan penuh rasa penasaran, Guntur segera membuka pintu toilet. Dan....


Saat pintu sudah terbuka, seketika Guntur terlonjak kaget bukan main. Guntur tersurut mundur hingga memepet pada tembok dibelakangnya.


Di dalam kamar toilet Guntur melhat dengan nyata sosok mahluk yang tak lazim sedang berdiri membelakanginya.


Sekujur badan mahluk itu dipenuhi dengan bulu- bulu halus berwarna hitam, hanya seikat kain lusuh yang tersampir menutupi bagian alat vitalnya.


Beberapa saat lamanya Guntur diam tertegun melihat sosok di depannya itu, ia merasa pernah melihatnya. Nalurinya sebagai manusia biasa Guntur bergidik ngeri hingga kakinya sedikit gemetar.


Namun rasa gemetar itu berangsur- angsur mereda seiring kesadarannya muncul seutuhnya.


Sejenak Guntur nampak berpikir mengingat- ingat sesuatu, ia merasa kalau sosok mahluk dihadapannya itu tidak asing di matanya.


“Karbala!” pekiknya dalam hati, kemudian Guntur melangkah mendekatinya.


Akan tetapi baru saja Guntur melangkahkan satu kaki, wujud Genderuwo di dalam toilet itu perlahan- lahan membias lalu menghilang tanpa bekas.


Guntur dibuat penasaran, ia mengulurkan tangannya meraba- raba tempat Karbala berdiri sebelumnya. Namun tangan Guntur hanya menyapu tempat kosong, tidak menyentuh apapun.


“Ada kan mas?!” tanya Perawat penasaran.


Suara perawat itu seketika menyadarkan Guntur yang tertegun di dalam toilet. Buru- buru ia keluar dari dalam toilet, seraya menjawab; “Nggak ada siapa- siapa Sus!” sahut Guntur dengan nada sedikit ditekan.


“Masa sih?!” ujar Perawat, kemudian melangkah ke tempat Guntur berada.


Di tengah pintu kamar toilet, gadis perawat itu berdiri mematung. Matanya melirik kesana kemari menyapu setiap sudut ruang kamar toilet.


“Sumpah mas, tadi mas masuk toilet dan suara pintu toilet yang terbuka dan tertutup sangat jelas terdengar. Dan juga suara air dari kran juga begitu jelas saya dengar!” ucap gadis perawat meyakinkan Guntur.


“I, iyy, iya ini air krannya memang mengucur tttapi nggak ada siapa- siapa di dalam sini,” ujar Guntur terbata- bata.


Guntur sengaja berbohong pada perawat itu menyembunyikan apa yang dilihat sebebelumnya tentang adanya sosok Karbala.


Gadis perawat itu masih berdiri di tengah- tengah pintu, di wajahnya tercetak jelas masih tercengang tak percaya.


“Sudah, sudah Sus jangan dihiraukan lagi,” ucap Guntur sambil membalikan badan keluar dari dalam kamar toilet.


Gadis perawat itu pun segera beranjak dari tempatnya berdiri memberi jalan pada Guntur.


Meskipun Guntur sudah melewatinya tapi Perawat itu masih berdiri di didepan pintu toilet. Perawat itu masih penasaran, lalu perlahan- lahan ia melangkah masuk ke dalam toilet.

__ADS_1


Matanya mencermati setiap sudut ruangan toilet tetapi memang tidak ada siapa- siapa selain mas yang ganteng tadi.


“Aneh! Jelas- jelas mas ganteng itu yang membantu mengangkat pasien dari blangkar ke atas ranjang, lalu dia ijin bilang ke toilet....” batin gadis perawat.


Guntur menghampiri mamah Karmila disisi kanan ranjang. Ia menatap lekat- lekat wajah mamahnya yang tampak mulai segar.


Tidak seperti sebelumnya, wajah mamahnya begitu pucat pasi tetapi sekarang sudah kembali normal. Kini rona merah kembali terlihat di kedua pipi mamah Karmila bertanda mamah Karmila akan sadar.


“Gun...”


Guntur terkesiap bibir tipis mamah Karmila memanggilnya. Buru- buru Guntur meraih telapak tangannya dan menggenggamnya erat- erat.


“Mma, mamah...” sahut Guntur terbata- bata.


Perlahan- lahan kelopak mata mamah Karmila terbuka. Pertama kali yang ia lihat langit- langit kamar rawat, sorot matanya penuh kebingungan.


Saat telapak tangan kirinya terasa hangat ada yang menggenggamnya, segera mamah Karmila melirik kesamping kirinya sedikit menolehkan wajahnya.


Dilihatnya Guntur sedang tersenyum kecil menatap dirinya penuh rasa khawatir.


“Mamah dimana Gun...?” tanya mamah Karmila lirih.


“Mamah ada di rumah sakit...” jawab Guntur setengah berbisik.


“Mamah tadi pinsan di kamar,” ucap Guntur pelan.


Deg!


Jantung Karmila serasa berhenti seketika, kali ini wajah cantiknya mengerut dalam- dalam. Perlahan- lahan ingatan dikepalanya muncul, mengingat- ingat kejadian saat sebelum dirinya tak sadarkan diri.


Karmila memejamkan matanya, seketika air bening mulai merembes keluar dari kelopak matanya. Air matanya luruh meluncur di kedua pipinya.


Perasaannya bergejolak campur aduk, ada penyesalan, ada kecemasan, ada rasa malu bahkan ada kebencian tersirat di wajahnya yang cantik.


Tetapi Guntur tak menangkap ekspresi yang disembunyikan mamahnya sama sekali.


“Mah... mamah kenapa sampai pinsan begini? Mamah punya masalah apa? Cerita sama Guntur...” ucap Guntur lembut sambil mengusap air mata di kedua pipi mamah Karmila.


Ucapan Guntur justru bagai petir disiang bolong bagi Karmila. Tangisnya kini membuncah, ia tersedu- sedu sambil menggigit bibir bawahnya.


Hatinya serasa kian merasa bersalah, ucapan Guntur itu dirasakannya seperti tamparan keras yang mengenai hatinya dengan telak. Hati Karmila kian merasa sakit saat putranya dengan polos memintanya untuk terbuka.

__ADS_1


Kesadaran Karmila pulih sepenuhnya setelah mencerna ucapan putra semata wayangnya. Ucapan putranya terasa sangat mengkhawatirkan dirinya, ya putranya sangat menyayngi dirinya.


Hal itu membuat Karmila benar- benar sadar dan menyesali tindakkan bodoh yang mencoba untuk mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri.


Semua kekalutan yang dirasakan sebelumnya hingga membuatnya gelap mata itu hanyalah sebuah keputus asaan dari beban menanggung rasa berdosanya.


Biarlah waktu yang akan mengungkap semuanya, Karmila akan menerima apapun yang akan terjadi ketika pada saatnya nanti semuanya terungkap.


“Maafkan mamah Gun...” ucap mamah Karmila lirih.


Bersama bibinya mengucapkan itu air matanya kembali luruh mengalir di kedua pipinya yang kuning langsat.


Dari ucapan maafnya ada hal yang tersirat didalamnya. Sebenarnya permintaan maaf yang ia ucapkan itu untuk semua perbuatan terkutuknya bukan untuk kondisinya saat sekarang ini.


“Sudah, sudah mah... mamah nggak perlu minta maaf, nggak ada yang salah kok. Guntur akan selalu menjaga mamah, Guntur akan selalu ada untuk mamah...” ucap Guntur penuh kasih sayang.


Hati Karmila kian tergores, rasa nyeri dihatinya kian terasa sakit mendengar ungkapan tulus dari putranya.


Karmila kian merasa bersalah, air matanya bertambah deras mengalir dari kedua matanya.


“Sudah... sudah mah... mamah jangan menangis terus, ya..” ucap Guntur lembut sambil mengusap kembali air mata mamah Karmila.


"Oh iya, mamah belum makan kan dari pagi? Sebentar Guntur suruh Kunto beli makanan dulu ya mah, kita makan bersama bertiga dengan Kunto disini biar seperti suasana kayak waktu di rumah yang dulu lagi.


Mamah Karmila tersenyum simpul menganggukkan kepalanya. Lalu tatapannya mengiringi langkah Guntur yang beranjak melangkah keluar kamar rawat.


“Sus, mamah sudah sadar. Tolong di periksa lagi kondisinya ya, saya mau beli makanan buat mamah,” ucap Guntur saat lewat didepan Perawat yang sedari tadi berdiri mematung di balik tembok kamar toilet.


“I, iyya mas, silahkan...” ucap Gadis Perawat itu gugup.


Hati perawat itu merasa tersentuh setelah melihat adegan mengharukan antara seorang ibu dan putranya barusan.


Gadis itu seketika timbul rasa simpatik yang mendalam terhadap Guntur, hingga melambungkan angannya sangat tinggi.


“Saya juga mau jadi istrinya mas...” batin Gadis perawat itu senyum- senyum sendiri.


“Sus...”


Gadis perawat itu tersentak kaget bukan kepalang. Ia terlena dengan angan- angannya sehingga tak menyadari kalau Guntur masih belum pergi dan masih berdiri dihadapnannya sambil menatapnya.


“Eh, iiiy, iya mas. Maaf...” ucap Gadis itu buru- buru dengan rona merah muncul di kedua pipinya.

__ADS_1


......................


__ADS_2