TITISAN

TITISAN
SISI LAIN KARBALA


__ADS_3

Sebuah mobil Terrios hitam berhenti di depan gerbang rumah Guntur. Seorang lelaki muda turun dari pintu depan sebelah kanan lalu membuka gerbang yang tidak terkunci itu lalu kembali berjalan menuju mobil.


"Loh, mamangnya gerbang nggak di kunci mah?!" tanya Guntur mengerutkan keningnya dalam-dalam sambil melihat Joko mendorong pintu gerbang.


"Nggak tau, iya kayaknya sih mamah lupa," jawab mamah Karmila.


Joko pun kembali masuk ke mobol dan duduk di balik belakang setirnya untuk melajukan mobil inventaris kantor itu memasuki halaman rumah.


"Jok, gerbangnya nggak terkunci?" tanya Guntur pada Joko.


"Nggak pak," jawab Joko sambil memasukkan persneling.


"Mamah lupa kayaknya Gun, waktu itu mamah panik banget saat dapat telpon dari pak Asrul mengabari kalau kamu kecelakaan," ujar mamah Karmila.


Tepat satu minggu Guntur, Kunto dan Vina di rawat di rumah sakit, akhirnya mereka sudah di perbolehkan pulanh setelah kondisinya di nyatakan sembuh oleh dokter rumah sakit yang mangacu pada kondisi Kunto. Karena Kunto satu-satunya korban yang kondisinya paling parah. Setelah kondisi luka-luka serta kesehatan Kunto membaik, mereka pun di perbolehkan pulang.


Kondisi Guntur sendiri sebetulnya baru sehari di rawat saja kondisinya sudah membaik karena hanya mendapatkan luka ringan sama halnya dengan Vina. Sebelumnya Vina sudah diantarkan ke rumahnya lebih dulu sebelum Guntur dan rombongan pulang ke rumah.


"Ayo mah, buka pintunya barangkali rumah di masuki maling," ujar Guntur bergegas turun setelah mobil berhenti di depan rumah.


Mamah Karmila buru-buru turun dari pintu sebelah kanan mengikuti langkah Guntur yang sudah berjalan didepannya. Disusul Kunto turun dari pintu belakang sebelah kiri dengan perlahan-lahan, meski bekas jahitan luka tembak di punggung dan lengannya sudah mengering namun masih terasa nyeri.


"Astaga Gun!" pekik mamah Karmila begitu pintu terbuka.


Guntur buru-buru menyela masuk mendahului mamah Karmila yang tertegun di tengah-tengah pintu dengan mulut ternganga. Guntur oun terperangah melihat lantai ruang tamu sudah dalam keadaan berantakkan. Pecahan-pecahan kaca maupun pecahan porselin vas bunga berserakkan mengotori lantai. Guntur bergegas berlari kearah pintu kamar mamahnya, ia langsung menekan handel pintu dan mendorongnya.


Jegrek! jegrek! jegrek!

__ADS_1


Guntur pun bernafas lega karena pintu kamar mamahnya masih dalam keadaan terkunci. Kemudian Guntur berlari ke pintu kamaranya yang terletak sedikit dibelakang setelah ruang tengah.


Jegrek! jegrek! jegrek!


Guntur kembali bernafas lega karena pintu kamarnya pun masih dalam kondisi terkunci. Guntur dan mamah Karmila mengira kalau rumahnya di masuki pencuri karena beberapa barang pecah berserakan di lantai ruang tamu. Mereka tidak tahu kalau pecahan-pecahan itu karena ulah Karbala yang marah manakala melihat pak Suro melaksanakan sholat magrib pada waktu itu.


"Kun, kamu istrihat ya biar kondisimu cepat pulih," ucap mamah Karmila saat Kunto masuk.


"Iya tante..." jawab Kunto, kemudian masuk ke kamarnya.


Sementara itu Guntur yang sudah masuk ke dalam kamarnya langsung duduk di kursi meja belajarnya. Mejanya nampak kotor berdebu, Guntur meniup-niup dan mengibas-ngibaskan debu diatas meja dengan kemonceng yang tergantung di sisi meja belajarnya hinggu debu-debu halus itu bersih dari atas meja. Guntur pun duduk termangu menghadap monitor komputer di meja belajarnya tanpa di nyalakan.


“Bu.. bu Mila, punten ini kunci mobilnya untuk di pakai pak Guntur. Saya langsung pamit pulang,” ucap Joko.


“Kamu pulangnya naik apa Jok?” Tanya mamah Karmila kemudian mengambil tasnya yang di letakkan diatas bufet ruang tengah.


“Jok, jok sebentar. Ini buat ongkosnya sama buat makan,” ucap mamah Karmila mengulurkan lembaran uang ratusan ribu.


“Hatur nuhun pisan bu,” ujar Joko menirama uang itu kemudian balik badan berlalu dari hadapan mamah Karmila.


Mamah Karmila langsung melangkah menuju kamar Guntur setelah Joko berlalu keluar rumah.


“Gun, mau di masakin apa makan malamnya?” Seru mamah Karmila dari luar pintu kamar Guntur.


Didalam kamar, Guntur yang sedang tercenung memikirkan kejadian-kejadian aneh selama dirinya berada di rumah sakit, sedikit terkejut mendengar seruan mamahnya.


“Sayur sop mah!” jawab Guntur.

__ADS_1


“Ok,” sahut mamah Karmila kemudian tak terdengar lagi.


Guntur kembali larut kedalam pikirannya memikirkan kejadian-kejadian yang sangat tidak masuk akal itu. Yang pertama kejadian di kantor, hatinya masih tidak percaya dengan cerita-cerita yang di sampaikan oleh para karyawannya.


“Masa iya bisa begitu?” pikir Guntur.


Seberapa pun besarnya rasa tidak percaya terhadap penuturan karyawan-karyawannya namun faktanya memang nyata adanya. Kata karyawannya, andaikan pak Iwan tidak di panggil ke ruangannya mungkin saja pak Iwan sudah lebih dulu kabur melarikan diri.


“Jika sosok dirinya tidak ada di ruangannya lalu sedang apa pak Iwan duduk di kursi menghadap meja saya,” pikir Guntur mengangguk-angguk mencoba menerima fakta tersebut.


Kemudian pikiran Guntur beralih pada kejadian yang kedua, pikirannya tertuju pada pak Suro yang tiba-tiba menghilang dari rumah sakit. Sewaktu menanyakannya pada Kunto, katanya tidak ada pak Suro datang menemuinya. Awalnya Guntur dan mamahnya mengira kalau pak Suro sedang pergi ke kamar kecil, namun setelah di tunggu-tunggu dalam waktu lama ternyata pak Suro tidak kunjung datang. Saking penasarannya sampai-sampai saat itu Guntur sempat mencarinya ke toilet rumah sakit hingga ke tempat parkiran namun pak Suro tidak juga di temukan. Dirinya hanya kasihan dan mengkhawatirkan keselamatan pak Suro yang juga khawatir nyasar atau tidak dapat kendaraan bus yang menuju ke Bandung.


“Besok saya akan tanyakan pada pak Suro,” batin Guntur.


......................


Sementara itu tanpa di ketahui oleh Guntur, mamah Karmila, Kunto dan Joko, sosok berbulu hitam lebat telah berdiri di sudut samping kanan rumah semenjak kedatangan mobil rombongan Guntur memasuki halaman rumah sambil tersenyum. Joko yang keluar dari rumah Guntur pun tak luput dari perhatian sosok mahluk tal kasat mata tersebutm


Beberapa saat lamanya Joko sudah berdiri di depan gerbang rumah Guntur agak ke samping menunggu ojol. Sambil menunggu ojol datang, iseng-iseng Joko merogoh saku celananya mengambil uang yang diberikan oleh mamah Karmila lalu di hitungnya.


“Alhamdulillah.....” pekik Joko girang bukan main.


Setelah di hitung, uang yang ada di tangannya ada 5 lembar uang pecahan seratus ribuan.


“Seandainya di dunia ini semua orang seperti keluarga pak Guntur, mungkin tidak ada lagi orang-orang yang tega berbuat jahat.” Gumam Joko.


Suasana aris lalu lintas menjelang magrib terlihat sangat padat. Kendaraan-kendaraan angkot dan mobil pribadi yang sama banyaknya mendominasi jalanan dengan bunyi-bunyi klakson yang menyalak bergantian membuat bising orang yang berada di luar mobil.

__ADS_1


......................


__ADS_2