
Udara kota Bandung malam ini berasa dingin banget padahal masih pukul 21.10 wib. Lalu lintas di jalan depan rumah Guntur pun terlihat lengang tidak sepadat malam-malam biasanya, mungkin mereka malas keluar dalam kondisi becek-becekan setelah diguyur hujan sebentar ketika waktu memasuki magrib tadi.
Guntur sudah masuk kamarnya bersama Kunto yang berniat main game setelah makan malam bersama mamah Karmila selepas lalu. Guntur kembali mematung didepan layar komputernya mencari artikel-artikel yang terkait mahluk alam gaib meneruskan rasa penasaran siang tadi.
Kali ini dia mengetik kalimat "UNTUNG RUGI ADA MAHLUK HALUS DI RUMAH" lalu tekan enter. Muncullah headline-headline yang nyaris sama yang mungkin juga isinya sama karena kebanyakan penulis blog dan di situs-situs tak mau capek mikir tinggal copy paste dari artikel yang sudah berseliweran sebelumnya. Guntur memilih headline yang paling atas, yang menurut perkiraannya original di bandingkan semua artikel-artikel yang dibawahnya.
Sementara itu mamah Karmila diatas kasur empuknya sedang sibuk didepan kaca violetnya. Ritual rutin membersihkan mukanya dengan lotion pembersih sebelum beranjak tidur. Menatap dirinya sendiri di cermin dalam cuaca yang dingin membuat memorinya terbangkitkan pada peristiwa terkutuk. Sebab didepan cermin violet inilah persitiwa terkutuk dimulai sekaligus menjadi saksi bisu dirinya dibuat terkulai lemas-selemas oleh Karbala yang merubah wujudnya menjadi Aryo.
Kreteeeeekkkk...
Tiba-tiba terdengar suara bunyi kasur seperti ditindih seseorang membuat Karmila menoleh kearah ranjang. Seketika mata Karmila terbelalak kaget bukan main, diatas kasurnya terlihat Karbala dengan bulu-bulu hitam kelabunya sudah berbaring sedang menatapnya tajam.
"Heh pergi kamu!" sentak Karmila dengan wajah penuh kemarahan melihat Karbala.
"Hahahaha... Kenapa mengusirku? Apakah kamu sudah bosan?" ucap Karbala dengan suara berat dan sembernya.
"Pergi kamu! Jangan menggangguku lagi, aku tak sudi! Pergiiii...! teriak Karmila tak mempedulikan suaranya terdengar hingga keluar atau tidak.
"Ingatlah! Tidak ada seorang pun yang berhak mendekatimu!" sergah Karbala dengan tatapan mata nyalang.
Deg! Jantung Karmila bergetar keras. Dirinya langsung teringat dengan peristiwa pecahnya kaca jendela pagi tadi saat ada Aji yang sedang bertamu. Jadi karena itulah dia merasa tidak terima? ungkap Karmila didalam hatinya.
__ADS_1
"Oh, jadi kamu yang memecahkan kaca jendela itu?!" seru Karmila tak kalah sengitnya.
"Iya! Ingat Tidak ada seorang pun membiarkan mendekati dirimu apalagi menyentuhmu!" jawab Karbala.
"Apa hakmu melarang-melarangku hah?!" seru Karmila.
"Sudahlah, ayo Kemarilah aku sudah tak tahan melihat kemolekanmu..." ucap Karbala sambil melambaikan tangannya yang besar.
"Cih, tidak sudi! Pergi kamu!" teriak Karmila kemudian melemparkan vas bunga yang ada diatas violet.
Praaaang...!!!
Vas bunga yang dilemparkan Karmila meluncur deras menembus tubuh Karbala dan menghantam sudut tembok kamar. Karmila semakin panik dengan rasa ketakutan yang teramat sangat.
"Aduh..!" pekik Kunto mengaduh.
Akibat tubrukkan itu pintu kamar terbuka secara paksa, dengan reflek Guntur meraih gagang pintu hingga dia bergelayut bersamaan dengan pintu terbuka. Belum hilang rasa terkejutnya, matanya kembali melotot melihat sosok mahluk hitam diatas kasur mamahnya. Guntur seketika tersurut mundur hendak menutup kembali pintu kamar itu namun Kunto kembali menubruknya karena Guntur memundurkan langkahnya. Akibatnya pintu kamar mamah Karmila terbuka lebar. Guntur dan Kunto yang terjerembab jatuh hanya bisa menatap ngeri sosok hitam berbulu lebat yang sedang menatap tajam dengan mata berwarna merah.
Didepan violet mamah Karmila langsung beringsut mendekat keposisi Guntur dan Kunto penuh ketakutan. Sementara mahluk hitam berbulu yang bernama Karbala itu hanya diam saja melihat kemunculan Guntur yang masih terduduk dilantai.
"Ayo Gun, Kun cepat lari keluar!" pekik mamah Karmila sambil berusaha menarik-narik lengan Guntur dan Kunto.
__ADS_1
"Tidak mah, tunggu!" seru Guntur yang tiba-tiba langsung berdiri penuh keberanian menatap Karbala.
"Heh, jangan ganggu mamahku. Pergi kau atau saya bakar pohon itu!" sentak Guntur sambil mengangkat tangannya menunjuk kearah Karbala.
Karbala nampak terkejut oleh ancaman yang di ucapkan Guntur. Wajahnya seperti keheranan hanya diam memandangi Guntur, namun kali ini dengan mata meredup tidak senyalang saat melihat Karmila sebelumnya. Mungkin Karbala tidak mengira kalau Guntur sudah mengetahui tempat tinggalnya. Seketika tubuhnya membias perlahan-lahan lenyap dari tempatnya.
Guntur pun merasa aneh kenapa mahluk hitam berbulu itu tidak melakukan perlawanan sama sekali justru langsung menghilangkan diri dari hadapannya. Apa mungkin dia takut pohon itu dibakar? begitu pikir Guntur. Mamah Karmila langsung memeluk Guntur sambil terisak-isak di bahunya. Jauh didasar hatinya Karmila memahami kenapa Karbala tidak bisa berkutik terhadap Guntur.
"Mah nanti Guntur akan tebang dan bakar pohon yang ada dibelakang rumah itu mah. Disitu rumah mahluk itu!" ucap Guntur menekankan suaranya.
Karmila terkejut bukan main mendengar Guntur akan menebang dan membakar pohon tua itu. Dirinya sebenarnya memang sudah mengetahui kalau pohon rindang dibelakang rumah itu merupakan tempat tinggal Karbala semenjak Guntur masih kecil. Tetapi Karmila berpura-pura tidak mengetahui apa-apa termasuk soal sosok mahluk berbulu hitam kelabu itu.
"Jangan Gun, biarkan saja. Mamah takut akan terjadi apa-apa," ucap mamah Karmila mengusap kepala Guntur mencoba menenangkannya.
Guntur akhirnya luluh mendengar nasehat mamahnya. Berbeda saat ketika emosinya memuncak tadi, ia bertekad akan benar-benar menebang pohon itu malam itu juga. Pikirnya akan langsung meminta bantuan pak Suro dan menjemput dirumahnya. Tetapi nampaknya mamah Karmila melarangnya, Guntur pun tak mau melawannya ia akan menuruti kata mamahnya.
"Ya sudah mah, Guntur kembali ke kamar ya," ucap Guntur kemudian menarik Kunto keluar kamar mamah Karmila.
"Gun aku balik ke kamarku aja udah ngantuk," sergah Kunto.
"Oke deh," sahut Guntur sambil berlalu.
__ADS_1
Setelah pintu kamar kembali ditutup Karmila duduk termenung ditepi ranjangnya. Pikirannya kembali menekuri kesalahan-kesalahan yang pernah diperbuatnya walau awalnya tanpa ada kesengajaan. Akan tetapi setelahnya perbuatan terkutuk itu selalu dinanti dan dinikmatinya meskipun tahu kalau yang mencumbunya itu bukanlah Aryo tetapi Karbala yang berwujud Aryo. Karena itulah perasaan menyangga dosa besar terhadap almarhum suaminya seakan sudah membatu bahkan menggunung didalam batinnya. Mungkin saja penyesalan sebesar gunung pun dirinya merasa dosa-dosa, takan mungkin termaafkan lagi karena suaminya sudah lebih dulu meninggalkannya untuk selamanya dan dirinya tidak sempat meminta maafnya.
......................