TITISAN

TITISAN
JIWA KUNTO 2


__ADS_3

"Dok! Dok!" seru Guntur spontan, saat ia melihat jari- jari Kunto bergerak- gerak.


Dokter Hilman dan pak Suro seketika terkejut mendengar seruan Guntur yang tiba- tiba. Keduanya kontan menoleh kearah wajah Guntur secara bersamaan penuh tanda tanya.


Guntur lantas menggerakkan jari telunjuknya menunjuk ke jari- jari Kunto.


Dokter Hilman dan pak Suro pun mengikuti arah jari telunjuk Guntur. Namun keduanya masih belum mengerti dengan yang di tunjukkan Guntur.


“Ada apa Gun?!” Cercar pak Suro.


“Ada apa pak Guntur?!” Timpal dokter Hilman.


“Kunto mulai sadar lagi dok, pak! Lihat jari- jarinya mulai bergerak- gerak!” ujar Guntur.


Pak Suro dan dokter Hilman langsung mengarahkan pandangannya ke jari- jari Kunto. Beberapa saat memperhatikan, benar saja salah satu jari Kunto nampak ada gerakan kecil.


Jari telunjuk Kunto perlahan sekali bergerak keatas lalu kembali tak bergerak. Beberapa detik berikutnya jari itu kembali menunjukkan gerakkan, bahkan kali ini bukan hanya jari telunjuk saja yang bergerak melainkan jari tengah pun turut bergerak.


“Perhatikan matanya dok, biasanya akan mulai terbuka!” ucap Guntur.


Dokter Hilman mengikuti anjuran Guntur memperhatikan kedua mata Kunto yang masih terpejam. Pak Suro pun turut pula memperhatikannnya.


Sekitar 15 detik kemudian, pupil pada kedua mata Kunto nampak terlihat ada getaran- getaran kecil. Pupil itu mulai menunjukkan gerakan kecil.


Benar saja, pupil kedua mata Kunto perlahan sekali bergerak membuka. Mula- mula pupil mata yang tertutup rapat itu terlihat sedikit terbuka.


Wajah Guntur diliputi cemas bercampur tegang menanti reaksi Kunto. Terbayang di kepalanya bagaimana reaksi Kunto saat pengaruh obat penenang itu hilang dari tubuh Kunto.


Hati Guntur terenyuh dan tak tega membayangkan kembali bagaimana ekpresi Kunto yang dipenuhi rasa ketakutan yang teramat sangat di wajahnya.


Sesaat berikutnya kedua mata Kunto mulai terbuka setengahnya. Kedua mata Kunto terlihat hanya putihnya saja tidak ada bulatan hitam.


Saat Pak Suro memperhatikan kedua mata Kunto yang nampak putihnya saja itu hatinya terasa bergetar.


Pak Suro dapat merasakan ada pancaran kengerian yang sedang dialami Kunto dibawah alam sadarnya.


“Kunto sangat tersiksa sekali, kasihan dia!” batin pak Suro.


Sementara dokter Hilman yang melihat ada gelagat yang tidak baik, segera mempersiapkan jarum suntik dan mengisinya dengan obat penenang.


15 detik berikutnya kedua mata Kunto sudah mulai terbuka normal, namun kedua mata Kunto seperti terbalik yang hanya menampakkan putihnya saja.


Kedua mata itu nampak bergetar dan bergerak- gerak, kemudian bulatan hitam tiba- tiba muncul dari sisi atas pupil matanya.

__ADS_1


Kedua tangan Kunto mulai bergerak- gerak mengepal. Perlahan- lahan kepalan tangannya mulai mengepal dengan kuat.


Kedua kaki Kunto yang tertutup selimut sebatas betis juga nampak terlihat mulai mengejang.


Pak Suro memperhatikan perubahan reaksi pada tubuh Kunto dari ujung kaki hingga berhenti di wajah.


Tiba- tiba kepala Kunto terdongak dengan kedua mata mulai melotot lebar, sedangkan bagian perutnya terangkat bersamaan kedua kakinya mengejang kaku.


Melihat itu dokter Hilman segwra bergerak bermaksud hendak menyuntikkan obat penenang pada lengan Kunto. Namun pak Suro buru -buru mencegahnya.


“Jangan dulu dok, punten!” cegah pak Suro melihat dokter Hilman hendak menyuntikkan jarumnya.


Dokter Hilman menghentikan niatnya sambil menoleh kearah pak Suro dengan ekspresi penuh tanda tanya.


Akan tetapi sesaat kemudian dokter Hilman mulai memahami ketika melihat kode dari pak Suro yang mengangkat tangan ke arahnya lalu mengalihkan pandangannya kearah Kunto.


Pak Suro menatap tajam ke wajah Kunto, mulutnya komat- kamit membacakan sesuatu. Pak Suro nampaknya ia sedang mencoba mencari tahu apa yang sedang melanda jiwa Kunto.


Dengan kemampuan spiritualnya, pak Suro mencoba memembus batas alam bawah sadar Kunto untuk mencari keberadaan jiwa Kunto.


Tiba- tiba Kunto bergerak -gerak liar dengan kedua matanya membelalak lebar. Sekujur badannya menegang dan kaku, kedua tangan mengepal, kedua kaki mengejat- ngejat tak terkendali.


“Ahhhhhkkkkkk.... aahhhhhkkkkk...” dari mulut Kunto keluar erangan histeris.


Akan tetapi dokter Hilman hanya menggelengkan kepala, ia memberi kode pada Guntur dengan menolehkan wajahnya pada pak Suro kalau dirinya menunggu isyarat dari pak Suro.


Guntur sangat tidak tega melihat ekspresi Kunto yang sangat histeris penuh dengan ketakutan.


Beberapa saat kemudian pak Suro membuka matanya, seketika pak Suro terkejut melihat tubuh Kunto yang mengejang dan sedang bergerak -gerak liar.


“Silahkan dok!” seru pak Suro memberi isyarat kepada dokter Hilman untuk menyuntiknya.


Dibantu Guntur memegangi tangan Kunto yang menegang kaku, dokter Hilman segera menyuntikkan obat penenang pada tangan Kunto.


Hanya dalam hitungan detik, perlahan- lahan tubuh Kunto mulai melemas. Kedua matanya yang membelalak perlahan-lahan terlihay menjadi sayu. Pupil matanya pun meredup pelan- pelan menutup bola mata Kunto yang melotot.


Begitu pun dengan kedua kakinya yang mengerjat- ngerjat nampak mulai melemah lalu berheti tak bergerak. Sama halnya dengan kedua tangannya yang mengepal erat, kini mulai terkulai lemas.


"Kasihan sekali nak Kunto," batin pak Suro.


......................


“Bebaskan akuuuuu...! Apa sapahku?!” Suara Kunto terdengar menggema di ruangan saat merasakan ada hembusan angin dari arah depan.

__ADS_1


Kunto berteriak- teriak karena sudah paham dengan situasinya, ketika merasakan adanya hembusan angin itu pastilah akan muncul suara sember dan besar.


“HAHAHAHA... HAHAHAHA.... Kamu masih tanya apa salahmu?! Suara sember dan besar menggema menimpali teriakkan Kunto.


“Apa salahkuuu..?!” Kunto menyahut dengan suara bergetar menahan kengeriannya.


“Hahahaha... Hahaha.... Kamu sudah mencampuri urusanku!” sergah suara sember dan besar.


Kunto mencoba menajamkan pandangannya ke depan, namun ia tak dapat melihat apa pun. Kunto jug tidak tahu dirinya sedang berada dimana. Ia juga tak dapag melihat kehadiran sosok mahluk di depannha. Tak ada apapun yang dapat dilihatnya, sejauh mata memandang hanya kabut hitam pekat yang terlihat di matanya.


Kunto terkesiap mendengar suara mahluk itu menyebutkan kesalahannya. Seketika Kunto mengingat- ingat semua perbuatannya yang berkaitan dengan perbuatannya mencampuri urusan orang lain.


Kunto berpikir dengan keras, akan tetapi Kunto sama sekali tidak merasa pernah berbuat mencampuri urusan teman -temannya.


“Aku tidak pernah mencampuri urusan orang lain, tidak pernah!” Seru Kunto setengah putus asa.


“Manusia Keparat! Tidak mau mengaku!” sergah suara sember dan besar dengan amarah yang menggelegak.


Kunto benar- benar tidak mengerti dengan tuduhan suara mahluk itu. Ia terus mencoba mengingat- ingat lagi perbuatan yang dituduhkan kepadanya, akan tetapi tetap saja Kunto tak merasa pernah melakukannya.


Selama ini dirinya merasa tak pernah memiliki persoalan dengan teman- teman di lingkungan kampusnya. Kunto benar- benar berpikir keras, namun tetap saja tak menemukan perbuatannya yang mencampuri urusan orang lain.


“Apa yang aku lakukan terhadapmu?!” tanya Kunto ditengah keputus asaannya.


“Gggrrrrrkkkkhhh... kamu telah melihat aku bersenggama dengan ratuku!” Bentak suara sember dan besar itu.


“Bersenggama?! Ratu?!” Kunto mengulangi kalimat yang di ucapkan mahluk itu penuh kebingungan.


Kunto semakin tidak mengerti dengan tuduhan yang dialamatkan padanya. Dirinya merasa tidak pernah melihat ratu.


“Tidak! Aku tidak pernah melihat itu!” teriak Kunto histeris.


“Keparat! Gggrrrekkkkhhhhh....”


Kunto kian gemetar mendengar suara sember dan besar yang dipenuhi amarah itu menggelegar memenuhi ruangan.


Ia tersudut, tubuhnya beringsut semakin meringkuk rapat- rapat pada sudut ruangan.


“Lihat ini!” bentak suara sember dan besar.


BERSAMBUNG....


......................

__ADS_1


__ADS_2