
Pagi hari jam 7.20 wib, Guntur sudah mengeluarkan sepeda motor sportnya lalu menghidupkan mesinnya untuk dipanaskan beberapa saat sebelum Kunto muncul. Guntur tidak masuk kuliah karena masih suasana berkabung sedangkan Kunto hanya ikut-ikutan alpa dengan alasan turut berkabung padahal tidak ada tumpangannya. Mau naik angkot pun enggan karena uangnya sudah sangat menipis, orang tuanya belum juga mengiriminya yang ada hanya cukup untuk bekal di kampus beberapa hari saja.
"Kuuuu... buruuuu!" teriak Guntur.
"Iyaaaaaa...!" sahut Kunto.
Tak lama kemudian Kunto muncul dari balik pintu dengan tergesa-gesa sembari memakai switernya. Baru saja Kunto hendak mengangkat kakinya naik ke boncengan sepeda motor Guntur tiba-tiba mamah Karmila muncul di pintu.
"Stop! Stop! Stop!" Seru mamah Karmila kemudian berjalan kearah Guntur yang siap ngegas, sementara Kunto yang hendak naik ke boncengan terhenti dengan posisi kakinya masih ngangkang.
"Mau pada kemana?" Tanya mamah Karmila.
"Anu Tan, nggak tau diajak Guntur." sahut Kunto.
"Gun...?!" Mamah Karmila menatap Guntur dalam-dalam.
"Sebentar mah mau ke teman dulu," jawab Guntur.
"Ya udah hati-hati Gun, mamah masih trauma. Mamah nggak mau kamu kenapa-napa," ucap mamah Karmila dengan tatapan sayu.
"Iya mah... Guntur berangkat ya," ucap Guntur kemudian menyalami mamah Karmila.
"Mari Tan..." timpal Kunto kemudian menyalami mamah Karmila.
Kemudian Guntur menjalankan sepeda motornya keluar gerbang dan melaju di jalan raya menuju pusat perbelanjaan BIP tetapi bukan untuk shoping-shoping melainkan untuk menemui pak Suro yang berjualan buku bekas didepannya tanpa memberitahu tujuannya ke Kunto.
Lalu lintas jalan Ir. H. Juanda ramai padat seperti biasanya apalagi di jam jam berangkat kerja sepagi itu.Guntur melajukan sepeda motornya tak terlalu kencang meliuk-liuk menyalip diantara mobil angkot dan mobil-mobil pribadi.
"Guuun, mo kemana sih?!" seru Kunto dari boncengannya.
"Udah tinggal duduk aja!" seru Guntur.
Kunto pun tak melanjutkan pertanyaannya karena percuma saja kalau Guntur sudah memvonis begitu pasti tidak bakalan mendapatkan jawaban apapun. Kini ia hanya bisa manut saja mengikuti kemana Guntur pergi sembari menebak-nebak tujuannya.
Sekitar 25 menitan sepeda motor sport warna merah itu kemudian menepi dan berhenti dipinggir jalan depan pusat perbelanjaan BIP. Sampai disini barulah Kunto dapat mengetahui tujuan Guntur. Kunto segera turun dari atas boncengannya kemudian berjalan mendekati kerumunan orang yang mengelilingi penjual buku loak. Ya siapa lagi kalau bukan untuk menemui pak Suro, penjual buku bekas yang sudah sangat akrab dengan Guntur maupun dirinya.
Kunto berdiri menghadap tempat jualan buku bekas pak Suro sambil menunggu Guntur datang setelah memarkirkan sepeda motornya. Tak beberapa lama kemudian Guntur pun datang menghampiri Kunto berdiri disampingnya.
Guntur memandangi Pak Suro yang nampak sibuk menjawab meladeni para konsumennya yang bertanya mengenai buku-buku yang dicarinya. Sesekali pak Suro terlihat membungkuskan beberapa buku sambil menjawab pertanyaan-pertanya dari konsumennya. Saking sibuknya pak Suro tidak menyadari akan kehadiran Guntur dan Kunto. Melihat itu Guntur berinisiatif untuk membantu pak Suro melayani konsumennya.
"Ayo Kun, kesana bantu pak Suro. Kasian sibuk kerepotan banget tuh." ucap Guntur kemudian melangkah kebelakang dimana pak Suro duduk dengan memutari kerumunan orang yang berjongkok sedang membaca maupun mencari-cari buku.
"Wah, nampaknya butuh bantuan nih," kata Guntur yang sudah berjongkok dibelakang pak Suro diikuti Kunto.
__ADS_1
"Eh, Gun, Kun sudah lama?" Tanya pak Suro sedikit kaget sembari menolehkan kepalanya kebelakang.
"Baru beberapa menit pak, hehehe..." ucap Guntur.
"Mari, mari sini duduk. Ya kalau nggak ngerepotin sih mangga atuh bantu, hehehe..." ucap Pak Suro tertawa.
Guntur pun beranjak duduk disebelah kanan pak Suro dan Kunto duduk disebelah kirinya. Kehadiran Guntur dan Kunto cukup meringankan kerjaan pak Suro melayani konsumennya dan keduanya pun tak canggung untuk melayani dan membantu mencarikan buku karena sudah beberapa kali pernah melakukannya.
"Mas, mas ada buku kimia kelas tiga SMA keluaran tahun sembilan puluhan?" tanya salah seorang gadis sambil berdiri dengan mengeraskan suaranya.
"Sebentar ya Kimia kelas tiga SMA, kelas tiga SMA...: ucap Guntur mengulang-ulang sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Pak dimana buku Fisika kelas tiga SMA?" tanya Guntur berbisik pada pak Suro.
"Itu, itu ditumpukkan yang tengah itu Gun," jawab pak Suro menunjuk tumpukkan buku-buku yang semuanya buku pelajaran dari SD, SMP dan SMA.
Guntur langsung menyibak satu demi satu tumpukkan buku yang ditunjuk pak Suro sembari bergumam, "Fisika... fisika... fisika.. yaps! ini dia.."
"Ini ya neng?" Guntur menyodorkan buku itu kepada gadis diseberang hamparan buku-buku bekas.
Gadis itu menerimanya dengan memberikan senyum paling manisnya kepada Guntur. Sejenak ia membaca judul pada sampul lalu menyingkap lembar demi lembar isinya.
"Iya betul mas, berapa?" tanya si gadis kemudian Guntur menoleh pada pak Suro meneruskan pertanyaan dari gadis itum
"Lima belas ribu aja Gun," ucap pak Suro.
"Beneran pak lima belas ribu? Murah amat pak?!" ucap Guntur meyakinkan, khawatir pak Suro salah memberikan harga.
"Iya, udah kasih aja segitu Gun..." ujar pak Suro. Kemudian Guntur pun kembali mengalihkan pandangannya pada gadis itu.
"Lima belas neng," kata Guntur.
Seketika wajah gadis itu berubah yang semula senyum manis menjadi senyum masam dengan mengerutkan dahinya.
"Jangan segitu dong mas," ujar gadis itu.
"Ini murah banget loh neng, masa ditawar lagi..." kata Guntur pura-pura cemberut.
"Nggak ada lagi uangnya mas, seratus aja ya?" ucap gadis itu dengan muka memelas.
"Hah? seratus ribu neng?" Guntur kaget.
"Iya mas, boleh ya ya ya.." ujar gadis itu menggoda Guntur.
__ADS_1
Guntur baru tersadar kalau 15 yang diucapkannya itu dikiranya 150 oleh gadia itu lalu ia tertawa terkekeh-kekeh.
"Ini cuma lima belas ribu neeeng..." ujar Guntur tertawa.
"Oh lima belas ribu?" tanya gadis itu meyakinkan.
"Iya lima belas ribu rupiah neng," ujar Guntur.
Kedua pipi gadis itu langsung bersemu merah dengan senyum merekah di wajahnya yang imut dan cantik. Kemudian ia menyodorkan uang 100 ribuan pada Guntur. Baru saja Guntur menerma uang itu tiba-tiba salah satu orang yang sedang berjongkok membaca buku berteriak panik minta tolong.
"Aaakkkhhh...Toloong, toloong!!!"
Semua orang yang sedang fokus melihat-lihat buku jualan pak Suro itu secara serempak mengalihkan pandanganya tertuju pada seorang pemuda berpenampilan seperti mahasiswa yang terlihat meringis kesakitan. Di bahunya terlampir tas gendong hitam, tangan kirinya memegang buku sedangkan tangan kanannya menjadi tumpuan badannya. Posisinya nampak seperti berusaha hendak bangun namun sepertinya tubuhnya mendadak kaku.
Guntur dan Kunto melihatnya dengan terbengong-bengong keheranan. Lain halnya dengan pak Suro, dahinya mengerut dalam-dalam terungging dibibirnya senyuman tipis sepertinya ia mengetahui kenapa pemuda itu nampak kesakitan dan tubuhnya menjadi kaku.
"Toloong... tolooong...!" seru pemuda itu dengan ekspresi wajah kesakitan.
"Kenapa mas?"
"Ada apa mas?"
Suara pertanyaan-pertanyaan penuh keheranan saling menimpali diantara para orang-orang disekelilingnya. Pak Suro lalu bangkit berdiri lalu melangkahkan satu kakinya diantara buku-buku dagangannya yang terhampar didepannya. Kemudian dengan setengah berjongkok pak Suro mendekatkan wajahnya ke telinga kanan pemuda itu lalu ia berbisik.
"Tolong kembalikan..." bisik pak Suro kemudian kembali keposisinya duduknya.
Semua orang hanya memandangi apa yang dilakukan oleh pak Suro. Sama seperti semua orang Guntur dan Kunto hanya melongo saja tidak mengerti dan tidak tahu dengan yang dilakukan pak Suro. Setelah pak Suro kembali ke tempatnya duduk, pemuda itu meletakkan buku yang dipegang tangan kirinya kemudian ia menarik resleting kantung tasnya. Sesaat kemudian tangannya merogoh kedalam tas lalu keluar lagi dengan menmegang sebuah buku tebal.
"Taruh lagi ditempatnya," ucap Pak Suro dingin.
Pemuda itu menuruti ucapan pak Suro, ia meletakkan kembali buku ditumpukkan buku yang ada didepannya. Lalu pemuda itu mencoba berdiri seperti yang ingin dilakukan sebelumnya dan tiba-tiba tubuhnya bisa digerakkan. Pemuda itu berdiri dengan wajah tertunduk menahan malu kemudian bergegas cepat-cepat balik badan.
"Huuuuuhhhh...!!!"
Semua orang menyorakinya dan menatapnya dengan benci. Kini mereka baru paham kalau pemuda itu telah mencuri buku dagangan pak Suro dengan memasukkannya didalam tas tanpa ada yang tahu.
"Buku aja di maling, dasar!"
"Penampilan mahasiswa tapi kelakuan maling!"
Terlontar makian-makian dari orang-orang yang bersimpati pada pak Suro menambah riuh mengiringi pemuda itu pergi meninggalkan kerumunan. Beruntung pemuda itu tidak dihakimi karena buru-buru pak Suro mencegahnya pada saat ada salah seorang pèmuda lain yang hendak mencekalnya.
"Sudah, sudah.. Silahkan baca-baca lagi," Ucap Pak Suro.
__ADS_1