
Seperti biasanya Guntur, Mamah Karmila dan Kunto asyik ngobrol di sela-sela menikmati makan malam. Ada saja topik yang menjadi bahan obrolan, seperti malam ini mamah Karmila menanyakan pada Guntur seputar acara perkenalan Hafizah dengan karyawan dan karyawati di kantor untuk menggantikan posisi yang di tinggalkan pak Iwan.
Kehadiran Hafizah yang magang di perusahaan Guntur atas anjuran papahnya, pak Asrul. Alasannya untuk mencari pengalaman, yang menurut Guntur dinilainya aneh. Jika hanya sekedar mencari pengalaman, kenapa tidak magang atau langsung terjun di perusahaan papahnya saja.
Guntur memang masih terlalu lugu, sampai-sampai tidak peka dengan maksud dan tujuan pak Asrul. Tetapi di satu sisi, pada struktural posisi yang di tinggalkan pak Iwan masih kosong dan sangat dibutuhkan. Selain itu tak dapat di pungkiri kalau kehadiran Hafizah membuat Guntur bersemangat.
"Jadi Si neng tinggal dimana Gun?" tanya mamah Karmila.
"Tinggal sama Budenya mah, di daerah Sukajadi," sahut Guntur lalu memasukkan satu sendok suapan terakhirnya.
"Itukan lumayan jauh jaraknya dengan kantor Gun," ujar mamah Karmila.
"Ya gimana lagi mah, nggak mungkin juga kan tinggal sama kita," ucap Guntur.
"Jangan!" sergah mamah Karmila spontan.
Sergahan mamah Karmila yang tiba-tiba dengan suara sedikit keras penuh penekanan itu membuat Guntur dan Kunto sempat terkejut sekaligus keheranan. Mengetahui Guntur dan Kunto keheranan, mamah Karmila buru-buru menutupinya.
"Maksud mamah jangan, nggak enak dengan para tetangga. Nanti di kiranya kumpul kebo gitu," ujar mamah Karmila dengan senyum yang di paksakan.
Guntur merasa ada yang janggal dengan sikap mamahnya seperti ada sesuatu yang sangat di khawatirkan kalau-kalau Hafizah tinggal di rumah ini.
"Ya udah mah, saya duluan ya," ucap Guntur setelah meneguk segelas minum kemudian beranjak meninggalkan meja makan.
Lalu Kunto pun berdiri setelah selesai makan dan hendak mengumpulkan piring-piring dan gelas kotor untuk di bawanya ke dapur namun buru-buru di cegah mamah Karmila.
"Kun, Kun, nggak usah biar tante aja." cegah Karmila.
Kunto agak kikuk juga karena tidak biasanya Karmila mencegahnya. Karmila yang melihat Kunto kikuk langsung meyakinkan Kunto lagi, "Udah, udah nggak apa-apa Kun," ucap Karmila.
__ADS_1
......................
Sementara itu di dalam kamar, Guntur masih kepikiran dengan sikap mamahnya. Guntur menghubung-hubungkan beberapa kejanggalan yang ia lihat akhir-akhir ini yang di tunjukkan oleh sikap mamahnya itu.
Beberapa hari setelah kejadian hilangnya Kunto yang ternyata di bawa ke alam gaib oleh Karbala, Guntur sempat mengutarakan kepada mamah Karmila ingin mengetahui lebih banyak tentang Karbala tetapi mamah Karmila melarangnya, katanya tidak usah mencari tahu lebih banyak tentang Karbala.
Begitu pun ketika Guntur menyampaikan keanehan yang terjadi di kantornya dan ingin mencari tahu lebih jelas tentang sosok yang menggantikan dirinya saat dirinya di rawat pasca kecelakaan itu, mamah Karmila pun melarangnya. Dan yang barusan sikap yang di tujukan mamahnya yang tiba-tiba melarang Hafizah tinggal di rumah ini pun sangat terlihat tidak wajar.
"Kenapa mamah begitu sensitif kalau berbicara tentang Karbala...?" gumam Guntur, pikirannya menduga-duga mencari keterkaitan kedua sosok itu.
Bukannya menyurutkan tekad justru sebaliknya, Guntur semakin dibuat penasaran dan semakin kuat keinginannya untuk mengungkap sosok Karbala yang menurutnya mungkin ada sesuatu rahasia yang di sembunyikan oleh mamah Karmila.
"Pak Suro, ya pak Suro mungkin bisa membantu membuka tabir ini..." batin Guntur.
......................
Tengah hari sinar matahari begitu terik menaungi kota Bandung hingga menyingkirkan udara sejuknya. Di dalam kios buku loak berukuran 3X4 meter, pak Suro duduk melamun seorang diri. Jam-jam tengah hari pengunjung buku loak memang sepi seperti biasanya dan baru akan ramai lagi satu atau dua jam kemudian.
Semenjak peristiwa Kunto kembali ingin rasanya Pak Suro menceritakan tentang mahluk penunggu pohon beringin itu. Terlebih setelah dirinya melihat dengan matanya langsung bagaimana Genderuwo itu sangat patuh dengan Guntur, sedangkan Guntur sendiri nampaknya tidak menyadari kenapa mahluk gaib itu selalu menurutinya.
“Kalau saya cerita sama Guntur, nanti pasti berkaitan dengan bu Mila. Dan akan sangat fatal akibatnya apabila ternyata dugaan-dugaan saya salah dan kalau pun benar imbasnya bahkan bisa lebih gawat hanya akan mempermalukan Guntur. Kasihan dia, tapi kalau tidak segera di akhiri kasihan dengan ibu Mila. Dia pasti terikat seumur hidupnya,” batin pak Suro berkecamuk bimbang.
“Assalamualaikum...”
Suara seorang pemuda mengagetkan pak Suro yang sedang melamun sampai-sampai tubuhnya berjingkat. Semua pikiran tentang Genderuwo itu buyar seketika.
“Wa’alaikum salam, Gun!” pekik pak Suro hampir jatuh terjengkang dari kursinya.
“Siang-siang melamun pak, ada apa? Apa ada masalah pak?” berondong Guntur kemudian masuk dan duduk di kursi sebelah pak Suro.
__ADS_1
Pak Suro langsung kikuk dibuatnya. Orang yang sedang di lamunkan tiba-tiba saja muncul di hadapannya dan bertambah kikuk lagi dengan pertanyaan-pertanyaan Guntur.
“Ah, nggak apa-apa Gun. Kaget aja tiba-tiba kamu muncul,” sergah pak Suro.
“Lah, biasanya juga kesini kalau jam istirahat. Udah makan belum pak?” tanya Guntur lagi.
“Hehehehe... belum, kamu mau makan Gun? Biar bapak belikan ya,” jawab pak Suro menawarkan.
“Iya nih pak, laper. Biar saya suruh pak Agus aja pak,” sahut Guntur.
Guntur kemudian mengambil hapenya untuk menelpon Satpam Agus yang sedang jaga di posnya.
“Hallo, ya pak Agus bisa kesini sebentar.... Bukan, bukan di ruangan tapi disini di lapak pak Suro sebelah kantor.... oke makashi ya pak Agus.” Kata Guntur mengakhiri telponnya.
“Gini pak Suro, saya sedikit mau nanya-nanya tentang Karbala itu,” ucap Guntur sambil memasukkan hape ke sakunya lagi.
Deg! Dada pak Suro seketika berdebar-debar keras. Apa yang dia takutkan akhirnya menjadi nyata juga. Sedangkan dirinya belum memiliki persiapan menjawab pertanyaan seputar itu.
“Kenapa dengan Karbala Gun, apa dia mengganggumu?!” jawab pak Suro sekaligus mengalihkan arah pembicaraan agar tidak bertanya lebih dalam tentang Karbala.
“Nggak, nggak pak. Sebetulnya sudah lama saya memikirkan tentang Karbala ini bahkan saya sempat pengen bisa melihat wujudnya langsung. Bapak ingat kan pertama kali saya ketemu bapak, saya nyari buku tentang mahluk gaib?” Ucap Guntur.
“Ya ya, bapak pasti akan selalu ingat itu Gun, lalu?” sahut pak Suro.
“Tapi sejak gagal itu saya nggak meneruskannya lagi karena sibuk. Setelah saya pikir-pikir banyak sekali keanehan-keanehan yang terjadi di rumah dan yang terakhir peristiwa Kunto itu, saya merasa heran kenapa saya sendiri tidak pernah di ganggu, gitu loh pak,” ungkap Guntur.
Pak Suro terdiam, ia nampak sangat kebingungan bagaiman menjelaskannya. Jika pak Suro mengatakannya kalau tanda lahir di tangan kiri Guntur itu sebagai salah satu tanda titisan, sehingga pantas kalau Guntur tidak pernah mendapat gangguan bahkan sebaliknya Guntur akan selalu di lindungi Karbala. Akan tetapi pak Suro merasa tidak enak menjelaskannya.
Kalau sampai Guntur tahu dirinya titisan Karbala, bukan tidak mungkin persoalannya akan semakin rumit. Bisa jadi Guntur akan menyalahkan mamahnya, atau mungkin juga akan meminta penjelasan dari mamahnya. Yang jelas, Guntur pasti akan menuduh mamahnya memiliki hubungan khusus dengan mahluk Genderuwo itu.
__ADS_1
......................