
Tok... tok... tok...
"Masuk!" sahut suara dari dalam ruangan Guntur.
Pak Iwan pun segera membuka pintunya penuh dengan rasa penasaran. Dan setelah pintu dibuka, seketika matanya terbelalak tak percaya dengan yang ia lihat.
Pak Iwan terpaku dipintu ruangan Guntur menatap sosok pemuda yang duduk santai dibelakang meja bertuliskan DIRUT. Dia memperhatikan dengan seksama wajah Guntur dengan melebarkan mata tak percaya. Wajah tampan itu nampak baik-baik saja tak ada goresan sedikit pun di kulit wajahnya. Bahkan nampaknya seperti tidak pernah terjadi sesuatu yang menimpanya.
“Masuk...” ucap Guntur datar.
Pak Iwan tersentak kaget, ia bergegas masuk dengan lutut gemetar. Ia berdiri didepan meja Guntur dengan menundukkan wajahnya.
“Duduk...” ucap Guntur dingin.
Dada pak Iwan kian bergemuruh, debaran-debaran didadanya bergetar kencang karena merasakan takut yang teramat sangat.
“Sampai dimana perkembangan klien?” tanya Guntur datar tanpa melihat wajah pak Iwan.
“A, anu.. itu, anu, mmm sudah, sudah diterima, mereka sedang mempelajarinya,” jawab pak Iwan gugup.
“Ok, silahkan kembalj.” Ucap Guntur tanpa menoleh, wajahnya tetap menunduk membuka-buka kertas didalam map diatas meja.
Pak Iwan beranjak berdiri dengan lutut gemetar, lalu melangkah kaku meninggalkan ruangan Guntur. Setelah keluar melewati pintu, pak Iwan cepat-cepat melangkah kembali ke ruangannya.
“Hallo! Carok, kamu gimana sih?! Tugasmu nggak becus!” kata pak Iwan menekan suaranya penuh amarah berbicara melalui sambungan telpon.
“Maksudnya apa bos?!” tanya suara dari seberang telpon.
“Kamu bilang Guntur sudah mati. Tapi sekarang dia ada di ruangannya, tanpa ada goresan luka sedikit pun!!!” sentak pak Iwan geram menekan suaranya agar tidak kedengaran dari luar.
“Sumpah boss, mobil itu menabrak besi pembatas terguling lalu masuk jurang. Mana mungkin dia baik-baik saja kondisinya.” Jawab suara seberang telpon.
“Tidak mungkin! Mustahil boss, saya dan komplotan saya melihat langsung bahkan sempat mengambil gambar dan sangat tidak masuk akal jika hari ini si korban kondisinya baik-baik saja.” Suara seberang telpon tetap ngotot pada pendiriannya.
“Aku nggak mau tau, kamu dan komplotanmu harus cek lokasi lagi sekarang juga. Apakah benar atau tidak yang lu katakan itu.” ujar pak Iwan kemudian menutup sambungan telponnya.
......................
Sehari sebelumnya di kawasan hutan Alas Roban,
Tak berselang lama setelah mobil yang ditumpangi Guntur, Kunto dan Vina masuk jurang, sebuah mobil Avanza berwarna putih melintas di tempat kejadian. Mobil tersebut berhenti setelah melihat ceceran serpihan-serpihan body mobil dan pecahan kaca berserakkan ditepi jalan serta melihat besi pengaman rusak parah. Ditambah lagi ada kepulan asap dari dalam jurang disamping jalan yang dilaluinya.
Seorang lelaki paruh baya bergegas keluar dari mobilnya untuk melihat apa yang terjadi.
“Innalillahi wainnailaihi rojiun!” pekik pria paruh baya setelah melihat kebawah jurang terdapan sebuah mobil berwarna putih tersangkut akar pohon.
__ADS_1
Pria itu langsung mengambil handpone lalu menelpon polisi melaporkan apa yang dilihatnya. Beberapa mobil yang melintas turut berhenti di lokasi dan menanyakan apa yang terjadi pada pri paruh baya itu sambil melihat mobil didalam jurang.
Berselang 15 menit kemudian terdengar suara sirine dikejauhan menggaung memecah kesenyapan hutan Alas Roban. Suara sirine dàri dua mobil teredengar semakin mendekati lokasi. Dua mobil yang datang itu satu mobil petugas kepolisian dan satu lagi mobil ambulance.
Empat orang petugas kepolisian turun cepat-cepat melihat kelokasi mobil didalam jurang. Dua petugas langsung mengamankan sekitar lokasi kejadian dengan membentangkan police line sebelum banyak warga yang datang agar tidak merusak jejak untuk diidentifikasi sebagai bahan penyelidikkan.
Sementara seorang petugas langsung menelpon meminta bantuan tim SAR untuk melakukan evakuasi menyelamatkan korban yang kemungkinan masih terjebak didalam mobil.
“Aaahhhkkkk...”
“Aaahhhkkkk...”
Suara erangan Kunto menyadarkan Guntur disebelahnya. Guntur terbangun dengan nafas menggap-menggap karena tubuhnya terhimpit balon udara pengaman mobil. Sejenak Guntur celingukkan dan pandangannya langsung tertuju pada Kunto yang terus menerus mengerang kesakitan didalam himpitan balon udara pengaman mobil.
Andai saja mobil yabg dinaiki Kunto dan Guntur mungkin saja kondisi akan semakin parah akibat benturan-benturan saat mobil menabrak besi pengaman jalan dan saat benturan ketika mobil terjun kedalam jurang.
“Kun! Kunto! Tolooooong...! Tolooooong...!” teriak guntur sangat panik melihat kondisi Kunto.
Guntur sendiri tidak menyadari dengan lukanya sendiri yang juga mengeluarkan darah dipelipis kirinya. Guntur lebih panik dan sangat mengkhawatirkan kondisi sahabatnya, kondisi Kunto terlihat sangat parah. Badan Kunto dipenuhi dengan lumuran darah yang membasahi kaos dan juga kedua tepalak tangannya. Bahkan bercak-bercak darah berceceran diatas balon udara yang menghimpit tubuhnya.
Guntur celingukkan kesana kemari lalu memeriksa situasi keluar jendela disampingnya, namun hanya semak belukar yang dilihatnya. Ia melihat disisi kanan, juga sama saja hanya rerimbunan semak belukar. Guntur teringat dengan Vina, ia pun spontan menoleh kebelakang. Dilihatnya Vina sudah tergeletak dibawah jok tak bergerak.
"Vin, Vina!" seru Guntur, namun tidak ada respon apapun dari Vina.
“Aaaakkkhhh..” erang Kunto kesakitan.
......................
"Eh, kalian lihat tayangan berita tadi malam nggak?" tanya Renata.
"Berita apa?" sahut Joko melongokkan kepalanya diatas pembatas meja kerja.
"Ada kecelakaan di wilayah Alas Roban, sebuah mobil masuk jurang. Dan dalam tayangan itu memperlihatkan sebuah mobil putih menyangkut diakar pohon didalam jurang," ujar Renata.
"Iya iya, saya juga lihat. Tapi nasib korbannya belum diketahui tuh," sela Jojo gantian melongokkan wajahnya diatas pembatas meja kerja.
"Iya sih tapi yang membuat saya heran dalam tayangan berita itu menyebutkan nomor kendaraan B 1116 OK, dan disebutkan jenis mobilnya Pajero Sport warna putih. Saya tahu banget Itukan mobil yang selalu dipakai pak Guntur," terang Renata.
"Masa?! Tapi tadi pak Guntur masuk ruangannya kok," ujar Joko menatap Renata tak percaya.
"Iya, ya. Nggak mungkin pak Guntur ngantor dan lagian saya lihat kondisinya sehat-sehat saja," timpal Agus yang duduk paling ujung.
Semua karyawan dan karyawati yang ada di area team work berdiri serempak saling menatap satu sama lain. Tatapan mereka mengguratkan saling melemparkan pertanyaan.
"Coba tengok ke ruangannya," sergah Jojo penasaran.
__ADS_1
"Ayo, ayo..." timpal mereka serempak.
......................
Dihari yang sama di Rumah Sakit Batang Jawa Tengah,
Kepala Guntur dibalut perban menutup sedikit sudut matanya. Ia berdiri disamping Kunto yang terbaring diatas kasur putih rumah sakit dalam keadaan tertidur masih dalam pengaruh bius setelah orerasi kecil. Guntur memperhatikan sekujur tubuh Kunto dengan tatapan nanar dan iba, ia melihat tubuh Kunto diperban melingkar dibagian perut dan nampak terlihat rembesan cairan merah. Pada lengan tangannya juga dibalut perban dengan rembesan merah nampak terlihat jelas.
Guntur sendiri tidak mengetahui kalau perban-perban yang melingkar di perut dan lengan Kunto itu akibat tembakkan. Dan beruntung nyawa Kunto dapat diselamatkan karena pertolongan cepat datang. Andai saja tidak ada yang mengetahui posisi mobil tersebut dan pertolongan tidak cepat datang mungkin saja nyawa Kunto tidak dapat tertolong akibat banyak darah yang keluar dari luka tembaknya.
Saat kejadian penembakkan itu Guntur dan Vina dalam keadaan tertidur pulas sehingga tidak mengetahui kejadian yang sebenarnya. Yang dia tahu kejadian tersebut merupakan kejadian kecelakaan biasa.
"Pak Guntur?" tiba-tiba suara perempuan bertanya dibelakang Guntur.
"Betul dok," jawab Guntur.
"Syukurlah nyawa pak Kunto dapat diselamatkan. Jika pertolongan telat sedikit saja mungkin nyawanya tak tertolong akibat banyak darah yang keluar," ungkap Dokter berusia 45 tahunan yang masih terlihat cantik itu.
"Lalu bagaimana dengan Vina dok?" tanya Guntur.
"Alhamdulillah, saudari Vina hanya mengalami luka-luka ringan akibat benturan saja. Dia dirawat di ruang sebelah.
"Syukurlah," gumam Guntur.
"Saya lihat banyak perban di tubuh dan tangannya, memang parah banget lukanya ya dok?" sambung Guntur sambil memperhatikan luka-luka yang diperban.
"Pak Kunto mendapat luka tembakkan. Ada dua proyektil peluru yang bersarang di punggung dan lengannya tapi sudah berhasil dikeluarkan pak," terang dokter.
"Proyektil peluru? Kunto ditembak?!" sergah Guntur terperangah.
"Loh, memangnga Pak Guntur tidak mengetahui bagaimana kejadiannya?" tanya dokter heran.
"Saya tidak tahu dok, saya tertidur saat itu dan ketika saya bangun posisi mobil sudah didalam jurang dan melihat Kunto berlumuran darah," ungkap Guntur.
"Sekarang pihak kepolisian sedang menyelidiki kasusnya dan beberapa petugas sedang berjaga didepan menunggu kesediaan pak Guntur memberikan keterangan sekaligus laporannya. Sebab menurut polisi kejadian tersebut bukanlah kecelakaan biasa melainkan ada indikasi percobaan pembunuhan," terang dokter cantik itu.
"Oh, ya ya biarkan petugas masuk dok," ucap Guntur.
"Oh iya polisi juga katanya sudah menghubungi ibu pak Guntur setelah memeriksa handpone," ucap dokter.
"Mamah, saya lupa untuk mengabari mamah dok," gumam Guntur.
"Kalau begitu saya permisi dulu pak Guntur," ucap dokter kemudian meninggalkan kamar rawat Guntur dan Kunto.
Guntur mematung memandangi perban-perban ditubuh Kunto, pikirannya melayang mengira-ngira apa sebenarnya yang terjadi hingga mobilnya di tembak.
__ADS_1
"Apakah masih ada kaitannya dengan kasus yang di Jakarta sebelumnya?" pikir Guntur.
......................