
Hari Minggu pun tiba..
Pagi sekitar jam setengah sepuluh, Nunik datang menjemput ku.
"Memang nya mau ke mana, Neng?" Tanya Mama pada Nunik.
"Mau ajak Laila jalan-jalan aja, Buk De. Boleh kan?"
"Boleh. Tapi apa nanti Laila nya enggak mengganggu Neng Nunik. Bertiga kan jalan-jalannya sama Nak Aryo?"
"Gak apa-apa, Buk De. Udah lama juga kan Nun gak main bareng sama Lail. Mau naik motor kan gak mungkin ya dengan kandungan Nunik yang sudah besar ini. Jadi kita jalan naik mobil deh dianter sama Mas Aryo," tutur Nunik beralasan.
Mama memang tak mengetahui alasan kepergian kami hari ini. Mama mengira kalau aku hanya akan berjalan-jalan biasa saja dengan Nunik. Padahal sebenarnya aku terpaksa akan mempertemukan Nunik, Mas Aryo dan juga Erlan di Mozartino hari ini.
"Lail pamit dulu ya, Ma.."
"Iya. Hati-hati ya, La.. Neng, titip Laila nya ya."
"Idih.. Mama. Kayak Laila masih anak TK aja yang dititipin ke tetangga. Laila kan udah gede, Ma!" Aku mengajukan protes.
Mama menjawil hidung ku dengan pelan.
"Tapi kamu kan belum nikah, Sayang. Karena nya Mama titipin sama Neng Nunik. Coba kalau kamu udah punya suami sendiri, Mama kan bakal lebih tenang, La.."
'Duh. Mulai deh bahasan nya menjurus ke pernikahan..' gumam ku tanpa suara.
"Iishk.. Mama. Apa beda nya coba belum nikah sama udah nikah. Cuma beda punya abang ojek sama gak punya doang kok, gak jauh beda!" Ucap ku asal.
"Hushh! Omongan mu itu, Nak. Masa iya nyamain suami sama abang ojek! Hati-hati kualat kamu, La!" Mama menegur.
"Lha memang nya?"
"Benar kata Buk De, il.. suami itu imam nya kita. Kepadanya ridha Allah terletak. Jika ia ridha maka Allah pun ridha. Jika suami ridha maka bagimu syurga. Karena nya ketika kita menikah, bakti yang utama bagi seorang wanita ya pada suami nya," tambah Nunik dari belakang ku.
"Kalau kayak gitu, menikah bikin kita terkekang dong, Nun. Karena syurga enggak nya kita, tergantung sama suami!" Aku mencoba berspekulasi.
"Ya enggak gitu juga lah, Nun. Justru dengan memiliki suami, kita tuh jadi terjaga dari fitnah dan bahaya nya dunia."
"Memang nya suami tuh superhero apa, penyelamat dari semua bahaya?" Aku mencoba berkelakar.
__ADS_1
"Iishk.. dengerin sampai selesai dong, il. Jangan main potong seenak nya!" Omel Nunik sambil berkacak pinggang.
Dan aku langsung teringat pada si kembar calon keponakan ku dalam perut nya Nunik. Aku tersadar kalau aku harus berhati-hati dalam bersikap terhadap bumil. Terutama bumil di depan ku ini yang masih mengalami moody yang aneh.
"Mm.. iya. Iya. Maaf ya bumil cantik. Aku ralat deh ucapan ku ya," aku mencoba mengoreksi ucapan ku. Namun Nunik menghentikan ku dari lanjut bicara.
"Enggak! Dengerin Nun dulu! Suami itu tak hanya jadi imam dan penentu ridha nya Allah bagi kita di dunia ini, il. Tapi suami juga punya kewajiban untuk memenuhi nafkah lahir dan batin nya kita."
"Kalau kita senang dengan perlakuan suami, maka jalan rizki nya pun akan lancar. Dan Lail pastilah paling suka dengan fakta ini, nih. Kalau dalam harta suami itu terdapat hak istri. Sementara dalam harta istri, tak terdapat hak suami."
"Maksudnya?" Tanyaku mencoba memastikan dugaan ku.
"Ya itu dia! Dalam harta nya suami, ada bagian milik istri yang menjadi nafkah nya. Sementara kalau seorang istri memiliki harta nya sendiri, maka itu adalah harta nya sendiri," tutur Nunik menjelaskan.
"Terkecuali kalau istri nya meninggal," sahut Aryo yang tiba-tiba muncul di belakang Nunik.
Seketika itu pula perhatian kami tertuju pada pemuda jangkung, suaminya Nunik itu.
Aryo adalah pria muda dengan paras biasa dan tubuh tinggi. Dia adalah rekan kerja Nunik di bagian penelitian entah apa. Aku lupa. Yang jelas, aku masih sering ingin tersenyum saat melihat Nunik yang bertubuh mungil bersanding dengan Aryo yang bertubuh tinggi.
Bak seperti seorang kakak yang sedang mengasuh adik nya saja mereka berdua itu. Hihihi.
Aryo kini sudah berdiri di samping Nunik.
"Kok malah ceramah di sini sih, Dek? Jadi berangkat?" Tanya Aryo kemudian.
Nunik tersenyum cerah. Aku bahkan merasa sedikit cemburu karena ia memberikan suami nya senyuman secerah itu.
"Ayo, Mas. Kelamaan ya nunggu nya? Maaf. Ini nih Lail pingin diceramahin dulu sebelum berangkat," adu Nunik pada suami nya itu.
Aku terkejut dan terheran-heran. Tak menyangka kalau Nunik ku yang lugu nan baik hati kini begitu tega menjadikan ku kambing hitam.
Tapi aku tak menyahut apa-apa. Lantaran aku menangkap pandangan singkat Aryo kepada ku. Buru-buru aku menunduk.
Entah kenapa aku selalu merasa segan pada suami nya Nunik ini. Dia mengingatkan ku pada guru killer ku semasa SMA dulu. Hii.. ngeri..
"Tante, kita berangkat dulu ya. Assalamu'alaikum!" Sapa Nunik kepada Mama.
Aku pun ikut pamit lalu mengikuti langkah Nunik dan Aryo yang sudah berjalan terlebih dulu di depan ku. Menuju mobil avanza milik mereka.
__ADS_1
***
Sesampainya di Mozartino...
Saat ini suasana di Mozartino lumayan ramai. Syukurlah kami berhasil mendapatkan bangku di meja bundar dengan empat buah kursi di sekeliling nya.
Nunik duduk di samping Aryo. Dan aku duduk di samping Nunik. Dengan begitu menyisakan satu kursi kosong di antara aku dan Aryo.
"Dedek makan steak boleh ya, Mas?" Tanya Nunik pada suaminya, Aryo.
"Hmm. Sabar ya, Dek. Jangan makan steak dulu ya. Kan gak baik buat dedenin 1 dan 2," bujuk Aryo dengan lembut.
"Hm..ya sudah. Terus Dede makan apa dong?"
"Sup ayam aja ya?"
"Di sini mana ada sup ayam!" Aku berceletuk.
Aryo tersenyum tipis ke arah ku, sebelum akhirnya menaruh bungkusan kotak yang sedari tadi ditenteng nya.
Aku mengamati ketika Aryo mengeluarkan tentengan yang ternyata adalah tiga susun kotak makan yang berisi nasi, buah dan sup ayam. Seketika itu pula aku langsung menganga takjub.
"Wahh! Alhamdulillah.. makasih, Mas.. mesti lah Mas bungkusin dari rumah ya tadi? Ini kan sup ayam buatan Mama ya!" Seru Nunik berseri-seri.
Tambah takjub lah aku saat mendapati Nunik yang malah senang dengan aksi suami nya itu. Maka dengan spontan aku pun langsung menegur keduanya.
"Hey! Di sini mana bisa bawa bekal!" Tegur ku dengan suara pelan.
Aku sengaja agak memajukan tubuh ku ke arah Nunik, sehingga pengunjung di belakang ku tak ikut mendengar teguran ku tadi.
"Mana ada aturan nya gak boleh bawa bekal ke sini, il? Lail over thinking deh!" Balas Nunik menegur ku.
Alhasil aku pun hanya bisa menonton dalam diam saat Nunik menikmati sup ayam nya. Sementara aku sendiri memesan steak untukku sendiri.
Aryo tak memesan steak dengan alasan tak ingin membuat Nunik merasa iri. Sehingga ia hanya memesan stik kentang.
Saat mendengar alasan Aryo itu, herannya aku hampir-hampir ingin merubah pesanan ku juga seperti lelaki itu. Tapi kemudian aku tersadar.
'Mana bisa aku membiarkan kami bertiga hanya memesan dua stik kentang saja sementara Nunik menumpang makan sup ayam bekal nya dari rumah? Bisa-bisa dipelototi oleh pelayan kafe ini, kami nanti nya!' pikir ku tanpa suara.
__ADS_1
***