
'Kiyano yang menculik Nila?! Rasanya sulit untuk dipercaya! Maksud ku, kami baru juga bertemu dua kali setelah lama tak bertemu sejak perpisahan kami bertahun-tahun yang lalu. Jika memang Kiyano menyimpan dendam terhadap ku, lalu kenapa dia mesti menunggu selama bertahun-tahun dulu?!' benak ku sibuk memikirkan kemungkinan ini.
Setelah lama berpikir dalam diam, akhirnya aku berkata lagi kepada Azki.
"Sepertinya itu tak mungkin deh, Az. Hubungan kami baik-baik saja," ungkap ku jujur.
"Oh! Begitu ya Mbak? Maaf ya Mbak. Tadi itu kan cuma asumsi saya aja ya. Soalnya orang nya juga mencurigakan banget sih.." ungkap Azki lagi dengan pandangan tertunduk.
"Mencurigakan gimana, Az?" Tanya ku penasaran.
"Ya itu tadi. Dia sempat narik kerah kemeja saya ini nih, cuma untuk nanyain hubungan saya sama Mbak. Kayak nya orang nya emosional gitu ya.." imbuh Azki kembali.
Ku bandingkan ucapan Azki dengan profil Kiyano yang ku kenal dulu. Dan Ya. Sepenilaian ku dulu, Kiyano memang sedikit barbar dan emosional. Erlan saja pernah diajak baku hantam oleh nya dulu.
Tapi.. aku mengingat kembali dua pertemuan ku dengan Kiyano akhir-akhir ini.
'Padahal kelihatan nya dia terlihat lebih tenang di 2 pertemuan kami ini..' gumam batin ku tanpa suara.
Kemudian aku mengoreksi pemikiran ku sendiri.
Terkadang kita tak bisa mengukur kedalaman sifat seseorang bila ia begitu lihai menyembunyikan diri nya sendiri. Seperti air dalam danau yang tak bisa diketahui kedalaman nya, hanya dengan melihat ketenangan nya semata.
Justru terkadang yang diam itu menghanyutkan dan mungkin juga membahayakan. Ambil contoh lah sesuatu yang terlihat seperti potongan ranting di atas air rawa-rawa. Padahal itu sebenarnya adalah moncong buaya yang sedang mengkamuflasekan diri nya sendiri.
"Kalau gitu saya pulang dulu ya, Mbak La. Nanti saya coba bantu lihat lagi cctv nya deh. Siapa tahu ada yang terlewat," imbuh Azki.
"..iya, Az. Sekali lagi makasih ya, Az udah sibuk bolak-balik urusan anak-anak," ucap ku sekali lagi.
"Iya, Mbak La. Sama-sama."
Tiba-tiba saja Azki mengulurkan tangan nya ke atas bahu ku. Kemudian ia memperlihatkan seekor kepik yang ternyata sempat bertengger di pundak ku tadi.
Aku yang sudah kegeeran mengira Azki hendak mengusap wajah ku, pun langsung menunduk malu.
"Ehem! Saya pulang duluan ya Mbak La.." pamit Azki kemudian.
__ADS_1
"Iya. Hati-hati ya Az."
Kemudian aku menunggui mobil Azki hingga menghilang di tikungan jalan. Baru kemudian melangkah masuk kembali ke dalam rumah.
"Azki nya udah pulang, La? Kiyano juga?" Tanya Mama Mutia tiba-tiba.
Aku sempat terlonjak kaget saat mendengar pertanyaan Mama itu.
"Ya ampun, Ma! Ngagetin laila aja! Tahu-tahu nongol, gak ada suara!" Aku berkomentar.
"Orang dari tadi Mama ada di sini, La. Kamu nya aja yang punya kebiasaan jelek melamun!" Tegur Mama.
Dan aku pun hanya bisa menyengir malu.
"Terus gimana perkembangan situasi Nila, Nak? Apa udah ada titik terang sekarang?" Tanya Mama kembali.
Aku langsung merasa lemas kembali saat mendengar pertanyaan Mama itu. Dengan hati yang hampa, ku jawab juga pertanyaan Mama.
"Belum Ma. Tapi tadi Lail udah laporan ke polisi sih. Semoga aja ada kabar baik dalam waktu dekat nanti," imbuh ku lagi.
"Oh ya! Hampir aja lupa! Lail mau suapin Mark dulu ya, Ma? Tadi Mark alhamdulillah mau disuruh makan bubur sama Azki," ucap ku terburu-buru.
Kemudian Mama bicara kepada ku dengan tatapan serius.
"Kamu tahu kan, Nak kalau anak-anak cukup bergantung sama Azki?" Tanya Mama tiba-tiba.
Entah kenapa, aku mulai merasakan firasat tak enak terkait bahan pembicaraan kami sesaat lagi.
Dengan malas, aku pun menjawab singkat, "iya, Ma.."
"Itu arti nya anak-anak sangat membutuhkan keberadaan Azki kan, Nak. Sebagai seorang Papa, maksud Mama. Jadi.."
Belum juga selesai ucapan Mama Mutia, aku sudah langsung ingin berjalan menjauhi percakapan ini. Aku tahu jelas dengan maksud di balik ucapan-ucapan nya itu.
Dan itu terbukti dari kalimat yang keluar dari mulut Mama pada detik berikut nya.
__ADS_1
"Jadi..kenapa kamu gak mempertimbangkan untuk menjadikan Azki sebqgai Papa sebenarnya bagi anak-anak? Biar Azki bisa ikut membantu kamu merawat anak-anak lebih maksimal lagi," ujar Mama Mutia.
"Laila gak tega lah Ma. Bagaimana pun juga Azki itu kan usianya lebih muda ya dari Lail. Apalagi dia masih single. Kasihan kan kalau Azki direpotin sama dua anak Lail, yang jelas gak punya ikatan darah sama dia," ungkap ku panjang lebar.
"Tapi sepertinya Nak Azki juga sayang sama anak-anak, La.. "
"Laila juga sayang, Ma, sama anak-anak. Dan menurut Lail, saat ini Laila masih bisa nge handle ngurusin anak-anak," ungkap ku dengan yakin nya.
"Tapi kan Nak, kalau kalian benar menikah, nanti kamu juga bisa punya teman bertukar pikiran, La.." ucap Mama kembali.
"Laila udah cukup oke kok sama keadaan Lail sekarang ini, Ma. Dan Laila juga gak punya perasaan lebih dari sekedar teman sama Azki, Ma. Kasihan kan Azki kalau ditarik nikah cuma untuk jadi babysitter nya anak-anak.." ucap ku sedikit acuh.
"Maksud Mama bukan begitu, La.." ujar Mama Mutia dengan terburu-buru.
"Ma.. udah dulu ya. Pembahasan tentang ini kayaknya harus ditunda dulu. Kita fokus cari Nila aja dulu ya Ma sekarang? Dan Lail juga mau nyuapin Mark dulu.." ucap ku kemudian.
Mama terlihat menghela napas. Mungkin merasa letih karena kecewa dengan hasil pembicaraan kami terkait hubungan ku dan juga Azki.
Aku pun langsung berbalik dan kembali melanjutkan langkah ku menuju dapur. Kemudian membawa semangkok bubur yang telah kuhangatkan sebentar ke kamar Mark.
Mark menghabiskan bubur nya cukup lahap. Kemudian ia kembali merebahkan badan nya di atas kasur.
"Mark.. jangan langsung tidur dulu ya, Nak. Itu gak baik buat kesehatan lambung mu. Kan baru aja makan. Ya, Kan?" Tegur ku pelan kepada Mark.
Mark lalu kembali menegakkan punggung nya dalam posisi duduk. Kemudian ia menatap keluar jendela. Pada satu titik di kejauhan sana.
Hari beranjak sore saat ini. Lembayung senja di ufuk barat menimbulkan rona merah dan juga jingga di langit kejauhan. Sebuah panorama indah yang sungguh memikat hati siapa pun yang melihat nya. Pun termasuk juga dengan ku.
Ku bawa Mark ke dalam pelukan ku. Dan kami menatap senja yang hendak tenggelam di langit sana, bersama-sama.
Sementara itu, senandung adzan di kejauhan lirih terdengar memecah keheningan pada sore hari itu.
"Allahu akbar! Allahu akbar!" Bunyi adzan yang menggema di alam raya.
Dan sebait doa untuk Nila pun ku bisikkan ke langit yang luas nya tak bisa ku kira-kira lagi.
__ADS_1
'Kamu harus bertahan ya, Sayang! Mama pasti akan menemukan mu!. Insya Allah..aamiin..' bisik hati ku meramukan doa.
***