
Beberapa hari kemudian...
Aku baru saja pulang dari bekerja pada shift pagi. Pekerjaaan ku hari ini lebih menyita tenaga ku dibanding hari-hari biasanya. Karena hari ini adalah akhir bulan, sehingga aku harus menyortir dan mendata produk yang sudah tak lagi layak untuk dikonsumsi.
Mata ku lumayan letih setelah memelototi setiap produk di rak untuk melihat tanggal expired nya. Dan, setiap kali aku membuang produk yang tak layak untuk dikonsumsi itu ke troli pembuangan, benakku serasa ikut menjerit.
Sayang sekali karena semua produk seperti susu, camilan dan produk lainnya itu harus dibuang. Tapi memang itu dilakukan untuk memenuhi standar kesehatan yang ditetapkan oleh Kemenkes, jadi ya sudah lah.
"Laiill!"
Baru juga langkah ku hendak menjejaki teras rumah ku, ketika ku dengar suara yang amat kukenal baik memanggil ku dari arah samping.
Begitu kutengokkan wajah, benar saja. Tampak lah Nunik yang sedang berjalan ke arah ku. Seketika itu pula, ku taruh asal helm ku di teras. Untuk kemudian menghampiri Nunik.
"Waaaaa! Nuniikk.. kangen!!" Segera saja ku peluk sahabat terbaik ku itu.
Tapi, kemudian ku sadari ada sesuatu yang mengganjal pelukan ku ke tubuh mungil nya Nunik. Langsung saja ku arahkan pandangan ku ke bawah, ke arah perut Nunik yang sudah terlihat membesar.
"Kamu tuh baru hamil enam bulan kan?" Tanya ku minta diyakinkan.
"Iya. Kenapa memang nya, il?"
"Apa cuma perasaan ku aja ya. Tapi kok perut mu ini kelewatan ya besar nya. Kamu hamil apa buncit sih, Nun?" Seloroh ku asal.
Nunik langsung menjawil pipi ku gemas.
"Iiihh.. Lail tuh kalau ngomong, asal aja! Nunik tuh hamil lah. Lail kali tuh yang perut nya buncit!" sahut Nunik dengan wajah sumringah.
"Ye! Enak aja! Hmm.. makin ke sini kok kamu makin sering ya suka ngeledekin aku, Nun. Jangan-jangan anak kamu ini cowok lagi! Biasanya kan cowok yang suka jahil. Udah cek USG (Ultra Sono Grafi) belum?" aku sibuk menduga-duga.
"Hihihi.. udah. Insya Allah jenis kelamin nya memang cowok. Tapi Nun harap dia gak akan se jahil Lail deh. Oh ya, selamat ya, il. Calon keponakan mu ini ternyata gak cuma satu lho. Tapi kembar. Dua cowok!"
"Hah?! Serius kamu, Nun?" Tanya ku terkejut tak percaya.
"Iya.. serius banget, il!" Sahut Nunik sambil tersenyum lebar dan mengangguk- anggukkan kepala.
"Waahh.. pantas lah perut mu kelewatan buncit nya ya, adadaw!"
__ADS_1
Aku mengusap-usap pipi ku yang barusan dijawil kembali oleh Nunik dengan cukup kencang.
"Dijaga dong omongannya, il!" Nunik menegur ku.
"Hehehe.. iya-iya, keponakan onty tersayang. Maafin onty ya udah sebut rumah kalian buncit," seloroh ku sambil mengusap-usap perutnya Nunik.
"Pantas lah waktu awal kehamilan tuh kamu mabok parah ya. Sampe Mami mu nyusul ke kota C, tempat tinggal mu. Waktu itu kamu harus bed rest total kan, Nun, selama berbulan-bulan?"
Memang, selama beberapa bulan awal kehamilannya, Nunik tak bisa pulang untuk menjenguk orang tuanya. Lantaran ia mabok parah. Pergi mengajar pun membuat nya harus mengalami flek yang cukup sering.
Oleh sebab itu pula, Nunik mengajukan pengunduran diri. Namun ajuannya itu ditolak oleh kampus. Dan malah diberi cuti tak terbatas hingga ia merasa siap dan cukup sehat untuk mengajar kembali.
Hebat benar memang sahabat ku ini. Jasa dan kemampuan nya benar-benar diapresiasi dengan sangat baik oleh instansi tempat nya bekerja kini.
Sudah hampir lima bulan sejak terakhir kali kami bertemu. Dan itu sebelum Nunik mengetahui bahwa ia sedang hamil.
"Eh, terus sekarang kamu bisa ke sini? Memangnya sudah aman kah?" Tanya ku sedikit khawatir.
Dengan pelan, ku tuntun bahu Nunik untuk masuk ke dalam rumah dan duduk di sofa yang ada di ruang depan. Khawatir jika sahabat ku itu akan merasa letih karena berdiri lama di depan rumah ku.
"Insya Allah sekarang kandungan Nun sudah lebih kuat, il. Jadi Nun pulang deh ke sini. Lagi pula Nun kan ingin lahirannya di sini. Ingin dekat Mami dan Papi."
"Lho? Bukan nya Mami hajah kan nyu sul kamu ke kota C, Nun?"
"Iya. Tapi kan Nun kangen juga sama Papi. Sayang nya Papi gak bisa juga ninggalin warung sembako nya kan?"
"Hmm.. iya juga ya. Eh, jadi kamu kangennya sama Mami dan Papi aja nih? Sama aku enggak?" Aku pura-pura merengut sedih.
"Hihihi.. sama Lail juga kok."
Dan cengiran ku pun kembali.
"Kamu haus, Nun? Mau minum?" Aku menawarkan minuman kepada Nunik.
"Boleh. Air biasa aja ya, il. Makasih."
Aku langsung saja berdiri, melepaskan ransel yang sedari tadi masih berada di atas punggung ku, lalu pergi ke dapur untuk mengambil teko ukuran sedang dan dua buah gelas plastik berwarna ungu.
__ADS_1
"Mama Mutia belum pulang ya, il?" Ku dengar pertanyaan Nunik saat aku kembali dari dapur.
"Iya. Tapi kayaknya tadi Mama sempat pulang deh. Soalnya ada gorengan pisang di atas meja. Nih, pisang goreng, Nun. Kesukaan kamu," ku sodorkan sepiring pisang goreng ke arah Nunik.
Anehnya Nunik tak tergerak untuk menyomot pisang goreng kesukaan nya itu. Padahal biasanya aku dan dia malah sering rebutan.
"Kamu kenyang, Nun?" Tanya ku keheranan.
Nunik menggelengkan kepala nya sekali.
"Gak nafsu. Sejak hamil si kembar, ada banyak kesukaan Nun yang gak lagi Nun minati. Namanya ngidam mungkin ya, il?"
"Ooh.. iya itu. Ngidam itu."
Dan aku pun langsung saja mencomot pisang goreng dengan lahap. Memang perut ku sudah mulai terasa lapar sehabis bekerja hampir setengah harian ini.
"Udah cuci tangan kan, il?" Nunik memastikan.
"Udah lah. Tadi sebelum peluk kamu kan aku udah cuci tangan di keran teras depan rumah. Jaga prokes kan Nun. Apalagi masih musimnya wabah kan sekarang ini.."
"Bagus. Memangnya Lail baru pulang kerja ya? Kayaknya lapar banget. Hihihi"
"Iya nih. Asli lapar banget, Nun. Eh, ini tinggal dua potong. Kuhabisin aja gak apa-apa ya, Nun?" Tanya ku sedikit malu.
Padahal aku sudah menghabiskan empat potong pisang goreng. Tapi perut ku masih saja lapar.
"Iya habiskan saja. Kalau lapar ya sebaiknya makan saja nasi, il. Pasti nanti kenyang, daripada makan pisang goreng yang gak kenyang-kenyang."
"Nanti lah makan nasi nya. Aku makan dessert nya dulu nih. Eee.." ucap ku diakhiri dengan bersendawa cukup keras.
"Tuh kenyang. Alhamdulillah.. oya, gimana kabar Lail? Kamu kapan jadi nikah sama Erlan, il?" Todong Nunik begitu tiba-tiba.
Sehingga detik berikut nya aku pun langsung tersedak oleh air yang memang sedang ku minum.
"Uhuk! Uhuk! Uhuk! Uhuk!"
***
__ADS_1