Aku Bukan Rumput Liar

Aku Bukan Rumput Liar
Lagi-Lagi Bertemu (POV Laila)


__ADS_3

"Laila, ngapain kamu di sini?!" Aku menoleh ke asal suara. Dan mata ku bersirobok dengan mata milik pengemudi mobil yang baru saja datang.


"Kamu juga ngapain ke sini?" Tanya ku terheran-heran saat aku kembali berhadapan dengan sosok Erlan, setelah lama sejak terakhir kalinya kami bersua dua bulan yang lalu.


"Aku memang tinggal di sini. Kamu.." Erlan terlihat berpikir sebentar.


"Jangan bilang kamu terlalu kangen sama aku, sampai-sampai nyusul aku ke sini?" Tanya Erlan setengah bercanda, setengah serius.


"Idihh..! Ge er! Siapa juga yang kangen sama cabe ijo macam kamu, Lan! Biar kata aku suka makanan pedas, aku punya level ku sendiri!" Ucap ku ceplas-ceplos.


"Uhuk!" Pak satpam di balik gerbang stainless steel itu terbatuk menahan tawa.


Ingin ku sih memelototi nya, tapi aku khawatir nanti aku tak diijinkan masuk ke dalam rumah, lagi, oleh nya.


'Eh, tunggu dulu! Tadi Erlan bilang kalau dia tinggal di sini? Jangan-jangan dia..' benakku sibuk menerka alasan keberadaan Erlan di depan rumah Mama Ilma.


"Kamu tuh jadi sopir ya di rumah Mama , eh, ibu Ilmaya?" Aku bertanya kepada Erlan.


"Hmphh!!"


Aku kembali menoleh ke arah pak satpam, yang tampak jelas kembali menahan tawa nya.


'Diihh.. ini pak satpam suka banget sih ngetawain orang lain. Perasaan gak ada yang lucu deh dari omongan ku tadi!' aku mendumel dalam hati.


"Yah.. kira-kira bisa dibilang gitu lah," sahut Erlan setengah hati.


"Kamu kok bisa kenal Ma.., err,, ibu Ilmaya?" Ucap Erlan terlihat sedikit salah tingkah.


"Panjang cerita nya."


"Ya udah pendekin aja!"


"Di jalan," jawab ku teramat singkat.


"Hah?" Erlan memandang ku bingung.


"Ya itu, di jalan. Tadi katanya suruh pendekin cerita!" Aku menjelaskan.


Krik.. krik..


Keadaan menghening selama beberapa waktu. Erlan menganga, menatapku dengan pandangan tak percaya. Sementara itu, pak satpam kembali terbatuk menahan tawa.

__ADS_1


"Hmph!! Uhuk! Uhuk!"


'Sialan itu satpam! Dari tadi pura-pura batuk terus sih! Biar saja nanti batuk betulan!' aku menyumpah tanpa suara.


"Masa iya ketemu di jalan doang, terus bisa bikin kamu ke sini sih? Lagian ini kan weekday. Memangnya kamu gak masuk kerja?" Tanya Erlan kembali.


Erlan sepertinya mengira aku masih bekerja di kantor lama kami. Pada akhirnya, di depan gerbang stainless steel itu pun aku menceritakan singkat perihal aku yang sempat menolong Mama Ilmaya namun harus terluka.


Dilanjut dengan munculnya masalah di tempat kerja kami yang lama sehingga membuat ku memutuskan untuk mengundurkan diri juga sama seperti yang dilakukan Erlan.


Hingga adanya tawaran pekerjaan dari Mama Ilmaya untuk bekerja sebagai nanny bagi Oma atau mertua nya Mama Ilma.


Erlan mendengarkan kisah ku dengan seksama. Ku lihat ia terlihat sangat khawatir saat aku menceritakan kisah tentang penusukan itu. Namun aku bersyukur karena Erlan tak menanyakan apapun terkait masalah di kantor yang telah menyebabkan ku memutuskan untuk pindah tempat kerja.


"Oo.. begitu. Ya udah. Ayo masuk ke dalam bareng aku!" Ajak Erlan sambil membuka pintu samping mobil yang ia kendarai.


Tanpa ba bi bu lagi, aku langsung saja masuk ke dalam mobil Erlan. Melewati gerbang stainless steel yang berdiri kokoh. Meninggalkan pak satpam yang menatap ku penasaran, sedari aku masuk ke dalam mobil yang dikendarai oleh Erlan.


Erlan kemudian membawa mobil melewati halaman rumah yang sangat luas hingga masuk ke sebuah area di samping rumah yang ternyata adalah sebuah garasi.


Aku dibuat terkejut saat aku melihat ada sekitar belasan mobil yang berjejer terparkir di garasi itu. Dan dari sekian mobil yang berjejer rapih, hanya satu kendaraan saja yang menarik perhatian ku. Itu adalah moge nya Erlan.


Ku lihat, moge Erlan terlihat menyedihkan bila disandingkan dengan belasan mobil yang berkilauan di garasi ini.


"Laila, ini Pak Kiman. Kepala pelayan di rumah ini. Kamu bisa bertemu dengan Ma.. er.r.. Nyonya besar dengan diantar oleh Pak Kiman."


Kemudian Erlan membisikkan sesuatu ke telinga Pak Kiman. Aku memandang curiga pada Erlan. Khawatir jika ia merasa lebih senior dari ku di rumah ini, dan hendak mengerjaiku dengan bantuan dari Pak Kiman.


'Awas saja kalau Erlan dan Pak Kiman mengerjai ku, akan ku adukan mereka pada Mama Ilmaya!' ancam ku dalam hati.


Pak Kiman lalu mengangguk sekali.


"Kalau gitu, aku duluan ke dalam ya, La. Aku masih ada kerjaan. Kamu ikut Pak Kiman aja ya!" Ucap Erlan terburu-buru lalu menghilang pergi ke belakang rumah.


"Mari Nona, ikut saya. Nyonya Besar sedang menikmati waktu teh dengan sahabat nya," ajak Pak Kiman kepada ku.


Aku pun mengikuti Pak Kiman masuk ke dalam rumah.


***


Rumah ini adalah bangunan dua lantai dengan banyak ruangan serta kamar yang bergaya klasik Mediterania. Aku cukup menyukai nuansa damai yang bisa ku tangkap dari semua interior di rumah ini.

__ADS_1


Setelah melewati banyak ruangan, Pak Kiman akhirnya mengantarkan ku ke sebuah kamar di lantai atas.


"Tunggu sebentar di sini. Saya akan memberi kabar pada Nyonya terlebih dulu," titah Pak Kiman kepada ku. Dan aku pun duduk pada salah satu sofa maroon yang ada di sana.


Pak Kiman lalu masuk ke dalam sebuah ruangan, namun tak menutup pintu nya. Aku jadi bisa ikut mendengar percakapannya dengan seseorang di dalam kamar.


"Nyonya Besar, Nona Laila telah datang."


"Laila sudah datang?! Ajak dia masuk! Oh, tunggu sebentar ya, Ruby. Aku harus menemui seseorang dulu!" Suara Mama Ilma terdengar terburu-buru.


Berselang tak lama, sosok Mama Ilma pun muncul di depan Pak Kiman yang mengikutinya dari belakang.


"Laila, sayang! Akhirnya kamu datang juga. Mama khawatir sekali jika kamu tak jadi datang, Nak. Padahal kan Mama sudah berharap kamu mau menerima tawaran Mama untuk merawat Oma," seru Mama Ilma sambil memelukku singkat.


"Laila kan sudah berjanji, Tante. Jadi--"


"Mama! Panggil aku Mama Ilma lah sayang. Kan Mama sudah meminta mu memanggil Mama," Mama Ilma menegur ku.


Aku terlebih dulu memandang malu pada Pak Kiman yang berdiri siaga tak jauh dari tempat ku dan Mama duduk.


Seolah mengerti, tak lama kemudian Pak Kiman menghormat dan berlalu pergi.


"Laila malu lah, Ma. Gimana kalau Laila ganti jadi Ibu aja ya? Kan artinya sama tuh," aku mencoba bernegosiasi.


"Yah.. oke deh. Yang buat kamu merasa nyaman aja ya, Sayang. Ibu juga gak apa-apa kok. Oh ya, kamu sudah sarapan, Sayang?" Tanya Mama Ilmaya perhatian.


"Mm.. sudh sih tadi.."


'Tapi perut ku udah lapar lagi aja ini,' lanjut ku dalam hati.


Seolah bisa mendengar isi kepala ku, Mama Ilmaya tiba-tiba saja memanggil Pak Kiman. Dan sedetik kemudian, Pak Kiman pun kembali muncul di dekat kami.


"Tolong buat kan Nona Laila satu set breakfast east food ya. Asap!" Titah Mama Ilmaya pada Pak Kiman.


(Asap: as soon as possible. Artinya: secepat mungkin)


"Baik, Nyonya!"


Pak Kiman pun kembali berlalu. Sementara aku diajak Mama Ilmaya masuk ke dalam ruangan menuju balkon di ruangan itu. Seorang wanita seumuran Mama Ilmaya terlihat sedang menyesap sesuatu pada cangkir porselen yang dipegangnya.


Saat aku mengamati wajah wanita itu, aku kembali dibuat terkejut. Karena lagi-lagi aku kembali bertemu dengan seseorang yang cukup ku kenal baik.

__ADS_1


***


__ADS_2